Puasa mutih (Ilustrasi). Foto: Ist

DI JAWA ada tradisi orangtua melakukan riyadah atau puasa bagi anak-anaknya, terutama pada anak usia pendidikan. Menurut kepercayaan, anak yang ditirakati itu otaknya encer, tidak banyak berulah, hingga menjadi “korban zaman.” Dan  masa depannya pun cerah.

Laku batin puasa itu beragam. Ada puasa Senin Kamis, puasa weton, apit weton, dsb, itu dilakukan orangtua sebagai bentuk komunikasi bawah sadar dengan anaknya. Dengan harapan agar anak itu lebih diperhatikan Tuhan.

Yang dimaksud puasa weton itu puasa pada hari kelahiran anak berdasarkan kalender Jawa, dengan harapan buah hati mereka itu kelak menjadi generasi yang berkualitas.

Ada juga puasa yang tidak terikat hari kelahiran anak. Misalnya  puasa Senin dan Kamis, puasa tiga hari pada tengah bulan (qamariyah), dan semua itu diniatkan untuk kebaikan anak dan bahkan cucu-cucunya.

Disebutkan, ada tiga doa yang mudah terkabul, salah satunya doa orangtua kepada anak-anaknya. Apalagi jika itu disertai puasa tentu lebih mujarab. Hikmah lain dari puasa untuk melatih kepekaan yang menjadikan ikatan batin anak dengan orangtua lebih nyambung, dan  pikiran pun lebih jernih.

Pada saat laku prihatin yang dikemas dalam konsep agama maupun  budaya, di situ terjadi proses “hipnosis” antara Ibu dengan anak. Keyakinan macam ini bukan hanya di daerah tertentu saja. Orang tua di daerah lain pun banyak yang melakukannya.

Ilustrasi. Foto: Ist

Karena ini berkaitan  dengan keyakinan dan bersifat lokal yang bersumber dari kekuatan aku batin orang tua, maka yang namanya “supranatural” itu dipahami dengan hati saja. Maka, ilmiah tidak ilmiah, dengan melakukan itu pun mudah terkabul.

Ada pendapat, salah satu cara efektif mendorong proses pertumbuhan sel otak baru  dapat dilakukan dengan membatasi kalori melalui puasa. Jadi bukan hanya otak yang berkembang, tapi juga sistem syaraf.

Tentang komunikasi bawah sadar, konsepnya seperti telepati, orangtua mengirimkan gelombang ke anak melalui doa. Apalagi jika ditambah kondisi puasa yang meningkatkan kesadaran dan khusyuk dalam doa, maka pesan itu lebih cepat terkirim.

Ada juga konsep orang tua mengirim sinyal ke alam semesta yang disertai fokus, apalagi dalam kondisi puasa, maka alam pun digerakkan Allah untuk mengirim atau mengembalikan sinyal itu kepada anak.

Puasa termasuk cara klasik mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga yang terprogram dalam batin lebih cepat dikabul. Nah, jika puasa untuk kesaktian saja dikabulkan, apalagi puasa untuk kebaikan anak-anak yang notabene adalah amanah-Nya.

Petani Puasa

Sahabat saya mengisahkan. Dia punya tetangga, petani yang hidup sederhana di tepian hutan. Kedua anaknya sejak kecil memiliki kecerdasan luar biasa, dan keduanya dapat menyelesaikan pendidikan hingga mencapai gelar profesor.

Dulu, karena  ingin memiliki anak-anak cerdas, berbudi luhur dan dikaruniai derajat tinggi, kedua orangtuanya menjalani laku batin. Diantaranya, sebelum berhubungan badan, mereka puasa dulu dan hubungan suami-istri dilakukan lepas tengah malam.

Selain itu juga menjalani laku pantang berdasarkan hari-hari. Dan setelah anak-anaknya lahir, Ayahnya tidur di lantai, sedangkan anak dan istri diranjang. Laku ini diharapkan untuk menjunjung derajat anak-anaknya. Di kemudian hari kedua anaknya bergelar Prof. Dr. dan menjadi rektor.

Puasa bisa disebut “Doa tanpa kata”. Orangtua menabung energi pada alam semesta. Proses itu sukses jika dilakukan kedua  orangtua dengan khusuk dan fokus dalam doa bagi keberhasilan anak-anaknya.

Hikmah lain, puasa juga membuat orang lebih sabar, tenang dan fokus hingga energi yang dipancarkan pun positif. Pikiran dan perasaan layaknya magnet yang beterbangan pada alam, dan berlaku hukum tarik menarik (law of attraction).

Pikiran dan perasaan adalah gelombang yang jika dipancarkan positif, efek baliknya pun positif. Pikiran dan perasaan adalah bahan baku kehendak kita. Dalam kondisi ikhtiar yang disertai tawakal, koneksi dengan Tuhan lebih terbuka hingga doa pun mudah terkabul.

Kita bisa belajar pada ulat yang berproses menjadi kupu-kupu. Itu diawali dengan “bertapa” dulu pada goa kepompong. Ini konsep luar biasa untuk  kehidupan kedepan yang lebih baik.

Restu Orang Tua

Saat menjalani even-even yang menentukan dalam kehidupan, proses menuju sukses itu terasa lebih mudah jika ada restu kedua orangtua, apalagi  jika beliau itu juga melakukan berpuasa pada saat anak-anaknya sedang berjuang untuk menentukan masa depannya.

Ada teman yang konyol, berkaitan dengan keyakinan ini. Setiap ke rumah orangtuanya, mereka membuat keduanya tertawa bahagia dan setelah itu lalu minta didoakan. Dan pengalamannya, dia selalu hoki sepulang dari  orangtuanya. Diantaranya, tiga kali arisan saat dia sedang perlu uang.

Bahkan ada yang ajaib! Saat perjalanan,  dalam kondisi jalanan padat, pada  perempatan jalan, hampir  saja tabrakan. Pada jarak yang sudah tidak memungkinkan menginjak rem, tiba-tiba bayang Ibu Bapaknya tampak di depan mobil dalam posisi kedua tangan menahan mobil dari arah berlawanan, dan mobil itu berhenti.

Tetangga desa saya yang anggota TNI, saat akan bertugas ke daerah yang sedang bergolak, terlebih dulu sowan kiai sepuh untuk minta “pegangan”. Namun oleh sesepuh itu  justru disarankan berwasilah kepada Ibunya. Caranya, sungkem Ibu lalu minta doa.

Setelah itu minta potongan ujung kuku ibu jari Ibu dan dijadikan “azimat”. Dan sebagai pengganti dari mahar ujung kuku itu, anak yang sedang bertugas itu menebusnya dengan berpuasa pada hari kelahiran Ibu Bapaknya.

Masruri, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Patiac