<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Budaya Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/hiburan/budaya/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Jun 2026 03:08:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Budaya Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bulan Sura, Identik dengan Ritual Jamasan Pusaka</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/24/bulan-sura-identik-dengan-ritual-jamasan-pusaka</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2026 03:08:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Info Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Solo Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Wonogiri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=566074</guid>

					<description><![CDATA[<p>SURAKARTA (SUARABARU.ID) &#8211; Bulan Sura, sesuai pemahaman Kejawen, identik dengan ritual jamasan pusaka. Demikian halnya dengan Sura Tahun Be 1960 (2026 M) saat ini. Jamasan pusaka di Bulan Sura, biasa dilakukan oleh Keraton Kasunanan dan Praja Mangkunegaran di Surakarta, Jawa Tengah, serta Keraton Kasultanan di Yogyakarta. Bahkan terhitung mulai Tanggal 23 sampai dengan 25 Juni 2026, jamasan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/24/bulan-sura-identik-dengan-ritual-jamasan-pusaka">Bulan Sura, Identik dengan Ritual Jamasan Pusaka</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>SURAKARTA (SUARABARU.ID) &#8211;</b> Bulan Sura, sesuai pemahaman Kejawen, identik dengan ritual jamasan pusaka. Demikian halnya dengan Sura Tahun Be 1960 (2026 M) saat ini. Jamasan pusaka di Bulan Sura, biasa dilakukan oleh Keraton Kasunanan dan Praja Mangkunegaran di Surakarta, Jawa Tengah, serta Keraton Kasultanan di Yogyakarta.<br />
<span style="font-family: Google Sans, Arial, sans-serif;"><br />
</span><span style="font-family: Google Sans, Arial, sans-serif;">Bahkan terhitung mulai Tanggal 23 sampai dengan 25 Juni 2026, jamasan yang dirangkai pameran pusaka digelar di Asta Buju Agung, di Desa Aeng Tong Tong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep Madura, Provinsi Jawa Timur. Aeng Tong Tong, </span>terkenal sebagai desa dengan Empu (pembuat) keris terbanyak di dunia yang telah diakui oleh UNESCO.</p>
<p>Yang keberadaannya, menjadi salah satu dari 50 Desa Wisata terbaik di Tanah Air, sebagai penerima Anugerah Desa Wisata Indonesia  ADWI. Aeng Tong Tong, dalam bahasa Madura berasal dari kata <i>aeng </i>yang berarti air, sementara <i>tong-tong</i> adalah bejana tempat air semacam <i>genthong</i>.</p>
<p>Desa Aeng Tong Tong terkenal sebagai desa industri kreatif pembuatan keris terbesar, dengan empu keris terbanyak di dunia. Ini yang kemudian menjadikan Sumenep dikenal dengan Kota Keris. Budaya penempaan keris, dimulai pada masa Aria Wiraraja, yakni Bangsawan Wengker yang dipindah tugaskan ke ujung Pulau Madura, dengan membawa serta orang-orang Wengker yang pandai membuat Keris.</p>
<p><span class="gmail-T286Pc">Pada Tahun 2014, Aeng Tong Tong dinobatkan oleh UNESCO sebagai desa dengan perajin (empu) keris terbanyak di dunia. Terdapat ratusan empu aktif (disebutkan ada sebanyak 640 orang empu) yang melestarikan tradisi pembuatan keris secara turun-temurun.</span><span class="gmail-T286Pc"> Keberadaan mereka yang begitu banyak, menjadikan Aeng Tong Tong dinobatkan sebagai desa wisata dengan predikat memiliki pembuat (empu) keris terbanyak di dunia.</span></p>
<p><span class="gmail-T286Pc">Tradisi pembuatan keris di Sumenep telah mendapat pengakuan internasional oleh UNESCO sebagai</span><span><span class="gmail-T286Pc"> </span><span title="Teks berbahasa Inggris"><i lang="en">Intangible cultural heritage (ICH), </i><span lang="en">yakni </span></span></span><span class="gmail-T286Pc">Warisan Budaya Tak Benda. </span><span class="gmail-T286Pc"><span class="gmail-Yjhzub">Sejarah panjang t</span>radisi penempaan keris di Sumenep merupakan warisan leluhur yang telah ada sejak zaman Kerajaan Sumenep, dan mengalami perkembangan pesat pada masa pemerintahan</span><span><span class="gmail-T286Pc"> </span><span class="gmail-Yjhzub">Pangeran Joko Tole</span> di abad Ke-XIV.</span></p>
<p><b>Merawat</b></p>
<p>Terkait dengan jamasan pusaka di Bulan Sura, Budayawan Jawa peraih anugerah Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, itu menjadi kegiatan rutin tahunan sebagai upaya merawat pusaka. Pranoto yang Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta ini, menyatakan, tradisi jamasan pusaka dituliskan pada halaman 257-260 dalam Ensiklopedi Kejawen Buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa (Drs R Harmanto Bratasiswara, Yayasan Suryasumirat Jakarta 2000).</p>
<figure id="attachment_566076" aria-describedby="caption-attachment-566076" style="width: 500px" class="wp-caption aligncenter"><img class="size-full wp-image-566076" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/24fkeris1-wng-bp.jpg" alt="" width="500" height="309" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/24fkeris1-wng-bp.jpg 500w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/24fkeris1-wng-bp-400x247.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/24fkeris1-wng-bp-150x93.jpg 150w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px" /><figcaption id="caption-attachment-566076" class="wp-caption-text">Urut dari kiri ke kanan, Keris dengan warangka gagrak Surakarta model ladrang biasa, model Gabelan Sungging dan tipe Ladrang Pendok Topengan pakai Selut.(SB/Bambang Pur)</figcaption></figure>
<p>Pusaka yang dijamas pada Bulan Sura, meliputi <i>wesi aji </i>seperti keris, tombak, cundrik dan patrem. Juga benda-benda warisan lain yang memiliki nilai tinggi dan dipercayai memiliki tuah. Termasuk, kereta kencana milik raja, serta perabotan lain seperti gamelan <i>(bendhe)</i> milik keraton.</p>
<p>Jamasan dilakukan sebagai wujud perawatan, pemeliharaan dan pelestarian warisan leluhur. Yang teknisnya dilakukan secara adat, disertai kelengkapan aneka sesaji, doa dan puasa, sebagaimana dilakukan turun temurun dari kakek moyang.</p>
<p>Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, pernah punya agenda wisata budaya jamasan pusaka milik Pangeran Sambernyawa. Tapi sejak pandemi Covid-19, agenda tahunan di Objek Wisata Tirta Waduk Gajah Mungkur tersebut ditiadakan. Ritual jamasan tetap diadakan oleh Tim Pusaka dari Praja Mangkunegaran, tapi tempatnya dipindahkan kembali ke Pendapa Kecamatan Selogiri, yang berdekatan dengan Tugu Ireng sebagai monumen penyimpanan pusaka Pangeran Sambernyawa.</p>
<p>Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Wonogri Drs Sriyanto MM, menyatakan, jamasan pusaka Pangeran Sambernyawa Bulan Sura Tahun Be 1960 (2026 M), akan dilakukan Kamis (21/7/26) mendatang. &#8221;Tempatnya di Pendapa Kabupaten Wonogiri,&#8221; jelasnya.<b>(Bambang Pur)</b></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/24/bulan-sura-identik-dengan-ritual-jamasan-pusaka">Bulan Sura, Identik dengan Ritual Jamasan Pusaka</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Harmoni Budaya Semarang Menguat, Hendardji: Tak Tinggalkan Akar Budaya dan Nilai KIebersamaan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/21/harmoni-budaya-semarang-menguat-hendardji-tak-tinggalkan-akar-budaya-dan-nilai-kiebersamaan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2026 15:01:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=565567</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA (SUARABARU.ID) – Ketua Umum Pawon Semar, Mayor Jenderal TNI (Purn) Dr. Hendardji Supandji, menyebut Kota Semarang berhasil menunjukkan kemajuan yang pesat tanpa meninggalkan akar budaya dan nilai-nilai kebersamaan masyarakatnya. Menurutnya, kondisi tersebut semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir di bawah kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng. Pernyataan itu disampaikan Hendardji saat menghadiri Gelar Seni [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/21/harmoni-budaya-semarang-menguat-hendardji-tak-tinggalkan-akar-budaya-dan-nilai-kiebersamaan">Harmoni Budaya Semarang Menguat, Hendardji: Tak Tinggalkan Akar Budaya dan Nilai KIebersamaan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA (SUARABARU.ID) – </strong>Ketua Umum Pawon Semar, Mayor Jenderal TNI (Purn) Dr. Hendardji Supandji, menyebut Kota Semarang berhasil menunjukkan kemajuan yang pesat tanpa meninggalkan akar budaya dan nilai-nilai kebersamaan masyarakatnya.</p>
