Bu Nuryahmah, salah satu penjual nasi menir di Pasar Semat Jepara. ( Foto : Asrorur )

JEPARA (SUARABARU.ID) – Menir merupakan sebutan untuk beras pecah yang terjadi ketika proses penumbukan atau penggilingan. Bentuknya kecil-kecil. Menir ditemukan saat orang menapih atau nginteri beras, yaitu proses membersihkan sekaligus memisahkan beras menir dengan beras utuh. Dalam proses tersebut biasanya ditemukan menir.

Nasi meniran, cita rasanya yang khas dan lezat seharga Rp. 2500,- ( Foto : Asrorur)

Menir ini kemudian diolah menjadi makanan yang cukup unik dan menarik, yang kemudian disebut nasi meniran. Warga masyarakat Jepara juga banyak yang sudah mengenal kuliner ini. Biasanya saat menyantapnya di waktu pagi hari dengan ditemani secangkir teh atau pun kopi. Karena menir dijual biasanya saat pagi hari.

Yang menjadi pelangkap saat menikmati kuliner ini adalah dengan urapan, yakni olahan campuran sayuran seperti daun singkong, jantung pisang, kangkung, daun papaya, nangka muda.

Sedangkan bumbunya antara lain terasi, garam, dan aneka bumbu lainnya dan kemudian diurap semuanya. Nasi Menir menjadi kuliner yang sangat kental dengan nuansa desa. Dibungkus menggunakan daun pisang atau daun jati membuat rasanya menjadi khas dan gurih.

Ada bayak kombinasi lauk untuk mendampingi nasi menir. ( Foto : Asrorur )

Nasi menir banyak ditemukan di beberapa pasar tradisional di daerah Jepara. Salah satu pasar yang banyak menjual kuliner ini adalah Pasar Semat dan juga ada beberapa di Pasar Apung Jepara. Pasar-pasar yang menjual makanan tersebut buka  di pagi hari. Salah satu penjual menir di pasar Semat adalah Kasanah. Perempuan ini sudah menekuni usaha jualan menir kurang lebih lima tahun. Ada juga Nuryamah, yang mulai berjualan di pasar tersebut.

“Saya sudah lama berjualan nasi menir di sini. Awalnya hanya beberapa orang yang jualan menir di sini, kalau tidak salah hanya ada dua orang. Namun sekarang ini ada banyak penjual nasi menir di pasar ini” ujar Kasanah.

Untuk bahan bakunya sendiri yakni beras menirnya biasanya Kasanah mendapatkannya dari beberapa selepan atau penggilingan padi yang besar di Kabupaten Demak. Dalam sekali mengolah setiap harinya, kira-kira ada sekitar tiga kilogram menir yang dimasak olehnya. Waktu memasak nasi menir biasanya dilakukan pada saat sebelum subuh. Ini untuk menjaga agar nasi menir masih tersaji dengan hangat.

“Kebetulan ada anak saya  tinggal di Demak. Jadi saya cukup mudah untuk mendapatkannya. Tinggal telepon atau ngasih kabar dan biasanya diantarkan ke rumah. Banyak juga  penjual nasi  menir yang mengambil menir dari saya,” terang Kasanah.

Harga nasi menir per bungkusnya biasanya dijual seharga Rp 2500, sangat terjangkau tentunya. Untuk pendapatan rata-rata setiap harinya dari keterangan Kasanah dan Nuryamah tidak bisa dibuat rata-rata. “Hanya saja pas hari  Jumat dan Minggu biasanya pasar sangat ramai jadi otomatis dagangan cepat habis” ujar Nuryamah.

Dalam menyajikan nasi menir, ada beberapa tambahan lauk disamping urapan. Ada Ikan asin, tempe gembus bacem, dan tentunya sambal. Tak jarang juga, pembeli menyantap nasi menir dengan sate kikil atau pun dengan gorengan.

Nasi menir menjadi menu primadona tersendiri jika Anda ingin menikati sarapan pagi dengan melihat keindahan pantai Semat. Bisa ditemani secangkir kopi atau pun teh hangat. Jika Anda ingin merasakan sensasinya, segeralah datang ke Pantai Semat dan mencoba kelezatannya.

Kalau saja nasi menir di Pantai Semat ini diolah dengan berbagai menu dan kemasan tradisional yang menarik, dapat dipastikan nasi menir tersebut akan menjadi identitas kuliner baru yang menarik dari Jepara. Sebab cita rasanya yang lezat dan khas.

Hadepe – Asrorur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here