<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Diego Maradona Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/diego-maradona/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 15 Nov 2025 01:39:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Diego Maradona Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pep Guardiola dalam “Rekor Gila”</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/11/15/pep-guardiola-dalam-rekor-gila</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2025 10:00:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Alex Ferguson]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Cristiano Ronaldo]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[pele]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Zinedine Zidane]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=507249</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // apa lagi yang diincar/ untuk mempertajam catatan/ capaian baru/ eksepsionalitas tak tersamai/ sebagai pengecualian/ dengan para kompetitor// (Sajak “Pep Guardiola”, 2025) MANUSIA rekor. Sebutan itu layak disampirkan kepada sejumlah tokoh sepak bola dengan tingkat pengecualian tiada tara. Katakanlah, Anda akan menoleh ke sejarah lama untuk mengenang Edson Arantes Do Nascimento [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/11/15/pep-guardiola-dalam-rekor-gila">Pep Guardiola dalam “Rekor Gila”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-507251 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// apa lagi yang diincar/ untuk mempertajam catatan/ capaian baru/ eksepsionalitas tak tersamai/ sebagai pengecualian/ dengan para kompetitor//</em><br />
<strong>(Sajak “Pep Guardiola”, 2025)</strong></p>
<p><strong>MANUSIA</strong> rekor. Sebutan itu layak disampirkan kepada sejumlah tokoh sepak bola dengan tingkat pengecualian tiada tara.</p>
<p>Katakanlah, Anda akan menoleh ke sejarah lama untuk mengenang Edson Arantes Do Nascimento alias Pele. Lalu memosisikan Diego Maradona, Zinedine Zidane, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan kini Pep Guardiola, setelah sebelumnya kita juga tidak mungkin meninggalkan nama Alex Ferguson.</p>
<p>Eksepsionalitas itu tak hanya terkait dengan kemampuan untuk membedakan nama-nama itu dari yang lain, namun membawa warna kepada dunia sepak bola lewat catatan dan angka-angka. Bagai cerita, tetapi nyata.</p>
<p>Dan, Minggu dinihari lalu, ketika Manchester City menjamu Liverpool di Stadion Etihad, catatan berbeda itu dibuat oleh Pep Guardiola. Dia melengkapi diri sebagai “manusia rekor”, masuk “klub 1.000”, pelatih yang memimpin tim dalam laga yang ke-1.000. Pria Spanyol itu mengukirnya bersama tiga klub &#8212; Barcelona, Bayern Muenchen, Manchester City &#8212; sejak 2007.</p>
<p>Ke-1.000 laga Pep itu dicatat bersama Barcelona B (42 laga), Barcelona (247), Bayern Muenchen (161), dan The Citizens (549). Dalam 18 karier kepelatihannya, dia membukukan 36 trofi, termasuk 12 gelar dari tiga liga yang berbeda. Pep mengukir 716 kemenangan atau sebanyak 71 persen.</p>
<p>Laga ke-1.000 itu menjadi makin berkesan bagi Pep, karena ditandai dengan kemenangan 3-0 City atas Liverpool.</p>
<p><strong>Apresiasi Alex Ferguson</strong><br />
Pelatih legendaris Manchester United, Alex Ferguson secara khusus memberi ucapan selamat dan apresiasi kepada Pep Guardiola. “Saya sangat senang menyambut Anda bergabung dengan League Managers Assosiation Hall of Fame 1.000 club yang bergengsi”, kata Sir Alex, seperti dikutip <em>ESPN</em> (<em>detik.com</em>, 8 November 2025).</p>
<p>Ferguson mencatat lebih dari 2.000 pertandingan, termasuk ketika menangani Manchester United (1986-2013) dengan 49 trofi (38 bersama MU). Manajer asal Skotlandia itu memuji capaian Pep Gardiola, “Cinta dan hasrat Anda yang mendalam terhadap sepak bola selalu begitu nyata. Anda patut bangga atas dampak tak terlupakan nyang terus Anda berikan di dunia sepak bola global”.</p>
<p>Selain Sir Alex, nama lain yang termasuk “klub 1.000” adalah Brian Clough yang identik dengan Nottingham Forest, dan Sir Matt Busby yang dikenal sebagai legenda Liverpool.</p>
<p>Pep mengaku kaget sampai ke catatan tersebut. Dia tidak pernah mengira bisa mendapatkan kemenangan sebanyak itu, dengan persentase yang besar selama berkarier. “Kami sudah melakukan banyak hal luar biasa di Barcelona, Bayern Munich, dan di sini. Luar biasa. Sangat sulit meraihnya,” ucap dia.</p>
<p>Dengan tetap merendah, Pep mengakui, level tersebut dicapai berkat bantuan para pemain top di setiap tim yang ditangani. Setelah itu, dia menekankan kesuksesan itu pada fondasi kerja keras, dedikasi, cinta, semangat, dan untuk tidak kalah dari siapa pun.</p>
<p><strong>Genius</strong><br />
Pep Guardiola dikenal sebagai pelatih genius, mengembangkan filosofi <em>pressing football</em> yang diwariskan oleh mentornya, Johan Cruyff. Saat legenda Belanda itu mengarsiteki Barcelona, Pep bermain sebagai “murid” yang menyerap pemikiran tentang taktik dan filosofinya.</p>
<p>Ketika meneruskan tugas Frank Rijkaard sejak 2007, konsep bermain Barca dipertajam lebih dari <em>pressing football</em>. Pep mendoktrinkannya mirip “ideologi”. Permainan Blaugrana beraksen <em>possession football</em>, yang kemudian dikenal sebagai<em> tiki-taka</em>. Skema taktik menyerang ini bertumpu pada umpan-umpan pendek cepat dengan penguasaan intens bola, mengendalikan permainan, dan mencari celah pertahanan lawan.</p>
<p>Barca begitu superior dari 2007 hingga 2012. Pep menerapkan filosofi itu di Bayern Muenchen (2013-2016). Die Bayern dominan di Bundesliga, namun kurang sukses di Eropa. Para legenda klub mengkritik,<em> tiki-taka</em> ala Barcelona tidak cocok diterapkan sebagai karakter bermain di Bayern. Ketika pindah ke Manchester City pada 2016, dia mengubah klub itu menjadi kekuatan utama Liga Primer, bertumpu pada <em>possession football</em> yang mirip karakter Barcelona.</p>
<p>Kiranya benar apa kata Alex Ferguson, filosofi sepak bola Pep punya dampak global yang takkan terlupakan. Ketika mengilas balik Barcelona 2007-2012, publik sepak bola dunia bakal mencatatnya sebagai warisan yang tidak ada duanya.</p>
<p>Tim nasional Spanyol pun, kendati diarsiteki oleh para pelatih yang tak berlatar belakang Barcelona, cenderung menampilkan performa <em>tiki-taka</em> sebagai karakter permainan La Furia Roja, terutama ketika meraih trofi Euro 2008 (Luis Aragones), juara dunia 2010 dan Euro 2021 (Vicente del Bosque), dan kampiun Euro 2024 (Luis de la Fuente)&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/11/15/pep-guardiola-dalam-rekor-gila">Pep Guardiola dalam “Rekor Gila”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ceria dan Muram “Iblis Kecil” Penerus Messi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/12/02/ceria-dan-muram-iblis-kecil-penerus-messi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Dec 2023 10:00:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Claudio Echeverri.]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[Marco Antonio Etcheverry Vargas]]></category>
		<category><![CDATA[piala Dunia U19]]></category>
		<category><![CDATA[piala dunia u20]]></category>
		<category><![CDATA[Pila Dunia U17]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=386093</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // dia hadir dalam misteri semesta/ senyumnya siap melukai/ aura yang membawa bahagia/ terempas pula dalam durja/ o, iblis kecil/ kaukah yang bakal mengguncang dunia?// (Sajak “El Diablito”, 2023) GENERASI selalu datang dan pergi. Maharaja takkan selamanya bertahta. Bintang sepak bola sekelas Pele, Maradona dan Messi pun tahu diri untuk menyurut [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/12/02/ceria-dan-muram-iblis-kecil-penerus-messi">Ceria dan Muram “Iblis Kecil” Penerus Messi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-386094 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/12/BOLA-BOLA-LOGO.jpg" alt="" width="681" height="183" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/12/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/12/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/12/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// dia hadir dalam misteri semesta/ senyumnya siap melukai/ aura yang membawa bahagia/ terempas pula dalam durja/ o, iblis kecil/ kaukah yang bakal mengguncang dunia?//</em><br />
<strong>(Sajak “El Diablito”, 2023)</strong></p>
