Peserta mengikuti istighotsah virtual, yang digelar PGRI Wonosobo, malam ini. Foto: Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)– Malam ini, Minggu (18/7/2021), mulai pukul 20.00-21.00 WIB, PGRI Wonosobo menggelar acara ‘Istighotsah Virtual, Dzikir dan Doa Guru Wonosobo untuk Keselamatan Bangsa’, secara online melauli zoom meeting.

Dzikir dan doa bersama dipimpin KH Muslim Syaifudin, pengasuh Ponpes Al Ghozali, yang juga Kepala SMK Al Ghozali Siwatu Bumireso Watumalang, Kabupaten Wonosobo, dengan membaca Asmaul Husna secara bersama-sama.

Dzikir dan doa bersama untuk memohon Indonesia terbebas dari pandemi covid-19 ini, diikuti kurang lebih 300 guru PAUD/KB, SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK yang tergabung dalam organisasi PGRI Wonosobo.

BACA JUGA: Stok Darah di PMI Jepara Menipis, Bahkan Ada yang Telah Kosong

Hadir dalam dzikir dan doa bersama virtual ini, Ketua PGRI Suratman, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Wonosobo M Kristijadi, Sekretaris Disdikpora Slamet Faizi dan pembina PGRI Samsul Ma’arif.

Kepala Disdikpora M Kristijadi menyampaikan apreasiasinya, terhadap kalangan guru yang menggelar ikhtiar batin dengan dzikir dan doa bersama, agar pandemi covid-19 segera berakhir.

”Situasi hari ini sedang tidak baik-baik saja. Karena kasus covid-19 tengah melonjak dan merajalela di masyarakat. Penyebaran dan penularan virus kini sangat luar biasa. Usaha lahir sudah dilakukan, tapi wabah virus corona masih tetap melanda,” ujarnya.

BACA JUGA: Covid-19 di Kabupaten Magelang, Pasien Sembuh Terus Bertambah

Pengasuh PP Al Ghozal Siwatu Bumireso Watumalang, Wonosobo, memimpin istighotsah virtual. Foto: Muharno Zarka

Kebijakan PPKM Darurat, disebut Kristijadi, belum banyak berpengaruh. Buktinya, pencegahan penyakit covid-19 belum terkendali secara maksimal. Sudah banyak sekali warga meninggal dunia akibat terpapar virus corona.

”Mudah-mudahan istighotsah ini diijabahi Allah SWT. Manusia hanya bisa berusaha tapi Allah SWT yang menentukan. Pembelajaran Tatap Muka di tahun ajaran baru sudah direncanakan, tapi situasi pandemi belum memungkinkan untuk hal itu,” ujarnya.

Di dunia pendidikan, sebutnya, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) merupakan bentuk yang paling ideal. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang berlangsung lama, menjadi tidak optimal dan sangat berpengaruh terhadap kualitas peserta didik.

BACA JUGA: Pedagang Malam pun Diberi Bantuan Sosial

”Istighotsah yang dipanjatkan para guru di saat waktu wukuf di arofah, sangat tepat. Semoga doa dikabulkan Yang Maha Kuasa. Jika pandemi ini berakhir, ekonomi masyarakat pasti akan segera bangkit. Proses pendidikan pun berjalan normal,” tuturnya.

Menurut Kristijadi, berita negatif tentang covid-19 yang terus-menerus, yang mewarnai ruang media sosial, dapat menjadi teror menakutkan bagi publik.

Sementara itu, Ketua PGRI Wonosobo Suratman menambahkan, semua pihak harus percaya, bahwa pandemi ini atas kehendak Allah SWT. Karena itu, melalui dzikir dan doa bersama ini, virus corona segera diangkat dari bumi pertiwi. Indonesia aman dan sehat.

BACA JUGA: 14 Ton Oksigen dari Singapura Tiba di Bandara Adi Soemarmo, untuk Dinkes Surakarta

”Sehingga kegiatan masyarakat bisa berjalan normal kembali. Dunia pendidikan juga segera bisa menggelar pembelajaran tatap muka. Warga harus bisa melaksanakan 1M yakni Manut, pada imbauan pemerintah dan menerapkan protokol kesehatan,” tegasnya.

Diungkapkannya, guru harus dapat menjadi garda terdepan pelaksanaan prokes dan gerakan 5M di masyarakat. Yakni mengajak warga selalu mengenakan masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, menghindari kerumunan dan keramaian.

”Mari bersama-sama berdoa, mudahan-mudahan warga yang tengah dirawat di rumah sakit atau melalukan isolasi mandiri di rumah, segera diberi kesehatan. Warga yang telah meninggal, diberi tempat terbaik di sisi Allah SWT. Segala kesalahan diampuni dan kebaikannya diterima,” doanya.

Muharno Zarka-Riyan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here