Sejumlah 80 peserta mengikuti webinar dengan tajuk 'Berkreasi dengan Puisi: Jalan Mulus Menembus Dunia', yang digelar Balai Bahasa Provinsi Jateng. Foto: dok/ist

SEMARANG (SUARABARU.ID)– Sastrawan muda asal Kabupaten Karanganyar, Eko Setyawan menyatakan, untuk menemukan ide ketika menulis puisi, penulis harus melakukan pengamatan secara langsung.

Di antaranya dengan banyak membaca, menyelami pengalaman pribadi, dan melakukan perenungan. Seorang penulis juga wajib membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), guna menemukan diksi yang tepat dan bervariasi.

Hal itu dikatakan Eko dalam webinar bertema ‘Berkreasi dengan Puisi: Jalan Mulus Menembus Dunia’, yang digelar Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, melalui aplikasi Zoom Meeting, akhir pekan lalu.

BACA JUGA: Pemkab Kudus Gelar Lomba Menyusui ASI Eksklusif bagi Ibu Bekerja

Dijelaskan dia, ketika sudah mendapatkan ide, seorang penulis juga perlu melakukan riset. Menurutnya, riset diperlukan untuk memperluas wawasan dan menghasilkan puisi yang berisi.

”Tak hanya KBBI, penulis juga perlu membuka Tesaurus Bahasa Indonesia, untuk menemukan padanan-padanan kata. Dengan begitu, diksi yang dimunculkan dalam puisi tidak membuat pembacanya bosan menemukan pilihan kata yang itu-itu saja,” ungkap penulis buku ‘Mengunjungi Janabijana’ itu.

Eko menyampaikan, hal yang tak kalah penting dari rangkaian menulis puisi adalah, publikasi. Ketika karya kita telah terpublikasi, apa yang kita tulis tidak akan sia-sia, dan secara tidak langsung hal ini akan menumbuhkan rasa percaya diri.

BACA JUGA: Tepat Pukul 10.17 – 10.20 Pada 17 Agustus 2021, Warga Kota Magelang Diminta Melakukan Sikap Sempurna

”Penulis tidak perlu takut jika karyanya mendapat kritikan. Karena kritikan itu bisa digunakan sebagai media introspeksi diri, agar lebih menghasilkan tulisan yang lebih bagus lagi,” ungkap pria kelahiran Karanganyar itu.

Peraih nomine Penghargaan Prasidatama 2021 kategori Antologi Buku Puisi itu, membagi beberapa tahapan agar penulis pemula dapat menulis dengan baik. Seperti mencari ide, melakukan riset, mencari dan memilih kata, menyusun diksi, menulis puisi, dan publikasi.

Setelah puisi ditulis, penulis bisa memublikasikannya melalui media cetak ataupun media elektronik.

BACA JUGA: Pizza Marzano Sudah Hadir di Semarang, Buruan Pesen…Ada Promo Menarik

”Publikasi itu sangat bermanfaat bagi penulis, agar karyanya dibaca banyak orang dan menjadi jalan untuk terus menulis dan menyebarkan ilmu lewat goresan puisi. Sekarang ini banyak media elektronik yang bisa menampung karya-karya puisi kita,” terang dia.

Acara yang dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Jateng, Dr Ganjar Harimansyah ini, dihadiri 80 peserta dari berbagai kalangan. Webinar ini diinisiasi kelompok mahasiswa magang Universitas Tidar Magelang, di Balai Bahasa Provinsi Jateng.

Ganjar pun sangat mendukung, praktik kelompok magang mahasiswa itu sebagai bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

BACA JUGA: Unissula Dapat 11 Paten

”Melalui kegiatan ini, mahasiswa magang akan memperoleh pengalaman maksimal dalam merasakan dunia kerja yang nyata,” ujar dia.

Ditambahkannya, dunia kampus diibaratkan sebagai kolam renang, sedangkan dunia luar diibaratkan sebagai lautan nan luas. Untuk itu, agar bisa bertahan, mahasiswa perlu belajar berenang di lautan nan luas.

”Mahasiswa bisa mengelola webinar ini dengan baik, merupakan pengalaman yang sangat berharga. Dengan bekal di dunia kerja, mahasiswa yang telah lulus bisa segera memasuki dunia kerja,” terangnya.

Riyan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here