Oleh : Hadi Priyanto dan Ika Putri Aprilia
Dibalik kejayaan seni ukir Jepara yang kini dikenal di 110 negara di dunia, terdapat kisah panjang perjuangan putra asli Jepara bernama H. Suwarno Johan Lautan yang kini telah berusia 74 tahun. Dengan tekad kuat dan biaya sendiri, lulusan Sekolah Teknik Ukir Jepara ini telah melanglang buana di tiga negara Eropa pada tahun 1982 untuk mempromosikan seni ukir dengan pahat, palu dan karyanya
Tahun itu memang menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan hidup Suwarno. Ia berangkat ke Nijmegen, Belanda dengan bekal uang pribadi sebesar Rp. 25 juta, jumlah yang cukup besar saat itu. Namun resiko ini dengan sadar diambil Suwarno. Sebab tekadnya telah bulat untuk mempromosikan dan memasarkan ukiran Jepara kepada masyarakat Eropa.
Bukan hanya itu, ia ini juga ingin melihat kecenderungan produk yang laku di pasar Eropa, khususnya Belanda, Jerman dan Belgia. Sedangkan barang yang dipamerkan, jauh sebelumnya telah dikirim melalui kapal dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Ia memilih Belanda karena negara ini memiliki irisan sejarah dan budaya dengan Indonesia yang cukup lama, hingga lebih mudah menjalin hubungan dagang. Disamping itu, walaupun tidak begitu fasih Suwarno juga bisa bicara dalam Bahasa Belanda.
Menurut Suwarno, langkah itu diambil atas niat dan dana pribadi karena pemerintah saat itu kendati telah mulai gembar-gembor perlunya terobosan membuka pasar internasional, namun realitanya masih jauh panggang dari api. Tak ada “greget” sama sekali. Akibatnya banyak hasil ukiran Jepara yang dijual melalui Bali hingga nilai tambahnya tidak dinikmati perajin di Jepara.

Selama 3 bulan Suwarno berada di kota Nijmegen Belanda hingga ke Düsseldorf, Jerman untuk memamerkan kerajinan ukir dan keterampilannya mengukir. Ia juga mengunjungi toko-toko mebel dan perusahaan-perusahaan yang ada disana, hingga memiliki banyak kenalan.
Bahkan ia kemudian mendapatkan tawaran untuk menjadi guru ukir di negeri kincir angin tersebut dengan berbagai fasilitas mulai rumah, mobil hingga gaji yang tinggi. Namun Suwarno memilih lembali ke Jepara.

Baginya, tanah kelahiran dan budaya ukir Jepara jauh lebih berharga dari pada kenyamanan hidup di negeri orang. Sebab tujuan utama Suwarno adalah membawa nama ukir Jepara ke pasar internasional, khususnya Eropa.
Suwarno dikenal merupakan salah satu tokoh yang berhasil membawa produk furniture Jepara menembus pasar Internasional sekaligus terus berusaha menjaga dan memperjuangkan transaksi mebel ukir berjalan dengan adil dan setara, hingga tidak ada penindasan dari para buyer kepada pengusaha lokal dan perajin. “Harus terbangun kerjasama yang saling menguntungkan,” tegasnya saat ditemui penulis di rumahnya di RT 01 / RW 08 Desa Tahunan, Jepara.

Merantau ke Surabaya
Putra ke lima pasangan H. Abdul Jabar dan Hj. Aminah yang lahir pada tanggal 12 April 1952 ini diberi nama Suwarno. Sedangkan nama Johan yang disematkan dibelakang namanya berasal dari nama Jauhar, artinya “permata, emas atau batu karang”. Nama ini pemberian seorang ulama yang dikenalnya di Surabaya, sebab Suwarno dikenal teguh, seteguh batu karang saat memegang prinsip hidup yang diyakininya.
Sedangkan Lautan digunakan untuk mengenang peristiwa tragis saat ia naik haji tahun 1973, dimana pesawat yang dijadwalkan akan membawanya pulang ke tanah air mengalami kecelakaan, jatuh ke laut.

Abdul Jabar saat itu dikenal sebagai juragan mebel ukir di Desa Tahunan Jepara. Karena itu sejak kecil, Suwarno tumbuh di lingkungan yang akrab dengan dunia seni ukir, warisan budaya yang telah menjadi identitas masyarakat Jepara selama berabad-abad.
Setelah lulus Sekolah Rakyat di Tahunan, Suwarno kemudian melanjutkan ke Sekolah Teknik Ukir Jepara yang diselesaikan pada tahun 1968. Saat lulus ia telah memiliki ketrampilan ukir, sebab setiap hari pasti ada pelajaran praktek mengukir. Setelah itu, di usia yang masih sangat muda, sekitar 15 tahun, ia nekad merantau ke Surabaya. Tujuannya untuk menambah pengalaman dan sekaligus memperdalam keterampilan mengukir.

