Ole Gunnar Solskjaer. Foto: dok/manud

Oleh: Amir Machmud NS

// dia meniti buih di empasan badai/ perjalanan yang tak juga sampai/ di pusaran ombak yang enggan dibujuk tenang/ mati-matian dia merayu laut/ dengan sesaji yang disyaratkan/ tiba jugakah masa yang tak dia kehendaki/ saat takdir memaksananya menepi?//
(Sajak “Takdir Solskjaer, Takdir MU”, 2021)

OLE Gunnar Solskjaer memang tidak sepatutnya menyerah. Manchester United harus melangkah gagah. Tetapi, apakah dia dan pasukannya tetap dalam rasa percaya diri yang merekah?

”Saya sudah melangkah terlalu jauh, kami telah melangkah terlalu jauh sebagai sebuah kelompok. Terlalu dekat untuk menyerah sekarang,” tutur Solskjaer seperti dikutip Manchester Evening News.

Dia melanjutkan, ”Ini memang sulit. Para pemain akan terpuruk, namun ada banyak karakter di sana. Kami tahu sedang dalam titik terendah, kami tidak bisa merasakan yang lebih buruk lagi daripada ini”.

”Ini adalah perasaan yang terburuk. Kemenangan tidak kunjung datang, penampilan bagus tak kunjung tampak, kami kebobolan terlalu banyak gol, terlalu banyak gol mudah, dan itu adalah sebuah kekhawatiran…”

Orang mungkin berpikir, selepas kekalahan memalukan 0-5 dari Liverpool di Old Trafford, Solskjaer akan mengundurkan diri atau dipecat, namun apa kata pelatih asal Norwegia itu?

”Saya tidak mendengar hal lain (tentang masa depan saya), dan saya masih memikirkan tentang pekerjaan besok. Tentu saja kami semua terpuruk, saya tidak bisa mengatakannya sekarang pernah mengalami hal buruk lebih dari ini, ini adalah yang terburuk, yang terendah yang pernah saya alami. Tetapi saya menerima tanggung jawabnya, dan tanggung jawab itu adalah milik saya pada hari ini dan ke depannya…”

Menempuh Badai
Bayangkanlah MU dan Solskjaer berlayar menyibak Lautan Hindia, berjuang menghadapi amuk gelombang dalam amarah badai dahsyat. Mereka telah teruji menempuh aneka rute, namun tak urung badai membuat oleng keseimbangan konfidensi.

Solskjaer ingin ketangguhan seperti Sinbad, yang dengan kekerasan hati mengajak bertahan melawan badai ciptaan Al Thamen. Badai yang membuat lumer kepercayaan diri!

Awak kapal Sinbad kehilangan arah. Bahkan di rumah sendiri, di Stadion Old Trafford, sepasukan “jin” yang dipimpin Juergen Klopp menciptakan badai dahsyat. Para kesatria seperkasa Cristiano Ronaldo, Marcus Rashford, Mason Greenwood, Paul Pogba, dan Harry Maguire tak kuasa keluar dari remasan alam.

Terpuruk di Theater of Dream, inikah pertanda karam perahu Sinbad?

Benarkah ketidakstabilan bahtera Soslkjaer akan mengakhiri petualangan di lautan ganas Liga Primer? Atau masih menunggu satu rute lagi, seperti apa perjalanan menghadapi Tottenham Hotspur dan Manchester City?

Badai bahkan makin dahsyat. Dan, “hukum laut” menegaskan, nakhoda harus tahu diri. Solskjaer bukan Sinbad yang telah terbukti menaklukkan aneka rintangan, kesaktian lawan, dan sihir yang mencoba mereduksi kepahlawanannya.

Akhir Pahit Kebersamaan
Seharusnya takkan ada akhir kebersamaan, karena Solskjaer toh tetap tercatat sebagai legenda MU. Si Super-Sub ini punya posisi tersendiri dalam sejarah Setan Merah. Bersama Teddy Sheringham, dia menciptakan keajaiban final Liga Champions 1999, dengan dua gol pembalikan pada detik-detik akhir melawan Bayern Muenchen.

Pada awal kehadiran sebagai pelatih di Old Trafford, dia mengukirkan harapan dengan rangkaian kemenangan dan posisi klasemen. Di bawah restu “The Godfather” MU, Sir Alex Ferguson, The Baby Face Assassin itu meraih kepercayaan keluarga besar Manchester Merah.

Kucuran dana besar, antara lain untuk mendatangkan Bruno Fernandes dan Ronaldo menggambarkan proyeksi tim Solskjaer yang layak meraih trofi.

Namun, lima laga terakhir musim 2020-2021 meluruhkan segalanya. Kritik membanjir, betapa MU-nya Solskjaer belum punya “identitas” permainan.

Tanpa kemenangan dari rentetan lima laga, dipuncaki kekalahan 0-5 dari Liverpool, memunculkan spekulasi kencang. Sejumlah nama diapungkan sebagai calon pengganti. Mulai dari Zinedine Zidane, Antonio Conte, Ernesto Valverde, Ryan Giggs, dan Laurent Blanc.

Filosofi dan Identitas
Sejak Alex Ferguson lengser pada 2013, belum satu pun penerus yang mampu menjaga filosofi MU. Di bawah David Moyes, Ryan Giggs (sebagai karteker), Jose Mourinho, dan Louis van Gaal, MU tak punya identitas sebagai tim yang selalu berada di empat besar pada era Ferguson.

Pemilihan Solskjaer menjadi kejutan terbesar. Eks striker yang lekat sebagai “super-sub” itu tidak memiliki jejak mentereng kepelatihan. Sentuhannya di Cardiff City biasa-biasa saja. Dia hanya bermodal dukungan Fergie dan relasi kultural.

Setiap pelatih yang ditunjuk selalu membersitkan harapan. Moyes, yang mampu menstabilkan permainan Everton, sempat diklaim cocok dengan filosofi Sir Alex dan MU. Sementara itu, Mourinho yang sukses di klub-klub asuhannya, diidamkan dan mengidamkan bakal ber-chemistry dengan MU.

Van Gaal yang sarat reputasi dinilai cocok untuk membangkitkan Setan Merah. Nyatanya, dia juga mental. Lalu hadirlah Solskjaer yang sempat mengembuskan harapan, namun pada musim ketiganya, mulai terlihat ketidakstabilan performa tim. Yang paling mencolok, Harry Maguire dkk belum mengetengahkan “karakter MU”.

Suara-suara “Ole out” makin menggema. Laga melawan Liverpool menjadi batas kesabaran. Skor 0-5 sangatlah memukul untuk rivalitas khusus antardua pengoleksi terbanyak trofi Liga Inggris itu.

Mungkinkah Ole Gunnar Solskjaer dipertahankan?

Kehadiran Ronaldo dan para bintang incaran belum mengangkat performa tim. Namun, siapa bisa menjamin nama-nama pelatih yang diajukan bakal mengembalikan kejayaan?

Laga-laga “neraka” akan menjadi penentu keputusan manajemen MU. Misalnya, seperti apa hasil pertarungan versus Tottenham Hotspur akhir pekan ini. Belum lagi melawan Manchester City dan Atalanta di Liga Champions.

Kapal Setan Merah membutuhkan pelaut sekuat Sinbad untuk menghadapi gelombang dan guncangan-guncangannya…

— Amir Machmud NS, wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan penulis buku —

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here