blank
Penilaian Lomba Lingkungan di RW.05 Gondoriyo Ngaliyan Kota Semarang yang dihadiri aktivis lingkungan Eko Gustini Wardani Pramukawati. Foto: Ekpram

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Setelah purnatugas dari Aparat Sipil Negara (ASN) bukan berarti kemudian berhenti dari segala kegiatan. Terlebih bagi sosok yang aktif di berbagai bidang ketika masih bertugas sebagai ASN, seperti yang dilakukan Dra. Eko Gustini Wardani Pramukawati.

“Purna ASN bukan berarti berhenti kegiatan, namun sebaliknya justru bisa ngoptimalkan waktu untuk Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia,” kata Eko Gustini Minggu Minggu, 21 September 2025.

Ek Gustini yang baru saja pensiun dari tugasnya sebagai ASN di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, hadir dalam Penilaian Lomba Lingkungan di RW 05 Gondoriyo Ngaliyan Kota Semarang.

Dia mengaku bahagia, bisa punya banyak waktu untuk memberikan pendampingan kepada para mitra Proklim Purwokeling RW 10 Purwoyoso Ngaliyan. Salah satunya bisa mendorong teman-teman pegiat lingkungan untuk tak henti mengaplikasikan adaptasi dan mitigasi.

“Salah satu contoh, mitra kami Proklim Gondokeling di Perumnas Bukit Beringin Lestari, Gondoriyo Ngaliyan Tahun 2024 mendapatkan predikat dan sertifikat Proklim Utama dari KLHK RI. Maka untuk semakin memasifkan kegiatan adatasi dan mitigasi di lingkungannya, mengadakan Lomba Kebersihan Lingkungan di masing-masing Rukun Tetangga (RT),” ujar aktivis Pramuka di Kwarda Jateng ini.

Adapun kriterianya meliputi pengelolaan sampah, penghijauan, pencemaran udara dan suara (bising), drainase, air bersih dan air limbah. Hal demikian merupakan bagian dari kegiatan adaptasi, seperti pengendalian kekeringan, banjir dan longsor; peningkatan ketahanan pangan; pengendalian penyakit terkait iklim; serta mitigasi yang meliputi pengelolaan sampah dan limbah padat; pengolahan dan pemanfaatan limbah cair; penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan konservasi energi; pengelolaan budidaya pertanian; serta peningkatan tutupan vegetasi.

“Sebagai langkah awal untuk memasifkan proklim, hal demikian patut diapresiasi. Oleh sebab itu, kami tak segan hadir berkunjung guna mencermati lingkungan di wilayah yang berbatasan dengan jalan tol,” tandas Eko Pramukawati pada acata yang dihadiri Abdul Rofiq pendamping proklim Kota Semarang.

Lomba Lingkungan

Trainer Global Ecobrick Alliance (GEA) ini menambahkan, bahwa untuk menguatkan ruh lingkungan pada masyarakat, memang butuh trik tertentu. Itu lantaran berbicara lingkungan tidak sebatas pada penanaman/penghijauan, namun secara holistik dan integratif dengan olah pikir (literasi), olahraga (kinestetika), olah karsa (estetika) dan olah hati (etika).

“Terkait hal tersebut, maka kegiatan penilaian lomba lingkungan hari ini bisa menjadi pijakan bagi masyarakat dan pengurus wilayah, baik RT, RW maupun proklim untuk merumuskan langkah-langkah konkret agar kegiatan adaptasi dan mitigasi dapat lebih ditingkatkan secara massif,” ujarnya.

Meski tampaknya sederhana, ujar Eko Gustini, namun “Lomba Lingkungan ini dapat memperkuat potensi dan kompetensi masyarakat terkait karakter beserta lingkungannya. Contoh, kalau sebelum ada kegiatan lomba lingkungan masyarakat menebang pohon dengan seenaknya, maka dengan kegiatan seperti ini setidaknya bisa ngerem atau mengendalikan penebangan pohon secara liar dan tanpa koordinasi dengan pihak RW/Proklim setempat. Itu lantaran, Proklim Gondokeling juga akan berusaha mencatat pohon-pohon dengan lingkar tertentu,” imbuh Eko.

Menurut dia, masyarakat yang berkarakter akan berpikir jauh ke depan saat akan melakukan penebangan pohon. Setidaknya berpikir terkait pihak yang dirugikan, termasuk satwa liar seperti burung-burung yang biasanya hinggap dan mengambil makanan dari pohon, termasuk tupai/bajing, dan lain-lain.

Andalan Daerah Gerakan Pramuka Kwarda Jateng bidang Pengabdian Masyarakat (Abdimas) dan Pramuka Peduli berharap, ke depan, poin-poin adaptasi dan mitigasi di mitra Purwokeling ini akan semakin lengkap, tercakup tentang kelembagaan dan dukungan keberlanjutannya.

Ekprams