<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kalamudeng Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/opini/kalamudeng/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jun 2026 09:00:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>kalamudeng Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dadi Slilit</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/21/dadi-slilit</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2026 01:40:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=564766</guid>

					<description><![CDATA[<p>MANA lebih mengganggu; klilip di mata, atau slilit di gigi? Sulit memilih jawabannya kecuali mengatakan: dua-duanya sangat mengganggu. Debu atau serpihan kecil sampah masuk ke mata, klilip, ………duhhhhh bikin mata terasa pedes, tidak mudah melek, dan bisa jadi terasa ada yang mengganjal di pelupuk mata. Sangat berbahaya jika klilip itu masuk justru di dalam perjalanan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/21/dadi-slilit">Dadi Slilit</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-463065" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg" alt="" width="681" height="170" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-400x100.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-150x37.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" />MANA </strong>lebih mengganggu; <em>klilip</em> di mata, atau <em>slilit</em> di gigi? Sulit memilih jawabannya kecuali mengatakan: dua-duanya sangat mengganggu. Debu atau serpihan kecil sampah masuk ke mata, <em>klilip</em>, ………duhhhhh bikin mata terasa pedes, tidak mudah melek, dan bisa jadi terasa ada yang mengganjal di pelupuk mata.</p>
<p>Sangat berbahaya jika <em>klilip</em> itu masuk justru di dalam perjalanan bersepeda motor atau pun mobil. Sedang berjalan kaki pun berbahaya; maka sebaiknya minggir pelan-pelan mencari tempat yang aman.</p>
<p>Beda <em>klilip,</em> beda pula <em>slilit. </em>Jika kita <em>sliliten, </em>memang mengganggu sih,  namun tidak berbahaya. Jika sedang dalam perjalanan, <em>wong sliliten</em> biasanya hanya sibuk cari-cari benda (apa pun) yang dapat digunakan untuk pertolongan <em>emergency </em>mengambil <em>slilit</em> itu. Kertas secuil pun mungkin akan dipergunakan<span style="font-size: 12pt;"><strong>.</strong></span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/06/14/guyonan-dadi-tangisan">(Guyonan) Dadi Tangisan</a></strong></span></p>
<p>Bisa-bisa memotong ranting pohon. Jika masih berada di warung makan dan sudah terasa <em>sliliten, </em>nahh…………pasti minta atau cari-cari tusuk gigi.</p>
<p><strong><em>Dadi slilit</em></strong></p>
<p>Apa itu <em>slilit</em>? Sebenarnya pertanyaan ini tergolong “pertanyaan bodoh” karena tidak perlu dipertanyakan pun semua orang tahu berhubung pasti pernah merasakan/mengalaminya. Meski begitu, biar tulisan ini terasa agak panjang sedikit,  perlu dijelaskan bahwa slilit itu, ialah <em>turahaning pangan (daging, lsp) sing sumlempit ing sela-selaning untu. </em></p>
<p>Ada serpihan atau potongan sangat kecil dari makanan yang kita santap, terselip di antara gigi-gigi kita, dan “menetap” di situ. Nah itulah <em>slilit. </em>Potongan sayur kangkung yang menjadi penghuni tetap (namun sementara karena harus segera dicongkel) di sela dua gigi itu pasti terasa mengganggu kenyamanan.</p>
<p>Ungkapan khas dalam bahasa Jawa terkait peristiwa itu ialah <em>sliliten</em>, wuihhh…… g<em>anje</em>l, bikin  tidak nyaman dan perlu segera diadakan “operasi senyap” atasnya jika ingin segera bisa tidur, atau ngobrol, atau beraktivitas lain.</p>
<p>Siapa pun dan di mana pun seseorang terkena <em>sliliten,</em> saat itu pula secepatnya dia pasti bergerak cepat melakukan “operasi senyap” tadi.  Jika kesempatan untuk melakukan operasi senyap sulit, lidahlah yang <em>mogal-mogel</em> ke kiri, kanan, atas bawah; sesekali ujung jari tangan dimasukkan mulut.</p>
<p>Dari <em>slilit </em>atau <em>sliliten </em>berkembang menjadi ungkapan <em>dadi slilit</em>, salah satu dari ratusan contoh  <em>tembung entar. </em>Dari fakta ada <em>slilit, </em>digabung dengan kata <em>dadi </em>sehingga terbentuklah ungkapan <em>dadi slilit.  </em>Dan<em>  </em>saat itu pula ungkapan itu berubah, menjadi bermakna kiasan.</p>
<p>Bukan fakta sebenarnya lagi yang kini terungkap, melainkan melukiskan sesuatu atau lebih-lebih seseorang yang sangat mengganggu kenyamanan umum, Contoh, beberapa waktu lalu katanya ada aparat cowok dan cewek yang bekerja di instansi  yang sama, punya jabatan lagi,  ketahuan selingkuh.</p>
<p>Pasti hebohlah, dan untuk instansinya pasti <em>dadi slilit</em> juga. Hanya mereka berdua itukah yang selingkuh, kemungkinan tidak; namun karena mereka berdua itu  k<em>onangan</em>, ketahuan, nah………<em>dadi slilit.</em></p>
<p><strong><em>Mangsa dadia slilit</em></strong></p>
<p>Lanjutan dari <em>dadi slilit</em>, ada juga ungkapan <em>mangsa dadia slilit. </em>Serpihan makanan yang tertambat di sela-sela gigi itu memang sangat kecil, <em>ora mingsra, </em>sangat tidak berharga sama sekali. Tetapi, ganjelnya itu lho…………., sangat tidak mengenakkan, mau tidak mau pemilik <em>slilit</em> pasti berusaha “mencongkelnya.”</p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/06/07/dadi-sawalang-walang">Dadi Sawalang-walang</a></strong></span></p>
<p>Contoh pegawai yang selingkuh tadi, atau contoh lain pegawai yang terkena OTT karena korupsi; mungkin saja dianggap sebagai “serpihan” belaka bagi suatu instansi. Mungkin saja kelakuan oknum itu dianggap <em>ora mingsra</em> dan masalah kecil saja (karena sebenarnya ada yang lebih besar lagi, hehehe); demikian juga jika anggapan sebagai masalah  kecil itu ternyata berlaku umum di mana-mana; maka ungkapannya <em>mangsa dadia slilit</em>, sihhhh?</p>
<p>Tegasnya, karena kasus semacam itu dianggap terjadi di mana-mana serta  merambah semua lapisan masyarakat, ungkapan untuk menyederhanakan persoalan:  <em>mangsa dadia slilit</em>, mana mungkin kejadian begitu-begitu saja bikin porak-poranda?</p>
<p>Sikap atau pun pola pikir m<em>angsa dadia slilit </em>semacam itu, -ini peringatan untuk kita semua- , jika terus berkembang akan menjadikan kepekaan nurani siapa pun tergerus perlahan-lahan. Lalu semakin tumpul.</p>
<p>Bisa menjadi tragis manakala setiap kali ada kasus, setiap kali pula orang berkata <em>mangsa dadia slilit</em>, sihhh, ini kan masalah kecil saja; biarkan saja nanti akan menguap dan hilang sendiri. Jangan. Jangan ada sikap seperti itu berkembang biak ke mana-mana dan di mana-mana. Ayo, tetap berusaha memertajam kepekaan nurani.</p>
<p>Ada cerita menarik sebagai berikut. Peronda yang diupah oleh suatu kampung,  pada suatu malam bermaksud melakukan tes apakah warga kampung tetap peka terhadap kepentingan rasa amannya.</p>
<p>Ketika malam mulai senyap, tiba-tiba ia berteriak: “Harimau……harimau…..harimau…….” Sejumlah bapak dan orang muda di kampung itu bergegas keluar rumah, dan segera menemui peronda itu. Agak <em>cengengesan</em> peronda itu menjawab berbagai pertanyaan, dan ketika agak tersudut tidak dapat memberi jawaban serta bukti, ia berkata: “Saya melihat sorot mata kucing di kegelapan. Saya takut dan mengira itu harimau.”</p>
<p>Warga kembali ke rumah masing-masing untuk meneruskan tidur. Selang dua jam kemudian, peronda itu berteriak-teriak lagi: “Maling…… maling….. maling…..” sambil pukul kenthongan bertalu-talu. Beberapa warga mendengar, tetapi malas bangun dan mendiamkan saja teriakan itu.</p>
<p>Esok harinya, Pak Dhadhap Waru laporan ke warga bahwa tiga dari empat burung piaraannya hilang digondol maling. Warga hanya saling bertatap muka merasa bersalah,  mengapa tadi malam tidak terbangun ketika penjaga malam berteriak “maling….maling….maling.” Pak Suta Naya minta maaf: “Saya mendengar jelas peronda itu berteriak, tetapi saya malas bangun karena mengira peronda itu <em>iseng-iseng</em> lagi.”</p>
<p>Intinya, hanya berselang beberapa jam saja, kepekaan nurani bisa menumpul seperti dialami Pak Suta Nayak arena berfikir: “Ahhh……… <em>mangsa dadia slilit, sihhhh, </em>teriakan biasa peronda itu<em>?”</em></p>