<p><strong>GENERASI</strong> selalu datang dan pergi. Maharaja takkan selamanya bertahta. Bintang sepak bola sekelas Pele, Maradona dan Messi pun tahu diri untuk menyurut dari edar alamiah di semestanya.</p>
<p>Siapa mampu melawan usia?</p>
<p>Siapa mampu melawan edar waktu?</p>
<p>Manusia dibatasi oleh “saat”, dengan segala dinamikanya.</p>
<p>Dan, simaklah nama ini: Claudio Echeverri. Ketika hari-hari ini nama Echeverri mengapung di langit sepak bola dunia, pernahkah Anda memberi perhatian kepada Etcheverry (memakai huruf “t” dan “y”) lainnya, dengan nama lengkap Marco Antonio Etcheverry Vargas?</p>
<p>Marco Antonio, dia pilar tim nasional Bolivia era 1990-an. Kecepatan, kemampuan mengatur serangan, dan dribel licin yang ditakuti lawan menghadirkan predikat El Diablo atau Si Iblis. Jejuluk mediatika itu menunjukkan jejak kengerian terhadap kemampuannya.</p>
<p>Etcheverry menjadi andalan klub DC United di MLS dari 1996 hingga 2003.</p>
<p><strong>Dua Puluh Tahun</strong><br />
Siapa mengira, 20 tahun-an kemudian, seorang bocah yang diberi nama Claudio Echeverri &#8212; orang tuanya terinspirasi kehebatan Marco Antonio &#8212; menyemburatkan cahaya terang dalam putaran final Piala Dunia U17 di Indonesia?</p>
<p>Dan, usia 17 menandai labilitas naik-turun performa. Kapten tim Argentina itu membubung, lalu bagai diempaskan oleh kenyataan yang berkebalikan. Di perempatfinal dia bahagia, di semifinal dirundung nestapa.</p>
<p>Dalam laga melawan juara bertahan Brazil, dia mencetak semua gol kemenangan 3-0. Ketiga gol itu dicetak dengan teknik berkelas. Bukan sekadar gol klinis yang <em>text book</em>, melainkan lewat kemampuan “seni” berbasis talenta.</p>
<p>Sayang, di semifinal, Albiceleste dihempaskan Jerman 5-7 lewat adu penalti. Dan, betapa muram Echeverri: dia menjadi salah satu eksekutor yang gagal.</p>
<p>Terlepas dari drama itu, Indonesia beruntung menjadi penyaksi pemunculan calon bintang masa depan ini, yang memang dijuluki “Next Messi”. Bahkan, penemu bakat Claudio, Daniel Brizuela tak ragu menyebut bocah asal Resistencia itu merupakan kombinasi dua legenda: Diego Armando Maradona dan Lionel Andres Messi.</p>
<p>Brizuela menemukan bakat Echeverri pada 2016, dan memboyongnya ke River Plate. Ketika itu Echeverri sedang bermain untuk salah satu klub di kota kelahirannya di Resistencia.</p>
<p>“Hari ini saya sangat senang, sama seperti ketika melihat Echeverri di Resistencia. Saya bilang: ‘Pemain ini, pemain ini’. Dia selalu senang menjalani pertandingan seperti itu [Brazil vs Argentina]. Echeverri selalu menjadi lebih kuat,” ujar Brizuela kepada <em>TyC Sports</em> seperti dikutip <em>cnnindonesia.com</em>.</p>
<p>Brizuela tak tanggung-tanggung memuji. Dia menyebut Echeverri sebagai kombinasi Maradona dan Messi.</p>
<p>“Ketika datang di Resistencia dan melihat dia, saya bilang kepada salah satu pelatih di sana: ‘Dia kombinasi Maradona dan Messi’. Pelatih itu bertanya, ‘Kenapa?’. Saya jawab, ‘Dia memiliki sifat, kepribadian dan karakter Maradona, dan ciri-ciri permainan mirip Messi’”.</p>
<p><strong>Titisan Messi</strong><br />
Sama dengan sejumlah nama yang pernah disemati harapan sebagai “titisan Maradona”, media mulai mematut-matut bakat yang pantas diberi predikat sebagai “titisan Messi”.</p>
<p>Uniknya, di era pasca-Maradona, yang riil tumbuh dan berkembang hanya seorang Leo Messi, untuk menjajari, bahkan dalam beberapa segi melewati Maradona.</p>
<p>Rata-rata pemain Argentina penyandang harapan itu berpostur kecil, atau pendek. Pablo Aimar misalnya, Ariel Ortega, Xavier Saviola, Carlos Tevez, dan Diego Lattore.</p>
<p>Bagai jejak sejarah yang berulang, peroketan Echeverri di Piala Dunia U17 mirip dengan pertunjukan Maradona dan Leo Messi.</p>
<p>Dalam Piala Dunia U19 di Tokyo 1979, El Pibe de Oro memimpin Tim Tango sebagai kapten. Permainannya menginspirasi dengan <em>leadership</em>, seni gol, dan aksi-aksi eksepsional. Sedangkan Messi menjadi pusat pembeda permainan Albiceleste dalam tim Piala Dunia U20 2005, dan Olimpiade 2008.</p>
<p>Maradona dan Messi betul-betul menjadi faktor determinan dengan <em>skill</em> langka. Claudio Echeverri juga mempertontonkan kemampuan serupa, terutama ketika tiga golnya mengoyak gawang Brazil.</p>
<p>Ketika dunia membuat gambaran siapa kandidat pengganti La Pulga yang kini berusia 36, tak pelak lagi Echeverri-lah yang diapungkan. Dari El Pibe de Oro, ke La Pulga, tampuk kemaharajaan akan beralih ke Iblis Kecil atau El Diablito. Sayang memang, dia gagal mengulang keberhasilan dua pendahulunya itu membawa pulang trofi dunia ke Buenos Aires.</p>
<p>Dan, waktu pulalah yang menjadi penyaksi: akankah Claudio Echeverri berjalan konsisten di trek harapan dan pembandingan, atau seperti para titisan Maradona sebelumnya dia hanya moncer di media lalu memudar dari terang cahaya&#8230;</p>
<p>Atau jangan-jangan berhenti di level maksimal Marco Antonio Etcheverry Vargas&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/12/02/ceria-dan-muram-iblis-kecil-penerus-messi">Ceria dan Muram “Iblis Kecil” Penerus Messi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menakar Energi Para Bocil Kita di Panggung U17</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/11/11/menakar-energi-para-bocil-kita-di-panggung-u17</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Nov 2023 10:00:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Arkhan Kaka]]></category>
		<category><![CDATA[Bima Sakti]]></category>
		<category><![CDATA[Didik Darmadi]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Gelora Bung Tomo]]></category>
		<category><![CDATA[Ramon Diaz]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[SURABAYA]]></category>
		<category><![CDATA[Sutjipto Soentoro]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=381533</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // janganlah salah menafsir kekuatan/ kalian lihatkah energi yang mencurah?/ di balik aksi bocah-bocah kecil itu/ di dadanya menyemayam garuda/ di tekadnya mengeram cita-cita/ siapa kita/ : Indonesia!// (Sajak “Bocah-bocah Garuda”, 2023) PANGGUNG dunia sepak bola para bocah (U17), sejak kemarin mencahayai Kota Surabaya, Jakarta, Solo, dan Kabupaten Bandung. Anak-anak Indonesia [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/11/11/menakar-energi-para-bocil-kita-di-panggung-u17">Menakar Energi Para Bocil Kita di Panggung U17</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-381539 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/11/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg" alt="" width="681" height="183" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/11/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/11/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/11/BOLA-BOLA-LOGO-1-150x40.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// janganlah salah menafsir kekuatan/ kalian lihatkah energi yang mencurah?/ di balik aksi bocah-bocah kecil itu/ di dadanya menyemayam garuda/ di tekadnya mengeram cita-cita/ siapa kita/ : Indonesia!//</em><br />
<strong>(Sajak “Bocah-bocah Garuda”, 2023)</strong></p>
<p><strong>PANGGUNG</strong> dunia sepak bola para bocah (U17), sejak kemarin mencahayai Kota Surabaya, Jakarta, Solo, dan Kabupaten Bandung. Anak-anak Indonesia mulai mencicipi atmosfer laga tingkat dunia jutru di kandangnya sendiri, di Gelora Bung Tomo, Surabaya.</p>
<p>Skor 1-1 melawan Ekuador Jumat malam (10 November) tentu bukan hasil yang mengecewakan, walaupun secara performa banyak “pekerjaan rumah” yang harus ditangani oleh pelatih Bima Sakti. Setidak-tidaknya, yang membanggakan dari M Iqbal Gwijangge dkk adalah patriotisme yang mereka perlihatkan di sepanjang laga. Bukan tidak mungkin, spirit skor 1-1 melawan Ekuador bakal menjadi modal ketika menghadapi Panama dan Maroko nanti.</p>
<p>Ekuador adalah salah satu kekuatan Amerika Latin yang merupakan langganan putaran final Piala Dunia U17. Mereka hadir untuk kali keenam dalam turnamen ini, dengan catatan terbaik lolos ke perempat final pada 1995 dan 2015. “La Tricolor” meraih tiket putaran final pada 1987, 1995, 2011, 2015, dan 2019.</p>
<p>Catatan lolos ke Indonesia pun cukup kinclong: setelah menjadi <em>runner-up</em> Copa America U17 2023, dengan dua kali sukses menahan imbang Brazil yang akhirnya menjadi juara. Juga menundukkan tim-tim besar Amerika Selatan, termasuk Argentina.</p>
<p>Dalam skuad timnas Ekuador U17 yang berlaga di Copa America U17 2023, ada nama Kendry Paez, <em>wonderkid</em> 16 tahun yang pada 2025 nanti dipastikan bakal bergabung dengan klub raksasa Liga Primer, Chelsea.</p>