<p>Menurutnya, kondisi tersebut semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir di bawah kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng.</p>
<p>Pernyataan itu disampaikan Hendardji saat menghadiri Gelar Seni dan Budaya Kota Semarang bertajuk Harmoni Semarang di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu 21 Juni 2026.</p>
<p>Menurut Hendardji, Kota Semarang saat ini mampu menjadi contoh daerah yang berhasil memadukan pembangunan, pelestarian budaya, dan kehidupan masyarakat yang harmonis.</p>
<p>&#8220;Kami melihat kota Semarang terus berkembang menjadi kota yang maju, namun tetap menjaga identitas budayanya. Kehidupan seni dan budaya tumbuh, masyarakat hidup rukun dalam keberagaman, dan ini menjadi kekuatan besar bagi kota,&#8221; tegas Hendardji.</p>
<p>Pihaknya mengapresiasi komitmen Wali Kota yang terus memberi ruang bagi pelaku seni, budayawan, dan komunitas untuk berkembang.</p>
<p>Berbagai kegiatan budaya yang digelar secara konsisten oleh Pemerintah Kota Semarang telah memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya sekaligus menjaga semangat persatuan di tengah keberagaman.</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, Wali kota Agustina juga menegaskan bahwa Kota Semarang lahir dari perjumpaan berbagai budaya yang hingga kini menjadi kekuatan utama pembangunan kota.</p>
<p>Menurutnya, Semarang tumbuh sebagai kota pelabuhan yang mempertemukan budaya Jawa, Tionghoa, Arab, dan berbagai unsur Nusantara lainnya dalam harmoni yang terus terjaga.</p>
<p>Melalui pertunjukan Harmoni Semarang, masyarakat diajak melihat perjalanan panjang Kota Semarang, mulai dari kehidupan masyarakat yang penuh kegembiraan, semangat perjuangan dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang, hingga tradisi Dugderan yang menjadi simbol kebersamaan warga lintas agama dan lintas budaya.</p>
<p>Agustina menuturkan bahwa tradisi Dugderan menjadi bukti bagaimana masyarakat Semarang mampu mengubah keberagaman menjadi kekuatan pemersatu. Berbeda dengan masa lalu ketika masyarakat dipisahkan berdasarkan kelompok etnis dan permukiman, kini warga Semarang hidup berdampingan, saling bekerja sama, dan membangun kota bersama.</p>
<p>&#8220;Semarang menunjukkan bahwa kemajuan kota tidak harus menghilangkan budaya. Justru budaya menjadi fondasi yang memperkuat persatuan, menghidupkan kreativitas, sekaligus menjadi daya tarik bagi pembangunan dan pariwisata,&#8221; katanya.</p>
<p>Hendardji menambahkan, semangat inilah yang membuat Kota Semarang semakin dikenal sebagai kota yang tidak hanya maju dari sisi ekonomi dan pembangunan, tetapi juga kuat dalam menjaga kerukunan sosial dan warisan budayanya.</p>
<p>&#8220;Budaya adalah perekat masyarakat. Ketika budaya tumbuh dan dihargai, maka persatuan, kebersamaan, dan kemajuan kota akan tumbuh bersama. Semarang telah menunjukkan hal itu, dan kami berharap capaian ini terus berlanjut,&#8221; pungkas Hendardji.</p>
<p><strong>Hery Priyono</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/21/harmoni-budaya-semarang-menguat-hendardji-tak-tinggalkan-akar-budaya-dan-nilai-kiebersamaan">Harmoni Budaya Semarang Menguat, Hendardji: Tak Tinggalkan Akar Budaya dan Nilai KIebersamaan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wayangan Suran Lakon Gatutkaca Winisuda, Asmoro Bumi dan Wahyu Kamulyan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/18/wayangan-suran-lakon-gatutkaca-winisuda-asmoro-bumi-dan-wahyu-kamulyan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2026 02:27:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Wonogiri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=564962</guid>

					<description><![CDATA[<p>WONOGIRI (SUARABARU.ID) &#8211; Wayangan Suran, yakni pagelaran wayang kulit untuk memeriahkan Tanggal 1 Sura Tahun Be 1960 (2026 M), banyak digelar oleh berbagai komunitas warga di sejumlah lokasi. Menampilkan Lakon Gatutkaca Winisuda, Asmoro Bumi dan Wahyu Kamulyan. Untuk Lakon Gatutkaca Winisuda atau Ampak-ampak Pringgondani, digelar di Rumah Guru Dalang Ki Deres Sugiono di Dusun Ngaglik, Desa Pulutan Kulon, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/18/wayangan-suran-lakon-gatutkaca-winisuda-asmoro-bumi-dan-wahyu-kamulyan">Wayangan Suran Lakon Gatutkaca Winisuda, Asmoro Bumi dan Wahyu Kamulyan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>WONOGIRI (<a href="http://SUARABARU.ID" target="_blank" rel="noopener" data-saferedirecturl="https://www.google.com/url?q=http://SUARABARU.ID&amp;source=gmail&amp;ust=1781831120278000&amp;usg=AOvVaw2ukhe8aZEjU5VxpswiP6f4">SUARABARU.ID</a>) &#8211;</b> Wayangan Suran, yakni pagelaran wayang kulit untuk memeriahkan Tanggal 1 Sura Tahun Be 1960 (2026 M), banyak digelar oleh berbagai komunitas warga di sejumlah lokasi. Menampilkan Lakon Gatutkaca Winisuda, Asmoro Bumi dan Wahyu Kamulyan.</p>
<p>Untuk Lakon Gatutkaca Winisuda atau Ampak-ampak Pringgondani, digelar di Rumah Guru Dalang Ki Deres Sugiono di Dusun Ngaglik, Desa Pulutan Kulon, Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Predikat Guru Dalang disandang Ki Deres. karena alumni ISI Yogyakarta ini, dikenal aktif tampil sebagai guru mendalang di Sanggar Pasinaon Dalang Wonogiri.</p>
<p>Dalang muda berbakat, Ki Wahid Ahsan Hidayat, tampil menyajikan Lakon Gatutkaca Winisuda dalam pakeliran ringkas. Diiringi para pengrawit usai bocah dari Sanggar Saraswati. Wayangan Suran ini, sekaligus untuk memeriahkan acara hajatan Walimatul Khitan putra Ki Deres, yakni Sri Rama Cahya Purnama.</p>
<p>Gatutkaca Winisuda populer disebut Lakon Gatutkaca Dadi Ratu, yang dituliskan dalam Buku-5 Ensiklopedi Wayang Indonesia pada halaman 1.547. Ini termasuk lakon sempalan, diawali kisah kahyangan geger karena diserang Prabu Endra Subrata bersama bala prajurit raksasa dari Simbar Manyura. Para Dewa kalah, dan meminta bantuan Gatutkaca bersama Prabu Kresna dan Bima.</p>
<p>Prabu Endra akhirnya dapat ditumpas. Selanjutnya Betara Guru sebagai Dewa penguasa Kahyangan, menghadiahkan tiga pusaka kepada Gatutkaca. Terdiri atas Kutang (baju) Antrakusuma yang bertuah dapat terbang tanpa sayap. Pusaka Caping Basunanda, bertuah tidak kehujanan dan kepanasan, dan Pusaka Kasut (sandal) Padakacarna bertuah dapat berjalan-jalan di angkasa.</p>
<p><b>Patih</b></p>
<p>Ringkas ceritera, Gatutkaca sebagai putra Bima-Dewi Arimbi, yang tumbuh menjadi ksatria sakti, kemudian dinobatkan menjadi Raja di Pringgondani. Dia bergelar sebagai Prabu Tutuka atau Prabu Kacanegara. Bersama itu, dua pamannya yakni Brajakesa dan Brajaningkaslapa, diangkat sebagai Patih Luar dan Patih Dalam.</p>
<p>Wayangan Suran sekaligus dikaitkan dengan ritual Bersih Dusun, juga digelar di Dusun Pelem, Desa Watangrejo, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri. Menyajikan Lakon Asmoro Bumi dengan Dalang Ki Subarjo dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.</p>
