Oleh : Fahrudin Brodin
Mimbar Utara adalah sebuah forum komunikasi masyarakat Jepara yang di deklarasikan atas kesepakatan dan kesadaran bersama bahwa di Jepara harus dibangun menjadi satu masyarakat komunikatif yang terbuka dan akuntable. Forum ini muncul sebagai bentuk kesadaran bersama pasca tragedi tewasnya Alfan Kurniawan yang membuat hati rakyat semakin terluka, kecewa dan marah.
Dalam situasi krisis kepemimpinan di hampir semua lini pemerintahan, kita memandang perlu sesegera mungkin melakukan konsolidasi kebangsaan untuk merumuskan strategi mendorong praktik pengelolaan negara dan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih. Namun impian itu semakin jauh panggang dari api dalam sepuluh tahun terakhir.

Karena itu meneruskan agenda keprihatinan masyarakat “kesenian” Jepara terhadap situasi kenegaraan kita yang kacau balau, salah satunya kerusuhan di gedung DPRD Jepara, maka segera kita mempersiapkan agenda Sidang Istimewa Rakyat Jepara sebagai bagian penting dari konsolidasi kerakyatan kita. Sebelumnya diawali dengan aksi pembacaan pernyataan sikap bersama di depan gedung DPRD Jepara pada tanggal 31 Agustus 2025.
Sebab kesadaran berbangsa dan bernegara kita rasakan perlu untuk dibangkitkan lagi di atas dasar moral, kesetaraan, kesejahteraan dan keadilan. Urusan kebangsaan, tata kelola pemerintahan daerah, dan lain lain haruslah dijalankan atas kehendak bersama, bukan kehendak para elit semata.

Jaman berubah. Rakyat harus hadir dalam setiap pelaksanaan kebijakan pemerintah. Tentang mekanisme dan tata caranya akan kita rundingkan bersama. Saluran saluran lama aspirasi rakyat yang telah mampat dan rusak harus segera kita perbaiki bersama.
Karena itu hal-hal mengenai bagaimana membangun Jepara ke depan bukanlah monopoli Pemerintahan Daerah, termasuk DPRD Jepara di dalamnya, sesuai dengan format kenegaraan kita.

Masyarakat, rakyat, “wong cilik” tidak boleh hanya menjadi obyek pembangunan belaka. Lebih lebih dalam kenyataannya sering kali masyarakat atau rakyat menjadi korban dari pelaksanaan pembangunan yang dijalankan jauh dari kehati hatian. Lebih lebih keputusan – keputusan yang lahir dari proses politik yang kolutif dan koruptif.
Rakyat atau warga bangsa yang aktif, progresif, responsif dalam melakukan pengawasan dan kolaborasi dalam pembangunan harus dipahami sebagai suatu aset yang positif dan berharga.
Realitas sosial hari ini, ketimpangan di segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara harus kita koreksi bersama dengan mengedepankan musyawarah dan persaudaraan. Feodalisme yang sejauh ini menjadi dasar terselubung sistem demokrasi kita harus sama sama kita koreksi dengan mengedepankan Ilmu Pengetahuan dan hati nurani.

Mimbar Utara
Mimbar Utara membuka kesempatan rakyat untuk mengekspresikan cintanya pada bangsa, negara dan daerahnya. Juga kedaulatannya yang kadang dimanipulasi. Tak harus dengan suara lantang dan kritik pedas, tetapi bisa dalam bentuk nyanyian, puisi, hingga lantunan indah tembang Macapat. Bahkan dengan doa puja puji pada Sang Pencipta.
Mimbar Utara juga bukanlah menara gading dan panggung akademis melainkan loudspeaker dari suara rakyat untuk menjaga kadaulatannya yang telah dimanipulasi. Dalam hal ini Mimbar Utara memberi peluang bagi rakyat, akademisi, pemerintah, usahawan, agamawan tanpa diskriminasi untuk berbicara tentang nasib dan harapannya.
Dengan demikian Mimbar Utara akan senantiasa menyuarakan isu isu strategis mengenai berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa, dan juga masyarakat Jepara.
Format Mimbar Utara adalah sebuah mimbar kecil yang bisa digunakan dimana saja dan diharapkan menarik dan memantik berbagai platform media digital hingga memungkinkan isu isu, rekomendasi-rekomendasi yang komprehensif bisa diakses dengan mudah oleh publik. Direncanakan sebulan sekali Mimbar Utara ini akan hadir di sudut alun -alun Jepara
Setiap perbedaan pendapat akan disikapi sebagai sebuah rahmat untuk memantapkan persaudaraan kita.
Pada prinsipnya, Mimbar Utara dibangun atas dasar cinta kasih kekeluargaan dan semangat gotong royong yang telah menjadi nafas kehidupan dari bangsa ini.
Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa!
Penulis adalah budayawan Jepara













