Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, menerima audiensi Putri Batik Remaja Indonesia 2021 asal Jawa Tengah, Calista Amadea Sacharissa Putri Pratama, Senin (4/10/2021).(doc/ist)

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Generasi muda mempunyai peran penting dalam menjaga kelestarian batik Indonesia sebagai warisan budaya. Diantaranya mempopulerkan keragaman motif batik nusantara, menggiatkan belajar membatik, serta terus berinovasi mengembangkan batik dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat audiensi dengan kontestan Putri Batik Remaja Indonesia 2021 asal Jawa Tengah, Calista Amadea Sacharissa Putri Pratama, di ruang kerja wakil gubernur, Senin (4/10/2021).

“Jawa Tengah sudah lama terkenal dengan batiknya. Ada batik Pekalongan dan hampir di 35 kabupaten dan kota di Jateng ada batiknya. Harapan kami, saat ini UNESCO yang sudah mengangkat batik menjadi budaya warisan untuk Indonesia perlu kita tingkatkan, terutama dari kalangan anak muda,” katanya.

Di hadapan Calista Amadea dan Lucette Management, Taj Yasin menjelaskan tentang pentingnya peningkatan ekonomi di sektor batik dan kelestarian lingkungan. Generasi muda diharapkan ikut andil dalam mengarahkan para pelaku industri batik supaya memanfaatkan bahan-bahan alami sebagai pewarna batik yang ramah lingkungan.

Penggunaan pewarna alami juga kita dorong. Jadi batiknya laris tapi lingkungannya juga harus dipikirkan, jangan sampai ada pemberitaan batiknya maju tapi lingkungannya jorok. Nanti adik-adik ini punya inovasi banyak sehingga bisa mengarahkan para pelaku industri batik,” terangnya.

Taj Yasin mencontohkan penggunaan tanaman mangrove sebagai pewarna batik alami dan ramah lingkungan. Selain itu juga pemanfaatan lumpur sawah untuk menghasilkan warna alami pada kain batik, dan bahan-bahan pewarna kain alami lainnya yang tidak mencemari sungai maupun lingkungan sekitar.

“Kemarin saya di Kendal, ada perajin batik pewarnaanya menggunakan lumpur karena terinspirasi orang tuanya yang biasa ke ladang, terus dia mencuci baju bapaknya sampai dua hari nodanya tidak hilang, kemudian muncul ide sebagai pewarna batik,” bebernya.

Selain itu, generasi muda juga harus mengenalkan dan mempopulerkan beragam motif batik di setiap daerah. Terlebih hampir di semua kabupaten dan kota di Jateng mempunyai corak batik yang khas. Seperti batik Pekalongan dan Lasem yang menonjolkan motif pesisiran, Kota Semarang dominan flora dan fauna, serta Solo, Sragen, dan Brebes dengan motif klasik.

Saat ini, kata dia, tidak sedikit masyarakat lebih memilih mengenakan tekstil motif batik atau printing. Selain harganya lebih murah dibanding kain batik cap atau tulis, juga karena sekarang perajin batik tulis semakin berkurang, terutama perajin batik dari kalangan anak muda. Maka kegiatan membatik perlu digiatkan di kalangan pelajar, salah satunya melalui kegiatan ekstrakurikuler membuat batik tulis.

“Ini ada putri dari Jateng yang mengikuti kontes Putri Batik Remaja Indonesia, kita doakan bersama-sama dan kita support untuk memfollow dan dukungan sehingga bisa mengangkat batik yang ada di Jateng. Untuk adik-adik muda yang mau membatik, nanti kita kenalkan di sekolah-sekolah. Saya berharap di sekolah ada ekstrakurikuler membatik.” kata Taj Yasin.

Sementara itu, Calista Amadea mengaku sangat senang mendapat dukungan dari Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, untuk mewakili Jateng pada ajang pemilihan Putri Batik Remaja Indonesia yang digelar pada 4-7 November 2021. Siswa kelas XII SMAN 4 Semarang itu, akan berupaya maksimal mengenalkan dan memajukan produk batik Jawa Tengah.

“Saya senang banget sudah dibantu dengan supportnya dan doanya. Tadi banyak masukan dari Pak Wagub, jadi setelah ini akan lebih belajar lagi tentang ragam motif batik Jawa Tengah itu apa saja, juga tentang masalah kelestarian alam yang harus tetap dijaga, dan pewarnaannya juga bisa diambil dari alam,” bebernya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here