Ilustrasi.

SYEH Ali Syamsu Zein atau orang Jawa menyebut Ngali Samsujen hidup pada abad XI. Sosok guru spiritual Raja Kediri Sri Aji Jayabaya itu disebut berasal dari Persia. Dia datang ke Jawa dan mengenalkan agama Islam, dan itu tercantum dalam serat Jangka Jayabaya.

Ngali Samsujen punya andil dalam perpolitikan era kerajaan dengan prediksi Jayabaya yang berkaitan  dengan kepemimpinan Indonesia, khususnya tentang “Satriya Piningit” dan konsep “Nata Nagara” tentang prediksi calon pemimpin  Nusantara “bekas” Kerajaan Majapahit.

Ketujuh satria itu digambarkan sebagai Satriya Kinunjara Murwa Kuncara, yaitu tokoh yang sering dipenjara yang dapat membebaskan bangsa dari penjajahan, dan ini  digambarkan sebagai Soekarno.

Selanjutnya Satriya Mukti Wibawa Kesandhung Kesampar, yaitu tokoh yang bergelimang harta, berwibawa, namun selalu dikaitkan dengan keburukan (kesandhung-kesampar). Dia digambarkan sebagai Soeharto. Kemudian Satriya Jinumput Sumela Atur yaitu tokoh yang jinumput (terambil) untuk menggantikan pemimpin sebelumnya, sekadar menyelingi (sumela atur), digambarkan sebagai Habibie.

Setelah era Habibie, muncul yang disebut Satriya Lelana Tapa Ngrame adalah orang yang suka “jalan-jalan” keliling dunia (lelana), berjiwa religius (tapa ngrame). Tokoh ini digambarkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Setelah Satriya Lelana kemudian Hamong Tuwuh, yaitu pemimpin yang muncul karena karisma leluhurnya. Ini digambarkan sebagai Megawati Soekarnoputri. Kemudian dilanjutkan Satriya Boyong Pambukaning Gapura, yang berpindah (boyong) dari menteri menjadi presiden. Ini digambarkan sebagai Susilo Bambang Yudhoyono.

Satrio Pinandhita Sinisihan Wahyu ini dikaitkan sebagai pribadi yang religius bagaikan resi begawan (pinandhita), yang bertindak atas dasar hukum dan petunjuk Tuhan (sinisihan wahyu) sehingga bangsa ini mencapai zaman keemasan.

Siapa Presiden Mendatang?

Menurut ramalan Jaya Baya, Nusantara (Indonesia) kelak memiliki pemimpin yang nama akhirnya ada huruf “Na-ta-na-ga-ra” atau jika ditulis versi Jawa adalah : ” Na-Ta-Na-Ga-Ra”. Kelima ini diyakini dapat me-NATA NEGARA.

Indonesia pernah memiliki enam Presiden. Yaitu, Soekarno, Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, dan kini Joko Widodo. Dan dari sekian presiden, yang sesuai ramalan Jayabaya hanya presiden pertama, kedua, dan yang keenam.

Yaitu, Soekarno (ada huruf Na) dan Soeharto (ada huruf : Ta), Susilo Bambang Yudhoyono (ada huruf Na). Yang menjadi pertanyaan, kenapa Habibie, Abdurrahman Wachid dan Megawati Soekarno putri tidak termasuk dalam “Na-ta-na-ga-ra” itu?

Ramalan tergantung siapa yang menafsiri dan apa kepentingannya. Presiden ke-3,”Habibie’: sekilas tidak ada huruf “na”-nya, Namun, Habibie dalam bahasa Arab artinya “yang terkasih” atau dalam bahasa Jawa, identik dengan nama Sutrisna. Bagaimana dengan Gus Dur dan Mbak Mega?

Tiga Presiden HAM

Spiritualis nyleneh yang menghabiskan hari tuanya di Banyuwangi, satu tahun sebelum pilpres 2004, mengatakan, Susilo Bambang Yudhoyono atau biasa dipanggil SBY itu akan menjadi Presiden ke-4 versi Jaya Baya. Kenapa SBY disebut Presiden ke-4? Padahal yang kita tahu dia Presiden ke-6.

Menurutnya, Indonesia itu memiliki dua jenis Presiden, yaitu Presiden sesungguhnya dan Presiden HAM. Yang disebut Presiden sungguhanya itu yang memiliki nama akhir sesuai ramalan Jayabaya : Na-Ta-Na-Ga-Ra.

Sedangkan Presiden HAM yang masa jabatannya tidak genap lima tahun itu awal namanya ada huruf HAM : Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarno Putri.

Presiden HAM bertugas menegakkan hak asasi manusia (demokrasi) itu disebut “presiden antarwaktu” yang menjabat sambil menunggu presiden yang “dikodratkan” yang punya akhiran nama “N0” yaitu  Soesilo Bambang Yudhoyono.

Srikandi Kembar

Pada akhir pemerintahan Gus Dur, spiritualis itu mengatakan agar Indonesia tenteram, Megawati Soekarnoputri-Siti Hardiyanti Indra Rukmana disandingkan agar memimpin Indonesia. Keduanya digambarkan sebagai “Srikandi Kembar.”

Agar Indonesia makmur dan aman, keduanya perlu diberi tempat terhormat. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Indonesia merdeka karena jasa Soekarno, dan Indonesia makmur karena jasa Soeharto.

Apa mungkin bangsa yang mayoritas muslim itu menerima kepemimpinan wanita?  Dia membandingkan antara nasib anak janda dengan anak duda.

“Wanita  jika ditinggal mati suami, yang ada dalam benaknya bagaimana agar dia bisa mendidik anak-anaknya. Sedangkan lelaki, jika ditinggal mati istrinya, yang dipikir adalah mencari istri baru.”

Masruri, konsultan dan praktisi metafisika tinggal di Siarahan Cluwak, Pati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here