<p><strong><em>JC Tukiman Taruna Sayoga, pengamat masalah pendidikan dan kebudayaan Jawa</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/21/dadi-slilit">Dadi Slilit</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>(Guyonan) Dadi Tangisan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/14/guyonan-dadi-tangisan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2026 01:05:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=563132</guid>

					<description><![CDATA[<p>MAKSUD hati mung guyon, apa daya gunung meletus; dadi padudon, meruncing menjadi pertengkaran. Sangat sering terjadi seperti itu. Bermula guyon memelesetkan kependekan ATM menjadi alat tumpuk materi. Mremen-mremen, menjadi-jadi guyonannya, lalu menyindir temannya, berkata: “Kamu itu ATM, alatmu tumpul melulu.” Kebetulan dia memang sudah enam tahun, namun istrinya belum juga hamil. Tersinggung berat  dia, marah. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/14/guyonan-dadi-tangisan">(Guyonan) Dadi Tangisan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-463065" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg" alt="" width="681" height="170" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-400x100.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-150x37.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /></p>
<p><strong>MAKSUD </strong>hati <em>mung guyon</em>, apa daya gunung meletus; <em>dadi padudon, </em>meruncing menjadi pertengkaran. Sangat sering terjadi seperti itu. Bermula <em>guyon</em> memelesetkan kependekan ATM menjadi alat tumpuk materi.</p>
<p><em>Mremen-mremen, </em>menjadi-jadi g<em>uyonannya, </em>lalu menyindir temannya, berkata<em>: </em>“Kamu itu ATM, <em>alatmu tumpul melulu</em>.” Kebetulan dia memang sudah enam tahun, namun istrinya belum juga hamil. Tersinggung berat  dia, marah. Ambil kayu pemukul kentongan di gardu ronda.</p>
<p>“Plakkk……plakkk……..” lalu lari. Dikejar seraya <em>godres getih, </em>berlumuran darah; terjadi saling pukul dan tendang. Menyusul sidang RT tiba-tiba, dan urusan segera ditangani babinsatibmas. Nah…. <em>ending</em>nya: <em>Guyonan dadi tangisan. </em></p>
<p><strong><em>Guyu dan guyon</em></strong></p>
<p><em>Guyu</em><strong>, </strong>tertawa, adalah salah satu ciri khas manusia, ungkapan dan luapan rasa gembira lewat suara. Bahkan dewasa ini, <em>guyu</em>, tertawa, sering disebut-sebut sebagai salah satu pilar hidup sehat bagi warga senior (jangan disebut lansia, <em>nelangsa</em> <em>dia</em>).</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/06/07/dadi-sawalang-walang">Dadi Sawalang-walang</a></span></strong></p>
<p>Agar berlangsung <em>akeh guyu</em>, banyak tertawa;  dua atau tiga orang itu lalu menempuh <em>guyon </em>sebagai salah satu strategi. Bercengkerama, <em>gojegan sembranan, </em>misalnya menampilkan cerita-cerita lucu, atau bahkan saling ejek atau sindir tipis-tipis. Semua ditempuh sekedar <em>dinggo seneng-seneng, </em>agar dapat tertawa lepas penuh sukacita.</p>
<p>Dari <em>guyu</em> ke <em>guyon, </em>dan proses itu disebut <em>geguyon</em> atau juga <em>guyonan. </em>Sebuah proses egaliter serta sangat cepat membuat suasana menjadi cair penuh gelak tawa.</p>
<p>Namun proses itu ada rambu-rambunya, di antaranya, hindari jangan kelewat batas. Nah ………… menentukan batas inilah yang sering tidak mudah ditaati karena cenderung dilanggar dengan kata-kata penghibur: “<em>Guyonan lho iki</em>.” Contoh ATM yang bikin <em>godres getih</em> di atas menegaskan betapa tidak mudahnya mengontrol dan menaati batas-batas kewajaran g<em>uyonan</em>.</p>
<p><strong><em>Guyonan dadi tangisan</em></strong></p>
<p>Batas kewajaran <em>guyonan</em> yang terpenting, ialah jangan menyinggung hal-hal sensitif. Di antara hal-hal sensitif yang mudah tersulut berkisar pada rahasia atau kelemahan pribadi setiap orang.</p>
<p>Kepanjangan ATM yang berakibat darah bercucuran tadi sangat menyinggung harkat seseorang karena diejek vitalitas kelelakiannya. Setiap lelaki pasti sangat tersinggung jika vitalitas dirinya dijadikan bahan olok-olok meskipun konteksnya <em>geguyon/guyonan</em>.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/05/31/sakdadine">Sakdadine</a></strong></span></p>
<p>Senada dengan masalah vitalitas ini, menjadikan <em>guyonan</em> program-program yang termasuk kategori nasional, juga sangat mudah menyulut ketersinggungan sejumlah pihak.</p>
<p>Hindarilah memelesetkan atau menjadikan bahan <em>guyonan</em> sejumlah program nasional itu. Banyak pihak sedang sensitif karena memang saat-saat ini sedang penuh konsentrasi. Siapa pun, jika sedang konsentrasi tinggi, tidaklah mudah diajak bergurau, tidaklah terhibur <em>dijak guyonan. </em></p>
<p>Jangankan sedang konsentrasi tinggi, para pihak sedang <em>geguyo</em>n di pos ronda saja, bisa terjadi ada yang <em>godres getih </em>karena batas kewajaran <em>guyonan</em> terlompati.</p>
<p><em>Guyonan/geguyon dadi tangisan, </em>sebuah contoh yang disebut<em> tembung entar, </em>artinya  <em>sembranan jebul dadi perkara. </em>Seperti telah disebutkan berulangkali di atas, maksud hati sekedar <em>gojegan, guyon-guyon; </em>namun karena ada kata-kata (bisa juga tindakan) yang menyinggung, jadilah perkara berkepanjangan.</p>
<p>Bukan sekedar perkaranya, tetapi ikutannya yang berupa tangis dan derita, itulah yang menjadikan hidup kekeluargaan ini terluka. Orang yang dulunya akrab, karena tersinggung, sangat mungkin berubah menjadi bermusuhan. <em>Dadi tangisan</em>.</p>
<p>Pertanyaan paling mendasar, ialah jika <em>guyonan</em> saja bisa menimbulkan marah atau tersinggung karena <em>guyonan</em> itu kelewat batas; sejauh apa sebuah kritik dapat diterima sebagai masukan konstruktif tanpa membawa tangis(an)? Mengutip salah satu puisi dalam <em>Sang Nabi</em> tentang pertanyaan pendeta putri kepada sang guru tentang akal dan perasaan, tertulis demikian:</p>
<p><em>Akal pertimbangan dan perasaan hati, </em><br />
<em>diibaratkan kemudi dan layar jiwa </em><br />
<em>yang mengarungi laut kehidupan. </em><br />
<em>Jikalau patah salah satu, layar atau kemudi itu, </em><br />
<em>kau masih mengambang, </em><br />
<em>namun terombang-ambing gelombang;</em><br />
<em>atau terhenti lumpuh tanpa daya </em><br />
<em>di tengah samudera. </em><br />
<em>Sebab, akal pikiran sendiri yang mengemudi, </em><br />
<em>laksana tenaga yang menjebak diri. </em><br />
<em>Sedangkan perasaan yang tak terkendali, </em><br />
<em>bagai api membara yang menghanguskan diri.</em></p>
<p>Penggalan puisi ini, lebih-lebih tiga kalimat terakhir, mengajarkan kepada siapa pun (pengritik atau pun penerima kritik) untuk selalu mengintegrasikan akal fikirannya dengan perasaannya. Orang mudah tersinggung, <em>guyonan dadi tangisan</em> dapat terjadi karena salah satunya “patah,” entah yang patah itu akal fikirannya, entah pula perasaan nuraninya.   <em>Salam ATM: aku tetap mencintaimu; </em>tidak usah mudah tersinggung!!!</p>
<p><em><strong>JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran Jawa Tengah</strong> </em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/14/guyonan-dadi-tangisan">(Guyonan) Dadi Tangisan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dadi Sawalang-walang</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/07/dadi-sawalang-walang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2026 00:50:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=562223</guid>

					<description><![CDATA[<p>PERNAH dengar kata-kata: Kutu-kutu walang antaga? Bagi Anda pecinta pertunjukan wayang kulit, atau minimal pernah melihat pertunjukan ki dhalang, kata-kata ini pasti terdengar dari mulut ki dhalang. Ketika dhalang sedang  sampai dalam adegan janturan, yaitu sedang menceriterakan sebuah kerajaan berikut karakter masing-masing tokoh kerajaan itu; kata-kata kutu-kutu walang antaga ini pasti terucap. Intinya, kerajaan itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/07/dadi-sawalang-walang">Dadi Sawalang-walang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-463065" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg" alt="" width="681" height="170" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-400x100.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-150x37.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /></p>
<p><strong>PERNAH </strong>dengar kata-kata: <em>Kutu-kutu walang antaga? </em>Bagi Anda pecinta pertunjukan wayang kulit, atau minimal pernah melihat pertunjukan ki dhalang, kata-kata ini pasti terdengar dari mulut ki dhalang.</p>
