blank
Widyaiswara Badiklat Hukum Jawa Tengah, Muh Khamdan, dalam penyampaian materi pada orientasi CPNS, 23 Juni 2025. Foto: Dok Badiklat Hukum Jateng

SEMARANG (SUARABARU.ID)  — Penguatan nilai-nilai dasar Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi agenda penting dalam orientasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Kantor Wilayah Imigrasi Jawa Tengah. Salah satu sorotan utama kegiatan ini adalah penyampaian materi BerAKHLAK oleh Widyaiswara Balai Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Hukum Jawa Tengah, Dr. Muh Khamdan, pada 19 Juni dan 23 Juni 2025 di aula Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Semarang.

Kegiatan orientasi CPNS ini berlangsung sejak 10 Juni hingga 30 Juni 2025. Dalam momentum ini, Muh Khamdan hadir untuk membekali 19 CPNS dari Rudenim Semarang serta sejumlah taruna tingkat empat dan tingkat enam dari Politeknik Pengayoman Indonesia (Poltekip), Kementerian Hukum, yang sedang menjalani program magang.

Dalam sesi yang berlangsung interaktif, Khamdan mengupas tuntas nilai-nilai dasar ASN yang terangkum dalam akronim BerAKHLAK, yakni Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. “Nilai-nilai ini bukan sekadar slogan, melainkan kompas etika dan perilaku ASN masa depan yang tangguh dan tanggap terhadap tantangan zaman,” tegas Khamdan di hadapan peserta.

blank
Widyaiswara Badiklat Hukum Jawa Tengah, Muh Khamdan, dalam penyampaian materi pada orientasi CPNS, 23 Juni 2025. Foto: Dok Badiklat Hukum Jateng

Ia juga menyampaikan bahwa nilai-nilai tersebut harus menjadi bagian dari karakter ASN untuk memperkuat jati diri birokrasi Indonesia di tengah disrupsi global. “ASN Robust 2030 hanya bisa diwujudkan apabila ASN hari ini memiliki fondasi nilai yang kuat dan konsisten, termasuk integritas Pancasila dalam bekerja dan melayani,” tambahnya.

Para peserta orientasi, baik CPNS maupun taruna magang, tampak antusias. Mereka diajak aktif berdialog tentang penerapan nilai-nilai BerAKHLAK dalam dinamika pelayanan publik, khususnya di bidang keimigrasian dan penegakan hukum keimigrasian yang sensitif terhadap isu HAM dan kebangsaan.

Poin penting yang disorot Khamdan adalah penguatan kode etik ASN. Menurutnya, kode etik merupakan pagar moral yang harus dipahami dan diinternalisasi dalam setiap langkah ASN. “Etika bermasyarakat, berorganisasi, terhadap diri sendiri, terhadap negara, pelayanan, dan juga dalam beragama, semuanya harus menjadi satu nafas dalam perilaku ASN,” jelasnya.

Kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran lintas generasi antara ASN muda dan taruna, yang menurut Khamdan sangat strategis dalam membangun lingkungan ASN belajar yang inklusif dan progresif. “Kita menanamkan semangat kolaboratif, tidak hanya dalam tataran kerja, tetapi juga dalam budaya kerja lintas unit dan lintas angkatan,” ujarnya.

Kehadiran peserta dari latar belakang dan pengalaman yang beragam menciptakan atmosfer pelatihan yang dinamis. Salah satu CPNS, Shafira, menyebut bahwa sesi bersama Khamdan membekas karena membumikan nilai-nilai ASN ke dalam konteks kehidupan sehari-hari. “Pak Khamdan membimbing kami memahami makna pelayanan bukan hanya kepada atasan, tapi utamanya kepada rakyat,” ungkapnya.

Kepala Rudenim Semarang, mengapresiasi pendekatan pelatihan yang membangun kesadaran etika dan integritas sejak dini. “CPNS kami harus menjadi pionir ASN BerAKHLAK. Kami berkomitmen menjadi unit kerja yang mempercepat lahirnya ASN tangguh menyongsong 2045,” katanya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari transformasi kelembagaan di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Imigrasi Pemasyarakatan Jawa Tengah, yang menempatkan pembangunan SDM sebagai prioritas strategis. Selain orientasi teknis keimigrasian, aspek karakter dan nilai menjadi instrumen utama dalam membangun ASN berkelas dunia.

Khamdan juga menekankan pentingnya nilai loyalitas yang konstitusional, bukan loyalitas sempit. “ASN bukan milik kekuasaan, tetapi milik rakyat. Maka loyalitas sejatinya kepada Pancasila, UUD 1945, dan kepentingan publik yang sah,” ujarnya, yang disambut tepuk tangan peserta.

Orientasi ini juga membekali peserta dengan wawasan tentang ASN sebagai perekat dan pemersatu bangsa. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, ASN menjadi garda depan dalam menjaga keutuhan dan keberagaman nasional melalui pelayanan yang inklusif dan adil.

Seiring arah reformasi birokrasi 2020–2024 yang diperluas menuju agenda ASN 2045, penguatan karakter ASN menjadi keniscayaan. “BerAKHLAK adalah jawaban atas tuntutan ASN kompetitif, adaptif, dan berintegritas tinggi untuk masa depan Indonesia Emas,” ujar Khamdan menutup sesi.

Kegiatan yang berlangsung selama hampir tiga jam ini menjadi refleksi bahwa pembangunan ASN tidak hanya melalui pelatihan teknis, tetapi juga pembinaan mental, etika, dan ideologi kebangsaan. ASN Robust 2030, dalam visi Khamdan, adalah ASN yang teguh dalam nilai, cerdas dalam karya, dan tulus dalam pelayanan.

Hadepe