Penjaga gawang Timnas Spanyol, Iker Casillas, mampu memblok sepakan pemain Timnas Italia, Daniele De Rossi, saat adu tendangan penalti di ajang EURO 2008. Foto: dok/uefa

Oleh: Amir Machmud NS

// kau pikir mudah menyantap peluang/ gawang sudah di depan mata/ bola tinggal kau kirim ke mana/ kiper menjadi pihak tak berdaya/ lalu mengapa kau gemetar/ kaki bagai tak menginjak bumi/ dan hati, dan mata terpejam/ dan saat membuka mata/ kau baru tahu di mana bola berada…//
(Sajak “Adu Penalti”, 2021)

ANDA pasti dapat ikut merasakan betapa lega Italia. Anak-anak Negeri Spaghetti itu telah melewati “ruang penyiksaan” yang kejam. Ya, saat meraih tempat di partai pemuncak Euro 2020, Pasukan Azzurri sekaligus juga terlepas dari trauma adu penalti, 13 tahun silam. Tuntas sudah kesumat kekalahan dari Spanyol.

Italia akan “beradu kesaktian” dengan Inggris, yang lapar gelar dan dalam sejarah baru sekali ini merasakan final Euro. Bagi The Three Lions, inilah final turnamen besar pertama, setelah 55 tahun silam menjuarai Piala Dunia di era Bobby Charlton dkk. Tiket ke laga puncak diraih setelah Harry Kane cs menaklukkan perlawanan heroik Denmark lewat perpanjangan waktu di Stadion Wembley.

Entah sudah berapa kali negara yang diakui sebagai leluhur sepak bola moderen ini menslogankan “Football Comes Home”, namun hanya suara besar saja yang menggaung di awal turnamen. Selebihnya adalah kisah kegagalan.

Sehari sebelumnya, Wembley memprasastikan sukses kiper Gianluigi Donnarumma sebagai pahlawan Italia dalam membendung peluru-peluru penyerang Spanyol di babak reguler. Puncaknya, kiper muda itu menepis eksekusi Alvaro Morata dalam drama adu penalti.

Kali ini giliran Tim Matador yang merasakan derita Italia di perempatfinal Euro 2008. Dulu, dua algojo Gli Azzurri — Daniele De Rossi dan Antonio Di Natale — gagal mengusik gawang Iker Casillas, dan loloslah La Furia Roja ke tahapan menuju juara. Dan, kini, giliran Daniel Olmo dan Alvaro Morata yang menjadi “pesakitan” di kubu Spanyol.

Morata bahkan bisa diliputi trauma sepanjang kariernya, lantaran dua kali gagal menuntaskan eksekusi 12 pas di perhelatan ini. Di gase grup, tendangannya ke gawang Slovakia juga melempem.

Begitulah sepak bola mengapungkan misterinya. Morata nyaris menjadi pahlawan. Andai sepakannya sukses, maka dia akan melengkapi keberhasilan menyamakan skor 1-1 di babak reguler. Tetapi, adu penalti memang tahapan yang “kejam”. Arsitek Italia, Roberto Mancini mengakui, permainan Spanyol sepanjang babak sangat menyulitkan timnya, namun penalti secara kejam berbalik “membunuh” Jordi Alba dkk.

Beberapa hari sebelumnya, “ruang penyiksaan” itu juga menjadikan seorang pemain muda menjadi “korban”. Kylian Mbappe, penendang terakhir Prancis, gagal menuntaskan eksekusi. Tembakannya terbaca oleh kiper Swiss Yan Sommer. Bisa dibayangkan betapa remuk hati striker yang digadang-gadang menjadi penerus kehebatan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo itu.

* * *

INGGRIS membawa trauma “kekejaman penalti” lewat Gareth Southgate dari kekalahan di semifinal Euro 1996. Sepanjang hidup, arsitek The Three Lions itu pasti akan teringat Andreas Koepke, kiper Jerman yang membaca arah bola Southgate sebagai eksekutor terakhir, yang menghentikan langkah Inggris meraih final di hadapan publik sendiri.

Trauma penalti memang membayangi Inggris di turnamen-turnamen mayor. Dari semifinal Piala Dunia 1990, semifinal Euro 1996, hingga semifinal Euro 2004, masing-masing dikalahkan Jerman Barat, Jerman, dan Portugal. Maka, ketika Southgate memimpin anak-anak Tiga Singa mengalahkan Kolombia di semifinal Piala Dunia 2018 lewat drama serupa, seolah-olah momen kepahitan 1996 bisa dipulihkan.

Akankah partai final Senin dinihari besok antara dua tim yang sama-sama pernah dibayangi trauma, harus diakhiri dengan drama serupa itu?

Tentu bukan tidak mungkin. Italia punya karakter pertahanan yang bisa membuat tumpul tombak-tombak Inggris. Sebaliknya, dalam perjalanan ke final, Tim Tiga Singa juga memperlihatkan soliditas dengan hanya kebobolan satu gol. Sedangkan Italia, walaupun lekat dengan citra defensif, punya catatan impresif 12 gol berbanding kebobolan tiga gol (di luar adu penalti melawan Spanyol).

Bagaimana Anda membayangkan “skenario” final nanti?

Laga puncak boleh jadi lebih impresif ketimbang Italia vs Spanyol atau Inggris vs Jerman. Bukankah ini pertaruhan kecerdasan dua pelatih muda Roberto Mancini dan Gareth Southgate, sekaligus duel dua negara yang memiliki liga prestisius?

Tentu lebih menarik apabila pertarungan penentuan trofi tidak harus berakhir di “ruang penyiksaan”. Adu penalti memang merupakan bagian dari eksotika misteri sepak bola, namun kemenangan dengan unjuk keberanian menyerang, adu keterampilan pengusasaan bola, taktik bermain, dan pameran teknis individu para bintang bakal lebih mengundang kenikmatan.

Final ini layak disebut sebagai “El Clasico Eropa” yang menjanjikan aneka atraksi para bintang muda yang segar, di balik penuangan filosofi dan kreativitas dua arsitek yang penuh energitas pembuktian.

Resapilah estetika bermain ala Mancini, dan ideologi keseimbangan versi Southgate. Logika kecerdasan dalam mengusung tesis dan antitesis taktik bakal mewujudkan “jalan kebenara” meraih kejayaan.

Tak pula kalah mengusik, akankah pertarungan ini juga dibayangi trauma adu penalti?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here