<p>Ketika dhalang sedang  sampai dalam adegan <em>janturan, </em>yaitu sedang menceriterakan sebuah kerajaan berikut karakter masing-masing tokoh kerajaan itu; kata-kata <em>kutu-kutu walang antaga</em> ini pasti terucap.</p>
<p>Intinya, kerajaan itu <em>dicandra</em>, dikisahkan dalam kondisi aman, tentram, sejahtera, adil; dan pemimpinnya bersikap bijaksana penuh belas kasih sayang. Sampai-sampai semesta pun mendukung, mulai dari segala jenis tanaman sampai binatang pun serba tunduk kepada sang raja.</p>
<p>Segala macam binatang kecil yang melata berkeriapan pun, mengabdi dan mendukung kesejahteraan kerajaan itu. <em>Kutu-kutu walang antaga i</em>tu maksudnya <em>kabeh kewan gremet lan rumangkang, </em>semua hewan melata, menjalar, berkeriapan mendukung hadirnya kerajaan yang adil makmur sejahtera itu.</p>
<p><strong><em>Walang</em></strong></p>
<p><em>Walang,</em> belalang, kita semua tahu jenis-jenisnya; seperti walang sangit, walang jati, <em>coro</em>, dan lain-lain. Binatang termasuk walang ini, ada yang bisa terbang, melata (<em>gremet</em>), bahkan semut pun termasuk dalam himpunan <em>walang antaga</em> tadi.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/05/31/sakdadine">Sakdadine</a></strong></span></p>
<p>Berbagai jenis walang ini memiliki peri-kehidupannya masing-masing, ada yang bisa hidup bertahun-tahun, tetapi juga hanya berbulan-bulan saja. Malahan tidak kurang masa hidupnya hanya dalam hitungan hari. Hidup <em>walang </em>berada dalam kondisi rentan, bukan saja karena mudah punah atau mati, tetapi tubuhnya pun <em>rimpi</em>, gampang pecah, rusak, remuk, atau hancur.</p>
<p>Itulah nasib walang yang mudah remuk atau hancur. Bayangkan saja kondisi bawaan lahirnya saja sudah rentan, dan menjadi seperti apa manakala walang itu “dihancurkan.” Dalam Bahasa Jawa, kondisi semacam itu disebut <em>remuk dadi sawalang-walang, </em>hancur-remuk berkeping-keping. Bagaikan walang yang bawaan lahirnya saja sudah rentan, apalagi masih ditambah lagi dihancurkan. <em>Ancur…</em>…..Djum!!!</p>
<p><strong>Perang</strong></p>
<p>Melukiskan dampak perang Iran-Israel-AS, di pihak mana pun yang terkena ledakan rudal, bom, nuklir, dll, pastilah semuanya hancur-remuk <em>dadi sawalang-walang. </em>Bangunan apa pun dan di pihak mana pun bila  kena bom, pasti hancur berantakan.</p>
<p>Apalagi yang terkena itu manusia, binatang, pohon-pohonan; semuanya <em>dadi sawalang-walang, </em>hancur, remuk, porak-poranda<em>. </em>Seperti itulah jahatnya perang (peperangan), yakni selalu jatuh kurban baik bagi pihak yang diserang lebih-lebih, maupun pihak yang menyerang.</p>
<p>Mengapa pihak yang menyerang juga bisa porak-poranda? Pihak yang diserang, pasti membalaslah; namanya perang, peperangan, ya pasti balas-membalas, serang-menyerang. <em>Balung gereh</em>, deh, ngeriiiii……………..</p>
<p><strong>Kebijakan</strong></p>
<p>Kehancuran secara fisik-material karena perang memang mengerikan; maka seyogyanya perang segera harus diakhiri, di mana pun. Dan, yang bisa hancur berantakan bukan saja barang-barang fisik-material. Kebijakan lewat berbagai program pembangunan pun sangat mungkin saja (rentan??) bisa hancur, <em>bisa dadi sawalang-walang.\</em></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/05/24/dadi-lan-apike">Dadi …. lan Apike</a></strong></span></p>
<p>Rasanya tidak mengada-ada jika contoh berikut ini ditampilkan untuk memberikan gambaran tentang program/kebijakan yang remuk <em>dadi sawalang-walang </em>itu<em>. </em>Mari kita lihat pembangunan <em>ruko,</em> rumah toko di berbagai tempat di wilayah kita ini. Berbagai bangunan <em>ruko </em>itu<em>, </em>entah kebijakan siapa itu, sebagian besar mangkrak, <em>ora payu</em>; dan kalau pun ada yang eksis di sejumlah tempat, tidak semua dagangan yang dijual, laris.</p>
<p>Tentu kita bertanya: Mengapa pembangunan ruko marak di mana-mana, padahal tidak semuanya laku, atau eksis? Jawabannya, karena sedang <em>nge-trend</em>. Apa pun, jika sedang <em>nge-trend (</em>saat itu atau pun saat kini<em>),  </em>ya dibangun marak di mana-mana.</p>
<p>Alasan utama selain <em>nge-trend</em> mengapa ada saja sejumlah pembangunan mangkrak, ialah karena sangat <strong><em>lemahnya studi kelayakan</em></strong> dilakukan sebelum kebijakan itu dieksekusi. Tentang pembangunan ruko tadi, di mana pun ruko itu dibangun, dapat dipastikan tidak ada studi kelayakannya.</p>
<p><strong><em>Studi kelayakan adalah pilar utama budaya pembangunan, </em></strong>maka jika studi kelayakan ini tidak dilakukan semestinya, bakal mangkraklah, cepat atau lambat, pembangunan fasilitas apa pun itu.</p>
<p>Apakah hanya pembangunan ruko yang dapat diambil sebagai contoh terkait <em>dadi sawalang-walang</em> tadi?  Tidak. Saat sekarang ini pun, di mana-mana sedang dibangun sejumlah fasilitas dengan tujuan masing-masing. Pantas ditanyakan: Adakah dilakukan studi kelayakan untuk pembangunan itu? <em>Piye Djum</em>………..?</p>
<p>Ingat narasi ki dhalang ketika <em>nyandra</em> sebuah kerajaan” <em>Kutu-kutu walang antaga dadi rewang wujuding negara kang tata-titi-tentrem gemah ripah loh jinawi: Mestakung</em>, semesta mendukung jika ada studi kelayakan yang semestinya. Jika tidak, ………<em>piye Djum</em>?</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah Pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/07/dadi-sawalang-walang">Dadi Sawalang-walang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sakdadine</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/05/31/sakdadine</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 May 2026 01:09:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=561763</guid>

					<description><![CDATA[<p>WONG Jawa tidak mungkin bersikap (dan bersifat) ekstrem: tidak mungkin bisa menjadi esktem kanan atau ekstrem kiri. Sangat sulit bagi wong Jawa untuk ekstrem optimis atau ekstrem pesimis; sangat sulit untuk bersikap ekstrem minimalis atau ekstrem maksimalis. Wong Jawa selalu ingin bersikap (dan bersifat) di tengah-tengah: tidak sangat optimis, namun  tidak pula sangat pesimis; tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/31/sakdadine">Sakdadine</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-463065" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg" alt="" width="681" height="170" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-400x100.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-150x37.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" />WONG</strong> Jawa tidak mungkin bersikap (dan bersifat) ekstrem: tidak mungkin bisa menjadi esktem kanan atau ekstrem kiri. Sangat sulit bagi wong Jawa untuk ekstrem optimis atau ekstrem pesimis; sangat sulit untuk bersikap ekstrem minimalis atau ekstrem maksimalis.</p>
<p>Wong Jawa selalu ingin bersikap (dan bersifat) di tengah-tengah: tidak sangat optimis, namun  tidak pula sangat pesimis; tidak sangat minimalis, namun juga sulit untuk sangat maksimalis.</p>
<p>Benarkah begitu? Ya benar, dan lihatlah salah satu tali-kendali (pengendalinya) ada pada ungkapan sangat singkat ini: <strong><em>Sak. </em></strong>Jangan heran jika suatu saat terdengar ungkapan seperti ini: “<em>Gawean ini garapen, sak-isamu</em>;” kerjakan/selesaikan pekerjaan ini sebisamu.</p>
<p>Atau ungkapan agak jengkel: “<em>Ya wis yen emoh dikandhani, sak-karepmu</em>,” sudahlah kalau memang tidak mau dinasehati, terserahlah. Sangat mungkin terdengar nasihat arif demikian: “<em>Dadi wong kuwi apike sak-madya wae,”</em> jadilah pribadi (pejabat, dsb) yang wajar-wajar saja.</p>
<p><strong><em>Sak</em></strong></p>
<p><em>Tembung sak </em>dalam bahasa Jawa bermakna (a) <em>kanthongan klambi utawa celana, </em>saku, baik yang terpasang pada baju atau pun celana. “<em>Dhuwite disaki wae,” </em>maksudnya uang sebaiknya dimasukkan saku baju atau celana saja, tidak usah ditaruh di dalam tas, misalnya.</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/05/24/dadi-lan-apike">Dadi …. lan Apike</a></span></strong></p>
<p>Sering juga kita mendengar ungkapan ini: “Ahhh, nama-nama calon menteri untuk <em>reshuffle</em> ke depan sudah ada di kantong Presiden.” <em>Wis disak bapak presiden. </em>Makna (b<em>) sak</em> itu ialah saat itu atau seketika itu juga, <em>sak-iki</em> ya, sekarang ini juga; atau bisa juga <em>sak-kala (</em>sering disingkat<em> sak-kal), </em>seketika, segera, sekarang ini juga,  dan jangan ditunda-tunda.</p>