Saat itu ia diterima dan tinggal di lingkungan Panti Asuhan Don Bosco Surabaya yang dikelola oleh suster Tarekat Puteri Kasih. Bahkan bersama 5 temannya dari berbagai daerah, Suwarno diangkat menjadi anak angkat. Di panti asuhan inilah mental dan kemandiriannya mulai terbentuk. Juga keberanian untuk teguh memperjuangkan keyakinan dan prinsip hidupnya, sekaligus belajar Bahasa Belanda
“Disamping itu saya mendapatkan teman bernama De Groot yang saya kenal saat bekerja di Panti Asuhan Don Bosco Surabaya. Ia tentara keturunan Belanda yang kemudian memilih tinggal di Belanda dan menjadi pelatih silat yang terkenal. Ini salah satu alasan saya melakukan pameran di Belanda dan sekitarnya,” kenang Suwarno.

Pada tahun 1973 Suwarno muda kembali ke Jepara, dengan kesuksesan ia di waktu muda Suwarno membeli sebuah sepeda motor hasil kerja dari Surabaya yaitu Yamaha V50, dengan prawakan “sangar” berambut panjang Suwarno muda mengendarai motornya secara kebut – kebuttan dan tangkap dan di kenai sanksi hukuman.
Perkenalan yang Unik dengan Mertua
Suwarno merantau di Surabaya sejak tahun 1968 hingga tahun 1971. Namun karena rindu pada orang tua dan saudaranya ia sering pulang ke Jepara dengan naik bus. Satu hari menurut Suwarno hanya ada satu atau dua bus yang penumpangnya juga tidak banyak. Karena itu kemudian banyak yang saling mengenal.
Salah satu yang dikenal adalah seorang tentara bernama Mayor Jauhari Abdurrahman yang bertugas di RS Tentara Pati. Ia “nglajo” dari Margoyoso Jepara. Karena itu saat Suwarno pulang ke Jepara diminta main ke rumahnya dan kemudian berkenalan dengan Enny Lestari, anak pertama Mayor Jauhari yang saat itu masih kuliah di Fakultas Hukum Unisula Semarang, semester dua.
Setelah sekian lama berkenalan akhirnya keduanya sepakat untuk menikah. “Saat mau melamar saya jemput ke kampus dengan sewa mobil dan kemudian belanja untuk keperluan lamaran,” kenang Suwarno
Dari pernikahan itu keduanya dikarunia dua orang anak yaitu Dampar Pangatasan, S.T. dan Dhaula Patta Raya, S.T., M.M. dan mendapatkan 4 orang cucu, yaitu Danendra Paradisho, Dheadon Dayasagar, Gelegar Selo Gilang dan Ario Dillah Kencono.
Dampar Pangatasan saat ini menjadi Perangkat Desa Tahunan dan Dhaula Patta Raya mendapatkan kepercayaan sebagai Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Jepara.

