blank
Seminar budaya dilakukan di Situs Samberan, Tempuran, Kabupaten Magelang, hari ini (Senin, 15/9/25). Foto: eko

KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) – Sarasehan budaya bertema: Menelisik keragaman dan manfaat nilai spiritual Situs Samberan dan Borobudur, dilakukan di Situs Samberan, Dusun Samberan, Desa Ringinanom, Tempuran, Kabupaten Magelang, hari ini Senin (15/9/25). Situs Samberan merupakan peninggalan Hindu, sedangkan Candi Borobudur merupakan peninggalan Buddha.

Pemrakarsa kegiatan tersebut, Sucoro Setrodiharjo, mengatakan, melalui sarasehan tersebut dia mencoba mempertemukan dua peninggalan Hindu dan Buddha. Tentu untuk menggali potensi yang dapat dikembangkan dari dua peninggalan sejarah itu. Sarasehan tersebut, sekaligus dalam rangka 23 tahun tradisi Ruwat Rawat Borobudur.

Petugas Badan Riset dan Inovasi Nasional (Brin), Novita Siswayanti, ketika mengawali acara itu mengatakan, melalui sarasehan tersebut bagaimana bisa saling sharing, berbagi pengalaman. Agar situs tersebut bisa hidup. Masyarakat bisa punya rasa memiliki, menjaga, dan dengan adanya situs tersebut bermanfaat.

Diharapkan, warga bisa nguri-uri (memelihara) kebudayaan di sekitar situs, atau bisa menyambung dengan situs di wilayah sekitarnya. Sebagai contoh, bisa dihubungkan dengan lokasi Kali Reco di dekat situs tersebut. Bisa juga dikaitkan dengan cerita, pernah ada pedagang es yang masuk ke situs tersebut, tidak bisa keluar.

Awalnya orang itu mengatakan bahwa situs tersebut hanya batu. Tidak ada istimewanya, kok dijaga, diberi pagar pembatas dan dipelihara seperti itu.

“Setelah berbicara seperti itu orang tersebut tidak bisa keluar dari pagar situs. Begitu dia meminta maaf dan mengakui kesalahannya, orang itu bisa menemukan jalan pulang,” kata wanita dengan nama panggilan Mbak Ita ini.

Petugas lembaga penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan, serta invensi dan inovasi yang terintegrasi itu selebihnya mengharapkan bisa menghubungkan situs yang disucikan, sekaligus sebagai sumber informasi, edukasi, wisata. “Orang yang masuk ke situ memiliki adab, menjaga ucapan, cara berpakaian yang sopan,” harap peneliti masyarakat dan budaya itu.

Diingatkan pula, bahwa situs merupakan warisan budaya dan leluhur kita, yang perlu dijaga dan dirawatnya. Sebagai umat yang bertoleransi satu sama lain, yang terbuka menerima perbedaan.

Dia ingin bisa mempublikasikan kepada dunia. Disebutkan bahwa berbagai kegiatan yang dia lakukan itu dibukukan. Itu untuk bahan publikasi.

Sambut baik

blank
Sejumlah narasumber sarasehan berfoto bersama di Situs Samberan, hari ini (Senin, 15/9/25). Foto: eko

Dian Fransiska, dari Museum dan Cagar Budaya Warisan Dunia Borobudur, yang hadir dalam acara itu menyambut baik seminar tersebut. Situs Samberan merupakan situs cagar budaya, yang sejak 2014 ditetapkan menjadi situs cagar budaya peringkat nasional. Harapannya situs yang ada di sekitar Candi Borobudur bisa memecah kunjungan. Tidak terpusat di Candi Borobudur saja, namun berkunjung ke situs lain.

Tujuannya, kata dia, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Diakui ada beberapa tantangan untuk bisa menarik pengunjung. Maka, dibutuhkan ide-ide dan hal-hal yang perlu diperhatikan terkait kesiapan masyarakat dalam menerima banyak pengunjung, juga identifikasi potensi. Apa saja yang bisa ditawarkan, sehingga bisa menarik pengunjung. Setelah potensinya digali bisa membuat paket wisata.

Misalnya ada sepeda onthel. Itu bisa dibuat sepeda wisata. Hingga Situs Samberan itu bisa menjadi jalur kunjungan wisatawan

Terbesar

Hari Setiawan dari Museum dan Cagar Budaya Borobudur saat diberi kesempatan dalam acara tersebut berterima kasih kepada warga Samberan dan petugas pemelihara situs tersebut. Seandainya ketika menemukan situs tersebut langsung dijual, maka sudah tidak ada situs itu. Karena batu batanya habis.

Situs berukuran 16×16 meter itu terbesar peninggalan abad VIII sampai X Masehi di Jateng. Situs itu memiliki peran yang sangat penting pada masa lalu. Terkait prosesi religius.

Membuktikan, situs Buddha didukung pemukiman Hindu. Sekarang tinggal bagaimana melestarikan situs tersebut. Itu butuh kerja sama yang baik antara pemerintah pusat dan daerah.

Disebutkan, komposisi bata tersebut sulit untuk ditiru. Karena kekerasannya, materialnya, tanahnya, mempunyai sifat yang lebih baik dibanding batu bata saat ini. “Ini situs agama Hindu,” jelasnya.

Tahun 2005

Pemilik tanah yang ada situsnya, Wahani (68), mengisahkan, itu
ditemukan tahun 2005. Ketika itu dia sedang menggali tanah untuk dibuat bata merah bersama anaknya, Munrodin. Ketika ditemukan berbentuk fondasi
16 meter persegi (M2).

Kini, tanah warisan dari orang tuanya, Tukul – Jembak, sekitar 600 M2 itu sudah dibeli pemerintah. Adapun yang dipasang pagar keliling, totalnya sekitar 2.700 M2.

Dalam seminar tersebut menghadirkan sejumlah pejabat pemerintah kabupaten dan Muspika Tempuran. Juga menghadirkan tokoh agama Buddha, Bante Dikti dan Jero Gede Swardiasa dari pengurus Hindu Magelang. Masing -masing diberi waktu untuk mengemukakan pendapatnya.

Eko Priyono