Dwi Tunggak - M Iskak Wijaya usai penampilan Monolog Para Ruh

Oleh : M Iskak Wijaya

Seringkali, yang menjadi persoalan –lebih tepatnya yang menimbulkan jarak– antara karya seni, seniman/ perupa, dan penikmat/ penonton, terletak pada cara membaca teks (dalam hal ini patung-patung karya Dwik Tunggak merupakan kumpulan teks) yang bisa dicermati melalui “modus penyampaian” dan “modus penafsiran”.

Dalam modus penyampaian, Dwik Tunggak tampaknya berusaha menghidupkan berbagai bentuk dan model patung bergaya totem-purba ini, yang secara sekilas dapat dibaca sebagai teks yang berkisah tentang peradaban primitif. Tunggak sendiri memang menyebut gaya dari karya patungnya adalah “primitif”.

Salah satu karya Dwik Tunggak sekelompok patung berjudul “Kurban”

Imajinasi yang ditangkap Tunggak secara spontanitas, lugas, namun impresif, menghasilkan tampilan patung yang lebih menitikberatkan pada “kesan” maupun karakter masing-masing patung itu. Sebagian besar memiliki kemiripan dalam menggambarkan figur atau tubuh. Namun jika diperhatikan, kemiripan utama itu terletak pada dua hal: mata dan mulut. Di benak Tunggak, mata bukan sekadar untuk “melihat dengan cara terbuka.” Melihat seakan-akan lebih jelas dan terang dengan cara setengah tertutup atau setengah terpejam.

Sementara mulut dibentuk antara berkata-kata dan diam. Tidak sepenuhnya berbicara, tak pula membisu. Penampakan ini bisa jadi merupakan ekspresi pribadi atau pesan yang ingin disampaikan ke khalayak publik: bahwa tanpa berkata-kata sebuah pesan lebih dapat ditangkap. Tunggak sepertinya menangkap “pesan dari masa silam” yang diwujudkannya pada konteks kekinian.

Dalam modus penafsiran, menanggapi wacana “primitif”, pada benak serta bayangan manusia modern memaknai istilah itu secara peyoratif alias hina dan bernilai rendah. Primitif identik dengan “belum beradab”, “tidak mengenal aturan dan etika”, atau “liar”, dan bahkan dicap “biadab”.

BACA JUGA Monolog Para Ruh, Pertunjukan Pembuka Tahun 2022

Makna primitif seperti itu mesti diredefinisi, diubah dan dimaknai kembali. Primitif berasal dari kata latin “primus” yang artinya “yang utama”, “yang pertama”, “yang awal”. Menjadi “prime” yang mengacu pada “yang utama”, memiliki nilai istimewa.

Dwi Tunggak dalam Monolog Para Ruh

Mengikuti pendekatan etimologis ini, primitif bukan yang tidak beradab atau tidak mengenal aturan. Justru primitif merupakan nilai peradaban awal dan utama yang dibangun secara sadar oleh manusia. Dalam primitif, suara alam dan semesta mampu diharmonisasikan dengan ritual serta kesadaran spiritual manusia. Air, api, udara, tanah, jiwa-jiwa anima, pohon, ruh-ruh, menjadi unsur peradaban primitif yang bukan hanya menyatu, namun dihormati dan diperlakukan sebagai bagian dari kosmos kecil sang manusia.

BACA JUGA Monolog Para Ruh, Pembuka Pameran Patung Meluar Batas

Memandang karya dalam gaya primitif dari patung-patung Tunggak membawa kita pada imajinasi masa lalu melalui pintu masa kini. Kita bertualang ke belakang. Meng-hayat-i (menghidupkan) kembali karakter-karakter yang “ringkas”, “sendiri”, “kuat”, “putri”, “ruh”, dan lain-lain. Tunggak menjelmakan kembali kesan peradaban utama itu menjadi semacam “neoprimitivisme”. Cara berdialog lewat potongan-potongan kesan ini akan membentuk rangkaian yang utuh. Cara pandang neoprimitivisme berpeluang menemukan kembali nilai-nilai utama dan pertama dari peradaban. Bukankah kita adalah penerus dari yang-primitif itu? Bukankah yang-primitif itu tidak pernah keluar dari tubuh-jiwa kita?

Mengomentari atau menafsirkan para patung itu tampaknya lebih tepat dengan cara mengemukakan kesan semacam cara berimpresionis. Impresionisme tidak melulu berada di seni rupa. Tapi juga di khazanah susastra. Ia secara spontan melemparkan kesan-kesan yang muncul. Seringkali membayang sekilas dan meninggalkan jejak-jejak imajiner.

Dengan cara ini pula, karya-karya patung “primitif” Dwik Tunggak dapat dibaca serta dirasakan. Sejauh kesan itu berkelana di seputar para patung, penggalan-penggalan imajinasi tampil: singkat dan sekejap.

Dengan proses semacam itu pula, Tunggak “menggebuk” setiap kayu jati di depannya. Dia memilih kayu jati yang berkualitas agar tahan dari gempuran cuaca dan waktu. Tunggak seolah-olah tidak berpikir untuk mendesain bentuk patung itu. Dia mengikuti “maunya” patung yang ada di dalam kayu.

BACA JUGA Gelaran Acara Tak Lazim di Pembukaan Pameran Patung Meluar Batas

Patung-patung itu tak lagi menjadi berhala. Yang dipuja atau diistimewakan. Ruhnya masih menetap. Namun “berhala-berhala” itu diusirnya secara paksa. Setiap patung menjadi simbol dari jiwa dan mental manusia modern. Menyembunyikan watak yang tidak diharapkan atau yang bertentangan/ paradoks di masing-masing jiwa: kepongahan, kesombongan, kesedihan, kesendirian, juga kemarahan serta kesabaran.

Di sinilah Tunggak “meluar batas”: melampaui dan melompati waktu kini kembali ke masa lalu, mengembalikan primitif yang dulu ke primitif yang sekarang, menghidupkan kembali karakter primitif itu untuk menjadi cermin serta simbol jiwa manusia, dan melihat manusia di luar batas aturan yang mereka buat.

Tunggak tetap memahat. Tetap mencari kayu-kayu. Tetap menyiapkan pahat dan palu. Tetap menciderai hidup dengan petualangan juga kesendiriannya. Jika patung-patung itu memang mewakili dirinya, itu berarti juga mewakili kita semua: sebagai manusia.

BACA JUGA Dwik Tunggak, Tak Ingin Merusak Keindahan Alam dalam Karya Primitifnya

Selamat “meluar batas” bagi Dwik Tunggak dan kita bersama. Meluar batas untuk menemukan tapal batas diri di jalan dunia yang tak terbatas ini.

Tabik. Salam.

Jepara – Jakarta, 8 Januari 2022.

Penulis adalah  budayawan