Foto: dok/atleticomadrid

Oleh: Amir Machmud NS

// klub adalah rumah/ tempat raga diteduhkan/ tempat rasa dilabuhkan/ saat mereka dihirukpikukkan kepindahan/ saat itu jiwa-jiwa sedang mencari rumahnya/
(Sajak “Rumah Para Pemain Bola”, 2021)

SAATNYA dia pergi, saatnya dia mencari, ada pula saat dia kembali…

Ketika Antoine Griezmann akhirnya “pulang” ke Wanda Metropolitano, percayalah, dia sedang melabuhkan kembali rasa di klub yang telah mengorbitkan dan meroketkannya.

Di Atletico Madrid, Grizzou akan bertemu dan bergembira dengan teman-teman lama, lalu bertandem dengan Luis Suarez, eks Barcelona yang juga pernah bekerja sama dengannya di Camp Nou. Pemain Prancis itu bakal berjuang menemukan kembali sebagian kehebatannya yang kurang tertuntaskan di Barca.

Walaupun berstatus hanya sebagai pemain pinjaman, di sini dia takkan dibayangi oleh sinar kebintangan pemain lainnya, seperti ketika harus “mati-matian” berjuang meyakinkan Lionel Messi sebagai tandem yang pantas.

Hampir tak berbeda dari Griezmann, Cristiano Ronaldo juga meniti arah perjalanan sepak bolanya dengan tema “kembali ke rumah”. Setinggi apa pun dia melanglang, di Real Madrid sepanjang 2009-2018, dan di Juventus 2019-2021, akhirnya CR7 memutuskan pulang ke habitat yang sejati, Old Trafford. Dalam rentang 2003-2009 dia menjadi bagian dari deret utama pasukan Setan Merah.

Kisah Grizzou dan Ronaldo berbeda dari perjalanan Lionel Messi dan Sergio Ramos. Kedua pemain yang pernah menjadi seteru dalam el clasico La Liga itu, menempuh rute jalan menuju rumah yang sama. Ramos, kapten Real Madrid dan Messi kapten Barca, membangun rumah yang betul-betul baru, Paris St Germain.

Dan, sebenarnyalah rute kedua bintang La Liga itu mirip dengan yang dilakoni oleh Jadon Sancho, Raphael Varane, Gianluigi Donnarumma, Achraf Hakimi, atau Memphis Depay. Menuju rumah baru!

* * *

HIRUK pikuk dalam lalu lintas pemain mencari dan menemukan “rumah”, menjadi potret keniscayaan saat jendela transfer dibuka, pada setiap musim. “Rumah” terartikulasikan sebagai tempat berkarier, yang acapkali penuh ketidakpastian bagi pemain, sebintang apa pun: apakah dia akan cocok, kerasan, dan bisa menumpahkan potensi kehebatan? Atau justru dia menemukan kenyataan yang berbeda; gagal beradaptasi dengan ekosistem klub, tak bisa merasuk ke dalam taktik pelatih, terlilit cedera berkepanjangan, dan gagal menemukan harmoni relasi perasaan antarmanusia, yang akhirnya membuat dia kehilangan sentuhan kemampuan?

Nasib Philippe Coutinho di Barca, Thiago Alcantara di Liverpool, Eden Hazard bersama Real Madrid, atau Timo Werner di Chelsea menjadi realitas yang menegaskan, betapa tak semudah itu mengatasnamakan profesionalitas sebagai “mantera” bersaing dalam unjuk kompetensi. Akan selalu ada elemen-elemen hati, rasa, dan kemanusiaan yang berbicara.

Perjalanan spekulatif menemukan “rumah” ini, agaknya berbeda dari kisah pemain dengan watak khusus seperti Mario Balotelli atau Antonio Cassano, sebagai bagian dari sejarah talenta yang cepat meredup karena ulah mereka sendiri. Bakat mereka menguap lantaran kegagalan untuk membangun kesadaran profesional, yang antara lain harus mengelola kemampuan beradaptasi dengan lingkungan.

Pada contoh yang berseberangan, kita mengenal nama-nama yang dikenal sebagai l’enfant terrible seperti Bernd Schuster, Stefan Effenberg, Eric Cantona, Romario Faria, Zlatan Ibrahimovic, David Ginola, atau Patrick Vieira; namun bukankah sebengal apa pun mereka, kesadaran profesional menjadi prioritas dan tak membuat kehilangan masa edar di orbit elite?

Effenberg berumah dengan nyaman di Bayern Mucnchen, Cantona menjadi “raja” di Manchester United, Ibrahimovic menemukan kegembiraan bersama Internazionale Milan dan di AC Milan, Ginola menciptakan kisah manis di Newcastle United, sedangkan Vieira dengan lakon perjalanan di sejumlah klub, adalah ikon Arsenal.

Bagi seorang pemain, “rumah” adalah habitat yang akan meracik adonan kenyamanan tinggal dan bermain, kerinduan, ekspresi profesionalitas, dan masa depan ketika kelak telah menanggalkan baju profesinya.

Griezmann, dalam masa peminjaman dan opsi lain penetapan kontrak, bisa saja tak akan mengakhiri karier di Atletico Madrid. Sementara itu, dengan durasi kontrak dua tahun di MU, Ronaldo bisa pula memilih menutup perjalanan sepak bolanya di Major Soccer League, Amerika Serikat yang menjadi pelabuhan tujuan akhir sejumlah bintang terdahulu.

Messi dan Ramos pun masih menjadi teka-teki, apakah menemukan kecocokan atmosfer dan memilih mengakhiri karier bersama Les Parisiens. Dari deretan kisah itu, kita mencatat satu hal: sepak bola tak menjadikan para pemain melepaskan sisi-sisi kemanusiaannya.

Ada saatnya dia pergi, ada saat dia mencari, ada pula saat dia kembali…

— Amir Machmud NS, wartawan senior, kolumnis sepak bola, dan penulis buku —

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here