blank
Setiap menyambut Tanggal 1 Sura, Keraton Kasunanan Surakarta, selalu menggelar prosesi kirab pusaka menyertakan Kebo Bule. Ini menjadi event wisata tahunan di Kota Bengawan.(Dok.Ist)

SURAKARTA (SUARABARU.ID) –  Tanggal 1 Sura Tahun Dal 1959 (2025 M) Windu Sancaya, jatuh Hari Jumat Kliwon Tanggal 27 Juni 2025. Dalam Kurup Aboge, masuk dalam hitungan Daltugi. Artinya, setiap Tahun Dal, Tanggal 1 Sura-nya jatuh pada Hari Sabtu Legi. Ini mengacu pada pedoman Aboge, yakni setiap Tahun Alip, Tanggal 1 Sura-nya jatuh pada Rabu Wage.

Tapi, saat ini masuk dalam siklus Kurup Asopon (Alip Seloso Pon), maka penentuan Tanggal 1 Sura-nya dimajukan satu hari dari versi Aboge. Artinya, bila hitungannya jatuh Daltugi (Tahun Dal Setu Legi), maka dimajukan sehari yakni Jumat Kliwon.

Dalam penanggalan Jawa, Kurup adalah siklus periode 120 tahunan atau 15 windu. Ini digunakan untuk menyesuaikan perbedaan antara Kalender Jawa dan Kalender Hijriyah. Setiap Kurup, ada satu hari yang dihilangkan, untuk menyamakan siklus bulan dari kedua kalender tersebut.

Kalender Jawa menggunakan siklus 8 tahun (windu) dan memiliki sistem kabisat yang berbeda dengan kalender Hijriyah. Kalender Jawa memiliki 3 tahun kabisat dalam 1 windu, sedangkan kalender Hijriyah memiliki 11 tahun kabisat dalam 30 tahun.

Akibat perbedaan ini, terdapat selisih satu hari setiap 120 tahun antara kedua kalender. Untuk mengatasi perbedaan ini, kalender Jawa menggunakan sistem kurup, yaitu periode 120 tahun, di mana satu hari dihapus untuk menyelaraskan dengan kalender Hijriyah. Kurup yang sekarang berlaku, adalah Kurup Asapon (Alip Selasa Pon). Ini telah dimulai sejak Tahun Alip 1867 (1936 Masehi). Periode siklus Kurup Asopon ini, berlangsung Tahun 1867 sampai Tahun 1987 Jawa (J) atau Tahun 1936 sampai dengan Tahun 2053 Masehi.

Keraton

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dalam menyambut 1 Sura Tahun Dal 1959, menggelar Kirab Pusaka Jumat Kliwon dinihari (27/6/25) selepas Pukul 00.00 tengah malam. Ini sesuai dengan surat yang dibuat oleh Pengageng Parentah Keraton KGPH Adipati Drs Dipokusumo MSi Nomor: 113/PK-KKSH/VI/2025, tertanggal 16 Juni 2025.

Dalam surat resmi Keraton Kasunanan Surakarta tersebut, para Abdi Dalem katimbalan (diundang) pisowanan (datang ke keraton) untuk melakukan hajad dalem (acara Raja) kirab pusaka hamapak (menyambut) warsa anyar (tahun baru) Dal 1959.

Budayawan Jawa Peraih Anugerah Bintang Budaya Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, cara menentukan Tanggal 1 Sura dalam penanggalan Jawa, berpedoman pada petung (perhitungan) Aboge dan Asopon.

Pranoto yang Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta, menyatakan, Aboge adalah kependekan dari Tahun Alip Rebo Wage. Artinya, setiap Tahun Alip, Tanggal 1 Sura-nya jatuh pada Hari Rabu Wage. Kemudian Asopon, dipahami sebagai Tahun Alip Selasa Pon. Penjelasannya, manakala menganut Asopon, maka Tanggal 1 Sura jatuh pada hari Selasa Pon.

Tahun Jawa di sini, adalah Kalender Jawa yang diciptakan Raja Mataram Islam, Sultan Agung (1613-1645), dengan memadukan Kalender Saka dari India yang mendasarkan pergerakan matahari (solar), dengan Kalender Hijriyah (Kalender Islam) yang mendasarkan pada pergerakan bulan (lunar).

Metodis

Di luar itu, ada Kalender Jawa Purwa yang mendasarkan petung pada siklus Pranata Mangsa. Yang Tahun Baru-nya jatuh Tanggal 1 Kasa 2936 Jawa atau Tanggal 22 Juni 2025 lalu.

Kalender Sultan Agungan, dimulai pada Jumat Legi Tanggal 1 Sura Tahun Alip 1555 J atau 1 Muharram 1043 H (Tanggal 8 Juli 1633 M). Meski demikian, masih ada perbedaan perhitungan antara tahun Jawa dan tahun Hijiriyah. Tiap 120 tahun sekali, akan ada perbedaan satu hari pada kedua sistem penanggalan tersebut. Maka pada saat itu Tahun Jawa diberi tambahan satu hari.

Periode 120 tahun ini disebut dengan Kurup. Sampai awal abad 21 ini, telah terdapat empat Khurup. Yakni Kurup Jumuwah Legi/Amahgi (1555 J-1627 J/1633 M-1703 M), Kurup Kemis Kliwon/Amiswon (1627 J-1747 J/1703 M-1819 M), Kurup Rebo Wage/Aboge (1867 J-1987 J/1819 M-1963 M), dan Kurup Selasa Pon/Asapon (1867 J-1987 J/1936 M-2053 M).

Ada cara metodis untuk menghitung kapan Tanggal 1 Sura, menganut babon pedoman versi Aboge. Disebut Aboge, itu artinya setiap datang Tahun Alip, Tanggal 1 Sura-nya jatuh Rabu Wage. Setelah Aboge, kemudian Ekatpon. Yakni pada Tahun Ehe, Tanggal 1 Sura-nya jatuh pada Hari Akat Pon (Tahun Ehe, Akat Pon).

Selanjutnya Walmahpon (Tahun Jimawal, Jemuah/Jumat Pon). Berikut Jesoing (Tahun Je, Seloso Pahing). Giliran selanjutnya, Daltugi (Tahun Dal, Setu atau Sabtu Legi) sebagaimana yang berlangsung kali ini.

Pedoman hitungan selanjutnya Bemisgi, yakni untuk Tahun Be maka tanggal satu Sura-nya jatuh hari Kamis Legi (Bemisgi). Berlanjut untuk Tahun Wawu, hitungannya mengacu pada Wunenwon (Tahun Wawu, Senin Kliwon). Selanjutnya Kirmahge, yang artinya pada Tahun Jimakir Jemuah Wage (Jumat Wage).(Bambang Pur)