Ilustrasi.

PERNAH dinasihati mantan lurah begini: “Jalani kehidupan dengan tenang, tidak perlu risau dengan persoalan hidup. Tuhan itu memberi beban kepada hamba-Nya sesuai kemampuannya, ora ana kebo kabotan sungu.”

Kata beliau, asal kaki melangkah, tangan bergerak, mulut berdoa, maka selalu ada jalan keluar dari setiap persoalan, baik itu rezeki yang diupayakan, maupun yang tidak disangka-sangka.

Mbah Lurah mengisahkan, awal Orde Baru dia pernah diancam masuk bui karena diduga memakai uang pajak  hingga belum setor ke atasan. Padahal penyebab utamanya itu karena banyak warga belum semua membayar pajak karena paceklik.

Untuk mempertanggungjawabkan uang itu dia niat menjual sebagian tanah, namun sulit laku. Pinjam kerabat, hasilnya nihil. Dia lalu ingat pesan ayahnya, jika ada masalah rumit, ketuklah pintu langit. Dia lalu ambil air wudhu, masuk kamar dan membaca istighfar, salawat, “doa 1.000 dinar”, dan doa apa saja yang dia bisa.

Pada hari keempat dia dikagetkan dengan kedatangan lima tamu. Semula tamu itu dikira petugas dari kabupaten yang mau menjemputnya dan dia sudah pasrah jika harus masuk tahanan. Namun dugaan itu meleset.

Mereka itu petugas dari pabrik gula yang berminat menyewa tanah bengkok atau fasilitas lurah untuk ditanami tebu. Problem yang dialami pun terselesaikan. Dan uniknya, nilai sewa yang ditawarkan itu sejumlah uang yang diperlukan.

Pengalaman tertolong di saat terdesak itu sensasinya luar biasa, dan itu menambah keyakinan bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan Mahamengabulkan apa yang kita perlukan, dan bukan apa yang kita inginkan.

Terkadang, Tuhan memberi secara unik dan diawali bikin “mulas” dulu, namun semua akan berakhir dengan kebahagiaan, layaknya orang  kehausan di tengah padang pasir, kemudian menemukan sebotol air.

Doa 1.000 Dinar

Setiap orang pernah mengalami kondisi yang secara logika sulit diselesaikan, namun tiba-tiba datang jalan keluar yang tidak diduga-duga sehingga masalah pun selesai dengan baik.

Tradisi supranatural, untuk mendapatkan “amunisi-dadakan” disaat kritis itu dapat dengan banyak  “menabung energi spiritual.” Sesuai hadis Nabi SAW: “Kenalilah (ingatlah) Allah disaat suka, maka Allah akan mengingatmu disaat susah.” (HR. Tirmidzi)

Dikalangan santri, teknik menabung energi metafisis itu dilakukan dengan wirid atau amalan doa rutin. Misalnya, yang berkaitan rezeki itu dengan merutinkan “doa seribu dinar” ayat 2-3 Surat At-Talaq. Selain secara lisan, juga disertai menghayati artinya.

Wa may yattaqillaha yaj’al lahu makhraja. Wa yarzuq-hu min haitsu la yahtasib, wa may yatawakkal ‘alallahi fa huwa hasbuh, innallaha baligu amrih, qad ja’alallahu likulli syai’ing qadra.

Artinya : “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Ketika membaca amalan disertai memahami artinya. Ketika lisan (syariat) sudah menyatu dengan hati (hakikat) power dari amalan itu lebih maksimal. Apalagi disertai kondisi keterdesakan seperti yang dialami Lurah itu.

Ilustrasi.

Keajaiban Tukang Cuci

Tentang rezeki yang tidak diduga itu pernah saya alami Oktober 2016. Saya kedatangan perjaka tua yang sering saya motivasi segera menikah. Dia pekerja serabutan, kadang tukang batu, cuci mobil, dsb.

Dia telat menikah karena faktor materi, yaitu belum ada uang untuk melamar dan resepsi. Saat dia saya tanya kapan menikah? Dia jawab, “Sudah ada pandangan, tapi belum berani karena belum ada duit. Sampeyan itu hanya membantu modal “abab” (ucapan/nasihat) saja. Saya lebih perlu uang, bukan motivasi. Seperti motivator saja!”

Setelah pulang, saya mikir bagaimana bisa membantunya. Saya merenung sambil rebahan. Saat ngantuk muncul lintasan “ilham” nomor urut tiga pasangan calon Pilkada DKI. Saya lalu SMS beberapa teman prediksi  “Pasangan siapa, dapat nomor urut berapa” dan malamnya, dan prediksi itu tepat.

Mereka yang menerima SMS itu memberi ide agar saya mengadakan pelatihan on-line. Logikanya, jika tiga nomor urut bisa terdeteksi, maka siapa nanti yang akan unggul, tentunya bisa diketahui.

Teman itu langsung gerak cepat. Dia membuat konsep iklan on-line dan saya menyetujuinya. Pelatihan on-line dengan Tiket pelatihan Rp.300.000 diikuti 40 peserta. Dan semua saya sumbangkan teman yang saya provokasi segera menikah itu, plus hak EO tentunya.

Buang Senang Dapat Senang  

Saya percaya konsep  “buang senang, dapat senang” itu terbukti. Saya” membuang” (berderma) lalu mendapat uang yang jumlahnya kemudian lebih banyak karena setelah pelatihan pertama kemudian  menyusul pelatihan  berikutnya, dengan materi yang berbeda.

Konsep macam ini mirip tradisi “uang balik” yaitu uang pertama yang didapatkan dari perniagaan, jika di pasar, sebagiannya dibelikan makanan lalu dibagikan sesama pedagang. Intinya uang awal itu “dilepas” (disedekahkan) biar mengundang “teman-temannya” berdatangan.

Jadi, yang disebut “Uang Balik” itu bukan uang yang dibelanjakan lalu secara ajaib kembali ke pemiliknya. Melainkan uang yang dibelanjakan dijalan Tuhan, lalu dikembalikan lagi yang lebih banyak oleh Allah. Karena Dia memiliki sifat Al-Muid (Yang Maha Mengembalikan) dan Al-Ghaniyy (Yang Mahakaya).

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika, penulis buku tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here