<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muhammad Ali Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/muhammad-ali/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 29 Jan 2024 01:24:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Muhammad Ali Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>“Conflict-tainment” dalam Pemberitaan Pemilu</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/01/29/conflict-tainment-dalam-pemberitaan-pemilu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jan 2024 01:24:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[SUARA Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Asnawi Mangkualam]]></category>
		<category><![CDATA[Cristiano Ronaldo]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati Hangestri Pratiwi]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Ali]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilihan Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Pratama Arhan]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=396099</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS KOLABORASI produk media mainstream dan media sosial sangat terasa dalam sajian berita-berita politik media kita, khususnya menjelang perhelatan Pemihan Umum, hari-hari ini. Terjadi saling “pungut konten” secara masif. Viralitas seakan-akan menjadi “ideologi” yang dianut dengan standar masing-masing. Berlangsung percampuran antara akuntabilitas dan kewajiban verifikasi dalam produk jurnalistik media, dengan konstruksi instan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/01/29/conflict-tainment-dalam-pemberitaan-pemilu">“Conflict-tainment” dalam Pemberitaan Pemilu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-396102 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15.jpg" alt="" width="150" height="195" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-115x150.jpg 115w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" />KOLABORASI</strong> produk media <em>mainstream</em> dan media sosial sangat terasa dalam sajian berita-berita politik media kita, khususnya menjelang perhelatan Pemihan Umum, hari-hari ini.</p>
<p>Terjadi saling “pungut konten” secara masif. Viralitas seakan-akan menjadi “ideologi” yang dianut dengan standar masing-masing. Berlangsung percampuran antara akuntabilitas dan kewajiban verifikasi dalam produk jurnalistik media, dengan konstruksi instan isu yang penuh sensasi, sebagai produk berbagai <em>platform</em> media sosial.</p>
<p>Menjelang “hari H” Pemilihan Umum 2024, 14 Februari nanti, “ideologi” itu bagai menemukan titik penyuburan lewat viralitas unggahan-unggahan berita dari fakta dan <em>setting</em>-an isu, dengan <em>framing</em> dari sudut pandang aneka kepentingan.</p>
<p>Berseliweran begitu banyak unggahan isu. Mulai dari pemberitaan mengenai keputusan Mahkamah Konstitusi tentang syarat batas minimal usia calon presiden/wakil presiden dan pengalaman menjadi kepala daerah; lalu perguliran masalah terkini tentang aturan apakah Presiden boleh berkampanye untuk pasangan calon tertentu atau tidak.</p>
<p>Pernyataan-pernyataan, kecenderungan sikap, dan “penampakan” aneka karakter manusia juga tereksploitasi sebagai warna dominan konten media dan medsos. Istilah gemoy, diksi “samsul”, narasi “omon-omon”, “ndasmu etik”, SGIE,<em> greenflation</em>, atau gestur membungkuk-bungkuk “mencari-cari jawaban” dalam forum debat calon wakil presiden, ungkapan “pertanyaan recehan”, menjadi <em>pointers</em> yang viral. Termasuk dugaan-dugaan adanya “sang pembisik” di arena debat, dan seterusnya.</p>
<p>Pengapungan isu-isu tersebut mengetengahkan nuansa pemberitaan yang tentu bercita rasa sangat konfliktif, yang di-<em>follow up</em>-i oleh banyak <em>talk show, podcast</em>, konferensi pers, atau statemen respons personal melalui youtube. Menariknya, <em>taste</em> konflik itu terkemas oleh media <em>mainstream</em> sebagai semacam “conflict-tainment”, konflik yang dijadikan hiburan.</p>
