blank
Kondisi eks Stasiun Kudus saat ini banyak yang rusak. foto: Ali Bustomi

KUDUS (SUARABARU.ID) – Upaya Pemkab Kudus merevitalisasi eks Stasiun Kudus menjadi sentra kuliner terus berjalan. Selasa (27/5/2025), tim dari PT KAI bersama Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kudus, Dinas Perdagangan (Disdag), Dinas Perhubungan (Dishub) melakukan pengukuran lahan yang akan direvitalisasi.

Pengukuran tersebut dilakukan untuk menentukan nilai sewa yang harus dikeluarkan Pemkab Kudus atas asset milik PT KAI tersebut.

Kepala BPKAD Kudus Djati Solechah mengatakan, pengukuran lahan eks stasiun Kudus ini menjadi dasar untuk menentukan skema kerja sama yang akan dijalin.

”Dari hasil pengukuran sementara, luas lahan tercatat 6.648 meter persegi. Tarif sewa yang harus dibayarkan Pemkab Kudus kepada PT KAI sebesar Rp 94.607 per meter persegi per tahun,” jelasnya, Selasa (27/5/2025).

Saat ini, lanjut Djati, pihaknya tengah menyusun rencana kerja sama secara strategis dan administratif untuk diajukan ke PT KAI.

”Kami pastikan seluruh proses berjalan transparan dan sesuai ketentuan. Rencana ini kami godok bersama dinas terkait agar pemanfaatan lahan bisa optimal dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” terangnya.

Lahan eks stasiun Kudus ini dinilai sangat strategis karena berada di kawasan pusat kota dengan akses yang mudah dijangkau.

Setelah kerja sama disepakati, Pemkab Kudus berencana melakukan revitalisasi besar-besaran agar kawasan ini menjadi pusat UMKM yang representatif dan nyaman bagi masyarakat maupun pelaku usaha.

”Kami ingin tempat ini menjadi ikon baru UMKM di Kudus. Selain mendukung pengembangan usaha kecil, juga bisa menjadi destinasi baru bagi warga untuk berbelanja produk lokal,” ujarnya.

Meski demikian, revitalisasi eks stasiun Kudus tersebut tentu tidak mudah. Pantauan di lokasi, bangunan eks stasiun tersebut sudah dalam kondisi rusak parah. Atap stasiun banyak yang bocor, sementara lantainya sudah banyak yang rusak dan ditumbuhi tanaman liar.

Bangunan-bangunan yang awalnya adalah ruangan-ruangan petugas kereta api kala itu, juga terlihat rusak parah saking lamanya terbengkalai. Sementara lahan di sekitarnya ditumbuhi semak belukar yang cukup tinggi.

Dengan kondisi tersebut upaya revitalisasi tentu akan membutuhkan anggaran yang cukup besar. Belum lagi sewa lahan yang dipatok PT KAI saat ini juga tidak murah.

Dari catatan sejarah, Stasiun Kudus diresmikan pada 15 Maret 1884 oleh perusahaan swasta bernama Semarang-Joana-Stoomtram-maatschappij (SJS). Sejarahwan Kudus, Edy Supratno mengatakan, stasiun Kudus juga menjadi saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi revolusi fisik di era kemerdekaan. Presiden Sukarno tiga kali mengunjungi Kudus. Pada tahun 1946 bersama Wapres Hatta dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, pada tahun 1948 dan tahun 1952 bersama Mendagri Mohammad Roem.

Masih pada 1948, Amir Syarifuddin (tokoh pemberontakan PKI Madiun) tertangkap di Klambu Grobogan bersama 800 pengikutnya. Dia kemudian ditahan tiga malam di Kudus. Berikutnya Amir bersama pengikutnya diberangkatkan dari Stasiun Kudus ke Semarang untuk selanjutnya dibawa ke Yogya.

Selanjutnya peristiwa tidak kalah penting adalah pada saat Agresi Militer I tanggal 21 Juli 1947. Saat itu Stasiun Kudus menjadi sasaran pesawat tempur Mustang P-51 yang meninggalkan ratusan lubang bekas peluru di atap stasiun.

Namun keberadaan Stasiun Kudus kemudian terabaikan. Stasiun tersebut kini tak lagi digunakan karena jalurnya tak lagi difungsikan. Bangunan eks stasiun pernah juga disewa Pemkab Kudus untuk pasar Johar pada tahun 2000 -an.

Namun, pada kisaran tahun 2016, para pedagang akhirnya diboyong ke Pasar Baru Wergu Wetan karena Pemkab menilai sewa lahan yang dipatok PT KAI terlalu mahal.

Ali Bustomi