blank
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat saat menunjukan MoU antara pelaku usaha di daerah dengan investor. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat mengatakan pihaknya menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas terselenggaranya “Wonosobo Business and Investment Forum (WIBF)”.

“Kehadiran WIBF sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah memerlukan ruang bersama untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, peluang usaha dan harapan besar tentang masa depan invetasi Wonosobo,” katanya.

Dia mengatakan hal itu saat membuka acara “Wonosobo Investment Forum (WIBF) yang digelar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Wonosobo di Pendopo Bupati setempat, Selasa (9/6/2026).

Afif percaya kemajuan daerah terbentuk ketika pemerintah, dunia usaha, petani, UMKM, komunitas dan masyarakat bergerak dalam irama yang sama. Beranjak pada potensi besar yang dimiliki, Wonosobo saat ini sedang berada pada titik yang sangat menentukan.

“Kita memiliki alam yang indah, pertanian yang kuat, budaya yang hidup, masyarakat yang kreatif dan adaptif. Tantangan kita adalah memastikan seluruh potensi tersebut benar-benar mampu memberikan nilai tambah dan kesejahteraan bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Afif, agar wisatawan datang lebih lama dan belanjanya kembali ke masyarakat, maka dibutuhkan rantai pasok lokal yang kuat. Dan di situlah pertanian memegang peranan penting.

Ketika berbicara tentang modernisasi pertanian, lanjut Afif, yang semua didorong bukan sekadar penggunaan alat canggih. Intinya adalah kualitas yang terstandar dan produksi yang konsisten.

“Melalui precision farming, greenhouse, dan irigasi tetes, kita ingin memastikan produk hortikultura Wonosobo memiliki kualitas yang stabil dan mampu memenuhi kebutuhan hotel, restoran dan kafe di kawasan wisata sepanjang tahun,” tutur dia.

Dengan pola contract farming berbasis data, petani dapat terhubung langsung dengan rantai pasok hospitality. Rantai distribusi menjadi lebih pendek, pasar lebih pasti, dan nilai ekonomi lebih banyak tinggal di daerah.

“Selain modernisasi, kita juga harus memperkuat hilirisasi. Karena daerah yang kuat bukan hanya daerah yang menghasilkan bahan mentah, tetapi daerah yang mampu mengolah hasilnya menjadi produk bernilai tambah,” beber Afif.

Pihaknya mencontohkan kentang Wonosobo. Ketika dijual mentah, nilainya sekitar Rp 10.000 per kilogram. Tetapi ketika diolah menjadi frozen fries, mashed potato, atau keripik premium, nilainya bisa meningkat menjadi Rp 25.000 hingga Rp 40.000 per kilogram.

“Di situlah lapangan kerja tumbuh, UMKM berkembang, dan ekonomi desa bergerak lebih kuat. Hilirisasi tentu membuka ruang lahirnya pengalaman wisata baru,” bebernya.

Bangun Akses

blank
Penandatangan MoU antara pelaku usaha untuk memajukan dunia usaha yang ada di daerah Wonosobo. Foto : SB/Muharno Zarka

Dunia pariwisata hari ini, menurutnya, tidak hanya ingin melihat pemandangan, tetapi ingin merasakan pengalaman mulai dari memetik hasil panen, mengikuti workshop kopi, mencicipi produk lokal, hingga membawa pulang oleh-oleh khas daerah.

“Produk seperti Kopi Dieng dan Carica Kejajar bukan sekadar komoditas, tetapi identitas daerah yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya. Lebih dari itu, dampak dari modernisasi dan hilirisasi ini sangat nyata,” ungkap dis.

Secara ekonomi, kata Bupati, pendapatan petani berpotensi meningkat 30 sampai 50 persen karena adanya kepastian pasar dan nilai tambah produk. Dari sisi lingkungan, pertanian modern mendorong efisiensi air, penggunaan pupuk organik dan pola tanam yang lebih berkelanjutan.

“Pembangunan ekonomi harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Kalau belum berdampak, lalu apa tujuan utama yang ingin kita capai? Untuk itu, saya mengajak kita semua untuk bergerak bersama,” ajak Afif.

Kepada pelaku usaha dan UMKM, pemerintah daerah akan terus mendorong insentif, bantuan alat produksi seperti mesin pengering dan vacuum sealer, serta pendampingan sertifikasi agar produk lokal semakin kompetitif.

“Ke depan, Pemkab Wonosobo juga akan memperkuat infrastruktur pendukung seperti cold storage dan gudang beku di sentra produksi, sekaligus membuka kemitraan yang sehat antara koperasi petani, investor dan pelaku hospitality,” harapnya.

Secara khusus, Afif menyampaikan apresiasi kepada PT Sumber Kasih Indonesia, PT Bersama Rancang Karya Indonesia atas kepeminatan investasinya di Wonosobo, PT Turima Agro Mas, PT Agronesia Multi Resources dan PT Yospar Grawita Tama.

Dia berharap berbagai komunikasi dan penjajakan yang telah terbangun dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama investasi yang nyata. Dia juga menyampaikan penghargaan kepada PT Tambi, PT Surya Sejati, dan PT Phonix Agung Pratama atas penghargaan yang diterima.

“Mari kita pastikan forum ini tidak berhenti sebagai seremoni. Harus ada langkah nyata, investasi yang tumbuh, dan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” pinta Bupati Wonosobo.

Bupati Afif yakini, masa depan Wonosobo tidak dibangun oleh satu pihak saja. Dari kebersamaan maka dapat menghadirkan pertanian yang modern, pariwisata yang berkelanjutan, dan ekonomi daerah yang semakin kuat.

Sementara itu, Ketua HIPMI Wonosobo menyebut daerahnya punya potensi pertanian, pariwisata dan UMKM yang luar biasa. Potensi ekonomi tersebut harus terus dikembangkan untuk memajukan ekonomi daerah dan mensejahterakan masyarakat sekitarnya.

“Kami sebagai pelaku usaha di daerah, berupaya untuk membangun akses ke para penguasa agar para petani, pelaku usaha bidang pariwisata dan UMKM bisa berkolaborasi dengan pengusaha berskala besar guna mendongkrak sektor usaha yang ada di Wonosobo sesuai potensi yang dimiliki,” tandasnya.

Muharno Zarka