blank
Ilustrasi keutamaan 10 hari terakhir Ramadan. Foto: Nasihatsahabat.com

blankOleh: KH. Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya)

blank
KH. Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya). Foto: IG buyayahya_albahjah

MENDEKATI akhir Ramadan, tepatnya pada 10 hari terakhir, banyak umat Islam berbondong-bondong ke masjid. Mereka melakukan iktikaf untuk mendapatkan kemuliaan lailatul qadar atau malam seribu bulan.

Semangat beribadah di 10 hari terakhir Ramadan memang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya.

Rasulullah SAW meningkatkan ibadahnya di 10 hari terakhir Ramadan.

‘Nabi ketika masuk 10 hari terakhir bulan Ramadan menyingsingkan lengan baju, lebih semangat (ibadah), membangunkan keluarganya, menghidupkan malamnya dengan beribadah’.

Di balik semangat Rasulullah SAW dalam beribadah di 10 hari terakhir Ramadan, tentu ada keutamaannya. Salah satunya adalah lailatul qadar yang menjadi semangat untuk menghidupkan hari-hari terakhir Ramadan.

’10 hari terakhir itu kan menjelang perpisahan dengan Ramadan, harus kita ikat. Menurut orang akhir zaman (10 hari terakhir) adalah malam-malam lalai. Pasar sudah ramai, tarawih mulai kendor. Di saat orang mulai kendor, kita ikat kembali’.

Apa yang dilakukan oleh umat Islam pada umumnya seperti iktifkaf hingga khataman Al-qur’an di 10 hari terakhir Ramadan sudah tepat.

Namun, jika ingin menghidupkan 10 hari terakhir Ramadan, jangan hanya di tanggal-tanggal ganjil, melainkan hidupkan semuanya baik tanggal ganjil maupun genap.

‘Kita kan mendengar lailatul qadar itu disembunyikan oleh Allah. Itu justru kasih sayang Allah. Maka karena itu disembunyikan, ya kita anggap ada semuanya. Tanggal 20 ada, 21 mungkin. Jadi mari kita menduga setiap malam lailatul qadar datang’.

Jika umat Islam merindukan lailatul qadar, ia akan menghidupkan setiap malamnya untuk menyambut malam lebih baik dari seribu bulan itu. Kita menjadi orang yang banyak berbuat baik di bulan Ramadan.

KH. Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), dikutip dari YouTube Al Bahjah TV.