JEPARA (SUARABARU.ID) — Tape singkong, makanan tradisional yang menjadi primadona di berbagai daerah, salah satunya Kota Jepara, Jawa Tengah. Makanan tradisional ini terbuat dari singkong yang difermentasi dengan ragi, tidak hanya digemari karena rasanya yang manis-asam, tetapi juga karena manfaat bagi kesehatan dan nilai budayanya yang tinggi.
Beberapa desa di Kecamatan Pakis Aji, tape singkong tidak hanya dijual sebagai camilan, tetapi juga digunakan dalam upacara adat, sesaji, hingga menjadi bahan pelengkap dalam sajian kuliner seperti es campur dan kolak.
Menurut Adah (75), seorang pengrajin tape di Desa Mambak, RT 01/ RW 02, Pakis Aji, proses pembuatan tape membutuhkan ketelatenan. “Singkongnya dikupas dulu, terus dikikis sedikit, dan dicuci bersih. Habis itu singkong direbus sekitar 30 menit. Diamkan hingga dingin, lalu diberi ragi yang sudah dihaluskan, dan disimpan dalam wadah tertutup daun pisang. Kalau saya tak kasih cabai dan bawang merah biar ada rasa pedas-asam,” jelas Adah saat diwawancarai di rumahnya pada (25/5/25)

Adah juga menjelaskan bahwa tape singkong harus disimpan selama satu hari satu malam agar mendapatkan rasa yang pas. Jika terlalu lama, rasa tape akan menjadi terlalu asam. Sebaliknya, jika terlalu cepat, proses fermentasinya belum sempurna dan tape belum jadi.
“Kalau mau buat tape singkong harus telaten dan sabar. Kalau dilakukan sembarangan bisa menyebabkan keracunan,” sambungnya.
Sebagai pengrajin tape yang telah melakoni usaha ini selama lebih dari 15 tahun, Adah mendapat penghasilan yang cukup stabil dari usahanya. Dalam satu minggu ia bisa memproduksi hingga 30-50 kilogram tape singkong. Dari penjualan tersebut, ia bisa memperoleh penghasilan kotor sekitar Rp500.000 hingga Rp 800.000 per minggu, terlebih saat menjelang hari besar keagamaan, pesanan bisa meningkat dua kali lipat.
“Biasanya kalau lagi sepi pembelian, saya cuma buat 5 kilo sehari, kalau ramai seperti waktu Ramadan kemarin bisa sampai 10 kilo sehari. Untuk harga jualannya sendiri saya patok harga Rp1.000 per bungkus. Ada juga yang harganya Rp10.000 per baskom, tergantung selera pembeli mau yang mana,” tambah Adah.
Meski kini banyak makanan maupun minuman modern bermunculan, tape singkong tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Bahkan, sejumlah pelaku usaha mulai mengembangkan variasi tape, seperti tape goreng, bolu tape, es tape, wedang tape, dan berbagai varian lainnya. Selain itu, tape singkong juga memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan: meningkatkan daya tahan tubuh, melancarkan pencernaan, mencegah anemia, sumber energi, menurunkan kolesterol, mengurangi radikal bebas, mengontrol kadar gula darah, menghangatkan tubuh, dan meningkatkan suasana hati.
“Tape singkong tetap memiliki cita rasa tersendiri yang unik. Selain itu, tape singkong juga banyak manfaatnya asalkan tidak dikonsumsi secara berlebihan. Jadi, bagi yang memiliki masalah kesehatan seperti penderita asam urat, diabetes, tidak disarankan mengonsumsi tape singkong,” pungkasnya.
Hadepe – Shela Sekarwati













