Penjaga gawang timnas Inggris Jordan Pickford terduduk lesu, menyaksikan kiper timnas Italia Gianluigi Donnarumma dikerubuti rekan-rekannya, usai memenangkan laga adu penalti di babak final Euro 2020. Foto: dok/uefa

Oleh: Amir Machmud NS

// ada saat hadir, tiba-tiba/ yang tak pernah bisa dibaca/ garis hidup yang sejatinya ada/ dalam ketegasan takdir/ yang tak mungkin terpikir/ dari keterbatasan manusia/ akal itu ikhtiar/ dan sepak bola, ia hanya secuil hamparan nasib//
(Sajak “Dalam Takdir Sepak Bola).

PARA pundit sepak bola pun takkan mampu melawan suratan takdir. Tak jarang, arogansi lebih menjejali analisis yang sekadar menyalahkan, menyalahkan, dan mengeksploitasi kekurangan.

Saya paham, bukankah mereka hanya bagian dari keriuhan industri media dalam hiruk-pikuk budaya pop?

Roy Keane boleh menguliti Gareth Southgate. Gary Neville berhak bicara apa saja tentang pilihan eksekutor penalti tim nasional Tiga Singa. Silakan pula Hary Rekdnapp meyakini ucapannya soal “kepastian” Harry Kane bakal mencetak gol di partai final Euro 2020; tetapi apakah narasi-narasi tajam yang mereka sampaikan mampu menguak takdir?

Ketika ketus menyinyiri kinerja pelatih lain, boleh saja para analis berjustifikasi “tugas” pundit memang seperti itu. Namun apakah kritik-kritik itu selaras dengan capaian masa kemarin ketika mereka berada di wilayah kepelatihan?

Ada satu hal yang sering dilupakan: berlakunya takdir, pusaran nasib, dan pameo tentang bola bundar.

Copa America 2021 dan Euro 2020 diam-diam melahirkan premis eksklusif tentang takdir. Setidak-tidaknya dalam pemaknaan saya tentang sulitnya menerka jalan hidup manusia. Inilah aksioma yang seorang futurolog sehebat apa pun takkan mampu memecahkannya, ”Tiga hal yang takkan bisa dibaca manusia adalah jodoh, kematian, dan … piala!”

* * *

DAN, para penggemar Lionel Messi pun pasti merasakan euforia kegembiraan, setelah Pemain Terbaik Dunia itu akhirnya meraih trofi bersama tim nasional Argentina. Dia telah membuktikan: bisa!

Sepanjang 17 tahun karier profesionalnya, 34 gelar sudah dibukukan untuk Barcelona. Enam trofi Ballon d’Or dibendaharakan sebagai sebuah rekor. Medali emas Piala Dunia U-20 tahun 2005 dan Olimpiade 2008 dikantungi. Orang mungkin berpikir, mungkinkah dalam usia yang menyenja untuk ukuran pesepak bola, dia mampu memberi gelar dari turnamen besar untuk Albiceleste?

Garis tangan manusia sudah digoreskan oleh Yang Maha Agung. Minggu lalu, Messi dan Argentina meraih Copa America setelah pernah tiga kali tersuruk di partai final. Nah, bukankah yang terlihat mustahil bisa menjadi mungkin?

Messi mengukuhkan keniscayaan hidup sebagai bagian dari jalan kariernya yang banyak dinyinyiri dan diperbandingkan dengan “manusia setengah dewa”, Diego Maradona. Seolah-olah dia belum layak disebut sebagai legenda Argentina kalau belum memberi bukti piala untuk timnasnya.

Ada “saat” yang akhirnya tiba. Itulah sejatinya yang disebut “momen” ketika takdir bicara. Titik pencapaian itu sudah tergariskan. Dia menjadi ayat-ayat kehidupan yang mengingatkan kepada kita tentang dalil keniscayaan lewat ikhtiar manusia yang tak kenal henti.

Peristiwa bersejarah di Stadion Maracana, Rio de Janeiro 10 Juli 2021 itu pun patut kita pahami sama dengan goresan nasib yang dialami oleh Inggris di Euro 2020.

Stadion Wembley, 11 Juli lalu memberi Harry Kane dkk realitas, betapa penantian 55 tahun untuk kembali mengangkat piala tak mewujud seperti mimpi football comes home yang terus menerus didengungkan.

Dalam pemaujudan garis hidup, Italia-lah yang berhak membawa pulang Piala Eropa. Detail elemen takdir itu memperlihatkan kepahlawanan Bonucci yang menyamakan skor, taktik tepat Mancini, ketangguhan kiper Donnarumma, dan kegagalan tiga eksekutor penalti Inggris: Rashford, Sancho, dan Saka.

Inggris boleh meratapi kegagalan untuk kali kesekian dalam turnamen besar. Dipahami pula mereka belum lepas dari trauma demi trauma adu penalti. Akan tetapi, dari pandangan positif, ada satu rangkaian perjalanan yang sebenarnya telah mereka rajut, yakni realitas kemajuan capaian dari event ke event.

Dua tahun lalu di Rusia, The Three Lions terhenti di semifinal Piala Dunia, dan kini mencapai final Eropa sebagai langkah terjauh dalam turnamen ini. Ada setapak langkah ke partai puncak setelah sejak 1966 mereka tak pernah lagi merasakan. Suka atau tidak suka, itulah progres yang bisa dipacu sebagai motivasi menuju Piala Dunia Qatar 2022.

Sikap positif, motivasi, ikhtiar tak kenal henti, inovasi, dan eksplorasi kreativitas adalah bagian dari perjuangan hidup menemui keberpihakan nasib. Manusia tak mungkin mengubah takdir, namun berhak berikhtiar mencapai yang terbaik.

Lionel Messi pun akhirnya meraih mimpi yang telah lama dia perjuangkan. Bahkan setelah sempat putus asa dengan menyatakan pensiun dari tim nasional.

Jadi siapa yang mampu membaca “takdir sepak bola”?

Dalam bahasa misteri sepak bola: siapa yang bisa menemukan ujung bundarnya bola?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here