<p><em>Sak j</em>uga bermakna (c) <em>waton, asal wae, angger:  </em>asal-asalan saja, seolah-olah, tampaknya …….”<em>Bocah lunga sak-paran-paran” </em>seseorang pergi tanpa tujuan, asal pergi saja. “<em>Wis, sak-sake wae, sing penting ana”</em> sudahlah, yang penting ada wujud barangnya. Dan (d) <em>sak</em> juga berarti <em>sumangga</em>, terserah saja.</p>
<p>Ungkapan-ungkapan berikut sangat khas <em>tumrap</em> wong Jawa: “<em>Sak-karepmu,</em>” terserah apa maumu; “<em>Nyumbang sak-duweku, ya,” </em>semampuku ya. Ada juga “<em>Sak-anane wae. ora usah ngaya</em>,” seadanya saja, jangan memaksakan diri.</p>
<p><strong><em>Sakdadine vs Utilitas</em></strong></p>
<p>Mengapa ada saja bangunan yang cepat rusak? Besar kemungkinannya, bangunan itu dulunya dibangun asal dibangun, ungkapan khas Jawa-nya <em>sak-dadine. </em>Apa maksudnya?</p>
<p>Yah…….. dibangun tergesa-gesa,  misalnya karena mengejar target. Sangat mungkin kualitas bahannya juga kurang baik, dan control atas proses pembangunannya juga lemah, misalnya. Intinya, <em>wis ta, sak-dadine</em>; asal jadi sajalah.</p>
<p>Tegasnya, dalam ketergesaan, atau pun karena lemah di perencanaan, pengawasan, atau pun pemeriksaan kualitas barang, pembangunan dapat berlangsung <em>sak-dadine</em>, asal berdiri.</p>
<p>Mentalitas <em>sak-dadine </em>seperti itu menegaskan bahwa pendorong utamanya ialah <em>sing penting ana wujud bangunan; </em>yang terpenting bangunan ini ada, berdiri. Dalam dorongan <em>kudu cepet</em>, harus cepat-cepat seperti itu, tidaklah mustahil terlupakan (abai??) berpikir matang-matang tentang utilitasnya. Misalnya, apakah kelak bangunan itu akan benar-benar bermanfaat atau dimanfaatkan baik-baik?</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/05/17/dadi-lakon">Dadi Lakon</a></strong></span></p>
<p>Mempertimbangkan kemanfaatan bangunan, utilitasnya, pasti bukan sekedar hanya memenuhi tuntutan sesaat saat itu.</p>
<p>Dengan kata lain <em>sak-dadine, waton ana, </em>jangan menjadi pendorong utama sesaat,  agar di kelak kemudian tahun, bangunan itu justru semakin bermakna karena benar-benar dimanfaatkan semestinya.</p>
<p>Utilitas berkelanjutan sering <em>dipikir keri</em>, baru dipikirkan belakangan. Ada saja contoh, setelah mangkrak beberapa lama, baru dirancang pemanfaatannya kemudian. Di sini, tidak mustahil  lalu terjadi pergeseran kemanfaatan lewat rehab atau juga renov atas bangunan-bangunan mangkrak itu.</p>
<p>Pertanyaan mendasar selanjutnya atas mentalitas <em>sak-dadine</em> seperti ini, ialah: Kapan cara berfikir <em>sak-dadine</em> ini akan ditinggalkan? Jawabannya, saat inilah waktu terbaiknya; saat inilah momentumnya. Yakni, di saat kita menggelorakan (??) efisiensi saat ini, maka ayo berhentilah mentalitas <em>sak-dadine. </em></p>
<p>Efisiensi mengajak semua pihak, lebih-lebih para pengambil kebijakan untuk berfikir jauh. Jangan miopi. Para pejabat jangan terjangkit miopi. Penegasan ini penting sebab sejumlah pejabat ada saja yang hanya berfikir pendek saja: “<em>Ahh…….. sing penting</em> selama periodeku ada/muncul banyak gagasan dan bangunan. <em>Sak-dadine</em>.”</p>
<p>Pada sikap terakhir ini, <em>sak-dadine</em> dimaknai: <em>Iki lho</em> ……. di zamanku, terbangunlah sekian ribu atau sekian ratus……. bla…… bla…. bla. Dan ketika ada pertanyaan: Semua bermanfaat, Pak/Bu kelak? Jawabannya: Itu urusan pengganti saya he…. he …. he ….</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/31/sakdadine">Sakdadine</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dadi …. lan Apike</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/05/24/dadi-lan-apike</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 May 2026 00:36:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=560307</guid>

					<description><![CDATA[<p>BAPAK Presiden Prabowo, perkenalkan saya Tukiman Tarunasayoga, berusia 78 tahun. Kegiatan saat ini, masih mengajar pada program pascasarjana di Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang, juga sebagai ketua Dewan Penyantun di perguruan tinggi itu. Serial tulisan mingguan saya di platform SuaraBaru.ID dalam tiga bulan terakhir ini topiknya ialah Dadi…….. ; seperti misalnya Dadi Ati, Dadi Klilip, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/24/dadi-lan-apike">Dadi …. lan Apike</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-463065" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg" alt="" width="681" height="170" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-400x100.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-150x37.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /></p>
<p><strong>BAPAK</strong> Presiden Prabowo, perkenalkan saya Tukiman Tarunasayoga, berusia 78 tahun. Kegiatan saat ini, masih mengajar pada program pascasarjana di <em>Soegijapranata Catholic University</em> (SCU) Semarang, juga sebagai ketua Dewan Penyantun di perguruan tinggi itu.</p>
<p>Serial tulisan mingguan saya di platform <em>SuaraBaru.ID </em>dalam tiga bulan terakhir ini topiknya ialah <em>Dadi……..</em> <em>; </em>seperti misalnya <em>Dadi Ati, Dadi Klilip, Dadi Wadal, Dadi Geger, Dadi Daging, </em>dll. Tiba saatnya pada minggu ini topiknya adalah <em>Dadi lan apike……., </em>persembahan khusus <em>kagem</em> <em>panjenenganipun </em>Bapak Presiden Prabowo.</p>
<p><em>Satu</em>, sangat mengagumkan betapa prima dan berkualitasnya kesehatan dan energi Bapak saat ini. Luar biasa! Jaga terus, Bapak; dan kondisi seperti ini dalam kosa kata Jawa terwakili lewat ungkapan: “<em>Saiki, pancen dadi lan apike………..</em> “ untuk menegaskan bahwa kondisi kesehatan dan energi yang prima sangat diperlukan di tengah derap langkah-langkah pembangunan yang memang serba cepat dan strategik.</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/05/17/dadi-lakon">Dadi Lakon</a></span></strong></p>
<p><em>Dua</em>, Bapak Presiden, memang <em>bakal dadi lan apike ………</em> apabila kesehatan dan energi prima ini betul-betul terus dijaga, dan jangan sampai terkesan terhambur-hamburkan secara -maaf-. kurang bermanfaat. Contoh kecil saja terkait dengan hal ini: Bapak Prabowo memang jago dan tampak sekali menikmati ketika berpidato. Energi sangat besar/banyak pasti bapak keluarkan untuk berpidato seperti itu.</p>
<p>Mengapa saya sebutkan sebaiknya energi prima tidak dihamburkan sekedar untuk pidato? Bapak, saat ini, banyak sekali orang yang suka “memotong-potong” pidato siapa pun, termasuk tentunya pidato Bapak.</p>
<p>Potongan-potongan semacam itu dianggap jauh lebih cepat viral, dan banyak orang tidak peduli lagi dengan konteks keseluruhan pidato. Begitu potongan pidato itu viral; rasanya memancing untuk harus ditanggapi. Energi lagi untuk menanggapi ……………, dan terkuras lagi energi keluar, padahal semestinya tidak perlu.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/05/10/dadi-wadal">Dadi Wadal</a></strong></span></p>
<p><em>Tiga</em>, Bapak Presiden, <em>dadi lan apike …………. </em>jika Bapak berpidato lewat membaca naskah pidato yang sudah disiapkan. Dengan cara seperti itu energi bapak tersimpan baik untuk kepentingan lainnya yang jauh lebih membutuhkan energi bapak.</p>
<p><em>Empat</em>, Bapak Prabowo, <em>dadi lan apike</em>…………….. jika capaian-capaian spektakuler secara kuantitatif yang telah diperoleh selama ini diimbangi dengan upaya-upaya kualitatifnya. <em>Panjenengan</em> memang hebat dalam hal mendorong, mengajak, dan memerintahkan agar semua pihak berderap-derap bersemangat mengibarkan pembangunan merah putih di mana-mana. <em>Bakal dadi lan apike</em>…….. jika upaya mengejar mutu (kualitas) terus juga dipacu dan dipacu penuh energi.</p>
<p><em>Lima, </em>Bapak Presiden Prabowo, <em>dadi lan apike</em> ………saya kutipkan puisi Kahlil Gibran (<em>Sang Nabi</em>) sebagai berikut: Seorang terpelajar datang meminta sebuah uraian tentang bicara; maka jawabnya:</p>
<p>“<em>Engkau bicara, jikalau tidak menemukan kedamaian dengan pikiran, yaitu tiada tahan lagi bersembunyi diri dalam hati; maka kauhidup dengan bibirmu, dan suara katamu menjadi hiburan perintang kalbu. </em></p>