<p>Dosen ISI Surakarta, Ki Sigit Setiawan SSn, MSn, tampil mendalang Suran di Dusun Ndayu (Sedayu), Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Menghadirkan Bintang Tamu pesinden dari Luar Negeri, Agnes, bersama Bintang Pelawak Gareng.</p>
<p>Di Dusun Danan, Desa Sendangagung, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, wayang Suran yang disatukan dengan ritual Bersih Dusun, menyajikan Lakon Wahyu Kamulyan. Ini dimainkan Ketua Pepadi (Persatuan Dalang Indonesia) Kabupaten Wonogiri, Ki Eko Sunarsono SKar.</p>
<p>Dalang Ki Seno Aji, tampil mendalang di Dusun Mojo Suci, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Menyajikan Lakon Baladewa Suci. Dimainkan bersama Dalang Bisma Gibran Alkhaliti. Kemudian Dalang Ki Tantut Sutanto, mementaskan Lakon Wahyu Kamulyan di Desa Punduhsari, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri.</p>
<p><b>Bintang</b></p>
<p>Pentas Dalang Ki Tantut, disertai dengan Bintang Tamu dua pesidhen pria yang luwes berdandan wanita, yakni duet Mini dan Apri. Keduanya, tidak hanya mahir nembang, tapi juga memiliki kelebihan sekaligus tampil sebagai pelawak yang mampu menghibur massa penonton.</p>
<p>Wayangan Suran sekaligus Bersih Dusun, juga digelar di Desa Celep, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, menampilkan Dalang Ki Dunung Siswoyo, membawakan Lakon Ndaru Pringgondani.</p>
<p>Sementara itu, event wisata budaya Grebeg Tayub Suran di Kabupaten Pacitan, akan digelar Jumat malam Tanggal 19 Juni 2026. Lokasinya di objek wisata bahari Pantai Teleng, Kecamatan dan Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.</p>
<p>Grebeg Tayub ini, akan diawali dengan prosesi kirab tumpeng <i>sap pitu</i> (susun tujuh) dan pagelaran tari tayub massal. Event wisata budaya Suran ini, diinisiasi oleh Ketua Dewan Pembina Paguyuban Tayub Pacitan, Dr Arif Setia Budi SSos, MPA, bersama Ketua Paguyuban Langen Tayub Pacitan, Wayan Diana SPD, MM.</p>
<p>Sementara itu, acara Suran Tahun Be 1960 di Ibukota Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, dikemas dalam event Suwuk Suran Nuswantara Putih. Ini digelar di Lapangan Madya Mandala Baturetno. Diawali dengan prosesi kirab budaya yang dirangkai dengan hiburan panggung menyajikan aneka kesenian dan pentas musik.<b>(Bambang Pur)</b></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/18/wayangan-suran-lakon-gatutkaca-winisuda-asmoro-bumi-dan-wahyu-kamulyan">Wayangan Suran Lakon Gatutkaca Winisuda, Asmoro Bumi dan Wahyu Kamulyan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemkot Bersama Warga Masyarakat Rawat Harmoni dalam Perayaan Kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee ke-166</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/17/pemkot-bersama-warga-masyarakat-rawat-harmoni-dalam-perayaan-kedatangan-kimsin-ys-poo-seng-tay-tee-ke-166</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2026 03:06:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Semarang Raya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=564761</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG (SUARABARU.ID) &#8211; Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang mengapresiasi penyelenggaraan Pentas Panggung Malam Kesenian dalam rangka Perayaan Kedatangan Kimsin Yang Suci (YS) Poo Seng Tay Tee ke-166 sebagai wujud nyata pelestarian warisan budaya sekaligus penguat semangat toleransi di tengah keberagaman masyarakat Kota Semarang. Mewakili Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/17/pemkot-bersama-warga-masyarakat-rawat-harmoni-dalam-perayaan-kedatangan-kimsin-ys-poo-seng-tay-tee-ke-166">Pemkot Bersama Warga Masyarakat Rawat Harmoni dalam Perayaan Kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee ke-166</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG (SUARABARU.ID)</strong> &#8211; Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang mengapresiasi penyelenggaraan Pentas Panggung Malam Kesenian dalam rangka Perayaan Kedatangan Kimsin Yang Suci (YS) Poo Seng Tay Tee ke-166 sebagai wujud nyata pelestarian warisan budaya sekaligus penguat semangat toleransi di tengah keberagaman masyarakat Kota Semarang.</p>
<p>Mewakili Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Yayasan Klenteng Besar Tay Kak Sie, panitia penyelenggara, relawan, serta seluruh pihak yang telah bekerja keras mempersiapkan rangkaian kegiatan yang telah berlangsung lebih dari satu setengah abad tersebut.</p>
<p>&#8220;Tradisi ini bukan sekadar seremoni keagamaan maupun kebudayaan. Perayaan ini telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah, budaya, dan identitas Kota Semarang,&#8221; ujar Iswar dalam sambutannya pada Pentas Panggung Malam Kesenian &#8211; Perayaan Kedatangan Kimsin Di Klenteng Besar Tay Kak Sie, Senin 15 Juni 2026.</p>
<p>Menurutnya, Kota Semarang tumbuh dari keberagaman. Berbagai suku, agama, budaya, dan tradisi telah hidup berdampingan selama ratusan tahun, membentuk karakter Semarang sebagai kota yang terbuka, toleran, dan harmonis.</p>
<p>Perayaan Kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee menjadi salah satu warisan budaya yang memperkaya mosaik keberagaman tersebut. Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya merawat nilai-nilai spiritual dan tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat semangat persaudaraan antarsesama.</p>
<p>&#8220;Kesenian yang ditampilkan malam ini menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang. Seni dan budaya memiliki kekuatan membangun jembatan persaudaraan, mempererat silaturahmi, solidaritas sosial, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap kota yang kita cintai,&#8221; katanya.</p>
<p>Pemerintah Kota Semarang memandang pelestarian budaya sebagai investasi untuk masa depan. Tradisi yang tetap hidup akan menjadi kekuatan budaya dalam memperkokoh identitas Kota Semarang di tengah arus globalisasi yang terus berkembang.</p>
<p>Karena itu, Pemkot Semarang terus mendorong agar berbagai ekspresi kebudayaan, kegiatan keagamaan, dan tradisi masyarakat dapat berkembang secara berkelanjutan.</p>
<p>&#8220;Semakin banyak ruang yang tersedia bagi ekspresi budaya, semakin kuat pula daya tarik Kota Semarang sebagai kota budaya, kota wisata, dan kota yang ramah bagi semua,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Selain memiliki nilai budaya dan spiritual, kegiatan tersebut juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah. Kehadiran masyarakat dan wisatawan dalam berbagai perayaan budaya diyakini mampu menggerakkan UMKM serta sektor pariwisata.</p>
<p>Iswar berharap Pentas Panggung Malam Kesenian dan seluruh rangkaian Perayaan Kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee dapat terus menjadi agenda budaya yang membanggakan Kota Semarang.</p>
<p>&#8220;Mari kita jadikan momentum ini sebagai penguat semangat gotong royong, toleransi, dan kolaborasi. Kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya menjaga harmoni, merawat warisan budaya, serta membangun kehidupan yang inklusif dan saling menghormati,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Perayaan Kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee ke-166 sendiri berlangsung pada 14–16 Juni 2026 dengan pusat kegiatan di Klenteng Tay Kak Sie. Tahun ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya Kimsin Kongco Poo Seng Tay Tee dari Zhangzhou Baijiao Ciji Ancestral Temple Management Committee, Tiongkok, hadir dalam rangkaian perayaan di Semarang. Kehadiran tersebut menjadi simbol eratnya hubungan sejarah dan spiritual komunitas Tionghoa Semarang dengan akar budayanya di Tiongkok.</p>
