Wiwin Patma Dewi, S.Pd., Guru SDN 1 Kedungsarimulyo, Welahan, Jepara.

Oleh: Wiwin Patma Dewi, S.Pd.

Bagi guru, bulan November memiliki momen peringatan nasional. Maka, perlu kita merenung dan merefleksikan diri sebagai umat bangsa abdi masyarakat. Diawali dengan, peringatan pada tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Lalu, hari ini tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-76 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Kedua peringatan yakni Hari Guru Nasional dan HUT PGRI pada tanggal 25 November ini  memiliki slogan “Bergerak dengan Hati Pulihkan Pendidikan.” Kedua peringatan ini menjadi momen spesial bagi para pahlawan tanpa tanda jasa. Hari Guru nasional akan menjadi momentum awal pendidikan sebagai sebuah gerakan pendidikan.

Secara konstitusional pendidikan adalah tanggung jawab Negara. Namun secara moral pendidikan adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Pendidikan merupakan interaksi antar manusia, yaitu guru dan peserta didik. Melalui interasi, komunikasi edukatif antara guru dan murid akan memungkinkan penyerapan makna pendidikan secara lebih penuh dan mandalam untuk mencapai tujuan.

Terlebih, virus Covid-19 memunculkan perubahan tatanan kehidupan. Tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Guru dengan segala keterbatasan kondisi dan pembatasan gerak tatap muka diharuskan bisa menyesuaikan keadaan dengan mencari inovasi metode pemanfaatan jaringan online menunjang sistem pembelajaran. Sehingga pembelajaran tetap terlaksana dengan baik walaupun diadakan secara daring dan tatap muka terbatas.

Peranan Guru di Masa Sekarang

Pertanyaannya adalah, bagaimana seorang guru dapat mengambil peran dari tema slogan HUT ke-76 PGRI dan HGN 2021 sesuai dengan tugas dan kewajiban sebagai guru?

Jika reformasi birokrasi diarahkan pada pelayanan publik yang prima, maka sebagai guru harus memberikan pelayanan kepada siswa secara prima. Peran guru juga selalu memberikan pelayanan yang terbaik bagi peserta didik. Guru harus mengutamakan reorientasi pelayanan yang terus menerus ke arah yang lebih baik. Sehingga implementasinya adalah selalu mencari cara terbaik dalam pembelajaran dan bimbingan, membuat terobosan-terobosan baru yang memungkinkan siswa dapat belajar dengan baik dalam mewujudkan merdeka belajar.

Peran strategis lain yang dapat dimainkan guru adalah sebagai pemersatu bangsa melalui dunia pendidikan. Keberadaan guru di Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke. Mulai dari wilayah perkotaan sampai wilayah terbelakang, sosok pengabdian guru tak pernah tergantikan. Peran strategis guru menjadi pemersatu bangsa turut berkontribusi menjaga dan merawat Negara Indonesia.

Bijak dalam berkomunikasi dengan menggunakan teknologi digital sangat perlu diperhatikan, khususnya pada tata etika berkomunikasi dan bijak dalam memanfaatkan media sosial. Hal ini menjadi kebutuhan praktis mendominasi aktivitas  sehari-hari.

Terkait dengan etika berkomunikasi, maka guru diharapkan dapat membangun suasana yang kondusif di media sosial. Tidak menyampaikan dan menyebarkan berita yang berisi ujaran kebencian, perihal suku, agama, dan ras (SARA), dan tetap menjaga integritas maupun loyalitas merupakan etika dalam berkomunikasi. Sehingga di era kemajemukan ini, sosok guru menjadi perpanjangan tangan pemerintah sebagai perekat dan pemersatu bangsa.

Guru dalam tradisi Jawa memiliki filosofi sebagai sosok yang digugu dan ditiru. Sosok yang menjadi panutan siswa dan masyarakat. Oleh karena itu marilah kita berusaha untuk menjadi guru yang selalu ditunggu kehadirannya, dirindu keberadaannya, diburu ilmunya, dinanti nasihatnya, dan ditiru tingkah lakunya. Semua pengabdian guru hanya untuk mendapatkan ridho Allah demi agama, nusa, dan bangsa.

Selamat Hari Guru Nasional!

Penulis adalah Guru SDN 1 Kedungsarimulyo, Welahan, Jepara.