SEMARANG (SUARABARU.ID) – Luluk (27) pekerja swasta di Kota Semarang merasa sepekan belakangan, cuaca sangat panas. Pada siang hari, bahkan suhu bisa mencapai 35 derajat celcius.
Dikatakan dia, kondisi panas sudah terasa saat mulai berangkat kerja kurang lebih sekira pukul 08.00-09.00 WIB. Ia berangkat dari wilayah Kecamatan Tembalang, menuju lokasi kerja di sekitar Jalan Pahlawan.
Tak hanya itu, dia melihat kondisi panas di Kota Semarang diperparah dengan penggundulan pohon peneduh di banyak tepi jalan-jalan Kota Semarang.
Hal itu bahkan banyak terjadi di pusat-pusat kota sekalipun. Seperti Jalan dr Cipto, MT Haryono, DI Panjaitan, Trilomba Juang, dan sebagainya. Terutama yang berdekatan dengan kabel listrik.
“Makin terasa panas karena di jalan-jalan kota Semarang itu banyak pohon yang ditebang gundul,” katanya, Senin, 29 September 2025.
Hal yang sama dikatakan Abi (32), yang juga pekerja swasta di Kota Semarang. Pekerja yang sering tugas di luar ruang itu resah melihat pemangkasan pohon yang dinilainya sembarangan.
Kata dia, pohon-pohon produktif seperti mahoni, trembesi, angsana, pule, asam hingga pohon bunga tabebuya dipotong ekstrim. Banyak kondisinya yang dipotong badan, tak menyisakan sehelai daun satu lembar pun.

“Sedih, pohon seperti dimutilasi. Saya lihat juga banyak yang mati usai dipotong badan seperti itu,” katanya.
Pada suatu ketika dia mengaku melihat itu dilakukan oleh pekerja yang menggunakan kaos berlogo PT PLN. Misalnya, di Jalan Simongan belum lama ini.
Dikonfirmasi, Humas PT PLN UID Jateng-DI Yogyakarta, R Seto mengatakan kondisi itu menjadi perhatian perusahaan. “Baik, untuk menjadi perhatian kami,” katanya.
Pakai Teknik yang Benar
Pengamat Perkotaan, Theresia Tarigan, menyarankan pihak terkait yang berwenang, seperti PT PLN dan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang agar setiap perapian pohon (pruning) dilakukan dengan manajemen yang benar.
“Perlu diperhatikan pohon-pohon di jalan. Karena pemangkasan sembarangan dapat efek stres pengendara. Sudah kena panas, juga kena polusi,” katanya.
Apalagi, kata dia, Kota Semarang juga merupakan kota pariwisata. Tata kota yang baik, harus selaras dengan keberlanjutan. Menjadi kota hijau yang teduh. “Wisatawan juga kasihan kalau ke Kota Semarang, kepanasan,” ucapnya.
Theresia menyarankan agar Pemerintah Kota Semarang, mempunyai data inventaris jumlah pohon peneduh di setiap kecamatan. Bila tidak dilakukan, maka Pemkot Semarang akan sia-sia saja bila mendapat berbagai penghargaan, baik kota ramah lingkungan atau berkelanjutan.
“Semarang (bawah) ini mataharinya seperti ada lima. Pemkot Semarang mestinya melakukan adaptasi krisis iklim dengan pendekatan alami,” katanya.
Dz Amin













