Upaya dengan “among-among” menyiapkan nasi, lauk, urapan, telur rebus diiris-iris, tempe goreng lalu mengundang anak-anak untuk bancakan. Diharapkan pemilik nama bisa kembali baik seperti yang diharapkan. Foto: Ist

WILLIAM SHAKESPEARE Pujangga Inggris boleh berkata  “Apalah arti sebuah nama?  Namun bagi kalangan tertentu, nama itu memiliki arti tersendiri. Awal tahun 70-an, ada anak-anak usia lima tahun sakit-sakitan dan lebih  banyak menghabiskan waktunya di ranjang.

Keluarga lalu mengundang sesepuh untuk mengobatinya. Caranya, anak itu didekati lalu orang pintar itu berkata “Namamu saya ganti Urip.” Ajaibnya anak itu terkejut, lalu bangun, keluar rumah lalu bergabung dengan sama teman-temannya.

Menurut Wiyoto Krido Sanyoto, penulis asal Kebumen, tradisi mengubah nama itu juga ada di daerahnya. Dulu ada anak bernama Wisnu sakit-sakitan. Menurut sesepuh, penyebabnya karena namanya terlalu berat.

Keluarga lalu disuruh membuat “among-among” nasi, lauk, urapan, telur rebus diiris-iris, tempe goreng lalu mengundang anak-anak untuk bancakan. Terjadi keajaiban. Disaksikan para tetangga, begitu namanya ditambah “Wardhana” -hingga manjadi “Wisnu Wardhana”- lalu bangun dan sembuh. Menurut sesepuh, anak itu keberatan menyangga nama sosok Dewa.

Soal Ganti Nama

Menurut Ifan Winarno, trainer pemberdayaan diri asal Malang, tentang mengganti nama yang menyebabkan keajaiban itu bukan soal bayinya, melainkan pemaknaan terhadap nama yang mengamati bayi.

Peran mengamati itu penting, karena energi mengalir menuju yang diamati, sementara vibrasi atau bentuk energi yang mengalir ditentukan rasa yang muncul akibat pemaknaan label nama. Jadi dalam kasus itu, sebenarnya bayinya netral.

Namun karena perasaan orangtua merasa kurang cocok dengan nama itu hingga menimbulkan vibrasi yang kurang harmonis bagi anak, hingga muncul keresahan. Padahal bayi itu perlu tidur panjang untuk pertumbuhannya. Karena resah, menyebabkan kurang nyaman hingga tidak enak badan.

Namun ketika usia dewasa, proses ganti nama itu lebih dipengaruhi  perasaan orangnya terhadap namanya sendiri. Akhirnya kembali pada tiga pendekatan saat ada problem. Kalau sakit jangan hanya ditangani sisi fisiknya saja atau dari sisi batinnya saja.

“Mistik Nama”

Menurut Arul Prasat (40) Pinandita Hindu dan pakar Astrologi “Panchagem” seni ramalan India atau “Tamil Almanac” asal Medan,  nama itu berasal dari gabungan huruf yang mengandung energi, dan  diyakini bisa menjadi sumber keberkahan bagi pemiliknya.

Energi setiap huruf membentuk pola kata yang terkandung kekuatan intuisi, karena nanti akan diucapkan berulang-ulang dan menjadi penunjang bagi kehidupan pemilik nama, karena nama dan tanggal lahir juga memiliki keterkaitan, dan tanggal lahir itu unik karena berbeda pada setiap pribadi, begitu juga dengan nama.

Setiap manusia lahir pada tahun, bulan, tanggal, jam dan detik yang berbeda. Kondisi dan getaran energi menentukan aksi dan reaksi. Hidup ini dikondisikan serangkaian getaran dasar energi yang aktif. Bagi yang meyakini nama itu membawa berkah, energi penunjangnya lebih maksimal.

Karena bayi berasal dari genetika kedua orangtuanya, nama bayi perlu disesuaikan nama kedua orangtuanya agar lebih mengikat hubungan batin lebih erat. Karena pada nama ada rangkaian kata dari gabungan huruf,  jika itu disebutkan berulang bisa mendatangkan getaran bagi objek penerima getaran itu.

“Jin Banci”

Fenomena nama terkadang unik.  Dulu ada remaja di desa saya sakit aneh.  Aslinya dia normal, namun tanpa sebab, pada usia remaja gerak tubuh dan vokalnya berubah kemayu layaknya wanita. Berbagai cara sudah ditempuh, termasuk suntik hormon.

Karena belum sembuh, oleh kerabatnya yang dukun kampung   disarankan “puasa weton” atau puasa pada hari kelahiran berdasarkan kalender Jawa. Dan saat buka puasanya minum air kelapa hijau yang buahnya tumbuh di sisi timur. Setelah saran itu dilakukan, suara dan gerak tubuhnya jadi normal layaknya lelaki.