Peserta diskusi dan pembacaan puisi bertajuk 'Puisi dan Pandemi', secara daring, yang digelar Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT) bersama Yayasan Hari Puisi. Foto: dok/ist

SEMARANG (SUARABARU.ID)– Penyair adalah manusia responsif yang tidak akan lepas dari apa yang dilihat dan didengar, ketika menyaksikan situasi di sekitarnya. Puisi juga merupakan saksi sejarah, yang mungkin 20 tahun berikutnya, akan menjadi hal penting bagi generasi selanjutnya.

Hal itu dikatakan Maman S Mahayana, dalam acara diskusi dan pembacaan puisi bertajuk ‘Puisi dan Pandemi’, dalam rangka Pekan Hari Puisi Indonesia 2021, yang digelar secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting, Minggu (25/7/2021). Kegiatan itu diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT) bersama Yayasan Hari Puisi.

”Pandemi yang dialami pada zaman dahulu lebih lama, bahkan di Eropa lebih mengerikan. Wabah itu bernama pes, yang di Indonesia terutama di Jawa, sejak 1906 sampai 1940. Akan tetapi, tidak ada karya yang menggambarkan keadaan itu, karena pada masa itu para penyair belum menangkap penderitaan rakyat. Sastrawan kala itu lebih berfokus pada nasionalisme,” ujarnya.

BACA JUGA: Unissula Buka Studi Bahasa Internasional

Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu menjelaskan, pada masa pandemi ini, mulai banyak penyair yang memahami penderitaan rakyat dengan menciptakan berbagai karya yang berhubungan dengan pandemi. Hal itu diharapkan, dapat bermanfaat untuk generasi selanjutnya, agar memahami apa yang harus dilakukan apabila pandemi datang.

”Sastra akan mempresentasikan individu penyair dalam memandang kehidupan. Penyair di era pandemi ini menjadi saksi suara zaman,” tambah kritikus sastra itu.

Sementara itu, Abdul Wachid BS menyatakan, sebuah karya sastra ditulis oleh sastawan dengan maksud tertentu. Seorang sastrawan pada kehidupan sehari-hari mencari hikmah, lalu ketika menuliskannya menyampaikan hikmah, dan pembaca yang membacanya mendapatkan hikmah.

BACA JUGA: Go Internasional Bersama Unissula

”Suatu karya sastra tidak terlepas dari intensi pengarang yang dipengaruhi oleh banyak unsur. Dimensi kesastraan suatu karya sastra juga tidaklah steril dari intensi pengarang (author’s intention),” jelas dosen IAIN Purwokerto itu.

Kritikus sastra yang juga seorang sastrawan itu menambahkan, banyak unsur yang memengaruhi seorang pengarang, antara lain, lingkungan alam dan budaya. Dalam aspek sosiologis, unsur yang memengaruhinya mulai dari pengaruh keluarga, sekolah, masyarakat, budaya, dan agama.

Dalam acara itu, Ganjar menyampaikan apresiasinya kepada Yayasan Hari Puisi, atas kerja samanya menggelar diskusi dan pembacaan puisi ini. Acara itu diakhiri dengan rencana menerbitkan buku yang berisi kumpulan puisi yang sudah dibaca, dan beberapa puisi lainnya.

BACA JUGA: Interaksi Gus Dur dengan Buku, Musik, Seni dan Film

Nantinya, buku itu akan diluncurkan pada Hari Puisi. Judul buku yang direncanakan adalah Angkatan Penyair Pandemi. Mereka menyebut Angkatan, karena Angkatan itu muncul dari sebuah gerakan yang sama, tulisan yang sama, harapan yang sama, dan latar belakang yang sama.

Acara yang dimoderatori Desi Ari Pressanti itu, juga menjadi ajang pembacaan puisi oleh para penyair yang menulis puisi-puisi bertema pandemi. Para penyair itu antara lain, Sri Penny Alifiya H, Denong Kemalawati, Dimas Indiana Senja, Iku Repanie Igaman, Aloeth Pathi, Heri CS, Arief Khilwa, Ery AK, Iberamsyah Barbary, Ganjar Harimansyah dan Syaifudin Gani.

Riyan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here