JC Tukiman Tarunasayoga

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

Apabila mendengar atau melihat kata “awas,” kita berada dalam posisi diingatkan; semisal  “Awas, anjing galak!” bermakna peringatan akan adanya anjing galak di sekitar tulisan itu.

Sementara itu, apabila mendengar atau melihat kata “awasi,” kita selayaknya berada dalam posisi diajak bahkan diperintah; semisal  “Awasi secara cermat kluster-kluster baru penyebaran Covid 19.”

Gradasi “awasi” lebih urgent dibanding “awas;”  dan karena itulah judul tulisan saya kali ini menggabungkan “Awas dan Awasi,” karena bukan sekedar sebuah peringatan belaka, melainkan ajakan serius.  Awas dan awasi, ada omah sadhuwuring jaran.

Semua orang tahu omah, rumah;  sebab hampir semua orang  berada atau tinggal serta merasakan adanya  (sebuah) rumah. Itu arti pertama omah, yakni rumah;  sementara omah juga berarti padunungan utawa kang didunungi, yakni lokasi, nama dusun atau kampungnya, dan daerahnya.

Kalau di Jakarta bertemu seseorang mengaku Jawa, lalu pertanyaannya: Omahmu endi ta?; itu artinya Anda termasuk penduduk daerah mana. Makna omah yang ketiga, ialah wis gelem manggon, wis krasan.

Pertanyaannya sekarang, mengapa ada omah sadhuwuring jaran harus diwaspadai sampai-sampai tertulis “Awas dan Awasi?” Nah.., itulah hebatnya sebuah paribasan, peribahasa: Kita tahu arti kata-perkata, seperti kata omah, sadhuwure, jaran; yakni rumah (yang berada) di atas kuda, akan tetapi apa itu maknanya: Omah sadhuwuring jaran?

Jaran, kuda, salah satu binatang piaraan yang dikenal bertenaga kuat; sampai-sampai ada ungkapan tenaga kuda. Di samping bertenaga kuat, jaran juga obah terus, tidak mau berhenti di mana ia berada.

Bayangkanlah, rumah tempat tinggalmu berada persis di atas (kandang) kuda. Bergerak terus, obah ora leren-leren, atau kalau menggunakan bahasa zaman kini ya goyang teruslah. Inilah paribasan omah sadhuwuring jaran; tidak pernah tenang atau aman karena ada saja yang obah terus.

Bersekutu

Paribasan omah sadhuwuring jaran melukiskan adanya (gerakan = kuda) sekuthon nedya balela. Inilah makna terdalam peribahasa ini, yaitu melukiskan betapa saat ini ada saja orang-orang atau kelompok yang bersekutu untuk melawan apa atau siapa saja.

Sekuthon nedya balela itu intinya mengajak orang/pihak lain untuk bersekutu dengan tujuan “melawan:” mungkin yang dilawan itu sebuah keputusan, kebijakan atau peraturan, mungkin orang, mungkin juga bahkan pemerintahan (yang sah).

Baca Juga: Kebat Kliwat, Hindari Tsunami Politik di PDI-P

Merasa tidak setuju atau tidak senang terhadap sebuah keputusan, lalu satu, dua, tiga, atau empat orang ajak-ajak wong liya agar mau bersekutu dengannya untuk melawan keputusan itu.

Ora seneng marang wonge, atau tidak suka (karena merasa dirugikan) oleh kebijakan  pimpinan, lalu menghimpun “tenaga kuda” untuk menolak. Itu contoh-contoh sekuthon yang memang sedang terjadi saat ini.

Pihak penyelenggara pemerintahan di aras mana pun, dari paling bawah sampai yang paling atas sana, perlu meningkatkan kegiatan “Awas dan Awasi”-nya dan sudah barang tentu masyarakat juga harus semakin pinter nyaring-nyaring lan miling-miling kalau ada ajakan-ajakan model sekuthon seperti itu,  hendaklah ora usah kepingin melu. Bahkan harus menolaknya.

Awas dan awasi(lah) menjadi semakin mendesak, sebab kalau tidak segera dilakukan, mereka itu dalam sekuthonnya menempuh strategi  “berbulu domba”  atau bahkan seorang penulis lain mengatakan “berbulu ayam”.

(JC Tukiman Tarunasayoga, Pengamat Kemasyarakatan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here