<p>Efeknya, tumbuh masif konten-konten saling ofensif dan saling defensif yang “menghibur”, walaupun bernada pahit. Tercipta panggung yang lucu-lucu, meskipun terasa menyakitkan.</p>
<p>Viralitas menghadirkan respons sikap publik, berupa sentimen negatif hingga sentimen positif netizens yang dikelola dan dikuantifikasi oleh lembaga-lembaga analisis seperti Drone Emprit. Efek selanjutnya, tingkat elektabilitas pasangan calon presiden-calon wakil presiden juga terhubungkan oleh analisis lembaga-lembaga survei.</p>
<p><strong>Model Muhammad Ali</strong><br />
Model-model pemberitaan yang menjadi tren di ranah politik itu menyerupai tren kemasan jurnalistik di dunia olahraga yang sudah berlangsung sejak 20 tahunan lalu. Bahkan jauh sebelum era internet dan berkembang aneka <em>platform</em> media, pada dasawarsa 1970-an, legenda tinju kelas berat Muhammad Ali dengan kecerdasan “marketing”-nya telah menemukan ceruk publisitas.</p>
<p>Dia mengusung cara memasarkan diri untuk menaklukkan daya tarik media lewat karakter personalnya yang “bla-bla-bla”, dan tak jarang menampilkan ide menarik di luar bingkai olahraga. Model publikasi Ali, yang dijuluki Si Mulut Besar dan mengklaim diri sebagai The Greatest, muncul ketika budaya pop belum mencengkeram keseharian hidup manusia.</p>
<p>Di era <em>new media</em>, makin sulit menemukan media yang menyajikan berita-berita olahraga dari perspektif murni edukasi pembinaan. Yang kini dominan adalah memperlakukan atlet atau para pelaku olahraga sebagai selebritas yang menjadi elemen budaya pop. Maka dinamika “atlet sebagai manusia pesohor” dengan gaya hidup, temperamen, dan sisi positif maupun sisi gelap kesehariannya lebih mendapat tempat.</p>
<p>Konflik-konflik antarpesohor menjadi konten yang justru memenuhi pragmatisme naluri hasrat dalam budaya pop. Dan, itu sudah dilakukan Muhammad Ali secara personal pada era kejayaannya. Ali, secara sadar, menggali ceruk performa dan mengetengahkan bahwa dia memiliki “faktor pembeda”.</p>
<p>Dari dunia olahraga, gaya “conflict-tainment” itu menghadirkan persoalan-persoalan manusia dan efek kepesohoran ketimbang wacana-wacana tentang teknis pembinaan. Maka kita makin banyak disodori berita-berita tampilan gaya hidup Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, karakteristik Jose Mourinho, atau di level nasional tersuguhi penampilan pebola voli Megawati Hangestri Pratiwi di Liga Voli Korea Selatan. Juga kisah-kisah di dalam maupun di luar lapangan Asnawi Mangkualam di K-League 2, Pratama Arhan di J-2 League, dan banyak atlet lain yang dikemas dengan semangat menggiring viralitas.</p>
<p><strong>Budaya Pop dan Berita Pemilu</strong><br />
Budaya pop menghasilkan “konsensus informal” secara universal dalam “budaya hasrat”, yang disadari atau tidak disadari menjauhkan nilai-nilai dan mengusung perilaku baru. Derry Mayendra (2011), ahli pemasaran digital Universitas Gunadarma menyebut, budaya pop lebih banyak berfokus pada emosi dan pemuasannya daripada intelek. Yang menjadi tujuan hidup adalah, “berenang-senang dan menikmati hidup” sebagai “budaya hasrat”.</p>
<p>Relativisme, pragmatisme, konsumerisme, hedonisme, popularisme, sekularisme, dan isme-isme yang lain, banyak menyeret media masuk ke pusaran model sajian yang terkadang dangkal dan terasa jauh dari nilai-nilai intelektualisme.</p>
<p>Apa yang kita akses dari berbagai <em>platform</em> media, baik yang <em>mainstream</em> maupun medsos, sesungguhnya adalah gambaran tentang produk viralitas yang berpusar dari budaya pop. Pengaruh algoritma google dalam ikhtiar menangguk pendapatan <em>google adsense</em> sangat berperan dalam model-model sajian media.</p>
