Oleh : Septiana Wibowo
Kita seharusnya berterima kasih kepada Kartini. Sebab berkat gagasan dan warisan pemikiran yang tertuang dalam setidaknya 184 surat dan nota Berilah Orang-Orang Jawa Pendidikan, terbukti berhasil membuka pintu peradaban bangsa, perempuan menjadi lebih berdaya. Perempuan tidak harus terkurung di balik dinding pingitannya, tetapi dapat menentukan sikap, gagasan, pemikiran dan perannya sendiri.
Walaupun berabad sebelum Kartini berjuang dengan goresan penanya yang tajam, sejarah telah mencatat sejumlah perempuan hebat telah tampil menjadi pemimpin. Sebut saja Ratu Shima dan Ratu Kalinyamat. Juga ada panglima perang, Laksamana Malahayati dari Kasultanan Aceh pada tahun 1585-1604.
Namun ketika zaman kolonial dan feodalisme mendapat ruang, mulai ada pengebirian pemikiran dan peran perempuan dan menempatkannya sebagai “alat” yang hanya dapat berperan pada wilayah dapur, sumur dan Kasur. Ironisnya itu semua yang dimulai dari ritual pingitan.
Tradisi yang masih digunakan di masa Kartini dan dilestarikan turun temurun adalah memingit anak perempuan yang dilakukan oleh para bangsawan Jawa hingga ada lelaki meminangnya sebagai istri. Walaupun wanita tidak mengenalnya. Apalagi mrencintainya.
Saat menjalani pingitan anak perempuan harus belajar tata krama, sopan santun dan belajar melayani suaminya dalam perspektif fungsi dapur, sumur dan kasur. Harapan mereka mampu menyenangkan laki-laki yang kelak akan menjadi suaminya
Peristiwa itu dituliskan dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon pada Agustus 1900: “Pada usia 12 tahun, saya harus tinggal di rumah. Saya harus masuk kotak, terkurung di rumah, terasing dari dunia luar. Saya tidak boleh kembali ke dunia itu lagi selama sebelum memiliki suami seorang lelaki yang sama sekali asing, yang dipilih orang tua bagi kami untuk menikahi kami, sungguh tanpa sepengetahuan kami…”
Ini menunjukkan bagaimana Kartini tidak menerima dengan senang apa yang telah terjadi kepadanya. Baginya pingitan adalah tradisi yang sebenarnya tidak relevan untuk perempuan bahkan sepanjang zaman. Sebab dengan ritual pingitan perempuan tidak memiliki hak, bahkan untuk menentukan hidupnya sendiri.
Dalam hal ini saya menerjemahkan bahwa di masa itu, kehendak Kartini adalah bagaimana perempuan bisa menentukan apa yang ingin dia lakukan untuk meneruskan kehidupannya. Boleh jadi menikah muda, atau boleh sekali jika bersekolah tanpa memikirkan pernikahan terlebih dahulu.
Dalam keterasingan, timbul keinginannya menjadi pengajar di dalam dirinya. Setelah penderitaannya dalam sepinya pingitan. Pada saat itu, Kartini menyampaikan keinginannya untuk menjadi seorang guru dan mengabdikan dirinya mengajar pribumi khususnya anak-anak perempuan.
Pemikirannya disampaikan Kartini dalam suratnya kepada Nyonya Van Kol pada Agustus 1901: “Karena saya yakin sedalam-dalamnya perempuan dapat menanamkan pengaruh besar kepada masyarakat, maka tidak ada sesuatu yang lebih baik dari lebih sungguh-sungguh yang saya inginkan kecuali dididik dalam bidang pengajaran, agar kelak saya dapat mengabdikan diri kepada pendidikan anak-anak perempuan kepala Bumiputera…”
Begitulah keprihatinannya selama dalam penjara adat, tidak lain adalah tradisi pingitan itu sendiri. Namun Kartini tidak ingin berlama-lama bersedih akan kebebasannya yang terenggut. Dia mulai banyak membaca buku dan mencoba melalui jalan lain dengan tidak menggunakan air mata dan menikmati kesedihannya.
Dia mulai bangkit dan berusaha belajar banyak hal, sebagaimana menjadi perempuan yang berdaya. Dimintanya buku-buku pengajaran dan pendidikan dari teman-temannya melalui surat dan dia belajar banyak dengan membaca. Tak hanya membaca banyak buku, dia juga membangun hubungan baik dengan sahabatnya, dibuktikan dengan bagaimana dia membagikan buah-buah pikirannya melalui surat-surat yang ditulisnya.
Dalam renungannya, dia merasa harus melawan kekolotan yang diciptakan oleh bangsanya yang didukung oleh Belanda sebagai cara melemahkan bangsa Bumiputera sendiri dan memerangi feodalisme Belanda serta bangsawan-bangsawan besar yang ingin tetap mengekalkan kekuasaannya.
Sehingga pada tahun 1903, Kartini mendirikan sekolah untuk wanita-wanita Jawa, yang bertujuan memberikan pendidikan dan keterampilan kepada mereka sehingga dapat mengejar karir dan menjalani kehidupan mandiri.
Dituliskan dalam buku Kartini, Menyulut Api Nasionalisme Indonesia, oleh Hadi Priyanto, 2023: “Murid Kartini datang empat kali seminggu dari pukul 08.00 sampai pukul 12.30 siang. Mereka belajar menulis, membaca, merenda, memasak, bernyanyi, dan berbagai keterampilan praktis lainnya. Kartini tidak mengajar seperti sekolah yang ada, tetapi diajarkan berdasarkan kesukaan anak-anak Jawa seperti bermain mainan tradisional dan mendongeng.”