<p>Rangkaian kegiatan meliputi doa bersama, prosesi sakral di klenteng, pentas kesenian, hingga Kirab Budaya Akbar yang menjadi puncak perayaan dan melibatkan ribuan umat serta masyarakat umum. Seluruh kegiatan terbuka bagi masyarakat sebagai bentuk perayaan bersama atas kekayaan budaya Kota Semarang.</p>
<p>&#8220;Selamat menikmati pentas panggung malam kesenian. Semoga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar, aman, dan membawa berkah bagi kita semua,&#8221; pungkas Iswar.</p>
<p><strong>Hery Priyono</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/17/pemkot-bersama-warga-masyarakat-rawat-harmoni-dalam-perayaan-kedatangan-kimsin-ys-poo-seng-tay-tee-ke-166">Pemkot Bersama Warga Masyarakat Rawat Harmoni dalam Perayaan Kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee ke-166</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tasyakuran Laut Para Nelayan, Menyertakan Sesaji Buseng Suci</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/17/tasyakuran-laut-para-nelayan-menyertakan-sesaji-buseng-suci</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2026 02:46:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Wonogiri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=564752</guid>

					<description><![CDATA[<p>PACITAN (SUARABARU.ID) &#8211; Para nelayan di Pantai Tamperan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, menggelar Tasyakuran Laut dengan menyertakan sesaji Buseng Suci. Ini dilakukan sebagai tradisi wujud syukur nelayan sebagai insan bahari, dalam menyambut datangnya Tahun Baru Hijriyah 1448. Bagian Porkopim Pemkab Pacitan, mengabarkan, tardisi Tasyakuran Laut tersbeut, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/17/tasyakuran-laut-para-nelayan-menyertakan-sesaji-buseng-suci">Tasyakuran Laut Para Nelayan, Menyertakan Sesaji Buseng Suci</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>PACITAN (SUARABARU.ID) &#8211;</b> Para nelayan di Pantai Tamperan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, menggelar Tasyakuran Laut dengan menyertakan sesaji Buseng Suci. Ini dilakukan sebagai tradisi wujud syukur nelayan sebagai insan bahari, dalam menyambut datangnya Tahun Baru Hijriyah 1448.</p>
<p>Bagian Porkopim Pemkab Pacitan, mengabarkan, tardisi Tasyakuran Laut tersbeut, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil yang diperoleh dari menangkap ikan di laut. Gelaran Tasyakuran Laut oleh masyarakat nelayan ini, merupakan tradisi  kearifan lokal dan menjadi event budaya tahunan yang senantiasa dilestarikan.</p>
<p>Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Bupati Pacitan Gagarin Sumrambah, saat membuka secara resmi acara Festival Nelayan 2026. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Tahun baru Hijriyah 1448 di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelabuhan Tamperan.</p>
<p>Selain melestarikan budaya lokal, lanjut Wabup Gagarin, kegiatan tersebut juga menjadi pembelajaran bagaimana melestarikan laut sebagai salah satu sumber mata pencaharian bagi insan nelayan. Momentum pergantian tahun, merupakan waktu yang baik untuk introspeksi diri, untuk mawas diri agar ke depan dapat melakukan perubahan yang lebih baik. “Mari kita jaga perairan laut, hindari <i>illegal fishing</i> agar tidak menghancurkan habitat ikan di laut,” katanya.</p>
<p><b>Mauidhoh</b></p>
<p>Kabupaten Pacitan memiliki potensi kelautan dan perikanan yang besar dan prospektif. Yakni memiliki garis pantai sepanjang 70 mil, membentang di 7 dan 26 desa. Laut Pacitan, memiliki potensi sumber daya ikan yang beraneka ragam.</p>
<p>Sesepuh Nelayan Pacitan, Imam Haryono, menyatakan, zaman pasti akan mengalami perubahan, akan tetapi budaya jangan sampai berubah.</p>
<p>Dalam tasyakuran laut ini, para nelayan juga menyertakan <i>usungan</i> <span class="gmail-Yjhzub">Buceng Suci. Yakni nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya, yang digunakan sebagai sesaji lambang spiritual dalam tradisi upacara adat Jawa.</span></p>
<p>Acara tradisi Tasyakur Laut ini, diawali dengan kumpul bersama para insna nelayan di halaman UPT Pelabuhan Tamperan. Mereka kemudian memanjatkan doa bersama yang dirangkai dengan Mauidhoh Hasanah oleh Pengasuh Pondok Pesntren (Ponpes) Tremas, KH Luqman Haris Dimyati. Usai acara makan bersama, masyarakat nelayan kemudian mengarak tumpeng menuju pantai. Ini dilakukan untuk melaksanakan trasisi larung laut yang dilaksanakan para nelayan.</p>
<p>Tasyakuran laut oleh masyarakat nelayan tamperan merupakan bagian dari rangkaian acara Festival Nelayan yang digelar dalam rangka menyambut tahun baru Hijriyah 1448 H. Selain tasyakuran laut juga dilaksanakan pengajian akbar serta bakar ikan secara massal.</p>
<p><span><span class="gmail-Yjhzub">Mauidhoh hasanah</span> berasal dari bahasa Arab yang berarti nasihat baik, pengajaran yang baik atau pesan-pesan positif. Istilah ini sangat populer dalam konteks komunikasi dan dakwah Islam, yang merujuk pada beberapa poin utama. Yang disampaikan lembut</span> menyejukkan, penuh kasih sayang dan tidak menghakimi atau mempermalukan. Berisi pesan bermanfaat, mengajak pada kebaikan dengan cara memberikan bimbingan, wasiat, dorongan (motivasi) dan peringatan. Ini merujuk langsung pada perintah Al-Qur&#8217;an (Surat An-Nahl ayat 125).<b>(Bambang Pur)</b></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/17/tasyakuran-laut-para-nelayan-menyertakan-sesaji-buseng-suci">Tasyakuran Laut Para Nelayan, Menyertakan Sesaji Buseng Suci</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Grebeg Suran, Kenduri Massal Selamatan dan Labuhan Laut Selatan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/17/grebeg-suran-kenduri-massal-selamatan-dan-labuhan-laut-selatan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2026 01:45:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Info Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Wonogiri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=564740</guid>

					<description><![CDATA[<p>WONOGIRI (SUARABARU.ID) &#8211; Serangkaian kegiatan penyambutan Tanggal 1 Sura Tahun Baru Be 1960, dilaksanakan di sejumlah tempat di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Mulai dari prosesi Grebeg Suran di Pringgondani dan Kahyangan, kenduri massal selamatan nasi encek dan ritual labuhan laut selatan. Grebeg Suran di kompleks Stadion Pringgondani, Wonokarto, Wonogiri, dikemas dalam prosesi Kirab Lampah Hening. Ini dilakukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/17/grebeg-suran-kenduri-massal-selamatan-dan-labuhan-laut-selatan">Grebeg Suran, Kenduri Massal Selamatan dan Labuhan Laut Selatan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span><b>WONOGIRI (SUARABARU.ID) &#8211;</b> </span>Serangkaian kegiatan penyambutan Tanggal 1 Sura Tahun Baru Be 1960, dilaksanakan di sejumlah tempat di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Mulai dari prosesi Grebeg Suran di Pringgondani dan Kahyangan, kenduri massal selamatan nasi <em>encek</em> dan ritual labuhan laut selatan.</p>
<p><span>Grebeg Suran di kompleks Stadion Pringgondani, Wonokarto, Wonogiri, dikemas dalam prosesi Kirab Lampah Hening. Ini dilakukan oleh Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri. Yang sebelumnya diawali dengan ritual pengambilan air suci dari tiga sendang. Yakni Sendang Mondrorini, </span>Sendang Siwani dan Sendang Sinangka.</p>
<p>Prosesi Kirab Suran Lampah Hening, dilakukan dengan tirakat tapa bisu (pantang bicara). Ritual Suran yang baru pertama kalinya dilaksanakan ini, menjadi bagian dari upaya napak tilas dari sebagian jejak sejarah perjuangan Raden Mas (RM) Said atau Pangeran Sambernyawa.</p>
