Penjual obat di lapangan. (Ilustrasi)

DULU awal kali saya mulai menekuni profesi menulis, saat melintas depan pasar tak jauh dari rumah, saya dibuat takjub saat menonton tukang jual obat sedang memeragakan kemampuannya.

Yaitu, ada anak usia 15-an tahun yang tampak lumpuh kedua kakinya dan ketika datang ke lokasi digendong ayahnya untuk mendatangi tukang obat yang berpenampilan seperti kiai berpakaian serba putih.

Namun karena  sakitnya dianggap berat, lalu diberi jadwal setelah pasien lain ditangani. Keberadaan anak lumpuh itu, menyebabkan kerumunan pengunjung pasar semakin banyak karena ingin menyaksikan saat mengobati orang lumpuh itu.

Apalagi yang jual obat itu berani meyakinkan kepada yang hadir disitu bahwa yang sakit lumpuh itu nanti bisa sembuh seketika. Jam 10.00 seperti yang dijanjikan, “orang pintar” itu mempersilakan keluarga untuk membawa adik yang tampak lumpuh.

Spontan, penonton pun semakin bertambah banyak. Saat anak itu dibaringkan pada hamparan tikar, tukang obat melantunkan doa-doa, setelah anak itu berbaring pada tikar lalu dipukul dengan selendangnya dan diperintah untuk berdiri.

Awalnya dia mampu berdiri, namun kemudian terjatuh hingga dilakukan pemukulan sorban kedua. Maka, dia yang semula hanya mampu berdiri, kemudian mulai bisa melangkah tertatih-tatih dan pada sabetan ketiga, dia mampu berjalan normal.

Walau otak logika saya tetap belum mampu namun juga belum mau percaya sepenuhnya. Karena masih ada pertanyaan yang belum terjawab, saya menganggap itu sebagai keajaiban.

Logika saya sempat bertanya, “Andai dia itu benar-benar mampu melakukan itu semua kenapa dia harus capek-capek jualan jamu di tepian jalan? Bukankah lebih baik jika dia membuat “Rumah Sakit Alternatif” di rumah sendiri.

Saat itu saya sudah aktif menulis tentang “Tenaga Dalam” di sebuah harian di Jawa Tengah, dan keajaiban itu saya tulis yang menyebabkan “tukang obat” itu didatangi banyak pasien.

Hubungi saya dengan penyembuh itu semakin akrab bahkan kami saling mengunjungi. Namun ketika saya tanya tentang ilmu ajaibnya, dia menyebut itu ilmu turunan dari kakek dan buyutnya, seorang kiai besar di sebuah desa.

Ilmu itu, katanya tidak bisa diajarkan kepada orang yang bukan jalur nasabnya. Hampir setiap hari saya mengintip saat dia jualan obat. Berbagai keajaiban dia lakukan dan saya belum mampu menganalisisnya.

Dan Ternyata Fenomena ilmu “sembuh seketika” itu mulai agak terkuak ketika saya komunikasi dengan mantan pesulap. Walau analisa saya berkaitan dengan tekniknya, sudah mendekati benar, namun ada bagian yang kurang lengkap.

Bahwa mereka menggunakan figuran, combe, atau banjet itu benar adanya. Mereka bekerja sangat rapi dan sulit diendus kalangan orang awam. Intinya, dalam “permainan” itu melibatkan banyak pihak.

Di antaranya, ada yang berperan sebagai pasien, keluarga yang datang ke tukang obat saat berjualan di depan pasar atau tempat lain, yang memungkinkan aktivitas itu mudah dilihat dan didatangi khalayak ramai.

Detailnya, para dawak atau “penyembuh” berkedok jualan obat itu  punya tim atau dalam bahasa daerah saya (Pati-utara) disebut banjet, ibarat dalam sebuah film, mereka itu berperan sebagai figuran.

Tugas mereka dalam hal ini, secara diam-diam melakukan survei rumah dan lingkungan pasien. Caranya, saat keluarga pulang dari berobat di pasar itu dikuntit. Ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kekuatan ekonominya.

Kepentingan lain, jika target itu dilihat dari golongan ekonomi kuat, diam-diam rumah itu malam hari didatangi lalu ada tim yang menanam “tumbal” di sekitar rumah atau sebatas disisipkan pada celah-celah bangunan atau di antara dua atap rumah.

Dan klimaks dari ulah itu, tuan rumah saat berobat lagi akan dibisiki bahwa di sekitar rumahnya ada tumbal (benda santet) yang harus diambil untuk dilarung ke laut. Atau jika tuan rumah dari kalangan awam, dia akan bermain sulap dengan modal selubung “jempol palsu” atau “Thumbtip lunak”.

Karena ingin sembuh, mereka yang nalarnya kurang panjang itu pilih  mengikuti saran “orang pintar”. Dan berawal dari itu bisa berlanjut trik-trik lanjutan yang semestinya tidak ada kaitan dengan kesembuhan, melainkan lebih motif ekonomi melalui pemerasan yang dikemas dengan ilmu ajaib, bim salabim!

Satu hal yang paling dihindari dari kalangan “orang pintar” pinggir jalanan” itu jika difoto, baik itu foto sendiri atau foto bersama. Alasan mereka karena itu termasuk pantang ilmu. Padahal aslinya, mereka tidak ingin jejaknya setelah pindah dari suatu daerah itu  agar tidak mudah dilacak.

Masruri, konsultan dan praktisi metafisika tinggal di Sirahan Cluwak Pati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here