Bagi Suwarno, Enny Lestari bukan saja seorang istri tetapi juga Kawan perjuangan. Ia sering mendampingi suaminya saat melakukan aktivitas di dunia politik hingga banyak mengenal juga tokoh – tokoh di PDI Pusat. Enny yang putri seorang perwira tentara juga melindungi saat Suwarno mendapatkan tekanan dari aparat pada masa Orde Baru.
“Waktu itu rumah kami sering disambangi dan diawasi oleh aparat,” ujar Hj Enny Lestari yang mendampingi Suwarno saat menerima panulis. Apalagi saat Bu Megawati akan ke Jepara. Pengawasan semakin ketat, tambahnya.
Walaupun berat, Hj Enny Lestari juga mendukung saat Suwarno merencanakan untuk pameran di Belanda, walaupun mereka sudah dikaruniai dua orang anak “ Uang Rp. 25 juta jumlah yang cukup besar waktu itu,” ujar Enny. Namun jujur kami juga merasa cemas di tinggal ke Belanda, tambahnya
Beruntung saat itu di Jepara sudah ada kantor telepon. Tempatnya di Jln Diponegoro Jepara. “Kalau anak kangen atau ada keperluan, kami masih bisa berhubungan melalui telepon,” terang Enny.
Teguh Memegang Prinsip Perjuangan
Kekaguman pada Sang Proklamator, tidak hanya diwujudkan Suwarno dengan mengkoleksi kaset rekaman berbagai sambutan Ir Soekarno dan mendengarkannya berulang kali, namun juga terhadap pilihan politiknya. Pada tahun 1985 ia bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia yang saat itu berada dibawah tekanan rezim Orde Baru.
Disamping mendapatkan kepercayaan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Cabang DPC PDI Jepara, ia juga tercatat sebagai caleg partai tersebut dalam pemilihan di DPRD Jawa Tengah. Saat itu partai politik yang mengikuti pemilu hanya 3, Golongan Karya, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia.
Dalam tekanan politik yang luar biasa itulah Suwarno menjadi sosok penting di PDI Jepara. Bukan hanya dikenal pemberani dan teguh memegang keyakinannya, ia juga dikenal “lomo” membantu kegiatan partai dan teman-teman kader. Sebagai pengusaha muda yang sukses, Suwarno tak pelit mendukung aktivitas pergerakan yang diyakini benar
Tahun 1987 menurutnya merupakan awal kebangkitan Partai Demokrasi Indonesia. Walaupun banyak mendapat tekanan dan pengawasan dari aparat waktu itu, tak sedikitpun nyali Suwarno mengkerut. Bahkan saat Megawati Sukarno Putri berkunjung dan kampanye di Jepara pada tahun 1987, Suwarno menjadi salah satu tokoh yang mendampingi, termasuk saat ziarah di Makam Ratu Kalinyamat di Mantingan.
Ia bersama para aktivis partai terus bergerak, hingga di tingkat nasional PDI mampu menggeser posisi PPP dengan meraih kursi 40 kursi DPR RI atau 10,87 %. Kebangkitan Partai Demokrasi Indonesia ini tentu membuat penguasa Orde Baru cemas, sebab nama Megawati sebagai putri Sang Proklamator semakin berkibar, bahkan tahun 1993 terpilih sebagai Ketua Umum PDI. Ujungnya kemudian PDI terbelah dan melengserkan Megawati dari jabatan ketua umum partai melalui intervensi pemerintah di Konggres PDI di Medan tahun 1996 yang kemudian menjadikan Suryadi sebagai Ketua Umum. Peristiwa ini membuat PDI terbelah, pendukung Konggres Medan dan Pro Megawati.
Saat itu menurut Suwarno loyalis Megawati masih menguasai Kantor DPP PDI di Jln. Diponegoro Jakarta Pusat dan menggelar mimbar bebas ssebagai bentuk perlawanan terhadap intervensi pemerintah. Akhirnya masa Pro Suryadi yang didukung oleh aparat menyerbu dan mengambil alih kantor DPP PDI yang kemudian dikenal sebagai kerusuhan Kudatuli. Berdasarkan catatan Komnas HAM kerusuhan ini mengakibatkan 5 orang meninggal, 149 luka-luka dan 23 orang hilang.
Dalam kondisi seperti itu Suwarno bersama sejumlah loyalis Soekarno dan Megawati Sukarno Putri tidak tinggal diam. Mereka bersama melakukan perlawanan dengan pembentuk barisan Pro Megawati untuk menegakkan demokrasi di Indonesia, hingga terbentuk PDI Perjuangan tahun 1999 sampai saat ini.
Prinsip Hidup
Perjalanan hidup Suwarno tidak selalu berjalan mulus. Bahkan ketika masih muda, ia pernah mengalami berbagai kesulitan hidup yang mengajarkannya arti kerja keras, keberanian, kejujuran, keadilan dan ketekunan. Namun pengalaman tersebut justru membentuk karakter pantang menyerah yang kemudian menjadi modal utama dalam berwirausaha.
Pada usia sekitar 22 tahun, Suwarno mulai serius menekuni dunia usaha meubel. Hasil karya ukir dan furniturnya dipasarkan ke berbagai daerah seperti Surabaya, Bali, dan Lombok. Dari usaha kecil yang dirintis dengan penuh perjuangan, perlahan ia mulai dikenal sebagai salah satu pengusaha meubel Jepara yang memiliki visi besar.
Kesempatan menembus pasar internasional datang ketika ia mulai menjalin hubungan dengan pembeli dari luar negeri. Pada tahun tahun 1991, ia mendapatkan pembeli internasional pertamanya, seorang warga negara asing bernama Mr. Brash. Sebagai bentuk penghormatan dan kenang-kenangan, Suwarno bahkan mengabadikan wajah Mr. Brash dalam sebuah ukiran kayu hasil pahatannya sendiri.