<p>Event wisata budaya Bulan Sura ini, diinisiasi para mahasiswa Jurusan Kepanditaan STABN Raden Wijaya. Prosesi Kirab Suran Lampah Hening ini, dijadikan sebagai ruang perenungan dan penghormatan terhadap warisan budaya Jawa yang sarat makna.</p>
<figure id="attachment_564747" aria-describedby="caption-attachment-564747" style="width: 500px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-564747" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/17fsuran3-wng-bp.jpg" alt="" width="500" height="300" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/17fsuran3-wng-bp.jpg 500w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/17fsuran3-wng-bp-400x240.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/17fsuran3-wng-bp-150x90.jpg 150w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px" /><figcaption id="caption-attachment-564747" class="wp-caption-text">Prosesi Grebeg Suran di objek wisata religi Kahyangan, Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, dilepas keberangkatannya oleh Bupati Setyo Sukarno (pegang bendera start).</figcaption></figure>
<p>Untuk diketahui, RM Said atau Pangeran Sambernyawa, dikenal sebagai sosok pahlawan legendaris yang gigih berjuang melawan ketidakadilan keraton dan penjajah Belanda. Sebelum akhirnya sukses sebagai tokoh sejarah pendiri Dinasti Mangkunegaran Surakarta.</p>
<p>Prosesi Kirab Suran jalan kaki Lampah Hening ini, dipimpin langsung oleh Ketua STABN Raden Wijaya, Dr Sulaiman PhD, bersama jajaran pimpinan kampus. Kirab melibatkan para mahasisa dan tokoh masyarakat, yang mengenakan busana Kejawen. Mereka juga membawa serta pelita api obor dan nyala lilin, untuk menerangi kegelapan malam. Juga menyertakan peserta kirab pembawa bendera dan umbul-umbul.</p>
<p><b>Samodera</b></p>
<p>Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Wonogiri, Sriyanto, menyatakan, untuk Labuhan Suran Laut Selatan, dilaksanakan oleh masyarakat adat di Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri. Dilaksanakan Selasa sore sampai malam Tanggal 16 Juni 2026. Ditandai dengan ritual <i>melabuh</i> (menghanyutkan) sesaji kepala sapi ke perairan samodera selatan.</p>
<p>Grebeg Suran di Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Selasa (16/6/26), digelar di lokasi wisata religi Kahyangan di kompleks Hutan Dlepih. Berlangsung semarak, dimeriahkan dengan berbagai rangkaian acara budaya, pentas seni, tari klasik dan kontemporer, pertunjukan kesenian Reog Ponorogo dan olahraga massal jalan sehat.</p>
<p>Kegiatan Suran ini diselenggarakan oleh Paguyuban Sekti, yakni dari komunitas para seniman seniwati Kecamatan Tirtomoyo bersama Pemerintah Desa Dlepih. Kegiatan Suran di Kahyangan ini, erat kaitannya dengan upaya memberikan makna pada Kahyangan sebagai petilasan pertapaan Danang Sutawijaya atau Panembahan Senapati. Yakni saat menggapai wahyu raja, sebelum akhirnya sukses menjadi tokoh pendiri dinasti Mataram Islam Tanah Jawa.</p>
<figure id="attachment_564749" aria-describedby="caption-attachment-564749" style="width: 500px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-564749" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/17fsuran1-wng-bp.jpg" alt="" width="500" height="305" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/17fsuran1-wng-bp.jpg 500w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/17fsuran1-wng-bp-400x244.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/17fsuran1-wng-bp-150x92.jpg 150w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px" /><figcaption id="caption-attachment-564749" class="wp-caption-text">Kenduri massal selamatan nasi encek, dilakukan oleh masyarakat Dusun Pelem, Desa Watangrejo, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri.</figcaption></figure>
<p>Dalam sambutannya, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, memberikan apresiasi kepada panitia dan seluruh pihak, yang telah berperan aktif menyelenggarakan Grebeg Suran Kahyangan. Tumbuh berkembangnya objek wisata, mampu memberikan dampak <i>multiplier effect</i> yang positif. Yakni mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pengembangan sektor industri kreatif dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.</p>
<p>Kapolres Wonogiri AKBP Wahyu Sulistyo melalui Kasi Humas Polres AKP Anom Prabowo, menyatakan, personel Polri hadir dalam tugas memberikan pelayanan pengamanan, perlindungan dan pengayoman pada momentum keramaian kegiatan Suran yang dilaksanakan masyarakat. Pengamanan dipimpin Kapolsek Tirtomoyo Iptu Yuni Tri Suwarno dengan melibatkan prajurit TNI AD dari Koramil 07 Tirtomoyo dan Karang Taruna Desa Dlepih.</p>
<p>Sementara itu dari Kecamatan Pracimantoro dilaporkan, Suran di Dusun Pelem, Desa Watangrejo, semalam, dikemas sekaligus dalam kegiatan Bersih Dusun. Dimeriahkan pentas wayang kulit semalam suntuk. Menyajikan Lakon Asmoro Bumi dimainkan Dalang Ki Subarjo dari ISI Surakarta. Diawali kenduri massal selamatan, menyertakan sesaji nasi dan lauk pauk yang diwadah dalam ratusan <i>encek</i> (terbuat dari kelopak gedebog batang pisang).<b>(Bambang Pur)</b></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/17/grebeg-suran-kenduri-massal-selamatan-dan-labuhan-laut-selatan">Grebeg Suran, Kenduri Massal Selamatan dan Labuhan Laut Selatan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pentas Budaya Jaranan di Banyumanik, Wali Kota Apresiasi Karang Taruna Lestarikan Budaya</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/16/pentas-budaya-jaranan-di-banyumanik-wali-kota-apresiasi-karang-taruna-lestarikan-budaya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2026 00:23:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Info Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Semarang Raya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=564629</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG (SUARABARU.ID) – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan komitmennya untuk terus mendukung tumbuhnya kehidupan budaya sebagai bagian dari upaya membangun Kota Semarang yang berakar kuat pada identitas dan kebersamaan warganya. Komitmen tersebut disampaikan saat menghadiri Pentas Seni Budaya Jaranan yang digelar Karang Taruna Kelurahan Banyumanik di Lapangan Parikesit, Banyumanik, Minggu (14/6/2026). Dalam kesempatan itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/16/pentas-budaya-jaranan-di-banyumanik-wali-kota-apresiasi-karang-taruna-lestarikan-budaya">Pentas Budaya Jaranan di Banyumanik, Wali Kota Apresiasi Karang Taruna Lestarikan Budaya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG (SUARABARU.ID) –</strong> Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan komitmennya untuk terus mendukung tumbuhnya kehidupan budaya sebagai bagian dari upaya membangun Kota Semarang yang berakar kuat pada identitas dan kebersamaan warganya.</p>
<p>Komitmen tersebut disampaikan saat menghadiri Pentas Seni Budaya Jaranan yang digelar Karang Taruna Kelurahan Banyumanik di Lapangan Parikesit, Banyumanik, Minggu (14/6/2026).</p>
<p>Dalam kesempatan itu, Agustina mengapresiasi peran generasi muda yang tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku utama dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah.</p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-564634" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-15-at-13.12.361.jpeg" alt="" width="681" height="454" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-15-at-13.12.361.jpeg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-15-at-13.12.361-400x267.jpeg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-15-at-13.12.361-150x100.jpeg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /></p>