<p>Laga semalam juga mengetengahkan striker dan kapten tim Michael Bermudez. Bintang U17 Ekuador ini telah mengoleksi 4 gol pada South American Championship U17 2023. Bermudez dirumorkan menarik atensi dari beberapa klub Eropa, salah satunya Borussia Dortmund.</p>
<p><strong>Tak Perlu Inferior</strong><br />
Dalam percaturan sepak bola para bocah, Indonesia tak seharusnya berkecil hati. Kita cukup punya potensi talenta untuk bersaing di level regional Asia Tenggara, Asia, bahkan dunia. Maka, walaupun Malaysia dan Vietnam mencibir Indonesia mendapat hak berkontestasi di putaran final Piala Dunia U17 tanpa harus terlebih dahulu bersaing dalam kualifikasi, kita tidak harus merasa diinferioritaskan.</p>
<p>Pertama, tuan rumah di mana pun mendapat hak untuk menjadi salah satu peserta putaran final. Kedua, tingkat kelayakan Anak-anak Garuda untuk berlaga juga akan dilihat pada sejauh mana kemampuan bersaing di Grup A melawan Ekuador, Maroko, dan Panama.</p>
<p>Dibandingkan dengan tiga negara lainnya di Grup A, Indonesia merupakan satu-satunya tim yang menjalani debut. Ekuador, Panama, dan Maroko telah memiliki pengalaman hingga fase penyisihan pada edisi Piala Dunia U17 sebelumnya.</p>
<p>Panama hadir untuk kali ketiga. Negara dari Amerika Tengah itu memastikan tiket setelah mencapai babak semifinal di Turnamen U17 Concacaf, Februari lalu. Mereka mencapai 16 besar dalam penampilan debut pada tahun 2011, disingkirkan oleh tuan rumah Meksiko.</p>
<p>Mereka kembali lolos ke putaran final dua tahun kemudian, tetapi tersingkir di babak penyisihan grup. Pemain sayap Ismael Diaz tercatat sebagai satu-satunya pemain Panama yang pernah tampil di Piala Dunia U17 dan Piala Dunia senior.</p>
<p>Panama tidak memiliki catatan penampilan impresif di level internasional. Hanya, di Piala Concacaf U17 2023 mampu menundukkan Guatemala, Curacao, Kuba, dan Honduras.</p>
<p>Sedangkan Maroko tampil untuk kali kedua setelah 2013. Ketika itu mereka memuncaki grup yang terdiri dari Uzbekistan, Kroasia, dan Panama. Mereka tersingkir di babak 16 besar setelah kalah dari Pantai Gading.</p>
<p>Maroko diperkuat pemain akademi Juventus, Adam Boufandar. Juga membawa Othmane Elidrissi Erahhali, Zakaria Ouazane, dan Mohamed Zine El Abidine Hamony yang bermain di Eropa.</p>
<p>Melihat penampilan di laga pembuka melawan Ekuador, di atas kertas Indonesia seharusnya bisa mengimbangi Maroko dan Panama. Peluang untuk menang juga cukup bagus.</p>
<p><strong>Masalah Serius: Transisi</strong><br />
Sebagai evaluasi, laga melawan Ekuador memperlihatkan titik kekurangan Iqbal Gwijangge cs, terutama dalam akurasi umpan yang terbukti mempengaruhi transisi dari bertahan ke menyerang, dan dari menyerang ke situasi bertahan.</p>
<p>Ekuador tampak lebih mengendalikan irama permainan karena kematangan dalam aliran transisi bola. Sedangkan lini tengah Indonesia terlihat rentan ketika melepas umpan-umpan untuk membuka variasi serangan. Bola banyak diantisipasi lawan dengan intersepsional dan arah yang mudah terbaca. Demikian juga, aliran bola dalam posisi bertahan ketika lawan mulai menyerang banyak mengundang risiko lawan lebih mudah masuk ke area pertahanan Welber Jardim dkk karena banyaknya ketidakakuratan umpan.</p>
<p>Masalah kelemahan transisi ini, untungnya, banyak tertolong oleh konsistensi determinasi. Daya juang pemain terlihat kuat, dan inilah titik yang seharusnya bisa dijadikan modal untuk melawan Panama dan Maroko.</p>
<p>Daya tempur dalam menghadapi Ekuador bisa saya bandingkan dengan “pertunjukan” Didik Darmadi dkk di Piala Dunia U19 di Tokyo ketika menghadapi Argentina yang diperkuat Diego Maradona dan Ramon Diaz muda. Indonesia kalah 0-5, namun daya juang tim asuhan Sutjipto Soentoro itu patut dipuji. Dan, kini Arkhan Kaka cs bukan hanya bertarung gigih, namun juga memberikan hasil tidak mengecewakan.</p>
<p>Energi para bocil kita di panggung dunia U17 ini, tampaknya bakal ditentukan oleh kemampuan unjuk determinasi. Kalau “sikap tanding” ini bisa dipertahankan dan membawa lolos ke babak gugur, sejarah besar menanti anak-anak Indonesia untuk dikenang dunia.</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/11/11/menakar-energi-para-bocil-kita-di-panggung-u17">Menakar Energi Para Bocil Kita di Panggung U17</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>“Kegembiraan” Free Kick Leo Messi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/08/19/kegembiraan-free-kick-leo-messi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Aug 2023 10:00:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Andrea Pirlo]]></category>
		<category><![CDATA[David Beckham]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Gianfranco Zola]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[pele]]></category>
		<category><![CDATA[Roberto Baggio]]></category>
		<category><![CDATA[Ronaldinho]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Sunshuke Nakamura]]></category>
		<category><![CDATA[Victor Legrotaglie]]></category>
		<category><![CDATA[Xherdan Shaqiri]]></category>
		<category><![CDATA[Zinedine Zidane]]></category>
		<category><![CDATA[Zlatan Ibrahimovic]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=360612</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // bola bagai dia jinakkan/ kendali kaki seperti punya mata/ melengkung ke titik presisi/ penjaga gawang ternganga/ dalam pesona yang tak dia mengerti&#8230;// (Sajak “Keajaiban Free Kick”, 2023) KAU simakkah aura riang ekspresi Lionel Messi selepas mencetak gol ke gawang FC Dallas lewat free kick untuk Inter Miami, 7 Agustus lalu? [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/08/19/kegembiraan-free-kick-leo-messi">“Kegembiraan” Free Kick Leo Messi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-360614 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/logo-bola-bola-1.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/logo-bola-bola-1.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/08/logo-bola-bola-1-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// bola bagai dia jinakkan/ kendali kaki seperti punya mata/ melengkung ke titik presisi/ penjaga gawang ternganga/ dalam pesona yang tak dia mengerti&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Keajaiban Free Kick”, 2023)</strong></p>
<p><strong>KAU</strong> simakkah aura riang ekspresi Lionel Messi selepas mencetak gol ke gawang FC Dallas lewat <em>free kick</em> untuk Inter Miami, 7 Agustus lalu?</p>
<p>Di tribune VIP, sang pemilik klub, David Beckham tak kalah pula terbuncah gembira. Dia berdiri, merentangkan tangan. Senyumnya mengembang.</p>
<p>Sebagai sesama pemilik <em>free kick</em> ajaib, Becks tahu bagaimana sejuta rasa yang menjalari ketika seorang pemain sukses menjaringkan gol dari bola yang meluncur melengkung itu.</p>
<p>Bersama Inter Miami, sejauh ini Leo Messi tampak “lepas” bersenang-senang. Berbeda dari gesturnya yang “tidak los” saat masih bersama Paris St Germain di Ligue 1. Tendangan bebasnya yang khas mematikan itu bagai menemukan muara kegembiraan justru ketika dia bermain di klub milik salah satu tokoh <em>free kick</em> parabolik.</p>
<p>Dengan catatan 64 gol<em> free kick,</em> Messi sedang menunggu rekor baru untuk menembus capaian Beckham. Dalam kariernya di Manchester United, Real Madrid, AC Milan, LA Galaxy, dan PSG, Beckham membukukan 65 gol tendangan bebas. Tendangan yang, dari kajian akademik, berporos pada kemampuan mengelola kekuatan parabolik.</p>
<p>Sementara itu, rekor 77 gol ada di kantung capaian Juninho Pernambucano, pemain Brazil yang dikenal mematikan dengan “ajian” tendangan bebas bersama Olympique Lyon pada 1990-an hingga awal 2000-an.</p>
<p>Di Barcelona, Leo Messi mematangkan teknik tendangan sudut sampai ke titik tersulit, berupa “Free Kick Panenka”. Teknik tinggi ini lazimnya ada dalam eksekusi penalti, akan tetapi La Pulga bisa mempraktikkan lewat <em>free kick.</em> Tendangannya pelan, melintas presisi ke arah tengah gawang, dan kiper terkecoh karena umumnya bola meluncur ke sudut kanan atau kiri gawang.</p>
<p><strong>&#8220;Master&#8221; Juninho</strong><br />
Messi memang bukan pesepak bola utama dalam jenis eksekusi ini. Selain Juninho yang diakui sebagai “profesor tendangan bebas”, ada pula sejumlah “raja”: dari Pele, Victor Legrotaglie, Diego Maradona, Ronaldinho, Zinedine Zidane, Roberto Baggio, Gianfranco Zola, David Beckham, Andrea Pirlo, Zlatan Ibrahimovic, Xherdan Shaqiri, Sunshuke Nakamura, hingga Omar Abdulrahman. Pada masa lalu, Brazil juga memiliki sejumlah “seniman” seperti Rivelino, Nelinho, Socrates, Zico, Rai, dan Dirceu.</p>