<p><em>Dalam kebanyakan ucapan, setengah pikiran tenggelam binasa, sebab fikiran adalah burung angkasa semesta, yang dalam kurungan bentuk kalimat dan kata, meski dapat jua membeberkan sayapnya, namun takmungkin terbang ke angkasa raya.</em></p>
<p><em>………….. Biarkanlah batin suaramu bicara dengan batin telinganya; oleh sebab batinnyalah yang akan menyimpan pesan hatimu.</em></p>
<p><em>Sebagaimana citarasa anggur terkenang selalu; padahal warnanya telah terlupa dan serat buahnya telah lama tiada</em>.”</p>
<p>Selamat bekerja Bapak Prabowo, tetap semangat penuh energi mengabdi Nusa bangsa Merah Putih; jangan lupa bahagia dan selalu ingat <em>bakal dadi lan apike</em> ……</p>
<p>Amin.</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, pemerhati masalah Pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/24/dadi-lan-apike">Dadi …. lan Apike</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dadi Lakon</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/05/17/dadi-lakon</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 May 2026 00:01:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[JC Tukiman Taruna]]></category>
		<category><![CDATA[Lakn]]></category>
		<category><![CDATA[OTT]]></category>
		<category><![CDATA[Ramayana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=559115</guid>

					<description><![CDATA[<p>SIAPA belum pernah melihat pertunjukan wayang kulit? Entah hanya sekilas, entah pula memang hobi menonton, pertunjukan wayang kulit pasti berkaitan langsung dengan yang disebut lakon, yakni cerita, kisah, topik, tema, atau judul pertunjukan. Kalau sang dhalang itu bernama Pak Manteb, pertanyaan khasnya, ialah: “Mangkih lakone napa, Pak Manteb?” Tema pertunjukannya nanti apa, Pak Mantep? Lakon [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/17/dadi-lakon">Dadi Lakon</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-463065" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg" alt="" width="681" height="170" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-400x100.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-150x37.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" />SIAPA </strong>belum pernah melihat pertunjukan wayang kulit? Entah hanya sekilas, entah pula memang hobi menonton, pertunjukan wayang kulit pasti berkaitan langsung dengan yang disebut <em>lakon, </em>yakni cerita, kisah, topik, tema, atau judul pertunjukan.</p>
<p>Kalau sang <em>dhalang</em> itu bernama Pak Manteb, pertanyaan khasnya, ialah: “<em>Mangkih lakone napa,</em> Pak Manteb?” Tema pertunjukannya nanti apa, Pak Mantep?</p>
<p><em>Lakon</em> wayang kulit, konon sekurangnya terbagi dua, yaitu lakon baku (<em>pakem</em>) , dan lakon <em>carangan</em>, ialah lakon buatan/kreasi sang dhalang. Pentasnya,  baik lakon baku atau pun <em>lakon carangan</em>, biasanya bergantung atas permintaan penanggap/pengundang.</p>
<p>Lakon baku yang memang sesuai <em>pakem</em>-nya (teks aslinya), dapat ditemukan dalam Ramayana dan Mahabarata; sedangkan lakon carangan ada puluhan versi sesuai dengan daya kreasi dhalang, atau bahkan mungkin kreasi pengundang.</p>
<p><strong><em>Ramayana</em></strong></p>
<p>Merujuk tulisan <em>Sunardjo Haditjaroko, M.A </em>(penerbit Djambatan. 1962) “<em>Ramayana, Indonesian Wayang Show” </em>dalam lakon Ramayana ada 30 episode yang dapat dipentaskan dalam satu malam suntuk.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/05/10/dadi-wadal">Dadi Wadal</a></strong></span></p>
<p>Namun, sangatlah mungkin  berdasarkan narasi inti masing-masing episode itu, lakon Ramayana dapat dipertunjukkan ke dalam beberapa malam/kali pertunjukan. Sehingga, sangat mungkin ada <em>lakon</em> sendiri berjudul “Anoman Obong,” bisa juga “Rahwana Tambak” dsb.</p>
<p>Pemain utama dalam Ramayana terdiri dari 19 tokoh/karakter, terbagi dalam tiga kerajaan, yakni: kerajaan Kosala, ada enam tokoh/karakter seperti Prabu Dasarata, Rama, Sinta, dst; kerajaan Alengka dengan tokoh-tokohnya Rahwana atau Dasamuka, Kumbakarna, Wibisana, dll; serta kerajaan Gua Kiskendha dengan tokoh Sugriwa, Anoman, dst.</p>
<p>Di luar pemain/tokoh utama itu, ada puluhan tokoh pendukung dengan nama masing-masing seturut versi sang dhalang. Tampillah tokoh-tokoh penghibur seperti Limbuk, Cangik, Semar, Gareng, Petruk, Bagong, dan lain-lain sesuai “kesukaan” ki dhalang.</p>
<p>Disebut tokoh penghibur karena mereka ditampilkan sebagai atau dalam adegan-adegan selingan, humor, atau kisah-kasih nyrempet-nyrempet porno; karena seni pertunjukan itu  pada hakekatnya perlu ada aspek selingan/hiburannya.</p>
<p><strong><em>Dadi lakon</em></strong></p>
<p>Semua tokoh/karakter itu dipertunjukkan peranannya oleh <em>dhalang, </em>dan biasanya ada tokoh/karakter tertentu yang diprimadonakan oleh dhalang. Ki dhalang A suka memrimadonakan tokoh-tokoh kesatria sedemikian rupa sehingga penonton pun terbawa dan mengidolakan tokoh itu. Lain pula ki dhalang H yang menjadikan <em>buta</em> (raksasa) sebagai tokoh primadonanya. Begitu seterusnya.</p>
<p><em>Lakon</em>, disebut juga dalam bahasa Jawa <em>lampahan, </em>memiliki empat arti/ makna; yakni (a) <em>wektu dinggo mlaku</em>, durasi waktu yang dibutuhkan untuk ditempuh dengan jalan kaki; (b) <em>crita,</em> cerita atau kisah; (c) <em>beja-cilaka kang tinemu, </em>untung atau malang yang dialami orang, dan (d) <em>pangkat utawa pakaryan sing dilakoni, </em>jabatan yang sedang dilakukan atau dicapai oleh seseorang.</p>
<p>Untuk pertunjukan wayang kulit, jelas bahwa arti <em>lakon</em> terkait (b), yaitu cerita. Untuk para pejabat yang saat ini sedang merasa hepi-hepi di kursi jabatannya, makna paling cocok ya (d). Maaf seribu maaf, bagi para “mantan” pejabat yang sekolah lagi karena kena OTT misalnya, makna <em>beja-cilaka kang tinemu paling cocok</em>. <em>Lagi dadi lakon, saiki.</em></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/05/03/dadi-geger">Dadi Geger</a></strong></span></p>
<p>Ungkapan<em> lagi dadi lakon </em>menggambarkan dengan sangat jelas betapa si SutaNaya yang kemarin-kemarin berkecak pinggang di kantornya karena sedang berkuasa, kini di dalam penjara hanyalah si tukang pijet bagi sesama temannya di penjara itu.</p>
<p><em>Ora gelem mijeti, dikampleng</em>; menolak dan tidak mau memijat, tahu sendiri resikonya. <em>Dadi lakon</em> menggambarkan si SutaNaya itu saat ini sedang menjalani nasibnya sebagai PBB, penghuni baru, bui; yang harus mau mengerjakan apa saja atas perintah “seniornya.”</p>
<p>Itu contoh <em>dadi lakon</em> di penjara. Contoh <em>dadi lakon</em> di kehidupan sehari-hari di masyarakat banyak banget; mulai dari kena sangsi sosial oleh masyarakat setempat&gt; Bisa juga <em>dadi lakon</em> lewat <em>dadi omongane wong akeh</em>, menjadi bahan omongan atau tertawaan banyak orang  karena salah ucap tentang hemat kompor gas: <em>Kalau sudah matang, jangan lupa matikan kompor</em>. Salah ucap, sertamerta tiba-tiba dapat <em>dadi lakon.</em></p>
<p>Jika kepada ki dhalang pertanyaannya: <em>Lakone napa, Pak Sena</em>?; kepada pejabat yang sedang <em>dadi lakon</em>, juga bisa bertanya: “Sekarang SutaNaya kena OTT, <em>benjang sinten malih, nggih?</em></p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/17/dadi-lakon">Dadi Lakon</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dadi Wadal</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/05/10/dadi-wadal</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2026 00:12:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=557548</guid>

					<description><![CDATA[<p>KALAU Anda mengganti huruf hidup pada kata wadal, misalnya a diganti u atau e; kata wadal berubah menjadi wadul, bisa juga berubah menjadi wudel. Kita tahu wadul itu artinya melapor dengan nuansa merajuk, bahkan mengadu dan mengaduh. Kalau anak buah lapor kepada pimpinan, tindakannya itu dapat dipastikan tidak masuk kategori wadul. Akan tetapi, ketika segera [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/10/dadi-wadal">Dadi Wadal</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-463065" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg" alt="" width="681" height="170" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-400x100.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-150x37.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /></p>