<p>Lalu dari mana audiens memetik nilai edukasi dari gaya pemberitaan semacam itu?</p>
<p>Di ranah pemberitaan pemilihan umum, misalnya, adakah fungsi pendidikan politik yang bisa kita dapatkan?</p>
<p>Pada sepanjang hari-hari menuju pelaksanaan pemilu, kita banyak mengolah petuah tentang etika, moralitas, adab, dan konsistensi dalam berdemokrasi dan menyikapi aturan. Hal-hal dasar itu bisa melekat pada figur dan fakta-fakta yang kemudian diviralkan.</p>
<p>Apakah momentum edukasinya adalah ketika berkembang berbagai analisis dan diskusi di seputar persoalan-persoalan tersebut? Apakah publik mendapatkan pengayaan pengetahuan dari pro-kontra yang muncul dan berkembang? Apakah publik meraih pembelajaran batin dengan memaknai ungkapan-ungkapan hujatan, kebencian, dan ofensif pada satu sisi, dan sikap-sikap defensif pada sisi lain?</p>
<p>Dalam pemahaman dunia media sekarang, narasi bagus atau narasi buruk sejatinya sama-sama memuat konten edukatif. Tinggal bagaimana kita menyikapi. Publik seakan-akan dihadapkan pada kenyataan agar memilih jalan sendiri dengan mempertimbangkan narasi-narasi pemberitaan yang dia akses.</p>
<p>Budaya pop, pada sisi lain memberi paparan tentang pilihan sikap. Di luar “isme-isme” yang berkembang sebagai budaya hasrat yang berwajah pragmatis, tentulah masih ada ruang-ruang untuk mempertimbangkan. Bukankah ada pilihan dari yang tidak kita sukai, atau sebaliknya ada alternatif lain dari yang kita idolakan?</p>
<p><strong>Konflik yang Terkemas</strong><br />
Mempertentangkan konten viral dengan konten viral lainnya adalah contoh betapa banyak ruang untuk mempertimbangkan pilihan. Kita mungkin akan menjustifikasi mengalami kebingungan, ketika mencoba mencerna konflik sedemikian tajam yang diunggah oleh sejumlah media.</p>
<p>Sebegitu terbuka orang berdebat dan “berkelahi” dalam berbagai <em>talk show</em> dan wawancara media, tetapi sadarkah kita bahwa adu wacana dan “gebuk-gebukan” itu adalah konflik yang telah dikemas lewat perencanaan matang, sistematis, teragenda, dan terbingkai?</p>
<p>Pendewasaan pikiran yang seharusnya kita raih adalah bagaimana menentukan keputusan di tengah beragam tawaran, memastikan pilihan di tengah “konflik” yang disajikan oleh media-media, dalam kesadaran penuh &#8212; seminim apa pun &#8212; berkontribusi untuk masa depan bangsa yang lebih baik.</p>
<p>Bukankah model pemberitaan yang bergenre “conflict-tainment”, dalam kebanalannya, kita pahami mewadahi adu pikiran, adu gagasan, dan adu wacana dengan kemasan hiburan? Katakanlah, menghibur dalam kekonyolan, mengedukasi dengan mengadu kepentingan.</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah, dan dosen Prodi Ilmu Komunikasi Fiskom UKSW</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/01/29/conflict-tainment-dalam-pemberitaan-pemilu">“Conflict-tainment” dalam Pemberitaan Pemilu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>GOAT, Perdebatan Abadi dari Muhammad Ali ke Leo Messi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/09/17/goat-perdebatan-abadi-dari-muhammad-ali-ke-leo-messi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2022 10:00:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Cristiano Ronaldo]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Ali]]></category>
