blank
Budi Prihartini, S.Pd, M.Pd

Oleh : Budi Prihartini, S.Pd, M.Pd

Learn to read or read to learn hampir sama tapi memiliki makna berbeda. Pada konteks literasi tentunya tidak lagi belajar membaca atau learn to read akan tetapi read to learn membaca untuk belajar. Bagaimana bisa seseorang dikatakan literat jika masih dalam tahap belajar membaca. Namun tidak menutup kemungkinan seseorang berada pada kelas tingkatan tertinggi literatnya masih harus diasah.

Ditilik dari pendapat  Imam Musbikin (2021) bahwa gemar membaca merupakan sebuah karakter yang mana karakter gemar membaca ini harus diterapkan sejak dini. Siswa dengan karakter gemar membaca dan yang tidak akan terlihat berbeda pada banyaknya kosakata yang dimiliki serta kemampuan bahasanya. Untuk itu menumbuhkan gemar membaca untuk membudayakan literasi harus dilakukan secara bertahap dan kontinu.

Literasi didefinisikan sebagai kemampuan bernalar yang menggunakan bahasa. Kemampuan literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca, akan tetapi juga kemampuan menganalisis bacaan dan kemampuan memahami konsep secara tersirat dari tulisan tersebut. Demikian pula dengan numerasi adalah kemampuan menganalisis angka-angka. (Kemdikbud, 2021). Namun apabila fasilitas berliterasi masih kurang misalnya ruang baca atau bahan bacaan kurang apakah   suatu hambatan? Bukan, melainkan suatu tantangan.

Menjawab tantangan

“Inovasi tiada henti”, kalimat singkat penuh makna, sebagai nasehat dari pengawas Dabin 4 Satkordik Kecamatan Kembang dalam pembinaan guru dan tenaga pendidikan beberapa waktu lalu. Kalimat yang terus terngiang sebagai cambuk diri untuk terus belajar dan berkarya. Segala bentuk keterbatasan fasilitas sekolah bukan penghalang. Percepatan mobilitas ilmu pengetahuan dan teknologi, akan memutar ide/inovasi seorang pendidik untuk mengatasinya.  Apalagi gerakan literasi sekolah sudah digalakkan sejak 2016.

Namun Indeks Alibaca (Aktivitas Literasi Membaca) oleh Pusat penelitian dan Kebijakan Kemendikbud tahun 2019 menunjukkan hasil yang rendah yaitu 37,32. Mendasar hasil survei tersebut menunjukan perlu adanya upaya sistematis dan berkesinambungan untuk meningkatkan literasi. Hal tersebut dilakukan upaya penguatan literasi yang tidak hanya terbatas pada siswa namun pada kompetensi guru.

Sebagaimana tercantum pada peraturan Dirjen GTK Kemdikbud Ristek No. 0340/B/HK.01.03/2022 membahas tentang kerangka kompetensi literasi dan numerasi bagi guru pada sekolah dasar yang mana kompetensi guru dalam berliterasi numerasi terbagi menjadi empat indikator yakni berkembang, layak, cakap, dan mahir.

Rapor hasil asesmen nasional, sekolah juga tak lepas dari pemberian atribut literasi numerasi yakni di atas kompetensi minimum, mencapai kompetensi minimum, di bawah kompetensi minimun, serta jauh di bawah kompetensi minimum. Sedangkan atribud siswa antara lain mahir, cakap, dasar dan perlu intervensi khusus (Pusat Asesmen Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek, 2022).

Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2021 tentang standar nasional pendidikan menjelaskan penanaman karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, kompetensi literasi dan numerasi, sebagai fokus dalam SKL pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar. Sebagai upaya wujud nyata implementasi penguatan SDM sebagaimana tertera dalam Peraturan Presiden tentang rencana pembangunan jangka menengah nasional dan rencana strategis kemendikbud tahun periode 2020-2024.

Peran guru

Guru adalah sutradara sekaligus pelaksana kebijakan yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran. Dengan tujuan tersebut sudah sewajarnya seorang guru akan menggunakan berbagai metode, strategi, media, dan mencurahkan segala ide pikiran untuk memaksimalkan pada titik membudaya literasi.

