blank
Ruang dan foto Soesalit.

JEPARA (SUARABARU.ID)- Hampir tidak ada yang mengenal nama Soesalit Djojoadiningrat, putra tunggal pasangan RA. Kartini dengan Bupati Rembang Raden Mas Adipati Ario Djojoadiningrat. Di tengah euforia peringatan hari lahir Kartini setiap 21 April, tersimpan kisah tragis Soesalit. Dirinya dianggap terlibat dalam peristiwa Madiun 1948 hingga namanya hilang dari panggung sejarah.

blank
Koleksi barang-barang Soesalit di museum Kartini Rembang.

Suarabaru.id, berkesempatan memasuki ruangan Soesalit saat mengunjungi museum Kartini di Rembang. Di dalam ruangan tersebut masih tersimpan foto saat dirinya masih kecil hingga bergabung dalam Tentara Pembela Tanah Air (PETA).

Bahkan pakaian-pakaian yang pernah dikenakan Soesalit semasa hidupnya masih tersimpan rapi di etalase kaca. Soesalit dikenal sebagai orang yang sederhana. “Umpamanya, bajunya selalu tertutup tinggi, seperti Mao Tze Tung,” puji Nasution seperti tertulis dalam Kartini: Sebuah Biografi.

Soesalit lahir di Rembang pada 13 September 1904 dari rahim seorang perempuan Jawa yang membuat takjub orang-orang Belanda karena pemikirannya yang cemerlang. Namun sayang, saat berumur empat hari, sang pelopor emansipasi wanita itu meninggal dunia.

Sepeninggal ibunya, Soesalit kemudian diasuh oleh Ngasirah, Neneknya sebelum kembali diasuh oleh ayahnya. Namun malang, saat berumur delapan tahun ayahnya meninggal dunia. Ia kemudian diasuh oleh kakak beda ibu yang bernama Abdulkarnen Djojoadiningrat.

Abdulkarnen Djojoadiningrat menaruh perhatian yang besar terhadap adiknya. Soesalit disekolahkan di Europe Lager School (ELS) sama seperti Kartini sebelum dipingit. ELS merupakan sekolah elit bagi anak Eropa dan bangsawan pribumi.

blank
Koleksi foto Soesalit dari masa kecil hingga dewasa.

Dikutip dari tirto.id, menurut Sitisoemandari Soeroto dalam Kartini: Sebuah Biografi (1979), Soesalit lulus dari ELS Rembang tahun 1919. Setelah itu, Soesalit masuk Hogare Burger School (HBS) Semarang. Ia lulus dari HBS pada 1925.

Tamat HBS, Soesalit sempat belajar di sekolah tinggi hukum kolonial, Rechthoogeschool (RHS) Batavia. Setahun belajar di sana, ia meninggalkan bangku RHS. Soesalit diterima sebagai pegawai pamong praja kolonial yang diperbantukan kepada kontrolir di Rembang.

Namun Abdulkarnen Djojoadiningrat memasukan Soesalit ke Politieke Inlichtingen Dienst (PID), dinas polisi rahasia Hindia Belanda. Tugas PID adalah mematai-matai kaum pergerakan nasional dan mengantisipasi spionase asing, termasuk Jepang yang masuk Hindia sejak 1916.

Menurut Sitisoemandari, Soesalit merasa tertekan dengan pekerjaan yang dijalaninya. Masa-masa berdinas di PID dianggapnya sebagai masa suram. Soalnya jelas: Soesalit tak mampu memata-matai dan menangkapi bangsanya sendiri.

“Soesalit sedapat-dapatnya selalu berusaha melindungi para pejuang kita dan seringkali ‘tutup mata’ terhadap berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh mereka,” tulis Sitisoemandari, seperti dilansir dari tirto.id.

Kesempatan Soesalit untuk lepas dari pekerjaan sebagai spionase datang saat Jepang masuk ke Indonesia. Soesalit baergabung dengan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air. Soesalit menjadi daidancho—komandan batalyon setara mayor atau letnan kolonel—PETA Banyumas II di Sumpiuh pada 1943-1945.

Peristiwa Madiun 1948

Madiun bergejolak saat kaum Komunis yang dipimpin oleh Musso melakukan pemberontakan dengan mendirikan Republik Indonesia Soviet (RIS). Nama Soesalit disebut-sebut dalam peristiwa Madiun karena sebuah dokumen yang jatuh ke tangan pemerintah nama Soesalit disebut sebagai “orang yang diharapkan”.

Bukan hanya masalah dokumen tersebut, Soesalit juga merupakan orang kesayangan Amir Sjarifoedin setelah Amir tidak lagi menjabat sebagai perdana menteri buntut dari Perjanjian Renville yang dianggap merugikan Indonesia. Amir dan Musso akhirnya mati di tangan tentara pemerintah.

Di sisi lain Soesalit juga mempunyai kedekatan dengan saudaranya yang bernama Abdulmadjid Djojoadiningrat yang berpaham komunis. Sekitar Peristiwa Madiun adalah masa sulit bagi Soesalit. Sepupu Soesalit, Raden Mas Moedigdo yang menjabat komisaris polisi, dihukum mati karena ia dianggap komunis.

Moedigdo adalah ayah dari Soetanti, yang belakangan menikah dengan Ahmad Aidit alias Dipa Nusantara Aidit, Ketua CC PKI terakhir. Hubungan baik Moedigdo dan Soesalit dilanjutkan oleh putri dan menantunya: Soetanti dan Aidit. Iwan Aidit, salah seorang putra Aidit dan Tanti, bahkan memanggil Soesalit dengan panggilan “Eyang”, dilansir dari tirto.id.

Sampai akhir hayatnya, Soesalit tetap hidup sederhana dan tak pernah mau mengambil keuntungan dari kenyataan bahwa ialah satu-satunya putra Ibu Kita Kartini, sehingga taktala dia meninggal, dia satu dari beberapa jenderal yang meninggal dalam keadaan melarat.

Bhkan Soesalit tidak pernah jelas apakah ia benar-benar komunis atau bukan. Keterlibatannya dalam Peristiwa Madiun juga tak pasti, karena tak pernah melalui proses peradilan.

Soesalit meninggal sebagai gerilyawan tanpa bintang pada 17 Maret 1962. Tidak banyak yang mengetahui apa perjuangannya, meski ia adalah salah satu anak Kartini. Itu karena memang dia tak mau menonjol. Hal itu pula yang selalu disampaikan kepada anaknya. Boedhy Setia Soesalit, sang anak, mencamkan satu pesan penting dari ayahnya semasa ia hidup: “Jangan suka menonjolkan diri sebagai keturunan Kartini!”.

ua