<p>Di luar nama-nama itu, Anda tentu mengenal pula sejumlah ahli tendangan mematikan. Dari Johan Neeskens, Arie Haan, Lothar Mathaeus, Ronald Koeman, hingga Roberto Carlos, Steven Gerrard, Cristiano Ronaldo.</p>
<p>Berbeda dari karakter <em>free kick</em>, eksekusi mereka lebih berkarakter kanon yang keras dan lurus. Sifat luncurannya tidak kita dapati dalam keindahan sepakan <em>kick</em> lengkung ala Messi atau Beckham.</p>
<p><strong>Aura Gembira</strong><br />
Di Inter Miami, Leo Messi bermain dengan aura kegembiraan, lebih mirip anak-anak yang penuh gairah mencurahkan nalurinya.</p>
<p>Pelatih nasional Argentina, Lionel Scolani, yang secara khusus memanfaatkan liburan ke Amerika, menyaksikan aksi-aksi Messi. Dia berkesimpulan, ketika berada dalam atmosfer membahagiakan, semua potensi kehebatan Messi bakal muncul.</p>
<p>Karena faktor itukah maka dia lebih tampak “lepas” dalam mengekspresikan semua alam bawah sadar kemampuannya? Atau lantaran tingkat kekompetitifan MLS yang di bawah rata-rata liga di Eropa?</p>
<p>Apa pun itu, performa Messi tak hanya bicara tentang mengejar dan mematahkan rekor, tetapi keindahan teknik sepak bola bisa dipancarkannya dengan hati ringan.</p>
<p>David Beckham tampaknya harus bersiap-siap rekornya disalip. Bukan tidak mungkin pula Juninho harus merelakan rekor yang selama ini dianggap sulit tersamai bakal dikejar dan dilewati oleh Lionel Messi.</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan suarabaru.id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/08/19/kegembiraan-free-kick-leo-messi">“Kegembiraan” Free Kick Leo Messi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8216;King Pele&#8217; Berpulang, Menahan Sakit Sejak September 2021</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/12/30/king-pele-berpulang-menahan-sakit-sejak-september-2021</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2022 06:42:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[Campeonato Brasileiro Serie A]]></category>
		<category><![CDATA[Copa Libertadores]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Kanker Kolon]]></category>
		<category><![CDATA[New York Cosmos]]></category>
		<category><![CDATA[pele]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Intercontinental.]]></category>
		<category><![CDATA[santos]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=304104</guid>

					<description><![CDATA[<p>SAO PAULO (SUARABARU.ID)&#8211; Rumah Sakit Albert Einstein di Sao Paulo, Brazil, mengonfirmasi meninggalnya Pele, yakni akibat komplikasi kanker kolon (usus besar) yang diidapnya selama beberapa waktu. Pria bernama asli Edson Arantes do Nascimento itu, secara resmi dinyatakan meninggal dunia di usia 82 tahun, Jumat (30/12/2022) dini hari WIB. Pihak rumah sakit menyebut, Pele meninggal dunia [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/30/king-pele-berpulang-menahan-sakit-sejak-september-2021">&#8216;King Pele&#8217; Berpulang, Menahan Sakit Sejak September 2021</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SAO PAULO (<a href="http://SUARABARU.ID">SUARABARU.ID</a>)</strong>&#8211; Rumah Sakit Albert Einstein di Sao Paulo, Brazil, mengonfirmasi meninggalnya Pele, yakni akibat komplikasi kanker kolon (usus besar) yang diidapnya selama beberapa waktu.</p>
<p>Pria bernama asli Edson Arantes do Nascimento itu, secara resmi dinyatakan meninggal dunia di usia 82 tahun, Jumat (30/12/2022) dini hari WIB. Pihak rumah sakit menyebut, Pele meninggal dunia pada pukul 15.27 waktu setempat.</p>
<p>&#8221;Pele meninggal karena kegagalan beberapa organ, akibat perkembangan kanker usus besar yang terkait dengan kondisi medis sebelumnya,&#8221; kata juru bicara rumah sakit itu, seperti dikutip dari <em>detik.com</em> dan<em> AP</em>.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2022/12/30/pengamanan-konser-slank-polres-kebumen-siapkan-1-000-personel">Pengamanan Konser Slank, Polres Kebumen Siapkan 1.000 Personel</a></strong></p>
<p>Pele memang dirawat intensif sejak akhir November lalu. Dia harus mendapat perawatan, karena masalah kanker kolon yang diidapnya sejak September 2021. Sampai akhirnya, Pele menghembuskan napas terakhirnya hari ini.</p>
<p>Kabar meninggalnya Pele juga dikonfirmasi melalui berbagai akun media sosial yang dikelola agennya. &#8221;Inspirasi dan cinta kasih menandai perjalanan King Pele, yang meninggal dunia dalam damai hari ini,&#8221; tulis akun Instragram resmi Pele, @pele.</p>
<p>Pesepakbola kelahiran Minas Gerais itu, kerap dilabeli sebagai salah satu pemain sepak bola terbaik sepanjang sejarah. Dia menghabiskan 18 tahun awal karier profesionalnya di Santos, di mana dia melakoni debut dalam usia 15 tahun.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2022/12/30/transaksi-di-pameran-blora-fest-2022-capai-angka-rp-450-juta">Transaksi di Pameran Blora Fest 2022 Capai Angka Rp 450 Juta</a></strong></p>
<p>Pele membukukan 618 gol dari 636 penampilan bersama klub Brazil itu, sebelum menuntaskan tiga tahun terakhirnya di Amerika Serikat, berseragam New York Cosmos.</p>
<p>Bersama Santos, Pele mengantarkan klub itu mengoleksi 25 trofi, termasuk enam gelar juara Campeonato Brasileiro Serie A, dua trofi Copa Libertadores, dan dua trofi Piala Intercontinental.</p>
<p>Kepiawaian Pele juga terbukti di level internasional, dengan tiga medali emas saat mengantarkan Brazil tiga kali juara Piala Dunia pada 1958, 1962, dan 1970.</p>
<p>Pada Desember 2000, Pele dan legenda Argentina, Diego Maradona, sama-sama dianugerahi gelar Pemain Terbaik Abad ke-20.</p>
<p><em><strong>Riyan</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/30/king-pele-berpulang-menahan-sakit-sejak-september-2021">&#8216;King Pele&#8217; Berpulang, Menahan Sakit Sejak September 2021</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Messi, dalam Luka dan Cahaya Waktu</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/12/24/messi-dalam-luka-dan-cahaya-waktu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2022 10:00:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Ariel Ortega]]></category>
		<category><![CDATA[Carlos Tevez]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Juan Ramon Riquelme]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messo]]></category>
		<category><![CDATA[Marcello Gallardo]]></category>
		<category><![CDATA[Pablo Aimar]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia Qatar]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=302368</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // dia telah merebut takdir/ meraup bintang-bintang/ berkhusyuk dengan bulan/ tak ragu dia keluar dari pintu/ dan semesta menyambut dengan cahaya// (Sajak &#8220;Cahaya Messi&#8221;, 2022) SEKIAN panjang waktu telah melukai Lionel Andres Messi. Dan, cukup pada sepenggal malam sang waktu mencahayai terang hidup Messi. Kau bayangkankah sekian tahun dia hidup dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/24/messi-dalam-luka-dan-cahaya-waktu">Messi, dalam Luka dan Cahaya Waktu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-302404 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/BOLA-BOLA-LOGO-1-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// dia telah merebut takdir/ meraup bintang-bintang/ berkhusyuk dengan bulan/ tak ragu dia keluar dari pintu/ dan semesta menyambut dengan cahaya//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Cahaya Messi&#8221;, 2022)</strong></p>
<p><strong>SEKIAN</strong> panjang waktu telah melukai Lionel Andres Messi. Dan, cukup pada sepenggal malam sang waktu mencahayai terang hidup Messi.</p>
<p>Kau bayangkankah sekian tahun dia hidup dalam bayangan muram?</p>
<p>Setelah pada 2005 meraih Piala Dunia U20, lalu melengkapinya dengan medali emas Olimpiade 2008, dia tumbuh dan menjalani karier dalam bayang-bayang &#8220;Sang Dewa&#8221;, Diego Maradona.</p>
<p>Tak henti dia diperbandingkan. Sebagai pewaris sahih kemampuan El Pibe de Oro, apa pun perkembangan dan capaian Leo Messi selalu dikaitkan sebagai &#8220;The Next Maradona&#8221;.</p>
<p>Psikologi sejarah dan fenomena budaya pop tak mengompromikan dia tumbuh menjadi diri sendiri, independen sebagai Lionel Messi.</p>