<p>“Kota yang maju bukan hanya kota yang membangun fisiknya, tetapi juga kota yang mampu menjaga akar budayanya. Saya bangga melihat anak-anak muda Banyumanik mau terlibat langsung untuk uri-uri budaya dan meneruskannya kepada generasi berikutnya,” ujar Agustina.</p>
<p>Kegiatan yang digelar dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah tersebut menghadirkan kelompok seni lokal Banyumanik, yakni Kridho Restu Bawono, Siswa Teguh Mbangun Budoyo, dan Langen Mudo Budoyo. Bagi Agustina, keterlibatan kelompok seni lokal menunjukkan bahwa budaya tumbuh dari masyarakat dan tetap hidup karena dirawat bersama oleh warga.</p>
<p>Menurutnya, ruang-ruang kebudayaan di kampung harus terus diperkuat karena menjadi tempat lahirnya nilai gotong royong, kebersamaan, dan kecintaan terhadap daerah. Kehadiran anak-anak dan generasi muda dalam kegiatan budaya juga menjadi investasi sosial yang penting bagi masa depan Kota Semarang.</p>
<p>“Anak-anak yang hari ini melihat, belajar, dan ikut terlibat dalam kegiatan budaya nantinya akan menjadi generasi yang melanjutkan tradisi ini. Karena itu ruang-ruang budaya seperti ini harus terus kita jaga,” katanya.</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, Agustina juga menyampaikan kabar baik bagi warga bahwa Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) sebesar Rp25 juta per RT per tahun mulai dapat dicairkan pada Juni 2026.</p>
<p>Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan bentuk kepercayaan pemerintah kepada masyarakat untuk menentukan kebutuhan lingkungannya secara mandiri melalui musyawarah.</p>
<p>Menurut Agustina, BOP tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk mendukung program ketahanan pangan dan lingkungan hidup, tetapi juga untuk memperkuat kegiatan sosial, budaya, dan kebersamaan warga di tingkat kampung.</p>
<p>“Kalau warga sepakat untuk kegiatan budaya, pentas seni, atau kegiatan kemasyarakatan lainnya, silakan. Yang penting direncanakan bersama dan manfaatnya dirasakan bersama. Pemerintah hadir memberi ruang, sementara keputusan terbaik tetap lahir dari warga,” tegasnya.</p>
<p>Ia menambahkan bahwa pembangunan Kota Semarang tidak hanya dilakukan melalui program pemerintah, tetapi juga melalui partisipasi aktif masyarakat yang menjaga lingkungan, memperkuat solidaritas sosial, serta merawat kebudayaan yang menjadi identitas kota.</p>
<p>Selain menghadiri pentas budaya, Agustina juga mengajak masyarakat menjaga Lapangan Parikesit sebagai ruang publik bersama yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas olahraga, sosial, maupun kebudayaan.</p>
<p>Menurutnya, ruang publik yang hidup dan terawat akan menjadi tempat bertemunya warga, tumbuhnya kreativitas, serta semakin kuatnya ikatan sosial di tengah masyarakat.</p>
<p>“Semarang akan menjadi kota yang semakin hebat jika ruang-ruang publiknya hidup, budayanya tumbuh, dan warganya terus bergerak bersama membangun lingkungan masing-masing,” pungkasnya.</p>
<p><strong>Hery Priyono</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/16/pentas-budaya-jaranan-di-banyumanik-wali-kota-apresiasi-karang-taruna-lestarikan-budaya">Pentas Budaya Jaranan di Banyumanik, Wali Kota Apresiasi Karang Taruna Lestarikan Budaya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sura, Bulan Sakral untuk Menjalani Laku Tirakat</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/15/sura-bulan-sakral-untuk-menjalani-laku-tirakat</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2026 01:55:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Info Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Solo Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Wonogiri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=564424</guid>

					<description><![CDATA[<p>SURAKARTA (SUARABARU.ID) &#8211; Dalam pemahaman Kejawen, Sura yang menjadi bulan awal Kalender Tahun Jawa, disebutkan sebagai bulan sakrai. Menjadi bulan untuk menjalani laku spiritual tirakat, dalam upaya memohon ridho perlindungan dan anugerah keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Itu dilakukan dengan menghindari untuk menggelar pesta suka ria, melakukan perjalanan jauh dan tidak menggelar hajatan. Dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/15/sura-bulan-sakral-untuk-menjalani-laku-tirakat">Sura, Bulan Sakral untuk Menjalani Laku Tirakat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>SURAKARTA (SUARABARU.ID) &#8211;</b> Dalam pemahaman Kejawen, Sura yang menjadi bulan awal Kalender Tahun Jawa, disebutkan sebagai bulan sakrai. Menjadi bulan untuk menjalani laku spiritual tirakat, dalam upaya memohon ridho perlindungan dan anugerah keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Itu dilakukan dengan menghindari untuk menggelar pesta suka ria, melakukan perjalanan jauh dan tidak menggelar hajatan. Dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna halaman 21, Bulan Sura dinyatakan tidak baik untuk mengijabkan pengantin. Karena memberikan aura <i>tukar padu</i> (cekcok) dan <i>nemu kasusahan</i> (menemukan derita susah).</p>
<p>Betapa Sura ditempatkan sebagai bulan sakral untuk laku tirakat, Keraton Kasultanan Yogyakarta, setiap menyambut Bulan Sura, selalu menggelar prosesi kirab pusaka <i>Mubeng Beteng</i> (mengelilingi pagar tembok keraton). Demikian halnya dengan Keraton Kasunanan dan Parja Mangkunegaran di Surakarta.</p>
<p>Dari Yogyakarta diperoleh informasi, bahwa Ngarso Dalem HB X telah menetapkan Rabu Kliwon dinihari (17/6/26) lusa, untuk melakukan tirakat jalan kaki <i>Mubeng Beteng </i>atau mengelilingi pagar tembok <em>(beteng)</em> keraton, disertai <i>tapa bisu </i>(pantang berbicara). Menempuh jarak sekitar 5 KM start dan finish dari Pancaniti Kamandungan Lor. Routenya melewati Jalan (Jl) Rotowijayan, Jl Pekapalan, Jl Kauman, Jl Agus Salim, Jl Mayjend Sutoyo, Jl Brigjen Katamso dan Jl Ibu Ruswa. Ini akan berlangsung sampai Pukul 02.30 dinihari.</p>
<p>Untuk prosesi kirab pusaka Praja Mangkunegaran Surakarta, akan digelar Selasa malam (16/6/26). Tradisi menyambut Tanggal 1 Sura ini, memberikan makna tirakat dalam tiga hal. Pertama, makna Atita atau melepas (selamat tinggal ) tahun yang telah berlalu. Kedua, Atiki, berlangsung mulai tengah malam, dalam menyambut kehadiran sepenuhnya waktu Tahun Baru 1960 Jawa (J) yang telah tiba. Ketiga, Anagata, yakni untuk menyambut waktu akan datang, dengan menghaturkan sembah catur, demi memperoleh anugerah <i>laras ati </i>(ketenangan).</p>
<p>Terlepas dari konflik kepemimpinan dua raja Paku Buwono (PB) XIV (Gusti Purboyo dan Gusti Hangabehi), Keraton Kasunanan Surakarta Hadingrat, Selasa Wage malam Rebo Kliwon (17/6/26) akan menggelar prosesi kirab pusaka Tanggal 1 Sura Tahun Be 1960 (2026 M). Kirab pusaka Keraton Surakarta menyertakan pusaka Kerbau (Kebo) <i>bule</i> (warna putih kekuningan). Ini akan mengambil start dan finish dari Kamandungan, menempuh jarak sekitar 8 KM.</p>
<p><b>Abdi Dalem</b></p>
<p>Laku tirakat <i>mubeng beteng</i> di Yogyakarta dan kirab pusaka Keraton Kasunanan serta Praja Mangkunegaran di Surakarta, akan dilakukan oleh r<span class="gmail-T286Pc">ibuan peserta. Mereka terdiri para <em class="eujQNb">Abdi Dalem</em> dan masyarakat. Selama perjalanan kirab, mereka akan menjalani <i>tapa bisu</i>.  Sekaligus sebagai  </span><span class="gmail-T286Pc">bentuk refleksi diri, demi menggapai keheningan dengan senantiasa memanjatkan doa kepada </span><i>Gusti Murbeng Dumadi (</i>Tuhan Yang Maha Kuasa).<br />
<span style="font-family: Google Sans, Arial, sans-serif;"><br />