<p><strong>KALAU </strong>Anda mengganti huruf hidup pada kata <em>wadal, </em>misalnya a diganti u atau e; kata <em>wadal </em>berubah menjadi <em>wadu</em>l, bisa juga berubah menjadi <em>wudel. </em>Kita tahu <em>wadul</em> itu artinya melapor dengan nuansa merajuk, bahkan mengadu dan mengaduh.</p>
<p>Kalau anak buah lapor kepada pimpinan, tindakannya itu dapat dipastikan tidak masuk kategori <em>wadul. </em>Akan tetapi, ketika segera setelah selesai melaporkan sesuatu,  anak buah itu lalu cerita agak bisik-bisik tentang  teman seruangannya   yang <em>nyambi</em> judi online di tengah-tengah bekerjanya; nah……..itu namanya <em>wadul</em>.</p>
<p>Sedang tentang <em>wudel</em>, Anda semua pasti tahu maknanya, pun ketika ada yang mengibaratkan teman sekerjanya seperti kuda, tidak mengenal cape ketika bekerja. “Wong o<em>ra duwe wudel</em>.”</p>
<p><strong><em>Wadal <a href="https://suarabaru.id/2026/05/03/dadi-geger">Dadi Geger</a></em></strong></p>
<p>Kata <em>wadal</em> termasuk jarang diucapkan dalam percakapan sehari-hari; memiliki sekurangnya tiga makna; yaitu (1) <em>dhuwit minangka gantine pegawean, </em>ongkos atau uang yang dibayarkan untuk menggantikan kewajiban ikut bekerja gotong-royong, misalnya.Ungkapannya lalu berbunyi: “<em>Kula bayar wadal, nggih  Pak RT” </em>berhubung tidak dapat ikut kerja bakti. Makna (2) <em>wadal itu pajeg marang ratu, </em>rakyat membayar upeti kepada raja.</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga </span></strong></p>
<p>Mengapa harus bayar upeti? Sebab,  tanah yang dikerjakan atau pun pekarangan rumah yang ditempati itu milik kerajaan. Dan (3) wadal itu berarti <em>apa-apa kang dianggo blanten (korban) marang pihak sing baureksa: </em>Benda apa pun atau uang yang dipakai sebagai kurban silih,  dan dipersembahkan kepada “penunggu,” atau pun kepada pihak yang berkuasa di wilayah itu.</p>
<p>Makna ketiga inilah yang relatif masih banyak dikenal di masyarakat. yakni di beberapa tempat dimaknai sebagai <em>tumbal, </em>kurban yang sengaja dilakukan demi suatu tujuan tertentu.</p>
<p>Dalam percakapan sehari-hari, tidak mustahil  muncul celetuk: “Ohhhh, sengaja dia dijadikan <em>tumbal</em> dalam kasus itu untuk menutup perkaranya supaya tidak melebar ke mana-mana.” Celetukan dapat juga berkata begini: “Bambang Gentholet itu memang <em>sengaja dinggo blanten</em> (beberapa tempat mengatakan <em>banten</em>), <em>dinggo wadal pimpinane</em>. <em>Ning ya kuwi, keluargane kopen.”</em></p>
<p><strong><em>Korban silih </em></strong></p>
<p>Istilah atau pengertian tentang korban silih dikenal dalam hidup ini, termasuk dalam penghayatan agama/iman pun ada praktik-praktik ritual yang menggambarkan tentang kurban silih itu. Sangat banyak terjadi, ritual kurban silih, materinya bukan berupa uang, melainkan barang atau pun hewan. Awas, pasti bukan orang atau manusia.</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/04/26/dadi-klilip">Dadi Klilip</a></span></strong></p>
<p>Dalam sebuah ensiklopedi, kurban diartikan penyerahan hanya kepada Allahyang dilambangkan lewat sebuah pemberian yang kelihatan (kasat mata), berupa entah hewan, darah, roti, anggur, wangi-wangian, air, dll. Kurban dilakukan secara ritual sebagai bukti dan bakti hormat tertinggi kepada Allah. Dalam arti lebih luas, kurban juga bermakna pemberian bebas dari segala sesuatu yang halal (suci) demi/kepada Allah.</p>
<p>Nah …………. apakah <em>wadal</em> itu berupa kurban silih? Pasti bukan. Kurban silih terkandung di dalamnya niat suci, luhur, bermartabat dan terhormat; sedangkan wadal boleh dikatakan sebaliknya dari maksud suci itu. Karena itu apa yang dialami Bambang Gentholet sebagai <em>wada</em>l, harus dikatakan “<em>Dadi wadal, kowe, mBang</em>.”</p>
<p>Sebuah cerita dari Desa Antah-berantah demikian: Suatu hari Minggu, setelah selesai kebaktian, pemimpin agama itu mengumpulkan sepuluh emak-emak di suatu ruang pertemuan.</p>
<p>Mereka diminta duduk melingkar seraya bergandengan tangan. Setelah itu, ibu-ibu itu diminta menadahkan kedua telapak tangan masing-masing. Pemimpin agama itu menghitung ada tujuh ibu jari-jari tangannya terpotong; ada yang dua jarinya, malah ada yang tiga dari sepuluh jarinya yang terpotong.</p>
<p>“Ibu-ibu,” tiba-tiba pemimpin agama itu berkata lirih: “Hentikan menyiksa diri dengan memotong jari Anda sendiri. Protes terhadap ketidakadilan yang ibu-ibu rasakan tetap harus terjadi; namun protesnya jangan dengan cara memotong ibu jari. Jangan mau jadi <em>tumbal</em> atau pun <em>dadi wadal</em> dengan cara menyakiti dan menyiksa diri. Itu bukan suatu kurban yang kudus.” Lalu pertemuan bubar.</p>
<p>Masih saja ada cara memaknai <em>dadi wadal </em>lewat menyiksa dirinya sendiri, padahal jelas itu tindakan sia-sia. Cara orang mencari pesugihan, contohnya (jangan-jangan juga cara orang mencari jabatan dan pangkat???); konon masih ada saja yang melakukannya dengan cara “mengorbankan” salah satu anggota keluarga.</p>
<p>Mengorbankan anak buah pun jangan-jangan masih marak terjadi ketika seseorang ingin naik pangkat atau duduk dalam suatu jabatan. Di beberapa tempat,  pindah agama demi pangkat atau kedudukan,  menjadi isu selentingan yang dikait-kaitkan dengan <em>gelem dadi wadal</em> tadi. Wah………… <em>trima</em> <em>ora melu-melu, aku</em>.</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga pengamat dan pemerhati masalah pendidikan dan budaya Jawa. </em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/10/dadi-wadal">Dadi Wadal</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dadi Geger</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/05/03/dadi-geger</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 May 2026 01:07:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=556735</guid>

					<description><![CDATA[<p>HATI-HATI membaca kata geger ini. Kalau Anda mengucapkan kata ini seperti mengatakan “Seger bener air di kolam renang ini,” kata geger berarti punggung: geger gajah, punggung gajah. Sementara, yang saya maksudkan dengan geger pada judul di atas; membacanya harus seperti: “Penari lengger itu sangat luwes gerak tubuhnya, gerakan lehernya luar biasa elastis.” Dadi geger. Kata [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/03/dadi-geger">Dadi Geger</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-463065" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg" alt="" width="681" height="170" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-400x100.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-150x37.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /></strong><strong>HATI-HATI</strong> membaca kata <em>geger</em> ini. Kalau Anda mengucapkan kata ini seperti mengatakan “S<em>eger bener</em> air di kolam renang ini,” kata <em>geger</em> berarti punggung: <em>geger </em>gajah, punggung gajah.</p>
<p>Sementara, yang saya maksudkan dengan <em>geger </em>pada judul di atas; membacanya harus seperti: “Penari <em>lengger</em> itu sangat luwes gerak tubuhnya, gerakan <em>leher</em>nya luar biasa elastis.” <em>Dadi geger.</em></p>
<p>Kata <em>geger </em>dibaca seperti mengatakan <em>leher, </em>kata <em>geger</em> memiliki tiga arti, yakni pertama, <em>oreg, rame. </em>Beberapa waktu lalu, ada pembicaraan hangat terkait maraknya <em>sound horeg</em> yang sangat spektakuler bunyinya di satu pihak; namun di pihak lain banyak orang sangat terganggu berhubung dentuman suaranya betul-betul bikin <em>geger</em>, seolah bumi ini <em>horeg, rameeeeee banget.</em></p>
<p>Kedua, <em>geger</em> mengandung makna <em>dahuru, </em>yaitu seolah-olah <em>ana perang</em>, terjadi peperangan. Ada pihak-pihak yang <em>ngraman,</em> yaitu mengadakan kudeta terhadap kepemimpinan seseorang. Hati-hatilah dalam makna <em>dahuru</em> ini: Orang berkata-kata saja, namun karena kandungan kata-katanya dianggap “menyerang” kepemimpinan seseorang; ada yang mengategorikan orang itu sudah n<em>graman</em>.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/04/26/dadi-klilip">Dadi Klilip</a></strong></span></p>
<p>Sedang arti ketiga, nyaris sama dengan <em>dahuru</em>, ialah <em>dauru, </em>melakukan atau membuat kondisi <em>oreg-oregan, gawe ora tentrem</em>. Artinya, seseorang atau mungkin beberapa orang (kelompok?) sengaja membuat skenario agar terjadi suatu kondisi tidak tenteram, tidak nyaman. Caranya? Bermacam cara dapat ditempuh, <em>sing/kanthi alus utawa kasar</em>.</p>