<p>Dalam kelengketan dribel, gol solo run berlika-liku, kaki kiri yang bagai punya indera, tendangan bebas, dan visi umpan, Messi adalah fotokopi Maradona.</p>
<p>Dia berbeda dari &#8220;New Maradona&#8221; lain yang pernah digadang-gadang tetapi akhirnya tak beranjak ke level &#8220;dewa&#8221;. Bukankah dalam rentang waktu sejak dekade 1990-an kita mengenal Ariel Ortega, Marcello Gallardo, Juan Ramon Riquelme, Pablo Aimar, Carlos Tevez, atau Javier Saviola?</p>
<p>Dalam hal raihan gelar liga, Liga Champions, dan catatan formal individu, Leo Messi bahkan melewati secara telak seniornya itu. Tujuh trofi Ballon d&#8217;Or adalah rekor yang tak tersamai, dan hanya bisa didekati oleh Cristiano Ronaldo yang lima kali mendapatkan.</p>
<p>Dibandingkan dengan Maradona, kekurangan Messi hanya satu: Piala Dunia, trofi yang terakhir kali diraih Argentina pada 1986. Copa America yang didapat Messi pada 2021 adalah trofi yang tak pernah diperoleh oleh Maradona, namun psikologi pembandingan hanya menghitung Piala Dunia.</p>
<p><strong>Luka Waktu</strong><br />
Sebelum 2021, Copa America adalah luka waktu bagi Messi. Tiga kali masuk final (2007, 2015, dan 2016), La Albiceleste selalu gagal. Dia bagai menimbun kepedihan.</p>
<p>Dalam kehadiran di Piala Dunia 2006, 2010, 2014, dan 2018, sekali Tim Tango melaju ke final di Brazil 2014, namun di bawah kepemimpinan Messi dikalahkan Jerman 0-1 lewat perpanjangan waktu.</p>
<p>Maradona, yang sukses di Meksiko 1986, empat tahun kemudian di Italia gagal dalam final, juga 0 &#8211; 1 dari Jerman. Sejarah kemenangan Maradona 36 tahun silam selalu membayangi Messi.</p>
<p>Maradona secara sarkastis pernah mengatainya, &#8220;Dia memang hebat di Barcelona, tetapi bukan untuk tim nasional Argentina&#8221;.</p>
<p>Artinya, sehebat apa pun dan membendaharakan prestasi apa pun di level klub, Messi dianggap belum layak disandingkan dengan Maradona jika belum mengangkat Piala Dunia.</p>
<p>Luka waktu tak segera mengering, dan keputusan tampil kembali setelah menyatakan pensiun pada 2016 akhirnya membuncahkan hasil yang &#8220;terang benderang&#8221;.</p>
<p>Adalah Pablo Aimar, legenda Tango yang menjadi asisten Lionel Scaloni di tim nasional, berhasil membujuknya. Aimar yang juga pernah berkarier di Liga Spanyol adalah idola Leo Messi saat masih remaja.</p>
<p>Andai dia bersikukuh memutuskan pensiun, tentulah cahaya waktu tak akan memihak. Nyatanya, bombardir kemuraman tak menepikan ketekunan La Pulga untuk mencoba, dan terus mencoba.</p>
<p>Sukses di Copa dalam usia 34, menyemangati Messi untuk berani menjemput takdir Piala Dunia-nya di Qatar. Dan, usia 35 jelas bukan waktu yang bersahabat dengan urusan kebugaran dan kecepatan.</p>
<p><strong>Cahaya Waktu</strong><br />
Dan, Messi terbukti mampu menaklukkan barrier keraguan. Waktu telah mencahayai, dan akhirnya menyemburatkan terang.</p>
<p>Kemuraman Messi tersaput tuntas lewat malam final yang sarat drama di Stadion Lusail Iconic. Dia memenangi moralitas nasib dalam titik waktu yang sudah sulit terulang. Dalam usia 35, Qatar 2022 adalah Piala Dunia terakhirnya walaupun ia belum berniat pensiun.</p>
<p>Dia tak sendirian meracik waktu untuk menjadi pahlawan. Leo didukung oleh kekuatan ekosistem timnas Argentina. Dia dikelilingi para pemain yang menjadi penopang mewujudkan impian.</p>
<p>Dia ditemani anak-anak muda yang mencintai dan loyal kepadanya. Dia dijadikan pusat oleh para bintang masa depan yang mengidolai dan terinspirasi oleh kemampuannya.</p>
<p>Anak-anak muda itulah cahaya yang menerangi langit tim Argentina. Dan, bukankah mereka pula yang mencahayai tekad sang kapten istimewa?</p>
<p>Di Qatar 2022 kita tidak melihat lagi gestur <em>introvert</em> Lionel Messi. Tak kita temukan wajah muram, kepala menunduk, pandangan buntu, dan tanpa konfidensi.</p>
<p>Messi bertransformasi menjadi pemimpin karismatis yang berani menengadah, tak ragu menghardik, mengayomi, dan memancarkan keyakinan bahwa dia dikelilingi daya hidup dan elemen-elemen cahaya.</p>
<p>Dengan kekuatan waktu, dalam cercah terang cahaya, Sang Alien menghadirkan diri sebagai &#8220;malaikat&#8221; yang berkhidmat kepada rakyat Argentina.</p>
<p>Waktu pula yang mempertemukan badan wadagnya dengan jiwa dan rasa yang menyuarakan tekad tak berbeda&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/24/messi-dalam-luka-dan-cahaya-waktu">Messi, dalam Luka dan Cahaya Waktu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kolaborasi Dua Lionel: Scaloni dan Messi Meraih Mimpi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/12/20/kolaborasi-dua-lionel-scaloni-dan-messi-meraih-mimpi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2022 07:39:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SUARA Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Alejandro Sabella]]></category>
		<category><![CDATA[Alfio Basile]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Edgardo Bauza]]></category>
		<category><![CDATA[Gerardo Martino]]></category>
		<category><![CDATA[Jorge Sampaoli.]]></category>
		<category><![CDATA[Sergio Batista]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=301577</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS DARI Jose Pekerman pada 2006 ke Alfio Basile, lalu ke Diego Maradona, Sergio Batista, berlanjut ke Alejandro Sabella, Gerardo Martino, Edgardo Bauza, berikutnya hingga 2018 ke Jorge Sampaoli. Dan, baru di tangan Lionel Scaloni yang memulai kiprah sebagai &#8220;pelatih yang diragukan&#8221; sejak 2018, Argentina mewujudkan mimpi meraih trofi major: dari Copa [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/20/kolaborasi-dua-lionel-scaloni-dan-messi-meraih-mimpi">Kolaborasi Dua Lionel: Scaloni dan Messi Meraih Mimpi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-301584 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-2.jpg" alt="" width="150" height="195" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-2.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-2-115x150.jpg 115w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" />DARI</strong> Jose Pekerman pada 2006 ke Alfio Basile, lalu ke Diego Maradona, Sergio Batista, berlanjut ke Alejandro Sabella, Gerardo Martino, Edgardo Bauza, berikutnya hingga 2018 ke Jorge Sampaoli.</p>
<p>Dan, baru di tangan Lionel Scaloni yang memulai kiprah sebagai &#8220;pelatih yang diragukan&#8221; sejak 2018, Argentina mewujudkan mimpi meraih trofi major: dari Copa America 2021 dan Finalissima 2022 ke Piala Dunia 2022.</p>
<p>Betapa panjang penantian itu, 36 tahun, ketika kolaborasi Carlos Bilardo dan Maradona membawa pulang Coppa del Mundo ke Buenos Aires.</p>
<p>Bilardo menyamai raihan sang legenda, &#8220;El Flaco&#8221; Luis Cesar Menotti yang delapan tahun sebelumnya mengantar Mario Kempes dkk juara dunia untuk kali pertama.</p>
<p>Lionel Messi harus menunggu &#8220;rezim&#8221; demi &#8220;rezim&#8221; untuk akhirnya mencium dan mengangkat Piala Dunia, 18 Desember 2022. Penantian yang nyaris menerbitkan keputusasaan setelah sekian Copa America dan sederet putaran final Piala Dunia tidak memberikan tanda-tanda bakal meraihnya.</p>
<p><strong>Rezim Scaloni</strong><br />
Lionel Scaloni boleh jadi tidak punya karisma seperti Menotti, Bilardo, atau Maradona. Statusnya pun sebenarnya hanya &#8220;asisten&#8221; bagi Jorge Sampaoli, baik ketika berkiprah di klub La Liga, Sevilla maupun di tim nasional Argentina pada 2017-2018.</p>
<p>Ketika ditunjuk sebagai pelatih tetap, setelah menjadi karteker bersama Pablo Aimar pada 2018, dia menjadi bulan-bulanan kritik. Maradona &#8212; yang juga gagal memberikan trofi juara &#8212; vokal menyuarakan keberatan, &#8220;Bagaimana Anda memberikan tim nasional ke Scaloni? Apakah kita semua sudah gila?&#8221;</p>
<p><strong>Paham &#8220;Luka&#8221; Messi</strong><br />
Pria kelahiran Rosario 44 tahun silam itu ikut merasakan &#8220;luka hati&#8221; Lionel Messi, yang hancur karena kembali gagal di Piala Dunianya yang keempat.</p>
<p>Scaloni membuktikan, dalam dirinya mengeram potensi luar biasa. Dia rancang taktik dan kolektivitas tim dalam sistem yang &#8220;mendukung Messi&#8221;. Dia memercayai para pemain muda potensial, dan terutama membesut barisan gelandang dengan trio petarung perebut bola.</p>
<p>Taktik Scolani berhasil menciptakan &#8220;perasaan lebih aman&#8221; bagi kuartet lini belakang saat menghadapi transisi gempuran lawan.</p>