		<category><![CDATA[pele]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=279038</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // sebutlah dia The Greatest/ katakan pula dia alien/ ketika batas lazim dilewati/ ketika dia tak seperti umumnya manusia/ pahamilah, di titik realitas/ bukankah Yang Akbar yang memberi kebesaran?/ : kepada sejumput manusia dengan faktor pembeda// (Sajak “The Greatest”, 2022) SEBERAPA jauhkah seorang anak manusia dianggap menyentuh wilayah kapasitas yang melewati [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/17/goat-perdebatan-abadi-dari-muhammad-ali-ke-leo-messi">GOAT, Perdebatan Abadi dari Muhammad Ali ke Leo Messi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-279048 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// sebutlah dia The Greatest/ katakan pula dia alien/ ketika batas lazim dilewati/ ketika dia tak seperti umumnya manusia/ pahamilah, di titik realitas/ bukankah Yang Akbar yang memberi kebesaran?/ : kepada sejumput manusia dengan faktor pembeda//</em><br />
<strong>(Sajak “The Greatest”, 2022)</strong></p>
<p><strong>SEBERAPA</strong> jauhkah seorang anak manusia dianggap menyentuh wilayah kapasitas yang melewati “kewajaran” batas-batas teknis?</p>
<p>Kata “alien”-kah yang mewakili gambaran itu, seperti yang biasa dipujikan kepada Lionel Andres Messi, peraih tujuh kali Ballon d’Or??</p>
<p>Tentu Anda pernah pula mencatat predikat “The Greatest”, yang dulu sering diteriakkan oleh Muhammad Ali, sang legenda tinju dunia.</p>
<p>Atau ungkapan Greatest of All Times (GOAT) yang sekarang banyak merujuk kehebatan sejumlah pemain bola, terutama untuk Leo Messi dan Cristiano Ronaldo.</p>
<p>Gambaran psiko-faktualkah ukurannya, atau kalkulasi matematis yang menetapkan klaim ke-GOAT-an seorang atlet?</p>
<p>GOAT, alien, atau jejuluk apa pun sejatinya adalah permainan mediatika, yang lahir sebagai produk kreatif budaya pop. Adapun klaim The Greatest, pada masanya merupakan ekspresi visioner Muhammad Ali. Pada masanya, “Si Mulut Besar” rupanya sudah paham, dunia profesional bertaut dengan peran media untuk menciptakan pasar.</p>
<p>Aneka “ulah” Ali dari 1960-an hingga 1980-an merupakan ungkapan visi untuk membuat dirinya sebagai pusat perhatian media. Ali, yang bernama asli Cassius Clay, memahami betul olahraga profesional membutuhkan “faktor pembeda” sebagai indikator bla-bla-bla magnet pasar.</p>
<p>Dunia tinju mengapungkannya sebagai perdebatan: siapa yang sebenarnya layak disebut “terbesar”? Apakah Rocky Marciano yang tak terkalahkan? Apakah Floyd Patterson, atau mungkin Floyd Mayweather Junior? Nyatanya, Ali memenangi “opini dunia” dengan menjadikannya sebagai “manusia tinju” yang komplet.</p>
<p>Kini, kata GOAT sebagai bentuk lain penyebutan “Yang Terbesar” dipakai oleh Paris St Germain, menyematkannya secara khusus di jersey nomor 30 Leo Messi.</p>
<p>Tentu orang boleh berdebat, siapa yang sejatinya paling pantas dilabeli GOAT. Pele-kah, Diego Maradona, Johan Cruyff, Zinedine Zidane, Messi, atau Cristiano Ronaldo dengan indikator kehebatan masing-masing? Atau sah-sah saja penilaian subjektif dan objektif kita memberi pengakuan itu untuk Messi, yang dalam beberapa segi memang berbeda dari yang lain.</p>
<p><strong>Matematika Crawford</strong><br />
Dalam catatan <em>USA Today</em>, istilah GOAT diapungkan pada September 1992 oleh istri Muhammad Ali &#8212; Lonnie Ali – yang mendirikan perusahaan Greatest of All Time (G.O.A.T Inc). Dia mengonsolidasikan dan melisensikan kekayaan intelektual Muhammad Ali sebagai <em>brand</em> untuk tujuan komersial.</p>
<p>Sebelumnya kata GOAT punya konotasi buruk, kerap dipakai wartawan Amerika Serikat untuk memberi label ke atlet yang gagal.</p>
<p>Dalam perkembangannya, menurut <em>kompas.com</em> yang mengutip <em>The Scotsman</em>, GOAT menjadi sebutan untuk atlet yang dianggap terbaik, tidak hanya dari jumlah gelar atau trofi, tetapi juga kehebatan yang mewakili suatu era.</p>
<p>Pada 2021, matematikawan dari Universitas Oxford, Dr Tom Crawford melakukan penghitungan untuk menentukan pesepak bola yang paling layak disebut GOAT. Menurut <em>Daily Mail</em>, Crawford menggunakan algoritma unik yang menghitung pencapaian di klub dan tim nasional untuk membandingkan para pesepak bola di semua era.</p>
