
Edukasi yang dilakukan secara berkesinambungan ini bertujuan membangun budaya saling melindungi serta mendorong setiap pelanggan untuk jangan takut dan tidak ragu melapor apabila melihat atau mengalami kejadian serupa.
Daniel menegaskan, KAI juga menyiapkan sejumlah kanal pengaduan yang dapat diakses secara cepat oleh pelanggan, mulai dari petugas di stasiun, kondektur, maupun Customer Service on Station (CSOS). Dengan berbagai saluran ini, KAI ingin memastikan bahwa setiap laporan pelanggan dapat ditangani secara profesional dan segera ditindaklanjuti.
Daniel menyebut, KAI juga menerapkan blacklist terhadap pelaku pelecehan. “Kita pastikan blacklist untuk pelaku. Artinya, siapapun yang terbukti melakukan pelecehan seksual di lingkungan kereta api tidak akan diperkenankan lagi menggunakan layanan KAI. Langkah tegas ini diambil sebagai bentuk perlindungan nyata terhadap pelanggan,” ujar Daniel.
Pada kesempatan ini juga dilakukan penandatanganan petisi dukungan kampanye anti pelecehan seksual oleh peserta yang hadir dan pelanggan KA di stasiun. Penandatanganan petisi ini menjadi simbol komitmen bersama untuk menolak segala bentuk pelecehan serta mewujudkan lingkungan transportasi yang inklusif dan ramah bagi semua orang.
Dengan kampanye ini, KAI Daop 4 Semarang berharap dapat membangun kesadaran kolektif bahwa perjalanan kereta api harus menjadi pengalaman yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi semua pelanggan.
Kegiatan “Naik Kereta Asyik Nggak Toksik” ini menjadi bukti komitmen KAI dalam memberikan layanan terbaik dan menghadirkan perjalanan yang selamat, aman, tertib, dan nyaman sesuai dengan visi perusahaan.
Ke depan, KAI akan terus memperkuat edukasi, inovasi, dan kerja sama lintas sektor demi tercapainya transportasi publik yang bebas dari pelecehan seksual.
Ning S













