blank
Selaku Kamabigus Pati Unus-Herlina, Kepala SMK Negeri 1 (Skansa) Wonogiri, Gunarsi, bersama para guru pembina Pramuka, memberikan penghormatan pada gelaran PPTA Tahun 2025.(SB/Bambang Pur)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Api kita sudah menyala/ Api kita sudah menyala/ Api, api, api, api, api/ Api unggun sudah menyala…. Lagu Api Unggun Telah Menyala, cukup populer di jagad kepanduan. Tidak ada sumber jelas mengenai siapa pencipta lagu dengan lirik singkat dan bertempo cepat ini.

Tapi setiap kali insan Indonesian Scout Praja Muda Karana (Pramuka) menggelar kegiatan malam, lagu tersebut senantiasa didendangkan bersama dalam warna suka cita. Ini sebagaimana dilakukan para insan Pramuka Skansa (SMK Negeri 1) Wonogiri, Rabu malam (24/9/25), ketika mengadakan api unggun Perkemahan Penerimaan Tamu Ambalan (PPTA) Tahun 2025 di Lapangan Giriwono, Kecamatan Wonogiri Kota, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Untuk memeriahkan api unggun, ditampilkan beragam sajian pentas seni termasuk tarian massal yang dimainkan oleh sebanyak 400 anggota Pramuka. Diantaranya Tari Kipas atau Tari Pakarena. Tarian tradisional dari Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan yang awalnya sebagai media pemujaan dalam upacara adat, yang kini menjadi simbol budaya masyarakat Gowa. Yang memiliki gerakan lembut penuh makna filosofis, tentang kesyukuran dan harmoni antara manusia dan alam.

Empat ratus anggota Pramuka Skansa, juga menyajikan Tari Sajojo secara massal. Empat siswa asal Papua yang bersekolah di SMK Negeri 1 Wonogiri, tampil memimpin di depan. Sajojo, adalah tarian yang menceritakan semangat kebersamaan, gotong royong dalam warna keceriaan masyarakat Papua. Lirik lagu Sajojo, berkisah tentang gadis cantik pujaan desa. Tarian ini awalnya sebagai upacara adat, namun kini menjadi tarian pergaulan yang populer untuk menyambut tamu dan melestarikan budaya Papua melalui gerakan energik yang kompak.

Sejumlah anggota Pramuka, membawakan Tari Krincing khas Wonogiren dan Tari Ondel-ondel khas Betawi. Juga tampil Band Eleven yang menyajikan beragam nyanyian. Sebelumnya, disajikan tari klasik Gambyong Pare Anom, demo dance diiringi lagu-lagu rock yang menginternasional. Juga ditampilkan gelaran pentas seni gerak dan lagu Tujuh Kebiasaan Anak Hebat.

Degung Bali

PPTA Gugus Depan (Gudep) Pati Unus-Herlina pangkalan SMK Negeri 1 Wonogiri ini, dibuka resmi oleh Kepala Sekolah (Kasek) Gunarsi SPd, MPd. Diawali dengan prosesi tampilnya 10 anggota Pramuka Cantik berselendang yang menarikan gerakan tari bidadari dengan iringan suara instrumen gamelan Degung Bali. Mereka membawa obor, dan masing-masing meneriakkan satu persatu dari sepuluh dharma Pramuka di kegelapan malam.

blank
PPTA Skansa Gudep Pati Unus-Herlina Pangkalan SMK Negeri 1 Wonogiri, digelar di Lapangan Giriwono, Wonogiri, dimeriahkan dengan api unggun dan pentas seni.(SB/Bambang Pur)

Tiba saatnya kemudian dilakukan penyalaan api unggun, dan berkobarlah nyala api yang melambangkan kebersamaan, persatuan, semangat dan keabadian. Nyalanya berkobar, menerangi kegelapan malam. Ditingkah oleh pijar warna-warni kembang api yang melambung ke angkasa, bagai memberikan lukisan di langit malam.

Api yang menyala di tengah kegelapan malam, menjadi simbol dari semangat yang tidak padam dan selalu ada untuk menerangi. Yang mencerminkan jiwa para insan Pramuka, untuk terus berkarya dan memberikan hal positif bagi orang lain dan alam kehidupan.

PPTA, dulu dikenal sebagai Perpegak atau Perkemahan Pramuka Penegak. Yakni golongan anggota Pramuka berusia 16-20 tahun. Anggota Penegak, mengikuti Dasa Darma dan Tri Satya serta berorganisasi dalam Sangga dan Ambalan, untuk membentuk karakter berjiwa pemimpin.

Melalui event PPTA, para siswa Kelas 10 yang semula menyandang status Penggalang, secara resmi mengalami kenaikan tingkat menjadi Penegak. Ini sesuai dengan tingkatan Pramuka, terdiri atas Siaga (7-10 tahun), Penggalang (7-10 tahun), Penegak (11-15 tahun) dan Pandega (21-25 tahun).(Bambang Pur)