<p>Dia memang bukan eks pemain yang berkategori legenda. Kariernya tidaklah istimewa selama bertualang di Deportivo La Coruna, West Ham United, Racing Santander, Lazio, Real Mallorca, dan terakhir di Atalanta. Jam terbang di tim nasional Argentina juga minimalis, hanya tujuh kali mengenakan<em> jersey</em> Albiceleste.</p>
<p>Nyatanya, pendekatan taktiknya mampu mencairkan kebekuan prestasi Argentina. Dari juara Copa America 2021, Finalissima 2022, dan puncaknya Piala Dunia 2022.</p>
<p>Maka tentu &#8220;ada apa-apanya&#8221;. Dan, apa yang sejatinya hebat dari Lionel Scaloni?</p>
<p>Kolektivitas yang dia racik adalah sintesis, antara impian Messi dengan komitmen tim yang saling mendukung. Messi berambisi meraih trofi di pengujung karier, dan rekan-rekannya menjadi bagian ekosistem taktik yang menyokong sang kapten. Ujung psikologi capaian itu adalah &#8220;nasionalisme sejarah&#8221; untuk negara.</p>
<p>Pada 2014, Tim Tango juga lolos ke final, namun kalah 0-1 dari Jerman. Eksepsionalitas Messi menjadi warna, namun kepemimpinan La Pulga baru betul-betul terasa sebagai metamorfosis performa di Qatar 2022.</p>
<p>Bagaimana dia menginspirasi, mengayomi, dan menyatukan spirit pembuktian rekan-rekannya. Letupan-letupan sikap &#8220;memberontak&#8221; seperti dalam laga 8 besar melawan Belanda juga menandai Messi yang kali ini &#8220;unjuk karakter&#8221; sebagai pemimpin.</p>
<p><strong>Adonan Tepat</strong><br />
Taktik Scaloni dan kematangan Messi menjadi adonan tepat pada saat yang tepat.</p>
<p>Saat tepat, karena inilah logika momen akhir Messi di Piala Dunia dalam usia 35. Juga saat tepat, karena Scaloni punya peluang untuk menguatkan catatan tiga kali juara bagi negerinya</p>
<p>Saat tepat, karena sebagai mata rantai, pencapaian Scaloni sungguh beralasan menjadi tahapan menuju yang terbaik di Piala Dunia. Juara Copa America, memenangi Finalissima &#8212; duel juara Copa vs juara Euro 2020 Italia &#8211;, lalu memuncak di Piala Dunia.</p>
<p>Penajaman taktik, filosofi, latar aktual memberi persembahan untuk &#8220;sang malaikat&#8221; Leo Messi, menemukan puncak di waktu yang tepat.</p>
<p>Dia mengubah peran Messi, dari false nine ke playmaker yang fungaional. Fleksibilitas taktiknya didasari filosofi &#8220;Scaloneta&#8221;, &#8220;rumah yang Scaloni bangun&#8221; dengan menyusun soliditas lini tengah. Leandro Parades, Rodrigo De Paul, dan Giovani Lo Celco dia jadikan &#8220;tabir pertama&#8221; agar lini belakang yang dikendalikan Nico Otamendi lebih merasa aman.</p>
<p>Ide dasar Scaloni adalah pergerakan cepat bola, cepat merebut, dan serangan balik cepat.</p>
<p>Dia acap membuat taktikus lawan kesulitan membaca kemungkinan. Pilihan skematikanya sering nge-<em>prank</em> seperti bunglon yang adaptif.</p>
<p>Nah, kejeniusan pelatih yang semula banyak menjadi sasaran nyinyir itu telah dibuktikan. Dia mempersembahkan Piala Dunia, juga membukakan pintu untuk Lionel Messi dalam menemui takdir indahnya.</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/20/kolaborasi-dua-lionel-scaloni-dan-messi-meraih-mimpi">Kolaborasi Dua Lionel: Scaloni dan Messi Meraih Mimpi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Drama Berliku Mengantar Messi kepada &#8220;Takdir&#8221;&#8230;</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/12/19/drama-berliku-mengantar-messi-kepada-takdir</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2022 01:23:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Alfredo Di Stefano]]></category>
		<category><![CDATA[Cristiano Ronaldo]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Ferenc Puskas]]></category>
		<category><![CDATA[Franz Beckenbauer]]></category>
		<category><![CDATA[Johan Cruyff]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Platini]]></category>
		<category><![CDATA[pele]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia Qatar]]></category>
		<category><![CDATA[Ronaldinho]]></category>
		<category><![CDATA[Ronaldo Luis Nazario]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Zinedine Zidane]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=301267</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS SEJUTA ungkapan takkan cukup menggambarkan kebahagiaan Lionel Andres Messi pada malam 18 Desember 2022 di Stadion Lusail, Doha, Qatar. Pastilah Anda paham, bukan hanya Messi, keluarganya, dan tim nasional Argentina yang menikmati kegembiraan. Para fans di seluruh dunia ikut lega, La Pulga telah melewati momen &#8220;jalan takdir&#8221;: akhirnya mengecup dan mengangkat [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/19/drama-berliku-mengantar-messi-kepada-takdir">Drama Berliku Mengantar Messi kepada &#8220;Takdir&#8221;&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-301269 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-1.jpg" alt="" width="150" height="195" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-1.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-1-115x150.jpg 115w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" />SEJUTA</strong> ungkapan takkan cukup menggambarkan kebahagiaan Lionel Andres Messi pada malam 18 Desember 2022 di Stadion Lusail, Doha, Qatar.</p>
<p>Pastilah Anda paham, bukan hanya Messi, keluarganya, dan tim nasional Argentina yang menikmati kegembiraan. Para fans di seluruh dunia ikut lega, La Pulga telah melewati momen &#8220;jalan takdir&#8221;: akhirnya mengecup dan mengangkat Piala Dunia, simbol kekuatan sepak bola sejagat.</p>
<p>Saya mencoba mengikuti pendapat Rene Higuita. Sebelum malam final, legenda kiper Kolombia itu mengajak, apa pun hasil laga puncak melawan Prancis, lebih baik nikmati saja penampilan terakhir Messi di Piala Dunia. &#8220;Belum tentu dalam satu abad berikut kita bisa menyaksikan pemain seperti Messi,&#8221; katanya.</p>
<p>Ungkapan kata &#8220;akhirnya&#8221; banyak menghias sebagai kesimpulan headline media-media dunia, bahwa Messi meraih takdir dalam pencapaian yang paripurna.</p>
<p><strong>Rumit dan Menegangkan</strong><br />
Kemenangan atas Prancis melalui drama adu penalti setelah babak reguler 2&#215;45 menit dan tambahan waktu 2&#215;15 menit menggambarkan, betapa rumit dan menegangkan final Qatar 2022.</p>
<p>Unggul 2-0 hingga turun minum, Prancis menyamakan 2-2, unggul lagi 3-2, disamakan lagi 3-3, lalu diakhiri dengan adu penalti. Messi memainkan peran sebagai pencetak gol, eksekutor, dan inspirator.</p>
<p>Saya mencoba meresapi pertandingan dalam getar-getar perasaan yang luar biasa mendegupkan jantung, mirip ketika pada 2021 Argentina dan Messi meraih Copa America di Stadion Maracana, Brazil, mengalahkan tuan rumah 1-0.</p>
<p>Terasakan betapa Messi tak henti memerankan diri menjadi pelayan orkestrasi permainan bagi rekan-rekannya. Pada sisi lain, 10 pemain Argentina juga berjuang hidup-mati untuk mewujudkan mimpi kaptennya meraih Piala Dunia.</p>
<p>Enzo Fernandez dkk bukan hanya bertarung untuk meraih trofi dunia ketiga bagi Argentina setelah 1978 dan 1986; dalam wujud drama dan kisah sepak bola mereka juga menyokong penuntasan rasa kepenasaran Leo Messi. Apalagi inilah momen Piala Dunia 2022 yang hampir bisa dipastikan menjadi yang terakhir dalam usia 35 Si Alien.</p>
<p>Berakhirkah semua perbincangan tentang &#8220;takdir&#8221; dan kelengkapan Lionel Messi? Agar dia tidak selalu dibanding-bandingkan dengan Diego Maradona, sang legenda?</p>
<p>Trofi apa pun sudah Messi miliki. Dari level liga bersama Barcelona dan Paris St Germain, Liga Champions, hingga Piala Dunia Antarklub. Dia juga membendaharakan Piala Dunia U20 pada 2005 dan medali emas Olimpiade 2008, lalu pada usia 34 meraih Copa America.</p>
<p>Tujuh kali penghargaan individu Ballon d&#8217;Or dia bukukan, melewati raihan pesepak bola mana pun. Rekor itu bertambah dengan menjadi Pemain Terbaik, dan dia menjadi satu-satunya manusia yang dua kali mendapatkan, setelah Piala Dunia 2014. Hanya, delapan tahun silam Argentina kalah di final dari Jerman.</p>
<p>Selama ini, Maradona dianggap &#8220;lebih besar&#8221;, karena mampu mempersembahkan Piala Dunia 1986, walaupun tidak meraih Copa America dan emas Olimpiade.</p>
<p>Semestinyalah, sejak sekarang tak ada lagi perdebatan tentang kelayakan penyejajaran Messi dengan Maradona.</p>
<p><strong>Siapa GOAT?</strong><br />
Pun, berakhirlah argumentasi: siapa yang lebih layak disebut sebagai GOAT &#8212; <em>Greatest of All Times</em> &#8211;, dia atau Cristiano Ronaldo. Dalam rentang lebih dari satu dekade, selalu muncul head to head dengan segala parameter dan subjektivitasnya.</p>
