Bakar kemenyan (ilustrasi)

KERABAT saya tahun 1995 kena gondok. Karena takut operasi, bersama teman karibnya yang juga kena gondok, mereka ikhtiar dengan cara lain, yaitu mendatangi orang pintar  yang jaraknya sekitar 7 km dari rumahnya.

Mereka berdua kemudian mencari alamat yang diberikan kerabatnya. Yang dia ingat, nama orang pintar itu akhirannya “man” dan tinggal di barat jalan raya. Oleh warga mereka ditunjukkan rumah kelewat sederhana di bawah rumpun bambu, dan di sekitar rumah penuh barang rosokan.

Keduanya kemudian  bertamu. Setelah diterima tuan rumah, mereka  mengutarakan mengidap  gondok dan ingin diobati. Tuan rumah itu lalu menuangkan air dari teko pada dua gelas kemudian mulutnya komat-kamit sambil menyelupkan jari telunjuknya pada air dalam gelas.

Setelah itu keduanya disuruh minum.  Teman kerabat saya tanpa pikir panjang langsung minum air itu, sedangkan kerabat saya pikirannya lebih tertuju kepada kuku orang pintar yang panjang, hitam, dan kotor.

Karena merasa “geli” kerabat saya pilih tidak mau minum. Namun  karena menghargai tuan rumah, dia pura-pura minum, sebatas menempelkan bibirnya pada air dalam gelas itu.

Syarat lain agar sesampai rumah langsung membakar kemenyan dan bunga semboja, juga tidak dilakukan karena bertentangan dengan hati nuraninya. Dan apa yang kemudian terjadi?

Teman kerabat saya gondoknya kempes atau bisa dibilang hilang, sedangkan kerabat saya tidak mengalami keajaiban apa pun. Dia lalu pilih jalur operasi di rumah sakit yang jaraknya juga tidak  jauh dari rumah orang pintar itu.

Tekat, Mantap

Terkadang keyakinan dan ketulusan bisa memunculkan keajaiban, atau bahasa kerennya, “energi mengikuti pikiran”. Kesimpulannya, hal yang berkaitan metafisika, itu kata kuncinya, yakin.

Berbagai pengalaman unik yang memunculkan keajaiban karena faktor yakin. Dan seiring dengan perkembangan waktu, dua Ibu yang berobat itu mendapat informasi baru.

Ternyata yang mereka datangi dua bulan yang lalu itu bukan rumah orang yang mereka tuju dari rumah. Mereka nyasar ke rumah tukang becak. Bahwa orang yang didatangi memiliki ilmu pengobatan, itu benar adanya.

Namun dia bukan orang pintar yang direkomendasikan temannya. Informasi yang diterima dari tetangga, tukang becak itu juga ahli tirakat, dan sejak remaja istikamah puasa   Senin – Kamis. Jadi wajar saja jika “ludahnya” manjur.

Massal dan Terbuka

Faktor keinginan untuk sembuh itu menjadi modal utama bagi kesembuhan bagi orang yang berobat. Misalnya, dulu sering ada penyembuhan di tempat terbuka, di pasar, alun-alun,  terkadang di gedung yang dikemas dalam kegiatan keagamaan.

Khas yang ada pada mereka, orang yang semula sakit bisa sembuh, lumpuh berjalan, tuli  langsung bisa mendengar, bahkan kondor pun bisa tampak normal (kempes).

Terlepas hal itu sebagai keajaiban metafisis (gaib) saya justru memandang penyembuhan itu karena faktor keterdesakan. Yaitu, pada saat kritis, seseorang memiliki  kekuatan cadangan yang bisa memunculkan kekuatan luar biasa.

Air putih dalam gelas sebagai pengobatan. Foto: Ilustrasi

Orang yang mau berobat pada lokasi terbuka (umum), ditonton banyak orang itu  orang yang sudah benar-benar terdesak dan atau  niatnya sudah benar-benar total ingin sembuh.

Aslinya mereka itu malu saat ditonton banyak orang, namun karena kesungguhannya untuk sembuh itu yang menyebabkan dia ikhlas menjadi tontonan. Maka, ketika dia menerima sugesti untuk sembuh, spiritnya mampu melawan sakitnya.

Fenomena ini layaknya kisah 100 orang lumpuh yang sebelumnya duduk di atas kursi roda, namun kemudian mereka itu bisa berlarian mencari selamat disaat terjadi gempa bumi di San Fransisco. Begitu halnya orang yang berminat mencari kesembuhan.

Mereka ikhlas ditonton banyak orang,  sehingga spiritnya memicu kesembuhannya. Walau setelah itu dia nanti sesampai di rumah atau beberapa hari kemudian, kesembuhannya itu mulai berkurang dan penyakitnya pun secara bertahap bisa datang kembali.

Ilmu pengetahuan terus meneliti dan mengkaji  segala potensi yang ada pada diri manusia. Orang barat lebih interest meneliti aspek fisik, sedangkan orang timur meneliti aspek spiritualnya.

Berbagai fenomena itu ada yang dikemudian hari dapat dibuktikan melalui berbagai serangkaian penelitian yang rumit, namun ada juga yang belum bisa terungkap secara menyeluruh.

Masruri, penulis buku, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here