Kisah ini menjadi salah satu bukti bagaimana hubungan bisnis yang ia bangun tidak hanya didasari transaksi, tetapi juga persahabatan, toleransi, kejujuran dan penghargaan terhadap sesama.
Keberhasilannya membuka pasar ekspor membuat nama Suwarno semakin dikenal. Ia memperoleh berbagai apresiasi, termasuk penghargaan dari pemerintah. Salah satu hal yang menarik adalah surat balasan yang diterimanya langsung dari Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, tertanggal 28 Maret 1995 dari White House, Washington D.C. Surat tersebut menjadi bukti bahwa jaringan komunikasi yang dibangunnya telah menjangkau tingkat internasional.
Namun yang membuat Suwarno berbeda bukan hanya keberhasilannya sebagai pengusaha. Ia dikenal sebagai sosok yang haus ilmu. Di tengah kesibukan mengelola usaha, ia gemar membaca buku dan mengoleksi berbagai literatur sejarah dan politik. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan membuatnya memiliki perpustakaan pribadi yang cukup lengkap.
Kegemarannya belajar juga membawanya menguasai beberapa bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman. Kemampuan tersebut sangat membantunya saat menjalin relasi dengan pembeli dari berbagai negara. Tidak heran jika banyak mitra bisnis luar negeri merasa nyaman bekerja sama Suwarno.
Di ranah bisnis mebel ukir, Suwarno juga mengembangkan ekonomi Berdiri di Atas Kaki Sendiri (Berdikari), prinsip yang diajarkan Ir. Soekarno. Suwarno selalu ingin berdiri sejajar dengan pengusaha asing yang saat itu mulai masuk Jepara. “Kami tidak ingin menjadi sapi perahan, tetapi harus berdasarkan prinsip kesataraan, kejujuran, keadilan dan toleransi ” ujarnya tegas.
Karena itu saat pembeli asing mulai masuk secara illegal ke Jepara dan memproduksi barang-barang mebel ukir sendiri ia marah. Ia melayangkan berbagai surat protes kepada para pejabat mulai Wakil Presiden Try Sutrisno, Ketua DPR RI dan Menteri Perindustrian. “Bahkan surat kepada Wakil Presiden diantar langsung ke Sekretriat Wakil Presiden,” kenang Suwarno. Saat itu mereka memberikan tanggapan positif, tambahnya
Meski telah sukses dalam bisnis meubel, pada tahun 1987 Suwarno mulai mengembangkan usaha di bidang penggergajian kayu dan Peti Mati Namun perubahan bidang usaha itu tidak membuatnya meninggalkan dunia ukir. Baginya, ukiran Jepara bukan sekadar produk ekonomi, melainkan identitas budaya yang harus dijaga keberlangsungannya.
Kepeduliannya terhadap budaya juga terlihat dari kekagumannya terhadap Ratu Shima, tokoh legendaris Kerajaan Kalingga yang dikenal sebagai simbol keadilan dan ketegasan. Nilai-nilai tersebut menjadi prinsip yang ia pegang dalam menjalankan usaha maupun kehidupan bermasyarakat. Ia sering menyampaikan harapannya agar Indonesia menjadi negara yang “adem, ayem, tentrem” serta memberikan kesempatan yang adil bagi semua pihak tanpa monopoli.
Bukan hanya Ratu Shima, Suwarno juga mengagumi Ratu Kalinyamat diwujudkan bukan saja dalam keyakinan hidup yang dipegangnya, tetapi juga dalam karya-karya ukir yang dihasilkannya. Salah satu karya yang hingga kini masih tersimpan di rumahnya yang dipenuhi berbagai ukiran adalah Kursi Ratu Kalinyamat, sebuah karya yang menjadi simbol penghormatan dan kekagumannya terhadap sosok pemimpin perempuan Jepara yang dikenal tangguh, berani, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.
Selain aktif di dunia usaha, Suwarno juga terlibat dalam berbagai organisasi sosial dan kegiatan politik sejak usia muda. Baginya, pembangunan ekonomi daerah harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Perjalanan hidup H. Suwarno Johan Lautan menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak lahir secara instan. Dari seorang remaja perantau yang belajar mengukir di Surabaya, ia tumbuh menjadi pengusaha yang berhasil membawa produk Jepara ke pasar dunia. Di tengah berbagai pencapaiannya, ia tetap memegang teguh prinsip untuk menjaga warisan budaya leluhur.
Kini diusianya yang telah mencapai 74 tahun H. Suwarno Johan Lautan dan istri tercintanya Hj. Enny Lestari hidup dengan tenang bersama putra putri dan juga cucunya. Walaupun tidak aktif lagi berbisnis, ia masih berharap, ukiran Jepara tetap lestari dan generasi muda tidak melupakan budaya yang telah diwariskan para leluhur.
Pesan sederhana itu bisa jadi menjadi warisan terbesar yang ingin ia tinggalkan. Sebab bagi H. Suwarno Johan Lautan, kesuksesan sejati bukan hanya tentang keuntungan usaha, melainkan juga tentang menjaga identitas budaya agar tetap hidup Lestari dari generasi ke generasi. “Cinta budaya bagian penting dari nasionalisme bangsa Indonesia,” pungkasnya (*)