<p>Bisa saja diskusi tentang GOAT akan terus berdinamika sebagai bagian dari keasyikan mengisahkan Pele, Alfredo Di Stefano, Ferenc Puskas, Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, Michael Platini, Diego Maradona, Ronaldo Luis Nazario, Zinedine Zidane, Ronaldinho, Cristiano Ronaldo, atau Lionel Messi. Hanya, sukses Messi di Qatar menciptakan perspektif lain pemetaan.</p>
<p>Di Qatar 2022, Messi tampak mengekspresikan semua pendaman bakat dan potensi dalam dirinya. Bagaimana unjuk &#8220;skill dewa&#8221; sebagai pembeda, melayani tim dengan umpan-umpan eksepsional, juga menunjukkan jiwa kepemimpinan yang kuat.</p>
<p>Elemen ketiga itu sering dimasalahkan, bahkan oleh Maradona dan sejumlah analis. Banyak yang menilai, salah satu pembeda dari Maradona adalah kekuatan karakter leadership.</p>
<p>Di Copa America 2021 dan Qatar 2022, Messi bertransformasi menjadi sosok yang lebih ekstrovert, juga meletupkan &#8220;sisi lain&#8221; yang tak biasa dia perlihatkan, yakni sikap &#8220;memberontak&#8221;, &#8220;melawan&#8221;, juga sedikit &#8220;berandalan&#8221;.</p>
<p>Pertunjukan di Piala Dunia penutupnya ini seakan-akan tuntas mempertontonkan Lionel Messi yang sejati. Dan, benar kata Rene Higuita, kita beruntung menjadi saksi momen dramatik itu.</p>
<p>Kita menikmati Messi menjemput takdir dengan akhir yang indah&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/19/drama-berliku-mengantar-messi-kepada-takdir">Drama Berliku Mengantar Messi kepada &#8220;Takdir&#8221;&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dia Kapten, Dia Pemimpin, Dia Lionel Messi&#8230;</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/12/17/dia-kapten-dia-pemimpin-dia-lionel-messi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2022 10:00:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia Qatar]]></category>
		<category><![CDATA[prancis]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Tim Nasional Argentina]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=300734</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // dia ada bukan untuk ditakuti/ dia menginspirasi dan memimpin orkestrasi/ dia ada untuk menjadi sang pembeda/ dia ada untuk dirasakan adanya/ diikuti titahnya/ disegani kepemimpinannya&#8230;// (Sajak “Leo Messi Sang Kapten”, 2022) RASANYA tak berlebihan, dalam podcast “Ngopi, Ngobrolin Piala Dunia” LPP RRI Semarang selepas semifinal Piala Dunia 2022, saya melukiskan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/17/dia-kapten-dia-pemimpin-dia-lionel-messi">Dia Kapten, Dia Pemimpin, Dia Lionel Messi&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-300737 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/logo-bola-bola.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/logo-bola-bola.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/logo-bola-bola-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// dia ada bukan untuk ditakuti/ dia menginspirasi dan memimpin orkestrasi/ dia ada untuk menjadi sang pembeda/ dia ada untuk dirasakan adanya/ diikuti titahnya/ disegani kepemimpinannya&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Leo Messi Sang Kapten”, 2022)</strong></p>
<p><strong>RASANYA</strong> tak berlebihan, dalam podcast “Ngopi, Ngobrolin Piala Dunia” LPP RRI Semarang selepas semifinal Piala Dunia 2022, saya melukiskan tim nasional Argentina adalah “seorang Lionel Messi yang dibantu 10 pemain Argentina”.</p>
<p>Ilustrasi ini sama dengan peran Diego Maradona di Piala Dunia 1986, “Tim Argentina adalah seorang Maradona dibantu 10 pemain Argentina”. Dan, tim itulah yang secara fenomenal meraih trofi Coppa del Mundo.</p>
<p>Legenda Argentina Jorge Burruchaga menyampaikan narasi serupa, betapa Leo Messi punya beban yang sama dengan Maradona. Dia menuturkan, sebagaimana dikutip <em>cnnindonesia.com</em> dari <em>Buenos Aires Times,</em> pelatih Caralos Bilardo ketika itu menggambarkan tim nasional adalah Maradona dan 10 pemain lainnya.</p>
<p>Ada suatu masa, potensi kepemimpinan Messi sebagai kapten selalu diperbandingkan dengan Maradona yang memang dominan dan menonjol. Bahkan saat El Pibe de Oro mengarsiteki Tim Tango di Piala Dunia 2010, dia tidak menunjuk juniornya itu sebagai pemimpin. Ban kapten diserahkan kepada Javier Mascherano.</p>
<p>Pelatih berganti, dan Messi sebagai ikon tim ditunjuk sebagai kapten. Ketika Albiceleste gagal dalam sejumlah turnamen mayor, Maradona terang-terangan mengkritik La Pulga bukan sosok pemimpin dalam tim, “Bagaimana mungkin pemain yang 20 kali keluar masuk toilet menjelang pertandingan bisa menjadi pemimpin?”</p>
<p>Kata Maradona kepada <em>Fox Sports</em>, “Kita seharusnya tidak mendewakan Leo lagi. Dia adalah Messi ketika bermain untuk Barcelona. Messi adalah Messi ketika dia mengenakan seragam itu, dan dia adalah Messi yang berbeda bersama Argentina&#8230;”</p>
<p>Andai “Sang Dewa” masih ada dan menyaksikan bagaimana aksi-aksi Messi di Qatar 2022, dia pasti menyesali penilaian itu. Kini Messi bermetamorfosis menjadi kapten istimewa!</p>
<p>Lihatlah ekspresi, gestur, statemen, sikap mengayomi, dan keberadaannya sebagai “faktor pembeda”. Permainannya bertransformasi, dari bintang yang hanya mengandalkan teknis individu prima, kini terlihat “melayani” dengan umpan-umpan memanjakan. Setiap pergerakan dan <em>positioning</em>-nya memudahkan para pemain lain menemukan peluang. Tentu selain produktivitas gol yang tetap terjaga.</p>
<p>Transformasi ini tentu terkait dengan usia yang tak lagi muda, 35 tahun, dan Messi tahu bagaimana mengelola kebugaran dengan ukuran mobilitas pergerakan.</p>
<p>Empat tahun silam, dalam Piala Dunia Rusia 2018, peran itu sudah dia mainkan, namun ekspresi kepemimpinannya tidak semenonjol sekarang. Aksi-aksi leadership itu dia perlihatkan di Copa America 2021.</p>
<p>Performanya dalam laga semifinal melawan Kroasia adalah pembuktian kualitas “luar-dalam”, sebagai bintang yang fungsional maupun sebagai kapten. Menjelang 8 besar melawan Belanda, dia mengekspresikan pengayoman kepada Lautaro Martinez. Sang striker banyak mendapat sorotan karena kegagalan menuntaskan sejumlah peluang saat menghadapi Australia.</p>
<p>Selepas duel yang menguras tenaga dan psikis melawan Belanda, ketika teman-temannya berselebrasi merayakan kemenangan bersama Lautaro Martinez yang mencetak penalti penentu, Messi justru menghampiri kiper Emiliano Martinez yang telentang di sisi lain lapangan. Dia menghargai peran Emi dalam drama penalti itu, sama seperti ketika kiper Aston Villa itu tampil eksepsional dalam Copa America 2021.</p>
<p>Emi Martinez, bagi Leo Messi adalah simbol perjalanan Argentina dalam empat tahun terakhir. Sikap Messi terhadap kiper jangkung itu memperlihatkan karakter yang berbeda dibandingkan dengan kesan orang tentang Messi yang pendiam, Messi yang<em> introvert,</em> dan Messi “yang lebih suka menunduk” dalam sejumlah momen pertandingan.</p>
<p>Kapten <em>introvert</em> itu berubah menjadi sosok yang terbuka, tengadah, bahkan “berani” mendatangi Louis van Gaal selepas pertandingan untuk memprotes <em>mind game</em> pelatih Belanda itu. Dia juga berselebrasi dengan luap tak biasa. Mendatangi bangku cadangan lawan, membuka kedua telapak tangan di depan telinganya!</p>
<p><strong>Kualitas Pemimpin</strong><br />
Simaklah penggambaran naratif ini, betapa Lionel Messi memang diidolakan oleh masyarakat Argentina, namun Maradona lebih didewakan. La Pulga menjadi representasi “lelaki ideal pengayom keluarga”, dan Maradona adalah “bajingan yang dicintai”.</p>
<p>Apakah gaya tak biasa Messi, yang “memberontak” dalam nuansa pertandingan melawan Belanda, yang ingin disaksikan oleh para pemujanya?</p>
<p>Dengan gaya itukah orang menemukan titik singgung Messi dengan Diego Maradona? Yang bukan hanya unjuk inspirasi, tetapi juga ekspresi agresi? Yang selain menjadi “sang malaikat” juga meletupkan sisi liarnya?</p>
<p>Kapten Argentina itu terus memperlihatkan performa kekuatan kepemimpinan. Tak beralasan lagi menyoroti kekurangan Messi dari sisi ini. Dia pemimpin sejati, dan rakyat Argentina menunggu tuah <em>leadership</em> itu lebih jauh lagi, justru di pengujung karier, memberi trofi Piala Dunia secara paripurna.</p>