<p><strong><em>Dadi geger</em></strong></p>
<p>Bicara tentang <em>dadi geger</em>, perhatian kita pasti  langsung ke Timur Tengah sana. Ada bunyi bom meledak, ada desingan peluru di mana-mana; ada drone berseluweran dan katanya siap diledakkan kapan diperlukan. Intinya, betul-betul sedang terjadi <em>geger</em>, perang di Iran dan negara-negara sekitarnya.</p>
<p>Pertanyaannya: Mengapa <em>dadi geger</em>, terjadi perang di belahan dunia itu?  Merujuk “<em>Ramayana, Indonesian Wayang Show” (</em>Sunardjo Haditjaroko, M.A. 1981) <em>dadi geger</em> sangat dimungkinan antara lain karena: “<em>When at last the war-gongs sound, they began their ponderous advance, and the whole earth echoed to the tramp of marching feet.”(lihat hal. 69). </em></p>
<p>Dalam konteks pertunjukan dan cerita wayang ini, perang, <em>dadi geger, </em>sangat dimungkinkan karena para pihak sudah menunjukkan betapa sudah saling siap, sudah membunyikan genderang perangnya masing-masing; derap langkah para prajurit pun sudah bikin <em>horeg</em>.</p>
<p><em>Dadi geger </em>mungkin saja berawal dari hal-hal kecil, sepele; namun <em>kriwikan dadi grojogan, </em>semula bagaikan air mengalir kecil saja, lama-kelamaan bertambah besar dan besar sehingga bagaikan air terjun. Hal itu terjadi karena (1) ada yang mengawali mincing-mancing secara kecil saja lewat suatu kejadian, lalu (2) dibalas oleh pihak yang merasa didahului tadi. Seanjutnya, (3) diperbesar pancingannya, demikian selanjutnya (4) diperbesar pula balasannya. Dan seterusnya, dan selanjutnya. Itulah perang, bermula sepele, namun <em>banjur dadi gawe; dadi geger</em>.</p>
<p>Siapa diuntungkan oleh perang? <em>Sapa sing bathi amarga dadi geger</em>? Kahlil Gibran (KG) menulis demikian ketika “Maju pula seorang wanita, yang meminta penjelasan tentang derita:” <em>Dan Guru pun terdengar bertutur-kata: Pedihnya derita, adalah pecahnya peristiwa. Koyaknya kulit ari yang membungkus kesadaran pengertian. Sebagaimana biji buah mesti pecah, agar intinya terbuka merekah bagi curahan cahaya surya. Demikian pun bagimu, kemestian takterelakkan, mengenal derita serta mersakan kepedihan.</em> ………….<em>Maka derita pedih itu tiada kurang menakjubkan daripada kegirangan. (</em>Sang Nabi<em>, hal 72).</em></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/04/12/dadi-dhuwit">Dadi Dhuwit</a></strong></span></p>
<p>Sekali lagi, siapa diuntungkan oleh hal-hal yang <em>dadi geger? </em> Sayup-sayup saya menangkap suara kebatinan KG yang akan mengatakan: Jangan-jangan pihak-pihak yang terlibat dalam perang itulah yang akan mengalami derita pedih, namun jangan lupa, jangan-jangan derita pedih itu tidak kalah menakjubkan daripada kegirangan <em>dadi rame</em> itu.</p>
<p>Dengan kata lain, rasanya tetap ada misteri di balik <em>dadi geger</em> itu, dan namanya misteri, baru akan terkuak entah berapa tahun lagi ketika mereka (para pihak) yang <em>gegeran </em>barangkali sudah lupa.</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan pemerhati masalah pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/03/dadi-geger">Dadi Geger</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dadi Klilip</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/04/26/dadi-klilip</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2026 01:06:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=554883</guid>

					<description><![CDATA[<p>SESEKALI mengikuti penggalan pidato pejabat, -termasuk pidatonya bapak presiden karena paling sering ditampilkan-, dapatlah dipahami bila kadang-kadang muncul kata-kata “keluhan,” atau bahkan semacam “ancaman” berhubung jengkel. Ada saja orang sing dadi klilip, entah karena komentar-komentarnya; entah pula karena sikapnya yang dirasakan bikin jengkel. Wajar bikin jengkel pejabat. Pada sisi lain, terutama pada saat hati para [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/26/dadi-klilip">Dadi Klilip</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-463065" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg" alt="" width="681" height="170" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-400x100.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-150x37.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /></p>
<p><strong>SESEKALI</strong> mengikuti penggalan pidato pejabat, -termasuk pidatonya bapak presiden karena paling sering ditampilkan-, dapatlah dipahami bila kadang-kadang muncul kata-kata “keluhan,” atau bahkan semacam “ancaman” berhubung jengkel.</p>
<p>Ada saja orang <em>sing dadi klilip, </em>entah karena komentar-komentarnya; entah pula karena sikapnya yang dirasakan bikin jengkel. Wajar bikin jengkel pejabat. Pada sisi lain, terutama pada saat hati para pejabat itu <em>lagi bungah</em>, sering bahkan berulangkali berkata: “Beri kami masukan, kami tidak antikritik, karena kami membutuhkannya.”</p>
<p>Harus dimaklumi bersama, perasaan orang (siapa pun dia atau pun jabatannya) tidak selalu berada dalam kondisi stabil. Ada kalanya bergelombang bergulung-gulung; ada kalanya landai,  <em>anteng,</em> stabil, <em>mesam-mesem</em>, bahkan sangat mungkin <em>joged-joged</em>.</p>
<p>Hal yang sama terjadi pada para pengritik. Suasana kebatinan mereka pun tidak selalu stabil juga. Kadang mampu berpikir cerah-cerdas, namun tidak mustahil suatu saat meledak-ledak karena <em>gemes, getem-getem, dan gela. </em></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/04/19/dadi-daging">Dadi Daging</a></strong></span></p>
<p>Tiga G itu menggambarkan suasana kebatinan yang pengin nyolek (<em>gemes</em>), perasaan jengkel (<em>getem-getem), </em>dan kecewa (<em>gela</em>). Dari tiga G itu, muncullah analisis atau komentar yang oleh pihak “sana” berkembang <em>dadi klilip</em>.</p>
<p><strong><em>Klilip(en)</em></strong></p>
<p>Setiap orang pasti pernah mengalami <em>klilipen, </em>kebangetan kalau belum pernah. Ada barang kecil, entah debu, entah serangga kecil, entah pula barang lainnya,  tiba-tiba masuk ke mata kita. Itulah <em>klilipen, </em>dan karena itu mata terasa perih, pedas, sakit, atau tidak bisa melek. Jika mengalami <em>klilipen</em> seperti itu,  hati-hatilah untuk tidak <em>mengucek-kucek</em> mata.</p>
<p>Tegasnya, meski terasa gatal atau ganjal, janganlah mata <em>dikucek-kucek. </em>Kalau ada air, usaplah mata bagian luar itu dengan air, siapa tahu mereda gatal atau sakitnya. Mengapa mata tidak boleh <em>diucek-kucek</em> pada saat <em>klilipen</em>?</p>
<p>Benda yang masuk mata itu, debu misalnya, apalagi pasir lembut, mungkin bisa “mengiris-iris” bagian dari biji mata kita. Resiko kan? Mungkin gatalnya hilang, tetapi kalau ada bagian dari biji mata menjadi tergores sekali pun kecil, resiko kan?</p>
<p>Jadi intinya, jika <em>klilipen,</em> janganlah mata <em>diucek-kucek</em>. Pertolongan pertama model kuna, ialah minta tolong orang lain untuk berkenan <em>ndamu mata sing klilipen kuwi, </em>yaitu meniupi mata itu kuat-kuat agar selumbar itu keluar<em>.</em></p>
<p><strong><em>Dadi klilip</em></strong></p>
<p>Beda <em>klilipen</em>, beda juga <em>dadi klilip. </em>Ada makna menarik atas <em>tembung entar dadi klilip</em> ini yakni, <em>apa utawa sapa wae sing jalari ora seneng</em>: Apa pun dan siapa pun dia yang membuat (saya) tidak senang, itulah <em>dadi klilip. </em></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/04/12/dadi-dhuwit">Dadi Dhuwit</a></strong></span></p>
<p>&#8220;Saya bupati, kok Bambang Gentholet (BG) <em>kae saben-saben ngritik</em> kebijakan-kebijakan saya, nahhhh…….. wajar kalau saya tersinggung, mungkin marak. Di mataku, BG itu <em>klilip. </em>Semakin BG menjadi-jadi kritiknya, <em>dadi klilip</em> bagi pemerintahanku.&#8221;</p>
<p>Lalu saya bisa saja berucap: “<em>Bupatine kuwi aku, dudu kowe BG</em>, bupatinya bukan <em>loe</em> !!!</p>
<p>Dalam perkembangan hidup sehari-hari, <em>sing dadi klilip</em> (bagi pejabat???)  itu umumnya orang, entah seseorang secara pribadi entah kelompok orang. Benda atau barang mungkin saja <em>dadi klilip</em> ketika ada proyek besar mangkrak, lalu berulangkali dijadikan contoh kegagalan.</p>
<p>Nahh….. barulah benda semacam itu <em>dadi klilip, </em>meski sangat mudah ditepis dengan berkata: “Itu bukan zaman saya dibangunnya.”</p>
