Warga sempat memasang spanduk penolakan jalan satu arah koridor perkotaan di Kebumen.(Foto;SB/Ist)

KEBUMEN (SUARABARU.ID) – Uji coba jalan satu arah koridor perkotaan di Kebumen mulai menuai penolakan. Bahkan warga di Jalan Mayjen Sutoyo dan Jalan Kusuma sempat memasang spanduk menolak jalur searah di jalan tersebut.

Menurut beberapa warga di Jalan Mayjen Sutoyo dan Jalan Kusuma, pemberlakuan jalan searah tersebut menyulitkan warga. Terutama saat hendak pulang pergi beribadah dan yasinan di masjid  kawasan Jalan Sutoyo dan di Jalan Kusuma.

Demikian pula kendaraan searah kini melaju kencang sehingga warga sulit menyeberang.  Di sisi lain trotoar dan tepi jalan sering dipakai parkir dan bongkar muat serta dipenuhi lokasi PKL sehingga justru sering menimbulkan kemacetan.

Kami pulang dari Masjid Bani Ahmad harus memutar jauh dan ini dirasakan oleh para jamaah yang lain. Kami meminta agar ditinjau ulang, atau seperti di Jalan Rongowarsiro, searah hanya siang, malam bisa dua arah,”ungkap H Bahrul Ilmie, ketua Takmir Masjid Bani Ahmad Jalan Kusuma Kebumen.

 

Warga sempat memasang spanduk menolak jalan searah koridor perkotaan did beberapa sudut jalan dan gang Kota Kebumen.(Foto;SB/Ist)

Perlu Kajian

Secara terpisah Wakil Ketua DPRD Kebumen dari Fraksi Partai Golkar Yuniarti Widayaningsih SE juga menilai pemberlakuan jalan searah koridor perkotaan pada Jalan Kusuma, Jalan Mayjen Sutoyo dan Jalan Pahlawan serta kawasan Alun-alun Kebumen perlu kajian.

Yuniarti berpendapat, kajian yang diperlukan adalah, apakah uji coba jalur searah itu untuk menaikkan pendapatan Pemkab. Kenaikan pendapatan seperti apa. Jikaa one way atau jalan searah itu Pemkab mengharapkan bisa menggerakkan ekonomi , daya tarik ekonomi seperti apa.

Wakil rakyat yang dikenal kritis itu khawatir jalan searah malah menurunkaan daya beli bagi pelaku ekonomi dan UMKM. Bila Pemkab mengharapkan ada daya tarik ekonomi pada kawasan khusus, maka eksekutif harus bisa menghitung pajak dan retribusi yang masuk.

“Menurut saya wilayah kota tidak perlu dlbikin demikian karena justru pemborosan, seiring terjadi kemacetan karena banyak lampu merah pada jarak dekat dan di sisi lain pendapatan yang diharapkan juga kecil,”tandas Yuniarti.

Politisi Partai Golkar Kebumen itu menegaskan, yang mendesak perlu dipikirkan matang saat ini adalah kawasan pedesaan. Sarana infrastruktur seperti jalan dan jembatan pedesaan masih butuh perhatian untuk mengatasi kemiskinan dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah desa.

Sebelumnya Sekretaris Dinas Perhubungan Kebumen Sugeng Pujarwanto didampingi Kabid Angkutan Rison Sihotang saat Konferensi Pers Jumat (22/5) menyatakan, uji coba jalan satu arah koridor perkotaan itu akan berlangsung sampai 31 Mei. Selanjutnya akan diputuskan oleh Bupati Kebumen,

Sugeng dan Rison menegaskan, meski masih ada kendala dan hambatan, jalan searah koridor perkotaan itu bertujuan menata kawasan perkotaan dan memperlancar arus kendaraan. Bahkan untuk melengkapi sarana prasarana jalan, pada 2022 dianggarkan Rp 22 miliar, serta Rp 3 miliar untuk pengadaan lampu traffic light.

Komper Wardopo