<p>Sejumlah syarat harus dipenuhi, setidak-tidaknya memenangi dua trofi Ballon d’Or, atau yang diakui terhebat di era sebelum 1956.</p>
<p>Kriteria Crawford itu, pertama, penghargaan (domestik dan Eropa) yang dimenangi di level klub yang ditimbang oleh koefisien UEFA untuk kekuatan relatif kompetisi. Kedua, penghargaan di level internasional (150 poin untuk Piala Dunia, 100 poin untuk Piala Eropa/Copa America, plus Sepatu Emas).</p>
<p>Ketiga, gol yang dicetak di level klub. Keempat, gol di level internasional (tim nasional). Kelima, suara yang diterima dalam penghargaan Ballon d’Or. Jumlah suara yang diberikan kepada pemenang Ballon d’Or dibagi dengan jumlah total suara yang diberikan kepada tiga pemain teratas. Hasilnya dikalikan 100 untuk memberikan persentase.</p>
<p>Keenam, rekor individu, misalnya pencetak gol terbanyak untuk klub atau negara, atau pencetak gol terbanyak di sebuah kompetisi. Ketujuh, “Z-Factor” atau “kampanye yang secara matematis luar biasa” pada suatu musim, yakni gol-gol pemain tersebut membantu timnya meraih kejayaan.</p>
<p>Perhitungan Dr Tom Crawford itu menghasilkan daftar Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Pele, Diego Maradona, Marco van Basten, Johan Cruyff, Ferenc Puskas, Alfredo Di Stefano, Ronaldo Nazario, dan Michael Platini.</p>
<p><strong>Penilaian Van Basten</strong><br />
Nyatanya, perdebatan tentang siapa yang terbaik &#8212; tentu saja juga siapa “the real GOAT” terus berlangsung: Messi-kah, atau Ronaldo; sama dengan pembandingan yang tak pernah selesai: Pele, atau Maradona yang terbesar sepanjang masa?</p>
<p>Kriteria Dr Crawford boleh jadi menghasilkan parameter kuantitatif yang memosisikan Ronaldo di peringkat pertama. Apakah analisis ilmiah (matematika) menjadi ukuran sahih tentang yang terbesar sepanjang masa?</p>
<p>Komentar Marco van Basten rasanya patut kita simak. Kata legenda Belanda ini, “Cristiano merupakan pemain hebat, tetapi mereka yang mengatakan dia lebih baik dari Messi tidak tahu apa-apa tentang sepak bola, atau mereka yang mengatakannya dengan iktikad buruk”.</p>
<p>Kepada media sepak bola top Italia, <em>Corriere dello Sport</em> yang dikutip <em>m.bola.net</em>, Van Basten menegaskan, Messi itu spesial, tidak mungkin ditiru dan tidak mungkin diulang. “Seorang pemain seperti dia datang setiap 50 atau 100 tahun. Sebagai seorang anak, dia jatuh ke dalam pot jenius sepak bola,” ungkap peraih tiga kali Ballon d’Or itu.</p>
<p>Ironisnya, Van Basten justru tidak memasukkan nama Messi dalam daftar tiga pesepakbola terhebat sepanjang masa versi dirinya. Dia memilih Pele, Maradona, dan Cruyff.</p>
<p>“Sebagai seorang anak saya ingin menjadi seperti Cruyff. Pele dan Maradona juga luar biasa. Messi juga pemain hebat, tetapi Maradona selalu memikiki kepribadian yang lebih dalam sebuah tim. Messi bukan orang yang menempatkan dirinya di depan untuk beperang,” tutur Van Basten yang mengaku tidak melupakan Cristiano Ronaldo, Platini, atau Zidane.</p>
<p>Artinya, bukankah predikat GOAT sebenarnya lebih tepat kita nikmati sebagai permainan mediatika? Makin diperdebatkan, bakal makin terkunyah, dan dalam budaya pop, ini menjadi pembentukan viralitas yang terus menerus di-<em>setting</em> dan takkan pernah selesai.</p>
<p>Makin dikerucutkan nama, makin penasaran kita. Ada satu di antara sekian tokoh, dan semuanya pantas untuk menjadi si nomor satu.</p>
<p>Bukankah jawaban seorang Pele pun selalu berubah? Ada saat dia menilai Ronaldo lebih hebat, ada saat pula dia menyebut Messi lebih dahsyat&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/17/goat-perdebatan-abadi-dari-muhammad-ali-ke-leo-messi">GOAT, Perdebatan Abadi dari Muhammad Ali ke Leo Messi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
