Dua pemain Timnas Spanyol César Azpilicueta dan kiper Unai Simón, merayakan kemenangan timnya atas Swiss melalui drama adu penalti. Foto: uefa

Oleh: Amir Machmud NS

// sepak bola menepis jarak duka dan bahagia/ tangis dan tawa/ keterpurukan dan piala/ lihatlah di stadion yang bergelora/ mungkin juga di lipatan ruang ganti/ para lelaki perkasa tak ragu meneteskan air mata… //
(Sajak ‘Bahagia dan Luka Sepak Bola’, 2021)

PERCAYAKAH Anda, tangis dan drama manusia, dalam skema industri sepak bola, sepenuh keniscayaan telah terkemas sebagai elemen magnetik budaya pop? Disadari atau tidak disadari, elemen daya tarik itu berada dalam genggaman atmosfer mediatika.

Tangis yang “dari sononya” merupakan luapan rasa, tersaji sebagai unsur tragika. Air mata sebagai ekspresi jiwa dinarasikan dengan diksi-diksi duka, menjadi semacam “sad-tainment”.

Dalam kesejatian makna, air mata adalah wajah jujur tentang katarsis “bahasa hidup” manusia. Bisa lantaran bahagia, bisa karena luka.

Stadion-stadion Euro 2020 ini, seperti biasa, menyajikan luapan emosi jiwa. Pria-pria perkasa merayakan euforia kemenangan, sebagian lainnya dihantam kekecewaan.

* * *

TANGIS sejumlah penggawa Inggris setelah menyingkirkan Jerman melukiskan rasa lega luar biasa. Raheem Sterling dkk mampu mengurai trauma, karena Jerman lebih sering mencegat mimpi The Three Lions dalam kompetisi-kompetisi resmi.

Pada bagian lain, lihatlah mereka yang kalah tak ragu-ragu meneteskan air mata, meluapkan jerit patah hati. Mereka ingin meraih dunia, dan mereka terbanting oleh realita.

Raut muka, gestur, dan langkah gontai Kylian Mbappe adalah potret keterpurukan tiada tara. Tak satu gol pun dalam empat pertandingan dicetak pemain yang digadang-gadang untuk menyuksesi singgasana Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi ini.

“Donatello” melempem. Kegagalannya menuntaskan penalti ke gawang Swiss menjadikan Mbappe sebagai “pesakitan” di antara para pejuang Prancis.

Sehari sebelumnya, para pemain Portugal tak kuasa membendung air mata, setelah kalah 0-1 dari Belgia dalam laga 16 besar. Sejumlah pemain terisak di ruang ganti, tak siap kehilangan gelar yang diraih pada 2016.

Amati pula rona Matthijs de Ligt yang menerima kartu merah ketika Belanda ditaklukkan Republik Ceko. Seribu sesal betapa ia telah bertindak konyol menahan bola dengan tangan. Kecerobohan itu berpetaka: Tim Oranye kehilangan keseimbangan dan kalah.

Atau Anda simak ekspresi Adam Szalai, penyerang Hungaria ketika tandukannya merobek gawang Manuel Neuer. Tangis dalam selebrasi gol menandai histeria kebanggaan bisa menikam Jerman, walaupun akhirnya Adam dan rekan-rekannya gagal melangkah ke 16 besar.

Tangis kecewa meletup dari laga Swedia vs Polandia yang berakhir 3-2. Robert Lewandowski, kapten dan tumpuan utama, berlinangan air mata. Dua gol anggitannya tak cukup memberi poin, karena dia gagal menuntaskan penalti. Kegarangan Pemain Terbaik FIFA 2020 itu menguap di perhelatan Euro 2020.

Media membawa publik “terlibat” menunggu klimaks atau antiklimaks dari skenario kompetisi. Berkat bumbu dan pembentukan realitas, ekspresi tangis pun menjadi bagian dari realitas itu…

* * *

MASIH nyata dalam lensa sejarah, saat Paolo Maldini, Gianluigi Buffon, Alessandro Nesta, dan para pria macho Italia tersedu sedan. Gol Ahn Jung-hwan dalam perpanjangan waktu mengubur perjalanan mereka di perempatfinal Piala Dunia 2002. Italia kalah dari Korea Selatan dalam laga yang disebut-sebut beraroma skandal wasit Byron Moreno.

Ada pula momen legendaris semifinal Piala Dunia 1990: Paul Gascoigne menangis. Para pemain Inggris sulit menerima kenyataan tumbang dari Jerman Barat lewat drama adu penalti.

Drama pedih itu berulang di semifinal Euro 1996: kali ini Gareth Southgate aktornya. Bek yang sekarang mengarsiteki Three Lions ini gagal menuntaskan eksekusi penaltinya. Tangis duka pun pecah mewarnai petaka di pengujung laga.

Momen-momen dramatik menghias berbagai turnamen mayor sepak bola. Sejumlah di antaranya jadi album ikonik, seperti ngilu senyap Stadion Maracana saat Brazil kalah dari Uruguay dalam final Coppa del Mundo 1950.

Tangis si bengal Gascoigne di Italia 1990 mirip dengan air mata para pemain Argentina yang kalah dari Jerman di puncak duel Piala Dunia 2014. Betapa paradoks euforia Mario Goetze di hadapan wajah kosong Lionel Messi.

Empat tahun kemudian, para pemain Jerman lemas kehilangan daya setelah kalah 0-2 dari Korea Selatan. Itulah kejutan terbesar tim racikan Shin Tae-yong dalam laga penentu grup Piala Dunia 2018. Bagi Jerman, luka itu setara dengan kekalahan 1-2 dari Aljazair di Spanyol 1982.

* * *

DRAMA manusia mengalir di Euro 2020. Tangis bahagia mengiringi Denmark yang lolos ke babak kedua. Dalam posisi kritis, The Danish Dynamite mengalahkan Rusia 4-1, meledakkan suka cita.

Apalagi Simon Kjaer dkk termotivasi untuk memberi “hadiah” kepada Christian Erikson, sang bintang yang menjalani perawatan setelah mengalami kolaps jantung di tengah laga melawan Finlandia.

Kita mafhum kesedihan tim-tim lain yang tersisih dari persaingan. Juga sesal yang menerpa sejumlah pemain “pembuat dosa”.

Cukupkah air mata menjadi pelipur lara? Atau itu ungkapan penebus yang mewakili katarsis beban mereka?

Kylian Mbappe bakal mengenang kepahitan penaltinya, sama seperti kisah Roberto Baggio di Piala Dunia 1994. Namun para lelaki perkasa itu tak harus kehilangan kegagahan, juga harga diri. Bukankah mereka sadar betapa luapan emosi adalah bagian dari elemen-elemen profesionalisme industri sepak bola?

Pun, mereka adalah aktor-aktor industri kompetisi yang mengusung nilai-nilai budaya pop. Tren mediatika, pada akhirnya, yang mengemas dan memosisikan peran manusia di panggung masing-masing…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here