</span>Budayawan Jawa peraih anugerah Bintang Budaya, Drs Kanjeng Raden Arya (KRA) Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, penjelasan Sura sebagai bulan istimewa dalam Kalender Jawa, dituliskan dalam Ensiklopedi Kejawen, Buku Adat Tata Cara Jawa, karya Drs R Harmanta Bratasiswara (Yayasan Surya Sumirat, Jakarta 2000). Yakni pada halaman 755-756.<br />
<span style="font-family: Google Sans, Arial, sans-serif;"><br />
</span>Tradisi menyambut Tahun Baru Jawa, disebut sebagai<em> Suran</em>, ditandai dengan tirakat <i>wungon</i> (pantang tidur) dan <i>tapa bisu </i>demi laku sipritual untuk mengasah rasa batin. Untuk ini, warga ada yang menjalani tirakat <i>sesaji harga </i>(di puncak gunung) <i>semedi </i>ke pesisir laut, atau laku <i>kungkum</i> (berendam) di sungai.<br />
<span style="font-family: Google Sans, Arial, sans-serif;"><br />
</span>Adalah Raja Mataram Islam Tanha Jawa, Sultan Agung, dalam mempersatukan rakyatnya telah menciptakan Kalender Jawa versi Mataram Islam Sultan Agung (MISA). Yakni memadukan Tahun Saka (Hindu) yang berpedoman pada peredaran matahari (Syamsiah), dan Tahun Hijriyah(Islam) yang memakai pedoman peredaran bulan (Qomariyah).<br />
<span style="font-family: Google Sans, Arial, sans-serif;"><br />
</span>Itu dimulai dari Tanggal 1 Sura Tahun 1555 Saka, yang bertepatan dengan Tanggal 1 Muharam Tahun 1043 Hijriyah. Ini terjadi pada Tanggal 8 Juli 1633 Masehi (M). Sejak itu, Praja Mataram Islam Tanah Jawa, menetapkan Tanggal 1 Sura sebagai Tahun Jawa. Yang senantiasa diperingati sebagai momentum <i>Suran, </i>untuk menandai datangnya Tahun Baru Jawa MISA. Yang itu disertai kegiatan spiritual dengan menjalani laku tirakat yang bersifat prihatin, untuk mawas diri dan pengendalian diri, yang sinergi dengan nilai sakral Bulan Sura.<b>(Bambang Pur)</b></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/15/sura-bulan-sakral-untuk-menjalani-laku-tirakat">Sura, Bulan Sakral untuk Menjalani Laku Tirakat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dimeriahkan Batik Carnival dengan Busana Negeri Dongeng</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/14/dimeriahkan-batik-carnival-dengan-busana-negeri-dongeng</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2026 14:44:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Info Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Solo Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Wonogiri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=564366</guid>

					<description><![CDATA[<p>SURAKARTA (SUARABARU.ID &#8211; Tradisi Bersih Dusun di Dusun Pelem, Desa Watangrejo, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Minggu (14/6/26) tampil beda. Dimeriahkan karnaval budaya, menampilkan Batik Carnival dengan busana layaknya dari negeri dongeng. Batik Carnival adalah parade budaya atau festival jalanan, yang menampilkan kostum-kostum megah, unik dan artistik, berbahan dasar kain batik didukung kelengkapan asesories [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/14/dimeriahkan-batik-carnival-dengan-busana-negeri-dongeng">Dimeriahkan Batik Carnival dengan Busana Negeri Dongeng</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div><strong>SURAKARTA (SUARABARU.ID &#8211;</strong> Tradisi Bersih Dusun di Dusun Pelem, Desa Watangrejo, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Minggu (14/6/26) tampil beda. Dimeriahkan karnaval budaya, menampilkan Batik Carnival dengan busana layaknya dari negeri dongeng.</div>
<div><span style="font-family: roboto, sans-serif;"><br />
</span>Batik Carnival adalah parade budaya atau festival jalanan, yang menampilkan kostum-kostum megah, unik dan artistik, berbahan dasar kain batik didukung kelengkapan asesories menarik. Acara ini, memadukan unsur busana tradisional dengan koreografi modern, demi mewujudkan agenda wisata budaya. Event ini, hadir menjadi ajang pamer kreativitas para desainer dan masyarakat, dalam mengolah batik menjadi karya tiga dimensi.</div>
<div><span style="font-family: roboto, sans-serif;"><br />
</span>Kecuali Batik Carnival, pawai budaya Bersih Dusun di Pelem, Desa Watangrejo tersebut, juga menampilkan drum band pelajar dan pawai kendaraan hias serta kemunculan tokoh Kethek Ogleng. Disamping tampilan bercorak tradisional, yang mewarnai tradisi Bersih Dusun. Yaitu kirab usungan gunungan yang dirangkai dari beragam hasil bumi petani.</div>
<div><span style="font-family: roboto, sans-serif;"><br />
</span>Bersih Dusun, menjadi tradisi yang setiap tahun digelar. Dimeriahkan dengan hiburan wayang kulit semalam suntuk. Untuk pagelaran wayang kulit akan dilaksanakan Selasa malam Tanggal 16 Juni 2026. &#8221;Akan menyajikan Lakon Asmoro Bumi, yang dimainkan Dalang Ki Subarjo dari ISI Solo,&#8221; ujar Parmin. Salah satu warga Dusun Pelem ini, menyatakan, dalam rangkaian Bersih Dusun, juga digelar turnamen bola voli.</div>
<div>
Dalam Bersih Dusun, pagelaran wayang kulit semalam suntuk sering disertakan sebagai media hiburan dan sekaligus menjadi sarana untuk tirakat pantang tidur semalam. Tujuannya, agar permohonan warga dusun senantiasa dikabulkan Tuhan. Yakni supaya warga dusun senantiasa dalam lindungan dan keberkahan Tuhan, serta menjadi sarana tolak balak supaya dijauhkan dari lilitan panandang sebel sial.</div>
<div><span style="font-family: roboto, sans-serif;"><br />
</span>Pagelaran wayang kulit semalam suntuk, sebelumnya dipentaskan dalam tradisi Bersih Desa yang digelar oleh warga Dusun Bogor, Blotan dan Dusun Tegalrejo. Lokasinya di Balai RW 2, Desa Kepuh, Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo. Menyajikan Lakon Wahyu Kamulyan oleh Dalang Ki Sri Susilo Tengkleng.</div>
<div></div>
<div><span style="font-family: roboto, sans-serif;"><b>Reog</b></span></div>
<div><span style="font-family: roboto, sans-serif;"><b><br />
</b></span>Di Desa Kebonagung, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen, Bersih Dusun dimeriahkan pentas Reog Dadak Merak dari Group Krido Taruno. Juga wayangan semalam suntuk Lakon Bharata Yuda, oleh dua dalang Ki Gede Ariawan WK dari Kediri, Jawa Timur, dan Ki Budi Warsito dari Gondang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.</div>
<div><span style="font-family: roboto, sans-serif;"><br />
</span>Di Dusun Sambirejo, Desa Celep, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, tradisi Bersih Desa juga dimeriahkan pentas wayang kulit semalam suntuk. Menyajikan Lakon Ndaru Pringgondani, dimainkan Dalang Ki Dunung Siswoyo. Sebelumnya, wayangan Bersih Dusun di Sengon, Desa dan Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, menampilkan Dalang Ki Hanggoro Murti SSn, dengan Lakon Wahyu Katetreman.</div>
<div>
Di Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tradisi Bersih Dusun ada yang dikemas sebagai event wisata religi Nyadran Gedong Pulungsari. Ini dilakukan oleh warga Dusun Dondong, Desa Pundungsari. Diawali prosesi kirab gunungan dan sesaji ayam panggang. Kemudian melakukan ritual berdoa di Makam Eyang Sumadi dan Eyang Sudarminah. Kedua tokoh ini, dikenal sebagai putra-putri Ke 53 dan Ke 59 Ngarso Dalem Hamengku Buwono (HB) Ke-II.</div>
<div><span style="font-family: roboto, sans-serif;"><br />
</span>Budayawan Jawa peraih anugerah Bintang Budaya, Drs Kanjeng Raden Arya (KRA) Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, Bersih Dusun memiliki sejarah panjang di masyarakat Jawa. Keberadaannya, dituliskan pada Ensiklopedi Kejawen, Buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa karya Drs R Harmanto Bratasiswara pada halaman 123-124.<br />
<span style="font-family: roboto, sans-serif;"><br />