<p>Seseorang atau kelompok orang <em>bisa dadi klilip</em> pejabat, pada umumnya, manakala orang itu dianggap <em>wis kebangeten omongane</em>, kata-kata atau ungkapannya itu sudah kelewat batas.</p>
<p>Memang ada persoalan, yaitu batasnya di mana atau sampai mana? Sampai mana sebuah kritik itu sudah dianggap kelewat batas, dan sampai mana masih wajar-wajar saja?</p>
<p>Di sinilah kesulitan utama untuk  menemukan titik temunya. BG merasa wajar-wajar <em>wae</em> apa yang ia ungkapkan (karena faktanya begitu, kilahnya); sementara saya sebagai bupati <em>wis abang kupingku, </em>sudah memerah telinga saya berhubung dituduh macam-macam oleh BG.</p>
<p>Pertanyaan lain muncul, yaitu mungkinkah orang seperti BG dan banyak BG-BG lainnya menganggap seorang pejabat itu <em>klilip? </em>Dengan kata lain, jika pejabat dimungkinkan memberi label BG dan BG-BG lainnya itu  <em>dadi klilip; </em>apakah bisa sebaliknya, rakyat atau masyarakat yang mengganggap seseorang pejabat atau mantan pejabat  <em>dadi klilipe? </em></p>
<p>Ini pertanyaan tidak gampang untuk dijawab, membutuhkan permenungan cukup lama seraya menunggu bukti-bukti <em>lapangan.</em></p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan pemerhati masalah Pendidikan dan budaya Jawa</em></strong><em> </em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/26/dadi-klilip">Dadi Klilip</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dadi Daging</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/04/19/dadi-daging</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2026 00:49:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kalamudeng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=554436</guid>

					<description><![CDATA[<p>MENGAPA korupsi harus dimusuhi oleh banyak pihak? Jawaban singkat dari sudut kultural, ialah karena hasil korupsi kuwi dipangana ora bakal dadi daging; kalau pun bisa dimakan yaahh ….. maaf mung dadi tahi, jadi kotoran saja. Kalau korupsi itu berupa uang, yahhh………. bakal konangan juga karena alat deteksi semakin canggih. Kalau korupsimu berupa barang/bangunan/tanah, yahhhh………. bojomu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/19/dadi-daging">Dadi Daging</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-463065" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg" alt="" width="681" height="170" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-400x100.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/03/kalamudeng-1-150x37.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /></p>
<p><strong>MENGAPA </strong>korupsi harus dimusuhi oleh banyak pihak? Jawaban singkat dari sudut kultural, ialah karena hasil korupsi <em>kuwi dipangana ora bakal dadi daging; </em>kalau pun bisa dimakan yaahh ….. <em>maaf mung dadi tahi, </em>jadi kotoran saja<em>.</em></p>
<p>Kalau korupsi itu berupa uang, yahhh………. <em>bakal</em> k<em>onangan</em> juga karena alat deteksi semakin canggih. Kalau korupsimu berupa barang/bangunan/tanah, yahhhh………. <em>bojomu, anak turunmu</em>, termasuk sedulur-sedulurmu bakal ikut menanggung bebannya, kelak.</p>
<p>Ada banyak contoh tentang hail ini; terakhir sebuah hotel besar di kota besr juga yang akhir-akhir ini viral.</p>
<p><em>Cekak aose</em>, sudahlah jangan korupsi karena secara internal <em>ora bakal dadi daging kanggo anak, bojo, lan keturunanmu; </em>membawa beban berkepanjangan bagi segenap anggota keluarga. Dan secara eksternal membawa kerugian banyak pihak. <em>Dosamu tumpuk-tumpuk.</em></p>
<p><strong><em>Daging</em></strong></p>
<p>Arti daging dalam ulasan ini, ialah (i) <em>keklumpukane serat-serat ing awaking manungsa utawa kewan; </em>gumpalan-gumpalan pertemuan urat-urat dalam tubuh manusia atau hewan; (ii) <em>peranganing wowohan sing empuk sangisoring kulit</em>,  bagian yang lunak/empuk pada buah-buahan, berada di bawah kulit buah itu; dan (iii) makna khas Jawa,  <em>daging </em>itu diidentikkan dengan <em>iwak, </em>maka sering disebutkan dengan <em>iwak daging</em>, atau <em>daging iwak</em>.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/04/12/dadi-dhuwit">Dadi Dhuwit</a></strong></span></p>
<p>Tentang makna ketiga ini, banyak seloroh ketika santap bersama penuh lauk daging: “<em>Ayooooo, iwake iki didhahar…. </em>Ayam kampung ini, tapi empuk, tidak a lot.” Tuan rumah menawarkan potongan-potongan ayam gorengnya, dan ungkapan khasnya: Ini <em>iwak pitik, lho.</em></p>
<p>Wong Jawa sadar betul bahwa yang disebut i<em>wak</em> itu ikan, segala macam ikan. Namun, percakapan sehari-hari selalu mengatakan sepotong ayam goreng itu <em>iwak pitik goreng. </em>Jika seseorang ketika tiba di meja makan, bertanya: “<em>Lawuhe iwak apa?”</em> itu artinya lauk makan saat ini apa saja.</p>
<p>Segala macam lauk, kadang-kadang disebutnya <em>iwak.</em> Jika saat itu disuguhkan bandeng goreng, misalnya, sangat mungkin saja muncul celetuk: <em>“Iwak bandeng goreng</em>, …………enakkkkk” (Selalu kata “iwak” muncul ketika suguhan itu hampir semuanya ikan: gurami, lele, bandeng, dsb).</p>
<p><strong><em>Dadi daging</em></strong></p>
<p>Ada ungkapan menarik dari mertua pihak perempuan kepada menantu lelakinya pada hari pertama anaknya akan diboyong ke rumah pihak laki-laki itu, ungkapannya: “<em>Nak, bapak ibu nitipake daging saerep marang sliramu, ya</em>.”  Sangat mungkin kata-kata itu disertai <em>hik….hik….hik…..; </em>dan maknanya tidak kurang tidak lebih berupa <em>masrahake anake wadon marang sing ngepek bojo. </em>Anak itu<em> (daging saerep)  </em>dipasrahkan, dipercayakan kepada suaminya secara baik-baik.</p>
<p>Langkah baik-baik seperti contoh mertua memasrahkan anak perempuannya kepada pihak suaminya,  itu menunjukan betapa sangat berharganya martabat manusia itu. Daging manusia ini sangat berharga, sangat bermartabat, bukan saja harus dihormati dan dihargai; tetapi harus benar-benar bersih.</p>
<p>Oleh karena itu asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia, juga harus bersih, juga harus bermartabat, juga harus berharga. Ungkapan khas Jawani ialah <em>kudu dadi daging. </em>Di awal tulisan ini sudah sangat jelas, betapa makanan, uang, harta lain hasil dari korupsi menjadi asupan kotor bagi tubuh manusia, <em>ora dadi daging</em> karena hanya akan menjadi kotoran belaka.</p>
<p><em>Dadi daging</em> maknanya sangat mendalam, yakni apa pun yang menjadi asupan bagi tubuh dan hidup ini, seyogianya benar-benar bermanfaat bagi kesehatan raga dan jiwa.</p>
<p>Hasil korupsi bukan satu-satunya asupan buruk bagi raga dan jiwa, sebab masih ada banyak hal lain yang juga <em>ora dadi daging. </em>Intinya, kita harus benar-benar dapat melakukan seleksi ketat atas asupan-asupan untuk kepentingan raga dan jiwa  kita sendiri. Bahkan makanan sehari-hari yang ditawarkan lewat berbagai media promosi pun perlu kita seleksi agar benar-benar <em>dadi daging.</em></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2026/04/05/dadi-aneh">Dadi Aneh</a></strong></span></p>
<p>Seseorang bermaksud mengejek dan menguji seorang guru spiritual, katanya: “Daripada Bapak cerita macam-macam yang tidak jelas, coba beri contoh yang praktis kepada kami,  apel surgawi itu seperti apa.”</p>
<p>Sang guru spiritual terdiam sejenak, lalu mengambil sebuah apel yang ada di atas meja. Lalu apel itu diberikan kepadanya, seraya berkata: “Ini apel surga yang kamu kehendaki itu, tetapi sedikit keriput di beberapa bagiannya; padahal apel surga harusnya sempurna.”</p>
<p>Orang itu tertawa mengejek, berkata: “Mana mungkin apel surgawi seperti ini. Bapak bohong.” Guru spiritual itu menjawab: “Memang apel surgawi itu sempurna; tetapi mengingat kemampuanmu yang masih serba keriput seperti apel itu; maka inilah apel yang paling mendekati apel surgawi yang bisa Anda lihat.”</p>
<p>Ajakan dan ajaran moralnya: Dapatkah melihat apel surgawi dengan mata yang tercemar oleh asupan kotor? Dapatkah asupan-asupan kita <em>dadi daging </em>ketika yang kita lakukan tidak bersih?</p>
<p><strong><em>JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan pemerhati masalah pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran.</em></strong><strong>           </strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/19/dadi-daging">Dadi Daging</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>