Pemikiran itu pun bukan hanya tertuju kepada kondisi dirinya sendiri, namun juga bagaimana nasib perempuan penerus bangsa jika selalu seperti ini secara turun temurun. Sementara mereka dinomorduakan dalam ranah pendidikan. Mereka hanya diminta mengerti pengetahuan Macak, Masak dan Manak. Semua itu hanya tertuju pada kamar dan pawon.
Sedangkan sesungguhnya perempuanlah yang dituntut untuk mengasuh dan membesarkan anak-anak. Tanpa pengetahuan yang cukup maka semakin lemah karakter pendidikan yang akan diterima oleh anak-anak mereka dan semakin semena-mena para lelaki karena ilmu pengetahuannya.
“Hal yang memang dilestarikan bahkan oleh bangsawan Jawa sendiri yang memang berkeinginan untuk tetap memegang kekuasaan dan menindas Perempuan,” tulis Kartini dalam buku catatannya.
Peran Feodalisme dan Kolonialisme dituding Kartini sebagai penyebab kebodohan bangsa Bumiputera. Bahkan dia berpikir semestinya tidak ada pembeda akan hak belajar yang seharusnya sama diterima oleh kaum Bumiputera.
“Kepada pulau Jawa, berilah ibu-ibu yang cakap dan cerdas, maka peradaban, kemajuan satu bangsa, hanyalah soal waktu saja,” tulis Kartini di salah satu suratnya kepada Estella Zeehandelaar, seorang penulis feminis belanda yang juga sahabat pena Kartini.
Sebagai perempuan, saya menyoroti bagaimana perjuangan Kartini dalam memperjuangkan gagasannya untuk Perempuan. Bukan mengutamakan pribadinya. Baginya perempuan adalah sumber ilmu pengetahuan bagi anaknya. Anak perempuan harus berpendidikan dan kuat secara prinsip dan pemikiran.
Ini sangat luar biasa dimana lebih dari seabad yang lalu telah ada yang berjuang melawan ketidakadilan terhadap perempuan terutama dalam bidang pendidikannya. Sehingga di hari ini perempuan bisa lebih mudah untuk menjadi berdikari, bekerja, aktif dalam kemasyarakatan dan pendidikan dan bisa berdiri di kakinya sendiri dengan segala latar belakang pendidikan yang telah mereka terima.
Namun di masa sekarang juga, saya mengamati bahwa terlalu banyak distraksi yang ditemukan dalam melemahkan kepribadian perempuan pada umumnya. Banyaknya influencer perempuan yang hanya menunjukkan kecantikan sebatas kulitnya saja berseliweran menjadi konsumsi setiap hari.
Cantik dalam bentuk penampilan dan standarisasi semu bahwa perempuan harus tidak terkalahkan bahkan dalam hal argumen-argumen receh, yang justru menurut penulis tidak mendalam dan menempatkan perempuan tidak setara dan tidak dalam konteks marwah Perempuan sebagaimana gagasan Kartini.
Ini merupakan sebuah renungan, bagaimana Kartini memiliki spirit yang begitu inspiratif dan memberdayakan perempuan dan bangsanya. Lalu dengan segala kemudahan sekarang, kenapa kita tampak dikebiri oleh konten-konten receh sehingga justru terbuai dengan standarisasi Tik-Tok maupun konten Instagram dengan informasi perempuan independent cantik yang hanya membahas seputar asmara, life style, kecantikan dan kemawahannya. Jarang yang membahas isi kepala?
Hal yang justru menampar saya adalah semakin menjamurnya pemikiran bahwa perempuan haruslah adidaya, berkuasa dan agar berjaya, namun ternyata hanya terbuai di situs-situs gawai saja. Sementara konten edukasi semakin sepi. Walau masih ada, perempuan pada umumnya tak sepenuhnya berinteraksi dan memiliki akses edukasi karena terjebak logaritma yang lebih sering menayangkan jenis konten apa yang sering ditonton. Konten hiburan yang menjamur dan membuaikan kita untuk scrolling sosial media berjam-jam yang selalu ditayangkan. Hingga akhirnya buku-buku mulai ditinggalkan.
Padahal di masanya, Kartini memperjuangkan emansipasi dengan persamaan hak memperoleh pendidikan, meliputi keterampilan membaca yang dimiliki perempuan sehingga mereka bisa membaca buku apapun sesukanya sebagai sumber ilmu pengetahuan yang baru. Namun yang terjadi sekarang kita justru berlomba-lomba mengesampingkan buku dan ilmu pengetahuan. Apalagi budi pekerti
Dibandingkan dahulu, sekarang semua telah tersedia, ingin baca buku apa saja bisa, hingga belajar akses kegiatan yang membangun bonding dengan anak pun sudah sangat mudah. Namun kita justru memilih membunuh waktu dengan scrolling sosial media berjam-jam.
Sebagian perempuan masa kini terbuai keinginan dan bahkan mengesampingkan keterampilan mendidik generasi lanjutan. Saat ini kita lupa bagaimana menjadi perempuan cerdas yang senang menuntut berilmu. Hal yang dicita-citakan oleh Kartini seabad yang lalu.
Ini menunjukkan bagaimana kecerdasan dan kemampuan perempuan pada umumnya menjadi semakin mundur. Bahkan hari Kartini sekarang hanya dimaknai sebagai hari memakai kebaya dengan solekan tebal dan konde besar lalu berlomba membuat unggahan. Bukankah Kartini tidak bersolek berlebihan serta memilih baju yang sederhana saja?
“Mari para perempuan merefleksikan lagi apa yang telah terjadi. Selamat Hari Kartini 2025.”
Penulis adalah pengajar Bahasa Inggris, menulis esai dan beberapa jenis karya sastra lainya. Karyanya telah dimuat di berbagai buku maupun media cetak dan online.













