Kepala Disparbud Wonosobo Agus Wibowo ketika menyampaikan konferensi pers event FSS. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO(SUARABARU.ID)-Festival Sindoro Sumbing (FSS) Platform Indonesiana tahun 2021 siap digelar Pemkab Wonosobo bekerjasama dengan Pemkab Temanggung dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Tehnologi (Kemendikbudristek) RI.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dispartabud) Wonosobo Agus Wibowo dalam konferensi pers di Pendopo Bupati setempat, Kamis (14/10), mengatakan puncak FSS Platform Indonesiana, akan digelar Rabu (27/10) malam di Gedung Adipura.

“Dalam perhelatan tersebut akan ditampilkan pagelaran Wayang Kedu Gagrak Wonosaban dan Gagrak Temanggung dengan dalang Ki Agus Suprastya SSn (Wonosobo) dan Gunawan Purwoko SSn(Temanggung),” jelasnya.

Pertunjukan wayang khas daerah Wonosobo dan Temanggung itu, selain dapat disaksikan langsung secara terbatas, juga akan ditayangkan secara virtual melaui live streaming Temanggung TV dan WEB TV.

“Acara didahului dengan tari pembuka dati Wonosobo garapan koreografer Agung Wahyu Utomo dan Wahyu Widowati. Tamu undangan terbatas, dari Kemendikbud, Pemprov Jateng, Pemkab Temanggung dan Wonosobo, BPNB, Balai Bahasa, BPCB dan Balai Arkeologi Yogyakarta,” tegasnya.

Konser Bundengan

Wayang yang akan ditampilkan dalam pagelaran Wayang Kedu Gagrag Wonosobo. Foto : SB/Muharno Zarka

Direktur FSS Agus Wuryanto menambahkan, dalam FSS Platform Indonesiana juga digelar Konser Bundengan (virtual tapping) yang memadukan seni klasik dan kontemporer. Konser Bundengan akan dilaksanakan awal November 2021 di Gedung Adipura.

“Konser Bundengan Tapping akan digeber Sabtu (6/11) dan penayangan pada Jumat (13/11). Musik Bundengan klasik dan kontemporer akan dikolaborasikan dengan tari topeng lengger klasik. Dalam event tersebut juga akan ditampilkan seniman perempuan dan disabilitas,” bebernya.

Menurut Agus, Sindoro-Sumbing sebagai branding FSS, merupakan dua nama gunung yang berada di wilayah Wonosobo dan Temanggung. Di dua wilayah lereng gunung tersebut, menyimpan potensi seni dan budaya. Baik tradisi lisan, ritus, adat-istiadat dan seni tradisional lainnya.

“Hal itu, tentu membutuhkan kehadiran pemerintah melalui Platform Indonesiana, agar kolaborasi kegiatan seni dan budaya, berjalan dengan baik. Sehingga ada dampak ekonomi, seni budaya maupun pariwisata. Dalam FSS juga ada kampanye pelestarian lingkungan melalui media seni dan budaya,” bebernya.

Ditambahkan Agus, rangkaian kegiatan FSS, sebenarnya sudah dimulai sejak bulan Juli 2021 bersamaan dengan prosesi Hari Jadi ke-196 Wonosobo 2021. Yakni berupa ritus Birat Sengkala dan Pisowanan Agung yang dikemas secara terbatas karena masih dalam suasana pandemi global Covid-19.

Muharno Zarka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here