Oleh : Fahrudin
Seni bisa hidup kembali jika mau menghirup, bernafas, mengunyah, menelan permasalahan yang ada di mana seni itu hidup berdampingan, berkelindan, saling dukung, saling menguatkan, saling mengingatkan dengan ranah lain. Kehidupan. Seni juga harus ikut serta memecahkan masalah kehidupan yang ada.

Keruntuhan moral, kehancuran etik, merosotnya tanggungjawab intelektual terbukti telah menggiring Indonesia pada kerusakan alam yang luar biasa. Di dalam tiga dasawarsa terakhir indonesia telah kehilangan jutaan hektar hutan dan lahan lainnya. Ini berarti juga musnahnya begitu banyak flora dan fauna yang tak terhitung jumlahnya. Kerugiannya tak terhitung lagi.

Para seniman sejati sedang berjuang melawan ketidak adilan ini dengan terus bahu membahu. Dengan kekuatan potensial kehidupan, semangat gotong royong dan kebersamaan. Mereka mengabaikan berbagai pengkotak kotakan seni: seni murni, kriya, dll.

Di sini deskripsi atau definisi bahwa seniman adalah ubersman menjadi “nyambung”.Seniman bukanlah sekedar tukang gambar, tukang patung, tukang ukir, dan tukang tukang lainnya hasil dogma industri kapitalistik yang menganggap manusia adalah ” Sekrup sekrup” Yang kaku, dingin dan patuh pada sistem.
Lebih daripada itu seniman adalah orang yang mencintai kehidupan, merawat, mendidik generasi untuk menyelamatkannya dengan karya dan isu isu yang menggetarkan hati, dan melahirkan kesadaran(kolektif). Fenomena Art collaborative membuktikan bahwa seni yang efektif membutuhkan daya dukung ilmu pengetahuan dan aksi praksis yang tepat.

Tilik Segoro Lor adalah sebuah triger untuk menembakkan kesadaran pada dada setiap orang (khususnya wong Njeporo) . Bagaimana cara pandang masyarakat Jepara atas lingkungannya,salah satunya bisa dilihat dari jejak kebudayaannya yang sampai ke lautan. Jika wajah kisik, pantai kita, kita biarkan hancur, bopeng dan bernanah, lantas apa gunanya kita berbangga diri menjadi anak cucu Ratu Kalinyamat? Butuh tafsir baru atas sejarah, kebudayaan dengan konteks tantangan jaman. Jika politisi dan pemuka agama terpenjara dalam budaya birokrasi yang hipokrit, serta rayuan surga dan neraka yang absurd, lantas di mana seniman seniman Jepara mengartikulasikan hidupnya?

Roni Lantang, Puji Ruskamto, koliq, Karim, Citra, Den Hasan dan kawan yang lain telah memulainya. Lantas apa gerakan selanjutnya? Sejauh ini Tilik Segoro Lor masih hanya enak dibayangkan sebagai sebuah gagasan besar. Akan tetapi eksekusinya masih sangat minimalis. Butuh rancangan yang lebih matang, butuh effort yang besar, butuh kolaborasi lintas seniman, ilmuwan, masyarakat. Butuh dampak yang signifikan!
Penulis adalah budayawan Jepara













