blank
Warsih, Guru Bahasa Indonesia yang produktif menulis dan mendedikasikan dirinya untuk pendidikan saat menghadiri acara pelepasan siswa SMPN 1 Jepara. Foto: Dok. Pribadi.

JEPARA (SUARABARU.ID) – Di sebuah ruang kelas di SMPN 1 Jepara, suasana pagi tidak langsung dimulai dengan penjelasan materi pelajaran. Sebelum belajar dimulai, para siswa terlebih dahulu membuka buku atau membaca berita terkini. Beberapa menit kemudian, mereka diminta menyampaikan informasi yang telah dibaca.

Kebiasaan sederhana itu telah menjadi budaya literasi yang terus dijaga oleh Warsih, guru Bahasa Indonesia yang telah mengabdikan dirinya di dunia pendidikan sejak tahun 1996.

blank
Warsih bersama Azzera. Siswi SMPN 1 Jepara peraih nilai TKA tertinggi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia saat menyerahkan bingkisan. Foto: Dok. Pribadi.

Bagi Warsih, menjadi guru Bahasa Indonesia bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk merawat identitas bangsa. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman, ia percaya bahasa memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda.

“Bahasa Indonesia bukan hanya mata pelajaran. Bahasa adalah identitas bangsa. Dari bahasa, siswa belajar berpikir, memahami informasi, dan mengekspresikan gagasan,” ujarnya.

blank
Warsih bersama Zera murid SMPN 1 Jepara saat upacara kelulusan. Foto: Dok. Pribadi.

Kesadaran itulah yang membuat Warsih memilih menjadi guru Bahasa Indonesia. Ia prihatin melihat tingkat literasi di Indonesia yang masih rendah. Menurutnya, kemampuan membaca dan menulis tidak hanya menentukan prestasi akademik, tetapi juga memengaruhi cara seseorang memahami kehidupan.

Karena itu, ia ingin menjadi bagian dari solusi. Melalui pembelajaran bahasa Indonesia, Perempuan yang mengabdikan dirinya dalam Pendidikan ini berupaya menumbuhkan minat baca, kemampuan berpikir kritis, serta kemampuan menganalisis informasi pada siswa.

Selama hampir tiga dekade mengajar, Ia menyadari bahwa membangun budaya literasi tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan keteladanan, kesabaran, dan kreativitas agar siswa merasa dekat dengan dunia membaca dan menulis.

Di sekolah, ia berusaha menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya literasi. Pojok baca disediakan agar siswa mudah menjangkau buku. Perpustakaan dibuat nyaman dengan koleksi yang beragam supaya siswa merasa betah membaca. Program membaca 10–15 menit sebelum pembelajaran pun menjadi rutinitas yang terus dijalankan olehnya.

“Namun, membaca saja tidak cukup. Siswa juga perlu dilatih menuangkan pikiran melalui tulisan. Karena itu, setelah membaca, biasanya siswa diminta membuat jurnal membaca untuk melatih kemampuan menulis sekaligus memahami isi bacaan,” ujarnya tersenyum.

Tak berhenti di situ, berbagai kegiatan literasi juga rutin digelar. Program Jumat Literasi menjadi salah satu ruang bagi siswa untuk lebih dekat dengan buku dan tulisan. Saat kegiatan class meeting, Ia turut serta menggalang kegiatan lomba menulis cerpen, puisi, hingga membuat majalah dinding kelas. Menurutnya, cara-cara sederhana tersebut perlahan membangun keberanian siswa untuk berkarya.

“Anak-anak sebenarnya punya banyak ide. Mereka hanya perlu dibimbing dan diberi ruang untuk mengekspresikannya,” katanya.
Dalam proses pembelajaran menulis, Warsih menggunakan berbagai metode kreatif agar siswa tidak merasa kesulitan menuangkan gagasan.

Salah satu metode yang sering digunakan adalah mind mapping atau peta pikiran. Melalui metode ini, siswa diajak menyusun ide utama, mengembangkan alur, dan memperkaya isi tulisan sebelum mulai menulis.

Menurutnya, banyak siswa sebenarnya mampu menulis, tetapi bingung memulai dari mana. Dengan peta pikiran, siswa lebih mudah mengembangkan cerita atau gagasan secara runtut.

