blank

Dua Layanan Penunjang Manajamen Sarana Prasarana dalam Digitalisasi Sekolah

Oleh : Cahyo Hasanudin

MENGUTIP pidato pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, bapak Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. dalam kuliah umum yang diselenggarakan oleh Kemendikbud RI pada tautan https://www.youtube.com/watch?v=8TiP-cZkxHY&t=2825s terkait 3d prioritas merdeka belajar 2021: digitalisasi sekolah dan medium pembelajaran. Di sini, pak Menteri menyebutkan adanya empat program, yaitu 1) penguatan platform digital, 2) layanan terpadu kemendikbud, kehumasan, dan media, 3) bahan ajar dan model media pendidikan digital, dan 4) penyediaan sarana pendidikan (APE dan TIK).

Berdasar empat program yang digagas oleh pak Menteri.  Penulis ingin membahas salah satu poin yang sangat krusial, yaitu poin ke-4, terkait penyediaan sarana pendidikan (APE dan TIK). APE merupakan akronim dari Alat Permainan Edukatif sedangkan TIK merupakan akronim dari Teknologi Informasi dan Komunikasi. APE dan TIK dapat dijadikan sebagai sarana utama dalam menunjang kesuksesan pembelajaran.

APE

APE (Alat Permainan Edukatif) merupakan sebuah perangkat permainan yang memiliki unsur edukatif/mendidik pada permainan itu. APE dapat memberikan rangsangan positif terhadap alat indra, daya pikir, keseimbangan kognitif, motorik, budi pekerti dan membangun kepekaan sosial. APE (Alat Permainan Edukatif) memiliki banyak ragam sesuai usia penggunanya. Guru, praktisi, dan banyak perusahaan sudah mengembangkan APE (Alat Permainan Edukatif) sebagai sarana pembelajaran. Sarana ini bisa dimanfaatkan siswa saat pembelajaran di kelas. Namun berkaca pada kondisi pandemi covid-19 ini, pembelajaran di semua jenjang pendidikan bermigrasi pada pembelajaran daring maka APE (Alat Permainan Edukatif) yang bersifat 2d atau 3d tanpa penggunaan perangkat lunak akan tidak bermanfaat. Untuk itu, penulis memberikan tawaran kepada semua pemangku kebijakan, khususnya pemerintah untuk memproduksi APE (Alat Permainan Edukatif) dalam bentuk software. Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi augmented reality.

Augmented Reality atau sering dikenal dengan istilah AR merupakan teknologi yang menggabungkan secara real-time konten digital yang dibuat computer dengan dunia nyata. Augmented reality menghasilkan objek maya 2d atau 3d yang diproyeksikan dari dunia nyata. Jadi augmented reality sebuah teknologi yang menyisipkan informasi ke dunia maya dan menampilkan ke dunia nyata melalui bantuan kamera, webcam computer atau kacamata khusus.

Melalui teknologi augmented reality, APE (Alat Permainan Edukatif) dapat diproduksi masal oleh pemerintah sebagai sarana pembelajaran saat pandemi covid-19 dan menyongsong era 5.0. di sini Pemerintah menjadi faktor utama dalam menghasilkan sarana pembelajaran berbasis digital. Untuk menghasilkan APE (Alat Permainan Edukatif), pemerintah dapat membuat sayembara/perlombaan bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk membuat APE (Alat Permainan Edukatif) berbasis teknologi augmented reality yang nantinya dapat dijadikan sebagai media pembelajaran di semua jenjang pendidikan. Tentu sayembara ini memiliki dua manfaat sekaligus. Pertama, pembuat APE (Alat Permainan Edukatif) berbasis teknologi augmented reality mendapat reward dari pemerintah, kedua, pemerintah dengan mudah dan cepat menghasilkan/memproduksi APE (Alat Permainan Edukatif) berbasis teknologi augmented reality. Kegiatan sayembara/perlombaan ini merupakan simbiosis mutualisme pemerintah dengan rakyatnya. Bentuk sayembara/perlombaan ini dapat dikatakan sebagai bentuk kegiatan dalam digitalisasi media pembelajaran.

TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi)

Sarana TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) sangat krusial di semua sektor pekerjaan, terlebih di sektor pendidikan. Mengutip pendapat UNESCO, TIK dapat dimaknai sebagai perangkat teknologi dan sumber daya yang beraneka ragam sebagai alat untuk mengirimkan, menyimpan, membuat, dan berbagi informasi. TIK dapat berbentuk komputer, internet, teknologi siaran langsung, teknologi penyiaran yang direkam, telepon, serta bentuk lain. Kebermanfaatan keberadaan TIK sangat dirasakan oleh semua orang saat pandemi covid-19, hal ini dikarenakan semua berganti dengan sistem daring sehingga mau atau tidak mau harus berhubugan/memanfaatkan komputer, gawai, dan jaringan internet.

TIK merupakan wujud nyata menyokong kesuksesan digitalisasi sekolah. Untuk itu, pemerintah harus melakukan kerja sama dengan semua provider untuk menyediakan jaringan internet di semua daerah di Indonesia, tanpa terkecuali di desa pelosok. Bentuk kerja sama lain dapat dilakukan dengan Kementerian Desa melalui pengalokasikan dana desa untuk menyediakan jaringan/pemancar internet di semua sudut desa. Ketersediaan TIK di semua ruas desa akan membantu pemerintah dalam menyukseskan gerakan digitalisasi sekolah. Siswa lebih rajin dan mudah mencari sumber referensi. Tentu hal ini harus melibatkan peran orang tua sebagai kontol saat di rumah. (Penulis  adalah dosen IKIP PGRI Bojonegoro dan mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Semarang).