</span>Bersih Dusun, menjadi tradisi masyarakat Jawa yang dimensional. Yaitu sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Yakni dzat yang telah memberikan anugerah rezeki atas diperolehnya panen hasil bumi yang melimpah. Melalui Bersih Dusun, warga juga memaknai keberadaan Danyang Cikal Bakal, yakni tokoh pendahulu yang berjasa telah membuat dusun untuk pemukiman. Juga menjadi media permohonan doa tolak balak, untuk membersihkan desa dari gangguan gaib negatif, agar warga senantiasa selamat, aman dan tenteram.<b>(Bambang Pur)</b></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/14/dimeriahkan-batik-carnival-dengan-busana-negeri-dongeng">Dimeriahkan Batik Carnival dengan Busana Negeri Dongeng</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Menentukan Tanggal 1 Sura Sebagai Tahun Baru Jawa</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/11/cara-menentukan-tanggal-1-sura-sebagai-tahun-baru-jawa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 05:49:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Solo Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Wonogiri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=563768</guid>

					<description><![CDATA[<p>SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Dalam Kurup Asopon (Tahun Alip Selasa Pon), Tanggal 1 Sura sebagai awal kalender baru Tahun Be 1960 (2026 M) Windu Sancaya, jatuh Hari Rabu Kliwon Tanggal 17 Juni 2026. Sedang versi Kurup Aboge, masuk dalam hitungan Bemisgi. Artinya, setiap Tahun Be, Tanggal 1 Sura-nya jatuh pada Hari Kamis Legi. Pedoman Aboge, mengacu pada setiap [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/11/cara-menentukan-tanggal-1-sura-sebagai-tahun-baru-jawa">Cara Menentukan Tanggal 1 Sura Sebagai Tahun Baru Jawa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>SURAKARTA (<a href="http://SUARABARU.ID" target="_blank" rel="noopener" data-saferedirecturl="https://www.google.com/url?q=http://SUARABARU.ID&amp;source=gmail&amp;ust=1781238724860000&amp;usg=AOvVaw1j-9J353ahPGcbRUl_J-T7">SUARABARU.ID</a>) –</b> Dalam Kurup Asopon (Tahun Alip Selasa Pon), Tanggal 1 Sura sebagai awal kalender baru Tahun Be 1960 (2026 M) Windu Sancaya, jatuh Hari Rabu Kliwon Tanggal 17 Juni 2026. Sedang versi Kurup Aboge, masuk dalam hitungan Bemisgi. Artinya, setiap Tahun Be, Tanggal 1 Sura-nya jatuh pada Hari Kamis Legi.</p>
<p>Pedoman Aboge, mengacu pada setiap Tahun Alip, bahwa Tanggal 1 Sura jatuh pada Rabu Wage. Namun saat ini, siklusnya masuk dalam Kurup Asopon (Alip Seloso Pon), maka penentuan Tanggal 1 Sura-nya dimajukan satu hari dari hitungan versi Aboge. Artinya, bila dalam hitungan Aboge jatuh hitungan Bemisgi (Tahun Be Kamis Legi), maka dimajukan sehari yakni Rabu Kliwon.</p>
<p>Kurup adalah siklus periode 120 tahunan atau 15 windu dalam Kalender Jawa Mataram Islam Sultan Agung (MISA). Siklus kurup, digunakan untuk menyesuaikan perbedaan antara Kalender Jawa MISA (J) dan Kalender Hijriyah (H). Setiap Kurup, ada satu hari yang dihilangkan, untuk menyamakan siklus bulan dari kedua kalender tersebut.</p>
<p>Kalender Jawa MISA, menggunakan siklus 8 tahun <i>(windu) </i>dan memiliki sistem kabisat yang berbeda dengan Kalender Hijriyah. Kalender Jawa MISA memiliki 3 tahun kabisat dalam setiap 1 windu, sedangkan Kalender Hijriyah memiliki 11 tahun kabisat dalam setiap 30 tahun.</p>
<p>Terdapat selisih satu hari setiap 120 tahun antara kedua kalender tersebut. Untuk mengatasi perbedaan, Kalender Jawa MISA menggunakan sistem Kurup. Yaitu periode 120 tahunan, di mana satu hari dihapus untuk menyelaraskan dengan Kalender Hijriyah. Kurup yang sekarang berlaku, adalah Kurup Asapon (Alip Selasa Pon). Kurup ini, telah dimulai sejak Tahun Alip 1867 J atau 1936 Masehi (M). Periode siklus Kurup Asopon ini, berlangsung dari Tahun 1867 sampai Tahun 1987 J, atau dari Tahun 1936 sampai dengan Tahun 2053 M.</p>
<p>Lain lagi untuk versi Kalender Jawa Purwa (JP) yang mengacu pada pedoman Pranata Mangsa.Tahun Barunya, jatuh pada awal berlangsungnya Mangsa Kasa (Bulan I) atau setelah berakhirnya Mangsa Sadha (XI). Mangsa Sadha memiliki <em>candra</em> (sebutan) <em>Surya Numpang Harga</em>, berlangsung selama 41 hari, terhitung mulai Tanggal 11 Mei sampai dengan 21 Juni 2026.</p>
<p><b>Pedoman</b></p>
<p>Kemudian Mangsa Kasa (I) memiliki siklus 41 hari dan mempunyai <em>candra</em> <em>Sotya Sinara Wedi</em>. Ini dimulai dari Tanggal 22 Juni sampai dengan 1 Agustus 2026 mendatang. Dengan pedoman ini, maka Tahun Baru Jawa Purwa (JP) 2937 dimulai Senin Kliwon Tanggal 22 Juni 2026 mendatang.</p>
<p>Bagaimana dengan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ? Terlepas dari kemunculan dua raja Paku Buwono (PB) XIV yang sekarang terjadi. Yakni antara PB XIV Purbaya dan PB XIV Hangabehi, Keraton Surakarta Hadiningrat, dalam menyambut 1 Sura Tahun Dal 1960, akan menggelar Kirab Pusaka Rabu Kliwon tengah malam atau selepas Pukul 00.00 dini hari (17/7/26).</p>
<p>Budayawan Jawa Peraih Anugerah Bintang Budaya Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, cara menentukan Tanggal 1 Sura dalam penanggalan Jawa MISA, berpedoman pada <em>petung</em> (perhitungan) Aboge dan Asopon.</p>
<p>Pranoto yang Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, menyatakan, Aboge adalah kependekan dari Tahun Alip Rebo Wage. Artinya, setiap Tahun Alip, Tanggal 1 Sura-nya jatuh pada Hari Rabu Wage. Kemudian Asopon, dipahami sebagai Tahun Alip Selasa Pon. Penjelasannya, manakala menganut Asopon, maka Tanggal 1 Sura jatuh pada hari Selasa Pon.</p>
<p>Tahun Jawa di sini, adalah Kalender Jawa yang diciptakan Raja Mataram Islam, Sultan Agung (1613-1645), dengan memadukan Kalender Saka dari India yang mendasarkan pergerakan matahari (solar), dengan Kalender Hijriyah (Kalender Islam) yang mendasarkan pada pergerakan bulan (lunar).</p>
<p><b>Perbedaan</b></p>
<p>Kalender Jawa  Sultan Agungan, dimulai pada Jumat Legi Tanggal 1 Sura Tahun Alip 1555 J atau 1 Muharram 1043 H (Tanggal 8 Juli 1633 M). Meski demikian, masih ada perbedaan perhitungan antara Tahun Jawa dan Tahun Hijiriyah. Tiap 120 tahun sekali, akan ada perbedaan satu hari pada kedua sistem penanggalan tersebut. Maka pada saat itu, Tahun Jawa MISA diberi tambahan satu hari.</p>
<p>Periode 120 tahun ini disebut dengan Kurup. Sampai awal abad 21 ini, telah terdapat empat Khurup. Yakni <em>Kurup Jumuwah Legi/Amahgi</em> (1555 J-1627 J/1633 M-1703 M), <em>Kurup Kemis Kliwon/Amiswon</em> (1627 J-1747 J/1703 M-1819 M), <em>Kurup Rebo Wage/Aboge</em> (1867 J-1987 J/1819 M-1963 M), dan <em>Kurup Selasa Pon/Asapon</em> (1867 J-1987 J/1936 M-2053 M).</p>
<p>Ada cara metodis untuk menghitung kapan Tanggal 1 Sura, menganut babon pedoman versi Aboge. Disebut Aboge, itu artinya setiap datang Tahun Alip, Tanggal 1 Sura-nya jatuh Rabu (Rebo) Wage. Setelah Aboge, kemudian Ekatpon. Yakni pada Tahun Ehe, Tanggal 1 Sura-nya jatuh pada Hari Akat Pon (Tahun Ehe, Akat Pon).</p>
<p>Selanjutnya Walmahpon (Tahun Jimawal, Jemuah/Jumat Pon). Berikut Jesoing (Tahun Je, Seloso Pahing). Giliran selanjutnya, Daltugi (Tahun Dal, Setu atau Sabtu Legi) dan Bemisgi (Tahun Be, Kamis Legi) sebagaimana yang berlangsung kali ini.</p>
<p>Berikut untuk Tahun Wawu, hitungannya mengacu pada Wunenwon (Tahun Wawu, Senin Kliwon). Kemudian Kirmahge, yang artinya pada Tahun Jimakir, Tanggal 1 Sura-nya jatuh Jemuah (Jumat) Wage. Untuk menyesuaikan ke versi Asopon, hitungan versi Aboge ini masing-masing dapat dimajukan satu hari.(<b>Bambang Pur)</b></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/11/cara-menentukan-tanggal-1-sura-sebagai-tahun-baru-jawa">Cara Menentukan Tanggal 1 Sura Sebagai Tahun Baru Jawa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>