Selain itu, Warsih juga menggunakan metode menulis berdasarkan gambar. Ia menampilkan ilustrasi, foto peristiwa, atau gambar unik, lalu meminta siswa membuat cerita, puisi, atau deskripsi berdasarkan gambar tersebut. Metode itu terbukti mampu membangkitkan imajinasi siswa. Mereka menjadi lebih berani berpendapat dan lebih mudah menemukan inspirasi tulisan.

Perjalanan Warsih di dunia literasi tidak berhenti di ruang kelas. Tahun 2020 menjadi titik penting dalam perjalanan kepenulisannya. Saat itu, ia bergabung dengan AGPL (Asosiasi Guru Pegiat Literasi) dan mengikuti pelatihan menulis artikel ilmiah.

Dari pelatihan tersebut, Warsih mulai aktif menulis artikel. Salah satu tulisannya berhasil dimuat di kolom Gugusan Guru Harian Suara Merdeka. Pengalaman itu menjadi penyemangat baginya untuk terus berkarya. Setelah itu, ia bergabung dengan Forum Penulis Jepara dan komunitas Guru Pegiat Literasi yang diketuai Hadi Priyanto. Di komunitas tersebut, Warsih semakin aktif menulis dan berdiskusi tentang dunia literasi serta pendidikan.

Hingga kini, ia telah menghasilkan berbagai karya tulis, mulai dari artikel ilmiah, berita, hingga cerpen. Beberapa karyanya antara lain cerpen “Hitungan Jodoh” dalam Antologi Cerita Bermuatan Lokal, artikel “Gunakan Media Cerpen, Cara Mudah Ajari Siswa Menulis Naskah Drama”, artikel “Menulis Puisi Teknik Patidusa”, serta tulisan “Ibu Pendidikan yang Menginspirasi Zaman” dalam Mozaik Gagasan R.A. Kartini.

Selain itu, ia juga aktif menulis berita tentang kegiatan SMPN 1 Jepara dan MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Jepara. Inspirasi tulisannya banyak lahir dari dunia pendidikan, perubahan kurikulum, dan sosok R.A. Kartini yang dianggapnya sebagai teladan perempuan pembelajar dan pejuang pendidikan.

Bagi Wakil Ketua MGMP Kabupaten Jepara ini, menulis adalah bagian penting dari profesionalisme seorang guru. Guru tidak hanya mengajar di dalam kelas, tetapi juga perlu menyampaikan ide, pengalaman, dan inovasi pembelajaran melalui tulisan. “Menulis membuat guru terus belajar, berpikir kritis, dan kreatif. Dari tulisan, pengalaman mengajar bisa dibagikan kepada orang lain,” jelasnya.

Dedikasinya dalam membimbing siswa pun membuahkan hasil membanggakan. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika siswa-siswa bimbingannya berhasil meraih juara lomba menulis cerpen dan puisi.

Baginya, keberhasilan tersebut bukan hanya tentang kemenangan, melainkan bukti bahwa siswa mampu berkembang ketika diberi kesempatan dan pendampingan yang tepat. Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus media sosial, Warsih berharap generasi muda tetap menjadikan membaca dan menulis sebagai bagian penting dalam kehidupan mereka.

Ia percaya, kebiasaan membaca akan membuka wawasan, sedangkan menulis akan melatih keberanian berpikir dan menyampaikan gagasan. “Membaca akan membuka jendela dunia, sedangkan menulis akan membuat dunia mengenal pikiran dan karya kalian,” tuturnya penuh semangat.

Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak takut memulai dari hal kecil. Menurutnya, satu halaman yang dibaca hari ini dan satu paragraf yang ditulis hari ini dapat menjadi langkah besar menuju masa depan yang sukses. Di akhir perbincangan, Warsih menyampaikan pesan khusus kepada para guru muda agar terus meningkatkan kompetensi dan mengutamakan literasi dalam pembelajaran.

“Jadilah guru yang literat,” pesannya.

Kalimat itu sederhana, tetapi mencerminkan perjalanan panjang seorang guru yang selama puluhan tahun terus menjaga nyala literasi di tengah perubahan zaman. Dari ruang kelas di Jepara, Warsih membuktikan bahwa membaca dan menulis bukan sekadar kemampuan akademik, melainkan jalan untuk membentuk generasi yang berilmu, kreatif, dan berani berkarya.

Septiana Wibowo