<p>Dia akan menjadi “junta” yang sangar sekaligus “penyair” eksotik untuk menghadapi Ayam Jantan Prancis yang juga berwibawa dan sarat seniman tak kalah puitisnya&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>watawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/17/dia-kapten-dia-pemimpin-dia-lionel-messi">Dia Kapten, Dia Pemimpin, Dia Lionel Messi&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>GOAT, Perdebatan Abadi dari Muhammad Ali ke Leo Messi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/09/17/goat-perdebatan-abadi-dari-muhammad-ali-ke-leo-messi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2022 10:00:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Cristiano Ronaldo]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Ali]]></category>
		<category><![CDATA[pele]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=279038</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // sebutlah dia The Greatest/ katakan pula dia alien/ ketika batas lazim dilewati/ ketika dia tak seperti umumnya manusia/ pahamilah, di titik realitas/ bukankah Yang Akbar yang memberi kebesaran?/ : kepada sejumput manusia dengan faktor pembeda// (Sajak “The Greatest”, 2022) SEBERAPA jauhkah seorang anak manusia dianggap menyentuh wilayah kapasitas yang melewati [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/17/goat-perdebatan-abadi-dari-muhammad-ali-ke-leo-messi">GOAT, Perdebatan Abadi dari Muhammad Ali ke Leo Messi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-279048 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// sebutlah dia The Greatest/ katakan pula dia alien/ ketika batas lazim dilewati/ ketika dia tak seperti umumnya manusia/ pahamilah, di titik realitas/ bukankah Yang Akbar yang memberi kebesaran?/ : kepada sejumput manusia dengan faktor pembeda//</em><br />
<strong>(Sajak “The Greatest”, 2022)</strong></p>
<p><strong>SEBERAPA</strong> jauhkah seorang anak manusia dianggap menyentuh wilayah kapasitas yang melewati “kewajaran” batas-batas teknis?</p>
<p>Kata “alien”-kah yang mewakili gambaran itu, seperti yang biasa dipujikan kepada Lionel Andres Messi, peraih tujuh kali Ballon d’Or??</p>
<p>Tentu Anda pernah pula mencatat predikat “The Greatest”, yang dulu sering diteriakkan oleh Muhammad Ali, sang legenda tinju dunia.</p>
<p>Atau ungkapan Greatest of All Times (GOAT) yang sekarang banyak merujuk kehebatan sejumlah pemain bola, terutama untuk Leo Messi dan Cristiano Ronaldo.</p>
<p>Gambaran psiko-faktualkah ukurannya, atau kalkulasi matematis yang menetapkan klaim ke-GOAT-an seorang atlet?</p>
<p>GOAT, alien, atau jejuluk apa pun sejatinya adalah permainan mediatika, yang lahir sebagai produk kreatif budaya pop. Adapun klaim The Greatest, pada masanya merupakan ekspresi visioner Muhammad Ali. Pada masanya, “Si Mulut Besar” rupanya sudah paham, dunia profesional bertaut dengan peran media untuk menciptakan pasar.</p>
<p>Aneka “ulah” Ali dari 1960-an hingga 1980-an merupakan ungkapan visi untuk membuat dirinya sebagai pusat perhatian media. Ali, yang bernama asli Cassius Clay, memahami betul olahraga profesional membutuhkan “faktor pembeda” sebagai indikator bla-bla-bla magnet pasar.</p>
<p>Dunia tinju mengapungkannya sebagai perdebatan: siapa yang sebenarnya layak disebut “terbesar”? Apakah Rocky Marciano yang tak terkalahkan? Apakah Floyd Patterson, atau mungkin Floyd Mayweather Junior? Nyatanya, Ali memenangi “opini dunia” dengan menjadikannya sebagai “manusia tinju” yang komplet.</p>
<p>Kini, kata GOAT sebagai bentuk lain penyebutan “Yang Terbesar” dipakai oleh Paris St Germain, menyematkannya secara khusus di jersey nomor 30 Leo Messi.</p>
<p>Tentu orang boleh berdebat, siapa yang sejatinya paling pantas dilabeli GOAT. Pele-kah, Diego Maradona, Johan Cruyff, Zinedine Zidane, Messi, atau Cristiano Ronaldo dengan indikator kehebatan masing-masing? Atau sah-sah saja penilaian subjektif dan objektif kita memberi pengakuan itu untuk Messi, yang dalam beberapa segi memang berbeda dari yang lain.</p>
<p><strong>Matematika Crawford</strong><br />
Dalam catatan <em>USA Today</em>, istilah GOAT diapungkan pada September 1992 oleh istri Muhammad Ali &#8212; Lonnie Ali – yang mendirikan perusahaan Greatest of All Time (G.O.A.T Inc). Dia mengonsolidasikan dan melisensikan kekayaan intelektual Muhammad Ali sebagai <em>brand</em> untuk tujuan komersial.</p>
<p>Sebelumnya kata GOAT punya konotasi buruk, kerap dipakai wartawan Amerika Serikat untuk memberi label ke atlet yang gagal.</p>
<p>Dalam perkembangannya, menurut <em>kompas.com</em> yang mengutip <em>The Scotsman</em>, GOAT menjadi sebutan untuk atlet yang dianggap terbaik, tidak hanya dari jumlah gelar atau trofi, tetapi juga kehebatan yang mewakili suatu era.</p>
<p>Pada 2021, matematikawan dari Universitas Oxford, Dr Tom Crawford melakukan penghitungan untuk menentukan pesepak bola yang paling layak disebut GOAT. Menurut <em>Daily Mail</em>, Crawford menggunakan algoritma unik yang menghitung pencapaian di klub dan tim nasional untuk membandingkan para pesepak bola di semua era.</p>
<p>Sejumlah syarat harus dipenuhi, setidak-tidaknya memenangi dua trofi Ballon d’Or, atau yang diakui terhebat di era sebelum 1956.</p>
<p>Kriteria Crawford itu, pertama, penghargaan (domestik dan Eropa) yang dimenangi di level klub yang ditimbang oleh koefisien UEFA untuk kekuatan relatif kompetisi. Kedua, penghargaan di level internasional (150 poin untuk Piala Dunia, 100 poin untuk Piala Eropa/Copa America, plus Sepatu Emas).</p>
<p>Ketiga, gol yang dicetak di level klub. Keempat, gol di level internasional (tim nasional). Kelima, suara yang diterima dalam penghargaan Ballon d’Or. Jumlah suara yang diberikan kepada pemenang Ballon d’Or dibagi dengan jumlah total suara yang diberikan kepada tiga pemain teratas. Hasilnya dikalikan 100 untuk memberikan persentase.</p>
<p>Keenam, rekor individu, misalnya pencetak gol terbanyak untuk klub atau negara, atau pencetak gol terbanyak di sebuah kompetisi. Ketujuh, “Z-Factor” atau “kampanye yang secara matematis luar biasa” pada suatu musim, yakni gol-gol pemain tersebut membantu timnya meraih kejayaan.</p>
<p>Perhitungan Dr Tom Crawford itu menghasilkan daftar Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Pele, Diego Maradona, Marco van Basten, Johan Cruyff, Ferenc Puskas, Alfredo Di Stefano, Ronaldo Nazario, dan Michael Platini.</p>
<p><strong>Penilaian Van Basten</strong><br />
Nyatanya, perdebatan tentang siapa yang terbaik &#8212; tentu saja juga siapa “the real GOAT” terus berlangsung: Messi-kah, atau Ronaldo; sama dengan pembandingan yang tak pernah selesai: Pele, atau Maradona yang terbesar sepanjang masa?</p>
<p>Kriteria Dr Crawford boleh jadi menghasilkan parameter kuantitatif yang memosisikan Ronaldo di peringkat pertama. Apakah analisis ilmiah (matematika) menjadi ukuran sahih tentang yang terbesar sepanjang masa?</p>
<p>Komentar Marco van Basten rasanya patut kita simak. Kata legenda Belanda ini, “Cristiano merupakan pemain hebat, tetapi mereka yang mengatakan dia lebih baik dari Messi tidak tahu apa-apa tentang sepak bola, atau mereka yang mengatakannya dengan iktikad buruk”.</p>
<p>Kepada media sepak bola top Italia, <em>Corriere dello Sport</em> yang dikutip <em>m.bola.net</em>, Van Basten menegaskan, Messi itu spesial, tidak mungkin ditiru dan tidak mungkin diulang. “Seorang pemain seperti dia datang setiap 50 atau 100 tahun. Sebagai seorang anak, dia jatuh ke dalam pot jenius sepak bola,” ungkap peraih tiga kali Ballon d’Or itu.</p>
<p>Ironisnya, Van Basten justru tidak memasukkan nama Messi dalam daftar tiga pesepakbola terhebat sepanjang masa versi dirinya. Dia memilih Pele, Maradona, dan Cruyff.</p>
<p>“Sebagai seorang anak saya ingin menjadi seperti Cruyff. Pele dan Maradona juga luar biasa. Messi juga pemain hebat, tetapi Maradona selalu memikiki kepribadian yang lebih dalam sebuah tim. Messi bukan orang yang menempatkan dirinya di depan untuk beperang,” tutur Van Basten yang mengaku tidak melupakan Cristiano Ronaldo, Platini, atau Zidane.</p>
<p>Artinya, bukankah predikat GOAT sebenarnya lebih tepat kita nikmati sebagai permainan mediatika? Makin diperdebatkan, bakal makin terkunyah, dan dalam budaya pop, ini menjadi pembentukan viralitas yang terus menerus di-<em>setting</em> dan takkan pernah selesai.</p>
<p>Makin dikerucutkan nama, makin penasaran kita. Ada satu di antara sekian tokoh, dan semuanya pantas untuk menjadi si nomor satu.</p>
<p>Bukankah jawaban seorang Pele pun selalu berubah? Ada saat dia menilai Ronaldo lebih hebat, ada saat pula dia menyebut Messi lebih dahsyat&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/17/goat-perdebatan-abadi-dari-muhammad-ali-ke-leo-messi">GOAT, Perdebatan Abadi dari Muhammad Ali ke Leo Messi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>