blank
Mahasiswa etnis UKSW menari bersama dalam Peringati HUT RI Ke-80. Foto: UKSW

SALATIGA (SUARABARU.ID) – Lapangan Sepak Bola John Osok Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) pada Minggu (17/8/2025) pagi tampak lebih meriah dari biasanya.

Merah Putih berkibar gagah, bersama deretan peserta upacara baik dari Sekolah Kristen Satya Wacana, mahasiswa baru angkatan 2025, dosen, tenaga kependidikan, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Seperti tahun sebelumnya, UKSW yang dikenal sebagai miniatur Indonesia kembali mengajak civitas academica untuk mengikuti upacara kemerdekaan dengan mengenakan pakaian adat nusantara. Berbagai motif kain nusantara, dari songket, ulos, hingga batik, berpadu di tengah lapangan hijau. Semangat nasionalisme tidak hanya terasa dari kibaran bendera, tetapi juga para peserta saat mengenakan pakaian adat nusantara yang menjadi simbol nyata cinta tanah air melalui budaya.

UKSW adalah Indonesia Mini

Tahun ini merupakan kali ketiga UKSW menjalankan tradisi berpakaian adat saat upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Pimpinan Universitas secara konsisten memberikan teladan dengan mengenakan pakaian adat nusantara dari berbagai daerah di Indonesia. Tahun ini, Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami masih mengenakan pakaian adat dari Pulau Sumatera, yaitu Aceh. Sebelumnya, rektor mengenakan pakaian adat dari Minang pada HUT ke-78 RI dan Lampung pada HUT ke-79 RI.

“UKSW adalah gambaran Indonesia mini. Dengan memakai baju adat dari berbagai daerah, kita merayakan persatuan dan keberagaman secara nyata,” ungkap Rektor Intiyas, Selasa (19/8/2025).

Sama seperti sebelumnya, tahun ini tradisi tersebut tak sekadar simbolik. Pakaian adat yang dikenakan civitas academica dinilai oleh juri dari beberapa aspek, di antaranya kelengkapan pakaian adat dan keserasian. Menurut salah satu juri Profesor Ir. Lieli Suharti, M.M., Ph.D., mengenakan pakaian adat juga meningkatkan kecintaan terhadap tanah air serta pengetahuan tentang budaya lain.

“Saat melihat teman kita mengenakan pakaian adat, kita jadi tahu budaya daerah lain dan mengingat betapa kayanya Indonesia,” katanya. Juri lainnya, Dr. Lasti Nur Satiti, M.Pd., juga menanggapi positif tradisi ini. “Kalau bukan kita yang merawat budaya, siapa lagi?,” katanya.

Bangga akan Indonesia

Juara pertama pakaian adat nusantara tahun ini disandang oleh Patrick Michael Raharja, S.Si., Kepala Sekolah SMP Kristen Satya Wacana, yang memakai baju adat Nias. Juara kedua dan ketiga masing-masing diraih oleh Dr. Sri Aryanti Kristianingsih, M.Si., M.H., Psikolog yang juga Dekan Fakultas Psikologi dengan mengenakan baju adat Palembang, dan Dr. Henny Dewi K., M.Pd., Ketua Program Studi Magister Pendidikan Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang memakai baju adat Bugis.

“Sengaja memilih baju adat Sumatera, Nias untuk menunjukkan kebhinnekaan di UKSW. Ini cara saya memeriahkan dan menunjukkan rasa bangga akan Indonesia,” kata Patrick Michael Raharja.

Pada kategori kelompok, juara pertama diraih Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer (FTEK) yang mengangkat tema kebhinnekaan, juara kedua diraih Fakultas Teologi dan juara ketiga diraih oleh Sekolah Kristen Satya Wacana. Wakil Dekan Fakultas Teologi Pendeta Irene Ludji, S.Si.-Teol., MAR., Ph.D, mengungkapkan pakaian adat yang dikenakan merepresentasikan semangat kemerdekaan sekaligus kekhasan UKSW sebagai kampus multikultural.