KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) – Tokoh spiritual dari sejumlah daerah melakukan ritual khusus di beberapa tempat, Sabtu (23/8/25). Adapun yang memimpin doa adalah Gde Mahesa dari perguruan Anggoro Kasih Sapto Hudoyo Yogyakarta dan KRT Dipoyudo dari Padepokan Diponegaran, Magelang.
KRT Dipoyudo hari ini (Minggu, 24/8/25) menuturkan, pesertanya, asal Pasuruan (3 orang), Surabaya (4), Malang (4), Bali (8), Pujokusuman Yogyakarta (3), Anggoro Kasih Yogyakarta (6), Lembaga Adat Desa Borobudur (8), petugas dari Badan Konservasi Borobudur (8).
Ritual khusus pada Sabtu (23/8/25) dimulai sekitar pukul 15.00 di Sendang Sajodo, Brojonalan, Wanurejo, Borobudur. Selanjutnya ke Candi Ngawen, Muntilan. Kemudian di pelataran Candi Borobudur sampai pukul 23.15.
Tak hanya itu, mereka melakukan sarasehan di Padepokan Diponegaran, Perguruan Elang Buana Sakti Guru Alif, Dusun Sodongan, Bumiharjo, Borobudur, Kabupaten Magelang, sampai pukul 01.00.
Keturunan P Diponegoro, KRT Dipoyudo, ketika ditemui di tempat tinggalnya yang sekaligus merupakan Padepokan Diponegaran, Perguruan Elang Buana Sakti Guru Alif, Dusun Sodongan, Bumiharjo, Borobudur, menuturkan, ritual atau doa khusus dilakukan demi bakti leluhur. Itu dalam rangka keselarasan kehidupan di Indonesia. “Kami prihatin, belakangan ini terjadi demo di Pati, Banyuwangi, Medan, Aceh, akibat carut marut, tak ada kepastian di bidang hukum dan ekonomi,” katanya.
Bantuan Spiritual
Maka, mereka minta bantuan spiritual kepada Tuhan dan leluhur. “Kami minta keadilan yang hakiki. Pejabat yang tidak benar dihakimi, yang benar dilanggengkan, masyarakat tercukupi kebutuhan sandang, pangan, papan dan kesejahteraannya,” harapnya.
Melalui doanya, mereka ingin warga masyarakat yang terpuruk segera bangkit. Selain itu kondisi negara tetap aman dan damai. “Pejabatnya mengayomi masyarakat, agar tidak terjadi pertumpahan darah,” katanya.
Selebihnya dia ibaratkan, kerbau pun kalau sering dipukuli, suatu saat akan berontak. Begitupun manusia, kalau keadaannya terpuruk, akan bangkit emosinya. “Jangan sampai terjadi peran
TNI, Polri melawan masyarakat,” imbuh keturunan ke enam dari P Diponegoro itu.
Dia juga mengingatkan, dahulu masyarakat berjuang bersama memerdekakan bangsa Indonesia. Maka, sangat disesalkan kalau sekarang terjadi kerusuhan di beberapa daerah. “Kalau tidak diredam bisa hancur semua,” tutur pria yang lahir di Sodongan, Bumiharjo, Borobudur itu.
Di sisi lain, sekarang ini pelaku adat spiritual sudah banyak berkurang. Menurut dia, adat kebiasaan baik harus dibangkitkan kembali.
“Kemarin kami memakai doa yang dimengerti oleh peserta. Dengan doa- doa Jawa peninggalan Raja Mataram III, Kanjeng Sultan Agung,” jelasnya.
Eko Priyono













