Ilustrasi: PP IPM

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

JC Tukiman Tarunasayoga

Saat ini, perhatian pemerintah terhadap kaum muda sangat besar. Contohnya, di Palembang (Sabtu, 23/10) Menteri BUMN menegaskan: Generasi muda hendaknya (baca: harusnya) terlibat langsung dalam ekosistem digitalisasi yang saat ini perkembangannya melesat cukup signifikan.

“Terkait dengan ekosistem digital. saat ini di Amerika Serikat telah ada sekitar 200 perusahaan unicorn, di China sekitar 100 an perusahaan, sedang di Indonesia baru ada delapan perusahaan unicorn, itu pun sebagian besar masih dikuasai asing.”  

Pada tahun 2025 (tiga tahun lagi bukan?) potensi ekonomi digital secara global akan mencapai 23.000 milliar dollar AS. Dan pada masa itu kontribusi Indonesia diperkirakan baru sekitar 124 milliar dollar AS.

Intinya, tantangan untuk kaum muda sangatlah jelas. Contoh lain, pada Hari Santri 2021 kemarin, Bapak Presiden Joko Widodo juga memberikan tantangan kepada para santri untuk berkiprah dalam dunia/kegiatan kewirausahaan. Tantangan yang sangat jelas dan realistis.

Kalau kepada kaum muda diberikan tantangan, selayaknya kepada kaum tua juga diberikan tantingan sehingga adil: Yang muda ditantang, yang tua ditanting. Tantingan apa paling pas untuk kaum tua saat ini? Mari kita temukan/rumuskan bersama.

Ditantang

Tantang, ditantang,  mengandung arti diajak kerengan, yaitu diajak berkelahi. Nah, ajakan berkelahi semacam itu harus kita terjemahkan lebih positif, yaitu siapa pun (kaum muda) diajak untuk berani berhadapan dengan tantangan konkret bagaikan berani untuk diajak “berkelahi” berhadapan dengan masalah-masalah ekosistem digital dan berwirausaha.

Baca Juga: Nguber UBER Gondhol THOMAS

Ajakan itu mengandung dorongan dan harapan; yakni apabila kaum muda berhasil dalam ekosistem digital dan berwirausaha, niscaya kemajuan-kemajuan secara ekonomi akan dicapai signifikan.

Sedangkan tanting, ditanting, arti lurusnya ialah   (1) dilanting, yaiku dijunjung sarta diumbulake supaya ora kena banyu; yakni membawa sesuatu secara diangkat tinggi-tinggi agar tidak terkena air, contohnya ketika terjadi banjir atau pas menyeberangi sungai;  (2) ditimbang sarana barange ana ing tangan kiwa lan tengen; yakni, menimbang sesuatu dengan cara barangnya ditaruh di tangan kiri dan tangan kanan.

Sedang arti (3) ialah ditari, ditakoni gelem lan orane; yaitu orang ditanya mau atau tidak diajak melakukan sesuatu. Contohnya, cewek yang sedang dilamar, nah……si cewek ini ditanting, ditanya, mau ataukah menolak lamaran itu. Dia harus memberikan jawaban, dan tidak mungkin hanya diam saja atau bahkan malah ngumpet.

Jika tantangan untuk kaum muda sangat jelas, tidak demikian halnya dengan tantingan untuk kaum tua. Apa saja tantingan yang pas untuk kaum tua saat ini?

Saya mengusulkan model berpikirnya Ki Hadjar Dewantara yang perlu disodorkan kepada kaum tua saat ini; yakni apakah kaum tua mau tetap ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, ataukah tut wuri handayani?

Ada fakta, banyak kaum tua yang tidak/belum rela lengser dari posisinya saat ini karena merasa masih kuat, mampu bahkan masih lebih arif dibanding yang muda-muda. Kalau memang maunya masih “bertengger” ya sebaiknya Anda tetap harus menjalankan peran ing ngarsa sung tuladha. Anda harus terus menjadi teladan bagi yang muda-muda.

Bagi kaum tua yang inginnya tetap  ing madya mangun karsa ya silakan saja asalkan betul-betul menjadi penggerak bagi kaum muda. Demikian pula bagi yang memilih untuk tut wuri handayani, yah… dampingilah dan doronglah kaum muda, jangan sebaliknya sering dihalang-halangi atau dirusuhi (diganggu).

Intinya, kaum tua ditanting untuk memilih antara tiga sikap hidup itu, dan konsekuen ketika sudah memilih salah satunya. Jangan milih tut wuri handayani namun terus dan masih “memegang ekor”  agar kaum muda tidak bergerak.

(JC Tukiman Tarunasayoga, Pengamat Kemasyarakatan )

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here