Apokat Hana berukuran besar. Foto: eko

KOTA MUNGKID(SUARABARU.ID)-Di Desa/Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang dibudidayakan tanaman alpukat Hana. Buah tersebut memiliki ukuran besar dan rasanya enak.

Pembudidaya Apokat Hana, Prof Suhariyanto, hari ini menjelaskan, Hana diambil dari nama anak dia. Sentralnya di Bogor dan induknya ada di sana, kemudian dikembangkan di Klaten dan beberapa daerah lain.

Dikatakan, bibit tanaman itu kebutuhannya sangat besar. Dia dipercaya sebagai salah satu tim pengembang Ibukota Baru di Kaltim, utamanya untuk pemanfaatan lahan yang butuh pengganti penghijauan. Karena banyak yang ditebang, maka harus ada penggantinya.

Sebetulnya Hana sudah dikembangkan di seluruh Indonesia, dari Lebak Banten, NTB, di Bali, Kaltim, Tenggarong, sudah dikembangkan. Di Pandaan, Jatim, juga sudah dikembangkan.

Dijelaskan, ciri Hana 1 adalah lonjong, Hana 2 oval, dan Hana 3 bulat. Masing-masing punya kelebihan yang bisa membedakan. Hana 1 lebih legit, pulen, enak. Hana 2 ada rasa manisnya. Hana 3 beratnya bisa mencapai 3,5 kilogram.

Jokowi Heran

“Saya pernah ekspo hortikultur internasional di Istana Negara, Pak Jokowi heran ternyata kita memiliki yang lebih baik daripada yang dari luar negeri,” katanya.

Prospeknya ke depan sangat baik. Di Moyudan, Sleman ditanam seluas empat hektare. Di Prambanan juga ada.

Dia ingin membangun kampung apokat. Karena banyak peluang untuk bisnis. Permintaan dari LG saja setiap bulan 400 ton. Belum termasuk dari Samsung, maupun dari Timur Tengah. “Saya angkat tangan. Saya butuh 10 juta hektare lahan, sejauh ini masih sulit,” katanya.

Selebihnya dia jelaskan, buah Apokat bisa untuk berbagai macam. Misalnya untuk tepung Apokat, cake Apokat, masker Apokat. “Pasta gigi saja dari Apokat, di samping untuk kesehatan,” jelasnya.

Dalam acara Launching Agrowisata Lembah Semawang dan Bandongan Mall, hari ini Sabtu (1 Januari 2022), selebihnya dipaparkan, Apokat juga bisa untuk diet. Orang yang gemuk dengan mengonsumsi Apokat itu dalam waktu enam bulan bisa berkurang berat badannya. Dengan catatan tidak makan nasi dan mengonsumsi gula.

“Kenapa Apokat punya prospek yang bagus, karena manfaatnya banyak,” tuturnya.

Kalau tidak laku, bisa dibuat jus, tepung, dan permintaan tepung besar sekali. Bijinya saja sekarang sudah mahal. Jadi kesempatan bisnisnya sangat luar biasa.

Mengangkat Nasib

Bahkan kesempatan untuk mengangkat nasib orang juga banyak. Dikatakan, selama ini dia aktif di sebuah yayasan anak yatim. Dia menjatah satu orang dengan lima bibit Apokat. “Ternyata pendidikannya bisa sampai S2,” tuturnya.

Dari contoh itu, menurut dia, tanaman tersebut sangat baik dikembangkan untuk pondok pesantren atau yayasan yang butuh bantuan dari donatur. Sebab buahnya bisa dijual dengan pangsa pasar cukup besar.

Kepala Desa Wisata Nusantara (Dewisnu) Jateng, H Hadi Sucahyono, yang hadir dalam acara tadi menyambut baik dan mendukung beroperasinya Lembah Semawang, termasuk adanya budidaya Apokat Hana. Kalau dikembangkan dengan baik, dia yakin akan memiliki daya tarik. Disarankan ada kebun petik buah
seperti di Malang ada Apel Malang.

Di Bandongan bisa dikembangkan apokat petik sendiri, dan bisa menjadi agro eduwisata.

Kepala Desa (Kades) Bandongan, Sujono mengatakan, objek wisata yang dibuka hari ini itu akan menonjolkan agrowisata bibit Apokat Hana 1, 2 dan 3. Di Lembah Semawang ke depan akan ada kegiatan masyarakat. Menurut rencana objek wisata itu akan dibuka setiap hari Minggu.

Eko Priyono