Seseorang yang memiliki tujuan jelas akan membuat kemajuan walaupun melalui jalan sulit, namun bagi seseorang tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan walaupun jalannya mulus (Deejay Supriyanto, 2014). Hal ini dikarenakan guru  adalah sosok yang akan laku tirakat, dalam keprihatinan, kesederhanaan untuk mencapai kesuksesan.

Hal yang perlu diketahui bahwa keterbatasan tidak hanya satu-satunya di sekolah tempat kita mengajar. Banyak sekolah yang sangat minim fasilitas namun mampu berdaya saing dalam prestasi. Sebagai motivasi bisa mengambil pelajaran/hikmah dari ilustrasi sekolah yang minim fasilitas justru mendorong lahirnya kesuksesan.

Sebagai contoh film Laskar pelangi, Serdadu Kumbang, Denias Senandung di Atas Awan dan masih banyak lagi. Revitalisasi penghayatan dan internalisasi serta motivasi belajar perlu memahami kedalaman makna untuk menginspirasi dalam keterbatasan menuju sebuah kesuksesan. Sebagaimana pepatah lama berikut berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian (Wachid Nugroho, 2018).

Kelas Literasi

Salah satu alternatif tindakan penulis adalah membangun kelas literasi. Bayu Jadmiko Aji (2021) menjelaskan ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat literasi yakni bahan bacaan dan praktik literasi. Kemdikbud (2021) menjelaskan strategi penguatan literasi antara lain pengembangan lingkungan yang kaya teks di sekolah, pengembangan lingkungan yang kaya teks, dan pengembangan lingkungan sosial emosional. Kelas literasi di sini menerapkan strategi penguatan literasi dengan mengembangkan lingkunagn kaya teks di kelas menggunakan potongan kertas sebagai bahan bacaannya.

Kelas literasi merupakan penataan sebagian ruang kelas sebagai perpustakaan mini. Akan tetapi tidak untuk membayangkan perpustakan mini dengan jumlah buku banyak dan tertata apik. Di perpustakaan mini ini hanya akan ditemui potongan kertas berwarna yang berisi tulisan siswa. Potongan kertas yang akan menjadi bahan informasi/berita bagi siswa dan guru. Mungkin terlihat sepele, namun beberapa manfaat yang dapat dipetik dari kegiatan ini serta kerja keras siswa dalam menuang tulisan.

Pertama, kosakata siswa bertambah. Kemampuan mencermati suatu kejadian baik di rumah, lingkungan sekitar atau sekolah dan dituangkan dalam bentuk kalimat meskipun hanya satu kalimat yang terdiri dari subjek, predikat. Lama-kelamaan susunan kalimat itu meningkat menjadi SPO/SPOK. Dari satu kalimat sederhana menjadi paragraf.

Kedua peningkatan pada kemampuan lisan siswa. Dengan menyampaikan hasil tulisan akan mendorong munculnya pertanyaan atau tanggapan sederhana, mau tidak mau siswa harus menjelaskan, apa maksud tersurat dalam tulisannya.

Ketiga sebagai bahan pembelajaran. Potongan kertas akan menjadi bahan permainan untuk menemukan suatu gejala/kondisi yang sama atau hampir sama. Banyaknya potongan kertas memberikan sebuah harapan, bahwa keberhasilan tidak hanya terpusat pada tingginya angka meskipun dari angka-angka itu menjadi data kemajuan dalam suatu proses pembelajaran.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membangun kelas literasi dengan kertas harapan dapat memotivasi siswa untuk berkreasi, menciptakan bahan ajar secara sederhana dan dapat memantik penguatan literasinya. Bahan literasi yang diperoleh tidak hanya dari membaca namun juga dari mengamati, mendengar, menyimak lingkungan sekitar.

Penulis adalah guru SD Negeri 4 Bucu, Pegiat Literasi  dan Peraih Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional  Tahun 2016.