JEPARA (SUARABARU.ID)- Suasana Aula Pusparaja, Balai Diklat Hukum Jawa Tengah, Semarang, Senin (15/9/2025), tampak berbeda dari biasanya. Lebih dari 40 peserta yang datang dari 10 provinsi larut dalam sesi pelatihan keprotokolan yang sarat nuansa reflektif.
Mereka tak sekadar belajar soal tata upacara, tata tempat, dan tata penghormatan, melainkan juga disuguhi materi penguatan manajemen perubahan yang dikaitkan erat dengan kesehatan mental dan daya resiliensi ASN.
Di hadapan para peserta, Dr. Muh Khamdan, widyaiswara Badiklat Hukum Jawa Tengah, menekankan pentingnya perubahan bukan hanya sebagai jargon birokrasi, melainkan sebagai kebutuhan mendasar aparatur sipil negara (ASN) untuk bertahan dalam arus ketidakpastian. “Perubahan bukanlah sesuatu yang ditakuti, melainkan peluang untuk menemukan kekuatan baru dalam diri,” ujarnya.
Manajemen perubahan, menurut Khamdan, sangat erat dengan sikap adaptif. Dalam konteks ASN, adaptif tidak sekadar mengikuti aturan baru, melainkan kemampuan mengolah tekanan, mengenali potensi diri, serta bekerja produktif dengan semangat kolaborasi. Inilah pondasi utama yang kelak mengarahkan pada terbentuknya birokrasi yang luwes, inovatif, sekaligus berempati pada masyarakat atau dikenal dengan birokrasi agile.
Khamdan mengaitkan manajemen perubahan dengan aspek mental health. Paparnya, kesehatan batin seseorang dapat memengaruhi cara berpikir, cara merasa, hingga cara berperilaku dalam keseharian. Seorang ASN dengan mental sehat mampu mengatasi tekanan hidup, menyadari potensinya, bekerja dengan produktif, dan berkontribusi positif pada komunitas. “ASN yang sehat mentalnya, akan lebih mudah menciptakan layanan publik yang menyejukkan, bukan membebani,” kata
Dalam forum itu, para peserta diajak untuk menyusun rencana aksi pasca pelatihan. Rencana tersebut kelak menjadi data dukung pengelolaan alumni oleh Badiklat Hukum Jawa Tengah. Melalui mekanisme ini, dampak pelatihan diukur tidak hanya pada tataran pengetahuan, melainkan juga peningkatan kinerja nyata di instansi masing-masing.
“Penguatan yang kita lakukan adalah bekal agar para peserta mampu menjadi agen perubahan di institusi mereka,” tutur Khamdan. Ia menekankan bahwa keberhasilan pelatihan baru bisa dilihat ketika alumni mampu melahirkan inovasi dan memberi manfaat langsung bagi organisasinya.
Para peserta yang hadir dari Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah, merasakan atmosfer berbeda. Pelatihan keprotokolan yang biasanya formal kini dibingkai dengan semangat membangun resiliensi. Mereka diajak melihat protokol bukan sekadar tata cara, melainkan ruang untuk mengasah empati dan kepemimpinan.
Khamdan menegaskan, mental health menjadi modal penting dalam menghadapi dunia yang kian tidak terduga. Ia merujuk pada karakter Robust ASN 2023: adaptif, tech savvy, dan eco friendly. “Robust bukan hanya istilah, tapi sikap hidup ASN yang kuat, mampu berdiri tegak meski diterpa badai perubahan,” katanya tegas.
Dalam sesi diskusi, muncul kesadaran bahwa layanan publik tak cukup hanya cepat dan tepat, tetapi juga harus berempati. ASN dituntut untuk menghadirkan pelayanan yang humanis, yang mengedepankan kepemimpinan empati dan kesediaan melayani dengan sepenuh hati. Di sinilah peran manajemen perubahan menemukan relevansinya.
Perubahan birokrasi, tambah Khamdan, harus menyentuh ranah manusiawi. “Jika ASN hanya fokus pada prosedur, publik hanya akan merasakan dinginnya mesin. Tetapi jika ASN menghadirkan empati, layanan publik akan menjadi ruang tumbuh bersama,” ucapnya.
Bagi para peserta, pelatihan ini menjadi refleksi penting. Mereka menyadari, tugas ASN bukan semata menjalankan administrasi, tetapi juga merawat kepercayaan publik. Kepercayaan itu hanya tumbuh jika ASN mampu hadir sebagai pribadi yang tangguh, sehat mental, dan inovatif dalam memberi pelayanan.
Semarang menjadi saksi bagaimana sebuah pelatihan keprotokolan bertransformasi menjadi ruang inspirasi. Di sana, manajemen perubahan bukan sekadar teori, melainkan napas baru yang dihembuskan ke dalam jiwa birokrasi. Dengan resiliensi tinggi, ASN diharapkan mampu menjawab tantangan zaman, melalui melayani publik dengan hati, inovasi, dan keberanian menghadapi perubahan.
ua













