JEPARA (SUARABARU.ID) – Dalam rangkaian Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2025, ada hal yang cukup menarik yaitu ketika Gus Hajar, wakil bupati Jepara bersama Kepala Dinas Dikpora, Ali Hidayat dan pejabat Forkopimda menarikan Tari Krida Jati bersama sekitar 200 penari dan juga warga masyarakat.
Tari Krida Jati yang berkisah tentang aktivitas mengukir masyarakat Jepara ini sudah ditetapkan sebagai Tari Identitas Kabupaten Jepara. Tari ini dibawakan secara Flashmob di tengah-tengah para peserta lomba siswa mengukir.

Sarjono, seniman yang menginisiasi flashmob itu menjelaskan bahwa 200an penari didatangkan dari sekolah -sekolah di hampir semua kecamatan di Jepara.
“Ada dari Welahan, Kalinyamatan, Pecangaan, Tahunan, Kota, Monggo, Keling, Donorojo. Pendeknya dari ujung Selatan sampai ujung Utara ikut semua,” jelasnya.
Menurut Chlara, seniman tari yang dipercaya sebagai koordinator, sebenarnya cukup menantang mengumpulkan ratusan penari dalam waktu kurang dari seminggu. Tetapi dengan semangat dan kerjasama serta memahami satu sama lain, semua itu bisa dilewati. “Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar,” tambahnya.

Lebih jauh Sarjono juga menjelaskan tim kreatif memilih lokasi flashmob disela-sela siswa mengukir, karena Krida Jati ini bercerita tentang ukir. “Maka dengan sendirinya tercipta senyawa yang menyatukan rasa antara para pengukir dengan penari,” ujarnya
Hal itu juga dirasakan oleh Ali Hidayat, kepala Disdikpora yang mengaku sebenarnya tidak hafal dengan tari Krida Jati, tetapi begitu masuk di tengah pengukir dan penari seperti ada yang menuntun gerakannya sehingga bisa mengikuti sampai akhir. “Harapan saya ke depan semakin banyak ruang-ruang ekspresi untuk anak-anak kita” pungkasnya.
Harapan yang sama juga disampaikan oleh Nabila, salah satu siswa yang ikut menari, “Saya senang sekali bisa ikut terlibat dalam kegiatan ini, semoga ke depan masih ada kesempatan lagi” katanya.
Hadepe – Mbah John













